
Naya kira, selesai makan malam bersama—dia akan terlepas dari status sebagai pacar pura-pura Kaivan.Tapi ternyata tidak seperti yang ada di pikirannya, karena orang tua dari Kaivan mendadak meminta Naya untuk menginap di rumah mereka.
Awalnya, baik Naya ataupun Kaivan—keduanya sama-sama menolak ajakan untuk menginap itu. Tapi karena ajakan yang terus menerus, alhasil membuat mereka mau tak mau menuruti perkataan orang tua Kaivan.
Naya sebenarnya tidak akan sungkan jika dirinya adalah Naya yang sebenarnya, bukan Zora—sebagai pacar pura-pura Kaivan. Tapi karena statusnya pacar pura-pura, gerak-geriknya terbatas.
Sekarang, di sinilah Naya berada. Di sebuah kamar besar dengan luas 5 x 7 m² yang luasnya seluas dua kamar di rumah Naya saat di kampung. Gadis itu meloloskan nafas kasar, tidak menyangka jika kedua orang tua Kaivan menyukai dirinya sebagai Zora Arsyila.
Apa hanya karena penampilan dirinya yang menawan, dan kebohongan dirinya yang mengatakan anak tunggal dari pengusaha furniture—orang tua Kaivan menyukai dirinya?
Naya dan Kaivan memang berbeda kamar, tapi Naya nanti akan tetap tertidur dengan Nayra. Semenjak mereka tinggal bersama, Nayra tidak ingin jauh dari Naya. Dan untuk mengakali agar orang tua Kaivan tidak curiga, Kaivan bilang pada mereka jika Naya atau Zora sudah sering bertemu dengan Nayra—makanya mereka terlihat akrab.
"Masa semalaman gue harus pakai make up sama rambut palsu kayak gini sih? Gue udah nggak nyaman sebenernya," keluh Naya sambil memainkan rambut palsunya.
"Zora," panggil seseorang dari daun pintu. Sial! Naya lupa mengunci pintu kamarnya sebentar, untung saja dia belum membuka rambut palsunya. Kalau sudah, semua rencana Kaivan akan gagal total.
"I-iya Tante, ada apa?" Naya berdiri lantas menghampiri Ghea—nama ibunda Kaivan.
"Tante cuma mau kasih kamu piyama ini, nggak nyaman kan kalau pakai dress kayak gitu buat tidur?" Ghea menyerahkan piyama pada Naya.
"Makasih banyak, jadi ngerepotin." Naya menerima piyama tersebut dengan seulas senyum mengembang manis.
"Nggak apa-apa, kayak gini doang nggak repot kok. Apalagi nanti ke depannya kan kamu jadi menantu di rumah ini." Naya meringis pelan saat Ghea berucap seperti itu. Menanti katanya? Menantu pura-pura lebih tepatnya. Tidak! Lagipula sandiwara ini tidak akan sampai menjadi menantu pura-pura, karena Naya akan menolak duluan jika Kaivan meminta seperti itu.
Menjadi pacar pura-pura saja, Naya diliputi rasa was-was. Apalagi menjadi menantu pura-pura. Hidup Naya mungkin tidak akan setenang dulu lagi.
"Tante bisa aja." Hanya itu yang menjadi respon Naya, sedangkan Ghea malah tiba-tiba merangkul dirinya.
"Kesan pertama Tante lihat kamu, kamu anak baik-baik dan sangat cocok untuk Kaivan. Jadi, sepertinya Tante nggak akan mikir panjang lagi buat restuin kalian untuk ke jenjang yang lebih serius." Kedua mata Naya mengerjap, shock sekaligus ingin tertawa dengan semua sandiwara ini. Bagaimana mungkin di pertemuan pertama, ibunda Kaivan merestuinya?
"K-kayanya kita belum kepikiran ke sana deh Tan, masih pengen saling perbaiki diri. Aku juga pengen akrab dulu sama Nayra, nggak semudah itu untuk ke jenjang yang lebih serius." Naya memuji dirinya sendiri dalam hati, sandiwara yang dia mainkan benar-benar terasa seperti nyata.
