
Seperti perkataan Kaivan, yang mulai hari ini—dia akan ikut menjemput Nayra di sekolahnya. Maka selesai meeting bersama bagian marketing, Kaivan dan Naya segera meluncur menuju sekolahan Nayra. Saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil, dengan Kaivan yang fokus menyetir sambil sesekali melirik seorang perempuan di samping—melalui ekor matanya. Dan Naya yang gugup karena terus diperhatikan oleh Kaivan.
"Maaf kalau saya membuatmu tidak nyaman, Naya." Perkataan itu terlontar begitu saja dari bibir Kaivan, sontak saja Naya yang merasa tidak enak karena mengacuhkan Kaivan meneguk ludahnya kasar.
"Maaf, Pak. Kalau saya juga terkesan masih menutup diri," balas Naya yang membuat Kaivan mengangguk paham.
"Tidak apa-apa, saya memberitahu perasaan saya pada kamu hanya untuk meringankan beban perasaan saya saja. Saya tidak bermaksud untuk memaksakan kehendak kamu pada saya. Biar bagaimana pun, kamu pasti masih meragukan saya 'kan?"
Naya tidak menjawabnya, tapi Kaivan menyimpulkan kediaman Naya sebagai jawaban 'iya'.
"Biarkan kita mengalir sebagaimana mestinya saja, biar alur kehidupan yang bekerja." Naya setuju dengan hal ini, dia lantas menganggukkan kepalanya. Perihal perasaan, Naya mungkin hanya mengagumi sosok Kaivan. Belum merasakan lebih dari itu.
Mobil yang dikendarai oleh Kaivan terparkir sempurna di parkiran sekolah Nayra. Karena di parkiran tersebut sudah banyak wali murid yang akan menjemput anak-anaknya juga, alhasil mobil Kaivan menjadi atensi mereka. Apalagi saat presensi Kaivan dan Naya turun bersamaan.
"Jadi benar rumornya, kalau pak Kaivan itu udah punya calon," celetuk salah satu wali murid.
"Iya, ternyata bu Naya yang tiap hari jemput Nayra itu memang calon istrinya," sahut yang satunya lagi.
"Mereka terlihat cocok ya, Bu?"
Naya dan Kaivan tersenyum saat melewati gerombolan wali murid, keduanya memilih untuk menjemput Nayra langsung ke kelasnya.
Baik Naya ataupun Kaivan, mendengar sendiri bagaimana mereka digosipkan bersama. Kaivan sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, tapi dia melirik Naya. Pria itu khawatir Naya terbebani dengan gosip dari para wali murid itu.
"Saya tidak tau kalau kebersamaan saya dengan kamu menjemput Nayra berdua seperti ini, bisa menimbulkan gosip yang cukup panas," kata Kaivan sambil berjalan menuju kelas Nayra.
"Biarkan saja mereka, Pak. Saya selalu menanggapinya dengan senyum," jawab Naya.
Di saat Kaivan dan Naya sampai di depan kelas Nayra, kebetulan kelas itu baru bubar. Dan Nayra yang melihat Naya dan Kaivan datang bersama, mengulas senyum sambil berlari menuju mereka.
"Mama Papa!" Nayra langsung menghambur ke dalam pelukan Naya begitu Naya membungkukkan badannya.
"Jangan lari-lari begitu dong, Cantik," peringat Naya pada Nayra sambil menjawil cuping hidungnya dengan gemas.
"Aku seneng, Mama Naya sama Papa jemput aku ke sekolah," ungkap Nayra dengan binar di matanya.
Naya melirik Kaivan yang juga menatapnya, ternyata benar—Nayra sebahagia ini melihat kebersamaan antara Kaivan dengan dirinya.
"Ya sudah, ayo kita pulang." Naya berdiri lantas memegang tangan kiri Nayra, lalu Kaivan memegang tangan kanan Nayra. Kebersamaan mereka bertiga, membuat beberapa wali murid terpaku dengan rasa kagum. Mereka, terlihat seperti keluarga kecil yang begitu diidamkan banyak orang.
"Harmonis sekali ya mereka," celetuk salah satu wali murid. Dan hal itu sempat terdengar oleh Kaivan dan Naya.
Mendengar komentar orang tentang kebersamaan mereka, Kaivan mengulas senyum. Setelah menyatakan perasaannya pada Naya, dia ingin memiliki perempuan itu bukan hanya sebagai seorang kekasih—tapi seorang istri dan juga ibu dari puterinya, Nayra.
Sedangkan di sisi lain, seorang perempuan muda dengan pakaian glamour—duduk seraya menyilangkan kaki. Ada banyak flash kamera yang berbunyi usai membidik presensinya yang begitu cantik.
"Ganti gaya!" Itu suara dari fotografer yang sedang memotretnya. Sontak saja, perempuan yang kini memakai gaun berwarna lavender itu memindahkan tangannya yang tadi di dagu menjadi di atas pahanya.
"Oke cukup untuk hari ini, Indira." Satu helaan nafas lolos dari bibir yang terlihat indah karena polesan lipgloss berwarna nude tersebut. Hampir seharian ini jadwal pemotretan dirinya padat, dan hal itu membuatnya begitu lelah.
"Tidak ada, Bu Indira. Setelah ini anda bisa beristirahat," katanya.
"Oh iya, bagaimana perkembangan kamu dalam mencari info tentang mantan suami dan puteriku?"
"Sedang dalam proses, tapi setidaknya saya sudah menemukan titik terang. Pak Kaivan, mantan suami Ibu sekarang sudah sukses menjadi pengusaha kuliner. Namanya sekarang dikenal oleh banyak kalangan." Fakta yang satu itu, sebenarnya sudah diketahui oleh Indira. Meskipun bertahun-tahun dia pergi meninggalkan mereka, tapi Indira masih diam-diam mencari tau tentang Kaivan.
"Lalu bagaimana dengan puteriku?" tanya Indira, lagi.
"Puteri Bu Indira sudah besar sekarang, nanti saya akan kirimkan fotonya pada anda."
"Oke, saya tunggu."
***
"Masakan Mama Naya emang selalu enak, aku mau nambah!" Nayra menyodorkan piring pada Naya, gadis kecil itu begitu menyukai masakan Naya yang hari ini memasak tempe bacem, sayur toge, ikan kembung goreng, dan ayam kecap.
"Papa juga mau nambah dong, ikan gorengnya bikin ngiler terus." Kaivan juga ikut-ikutan menyodorkan piringnya pada Naya.
"Jadi, sekarang Papa sama Nayra gembul ya? Makannya banyak," kata Naya.
Di saat ketiga orang itu melahap makanannya, seorang ART berjalan ke arah mereka dengan tergopoh.
"Gawat, Tuan! Di luar ada Nyonya besar sama Tuan," adunya pada Kaivan.
"Apa?! Mama papa dateng tanpa bilang?" Kaivan yang terkejut langsung berdiri dari duduknya, pria itu lantas melirik Naya yang sekarang berpenampilan selayaknya Naya—bukan sebagai Zora Arsyila yang dia perkenalkan sebagai kekasihnya.
"Naya, cepat pergi ke kamar! Persiapkan diri kamu sebagai Zora Arsyila. Maaf, saya harus berbuat seperti ini," sesal Kaivan tidak enak hati pada Naya.
"Tidak apa-apa, Pak Kaivan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin membantu Bapak." Setelah itu, Naya melesat pergi menuju kamarnya untuk berdandan selayaknya Zora Arsyila yang dikenal sebagai seorang perempuan cantik dan modis oleh kedua orang tua Kaivan.
Kedatangan kedua orang tua Kaivan, disambut dengan sedikit gugup oleh Kaivan. Namun dia tetap mempersilakan ayah ibunya untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamu kenapa, Van? Kok tegang begitu mukanya? Padahal yang dateng ke rumah kamu Mama sama Papa lho," tanya sang mama yang sontak saja membuat Kaivan menggaruk tengkuknya.
"Nggak apa-apa kok, Mama mungkin salah lihat. Aku mana ada tegang," elak Kaivan.
"Jangan-jangan Kaivan sembunyikan sesuatu, Ma," sahut papanya.
"Maksud Papa apaan?" tanya wanita tua yang sudah melahirkan Kaivan ke dunia itu.
"Kamu sembunyikan Zora di rumah ini, ya?" selidik papanya.
"A-anu, Pa. Zora—"
"Aku di sini Tante, Om."