"Ya, Tante mengerti. Tante nggak akan buru-buru minta kalian menikah kok, cuma kalau bisa—jangan menunggu terlalu lama. Nayra juga butuh kamu sebagai ibu sambungnya, justru karena kalian menikah nanti—kamu akan lebih akrab dengan Nayra."
"Sekarang pun sudah akrab Tante, karena sebenarnya aku pengasuh Nayra." Naya membatin.
"Ya sudah, nanti Tante panggilkan Nayra ke sini. Biar kalian bisa beristirahat," kata Ghea sebelum pergi meninggalkan Naya seorang diri lagi.
Saat kembali duduk di pinggir kasur, ponsel Naya berbunyi. Ada sebuah pesan yang dikirimkan oleh Kaivan.
—Pak Kaivan
Saya mohon bantu saya lebih banyak lagi Naya, saya janji akan memberikan bonus untuk kamu. Saya tidak mengira kalau mama dan papa akan menyukai kamu seperti ini. Saya kira, setelah makan malam selesai—mereka kembali seperti biasa. Cukup bersandiwara menjadi seorang Zora Arsyila dengan baik saja.
"Saya bisa bantu Bapak, tapi ketenangan hidup saya mendadak terganggu kalau begini, Pak." Naya memijit pelipisnya yang terasa pening sekarang, meski Kaivan menjanjikan bonus untuknya—tapi ketenangan hidupnya yang jadi taruhan.
"Begini amat cari duit ya?" Naya merebahkan tubuhnya ke kasur, dia menatap langit-langit kamar yang berwarna putih itu dengan sayu.
***
"Mama Naya, kenapa tadi oma dan opa panggil Mama Naya, Zola?" Suara cadel dari Nayra saat bertanya membuat Naya mendesah berat. Belum selesai dia yang putar otak untuk bersiap bersandiwara lagi di depan orang tua Kaivan, sekarang Nayra malah bertanya.
Meskipun anak itu sudah diberi arahan agar tidak banyak protes ataupun berbicara tentang siapa Naya, tapi rasa penasarannya pasti ada. Dan Naya sudah pastikan itu.
"Nama tengah Mama Naya kan emang Zora, Nayanika Zora Anjani—itu nama Mama Naya kalau lengkap. Jadi, oma dan opa Nayra panggil Mama Naya pakai nama tengahnya Mama Naya." Naya sebisa mungkin memberikan pemahaman yang mudah dimengerti oleh Nayra. Tidak mungkin kan jika dia menceritakan yang sebenarnya, jika dia menjadi pacar pura-pura ayah dari anak itu?
"Oh jadi gitu, nama Mama Naya bagus. Aku suka. Kayanya aku pengen panggil Mama Naya jadi Mama Zola, boleh nggak?"
"Boleh, Nayra mau panggil Mama Naya apa pun boleh kok." Naya mengusap kepala Nayra dengan penuh perasaan.
Melihat anak sekecil Nayra yang sedari bayi ditinggalkan ibunya, juga divonis mempunyai penyakit autoimun yang sulit disembuhkan—membuat naluri keibuan Naya semakin meningkat.
Dia memang menyukai anak-anak, tapi Nayra baginya lebih dari itu. Mengingat bagaimana prihatinnya kehidupan Nayra, selalu membuatnya ingat pada masa kecilnya yang tidak tau seorang ayah. Bahkan sampai detik ini.
"Besok, aku mau sekolah dianterin Mama Naya. Mama Naya bisa bawa mobil, nggak?" tanya Nayra.
Naya berpikir sejenak, dia memang bisa mengendarai kendaraan roda empat. Tapi mobil yang dikendarai oleh Naya itu hanyalah mobil bak terbuka untuk mengantar pesanan agen. Jadi dulu, sebelum Naya nekad pergi ke kota—dia pernah menjadi sopir pengantar barang di kampungnya.
"Bisa sih, tapi Mama Naya seringnya bawa mobil bak terbuka. Bukan mobil bagus kayak punyanya papa Nayra." Naya membalasnya.
"Kalau begitu, besok minta ajarin papa buat belajar mobil."