When I Meet You

When I Meet You
14 : Kebaikan Naya



"Ah, akhirnya. Pulang juga ke sini," ucap Naya usai dia menghela nafas lega. Semalaman dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak, Naya selalu merasa dirinya diawasi di rumah orang tua Kaivan. Alhasil, pergerakannya tidak sebebas saat dia di apartemen Kaivan.


Sedangkan Kaivan yang berdiri di belakang Naya, tak sengaja mendengar gumaman Naya—merasa tidak enak hati. Kaivan tau, di sana Naya pasti tidak nyaman. Apalagi hampir semalaman dia tetap memakai rambut palsunya, pun dengan make up yang sengaja tidak dihapus.


"Maafkan saya Naya, tapi saya benar-benar tidak punya pilihan lain lagi." Naya seketika memutar tubuh, dia terkejut saat ada Kaivan di belakangnya. Naya kira, Kaivan masih berada di parkiran bersama Nayra—selepas dia memberikan kode akses untuk Naya masuk ke apartemen.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya ikhlas bantu Bapak, saya paham—mempunyai trauma masa lalu apalagi karena cinta, pasti membuat Bapak sulit untuk buka hati lagi. Jadi, selama Bapak belum menemukan perempuan yang cocok untuk jadi pasangan Bapak sebenarnya—saya bersedia untuk tetap berpura-pura." Naya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk lengkungan manis yang sedikit demi sedikit menimbulkan cekungan di pipi. Kaivan baru menyadari, jika perempuan yang berstatus sebagai pengasuhnya itu memiliki lesung pipi yang indah jika dia tersenyum.


"Terimakasih, nanti saat gajian—saya akan memberikan kamu bonus yang banyak."


"Tidak perlu sungkan, Pak." Naya tidak enak dengan bonus yang dibicarakan oleh Kaivan, gaji yang akan diberikannya saja sudah lebih dari cukup untuk Naya. Apalagi dengan bonus.


"Tidak apa-apa, apa bonusnya mau sekarang saja?"


"Eh, gausah!" Naya menolak. "Nanti saja kalau begitu."


"Oh iya Papa, ajalin Mama Naya buat bawa mobil dong. Bial nanti Mama Naya bisa antel aku ke sekolah," rengek Nayra.


"Loh, kan ada supir. Mama Naya sama Nayra tinggal duduk cantik," balas Kaivan.


"Nggak mau! Aku mau Mama Naya bisa bawa mobil, bial kalau Papa sibuk—aku sama Mama Naya bisa pelgi belanja."


"Oke oke, nanti kita ajarin Mama Naya nyetir mobil ya." Kaivan membalas.


"Kayanya udah pada laper, kan? Gimana kalau Mama Naya masakin Nayra makanan?" Naya mensejajarkan tubuhnya agar sejajar dengan Nayra, diusapnya dengan lembut kepala anak perempuan itu.


"Nayra mau dimasakin apa? Biar Mama Naya buatin," tanya Naya.


"Aku mau ayam kecap Mama Naya, boleh kan?"


"Boleh dong." Naya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Nayra karena gemas.


"Tapi sekarang, Nayra ke kamar dulu ganti baju sendiri ya. Nanti baru ke ruang makan," titah Naya pada Nayra.


"Oke Mama Naya, Nayla ganti baju dulu ya."


Nayra berlari kecil untuk ke kamarnya. Sepeninggal Nayra, di ruangan tamu itu hanya ada Naya dan Kaivan sendiri.


Sejak awal bertemu dengan Nayra, Kaivan menilai Naya sangat menyayangi puterinya. Dan barusan, dia jelas sekali melihat interaksi Naya pada Nayra seperti apa. Pantas saja, Nayra tidak ingin jauh dari Naya. Puterinya itu tau, kepada siapa dia akan nyaman.


"Apa kamu tidak repot, mengasuh Nayra juga memasak? Kalau repot, tidak usah. Biar saya panggil mbok Jum lagi buat ke sini. Kemarin-kemarin sebelum ada kamu, saya dan Nayra seringkali membeli makanan cepat saji. Jadi tidak ada yang memasak," kata Kaivan.


"Makanan cepat saji nggak baik kan buat Nayra? Mulai sekarang nggak usah khawatir lagi, saya masih bisa bagi waktu buat urus pekerjaan rumah."


"Baiklah kalau begitu."


***


Seorang perempuan dengan apron berwarna hitam, tengah mengupasi bawang merah untuk bumbu membuat ayam kecap. Usai dikupas dari kulitnya, perempuan itu memasukkan bawang dan rempah-rempah yang lain ke dalam blender.


Perempuan itu adalah Naya, usai dia memblender bumbu—Naya bergerak untuk mencuci ayam yang sudah dia potong-potong sesuai kemauannya.


Sedangkan seorang pria yang tak lain adalah Kaivan, berdiri dengan bersandar di sisi dinding sembari memperhatikan kegiatan Naya yang sedang memasak.


Melihat Naya yang cukup kesulitan untuk menyingkirkan rambutnya yang jatuh menghalangi pandangan, Kaivan bergerak menuju perempuan itu.


Saat sudah berada di belakang Naya, pria itu mengulurkan tangan untuk mengambil karet gelang yang ada di pintu kitchen set.


"Kalau mau masak, rambutnya diikat. Biar nggak ganggu, apalagi menghalangi pandangan saat mencuci ayam yang bau anyir." Kaivan berucap sembari mengumpulkan rambut Naya lalu mengikatnya menjadi satu.


"Pak?" Naya mendadak tak meneruskan kegiatannya mencuci ayam, dia tertegun dengan apa yang dilakukan Kaivan untuknya.


"Sudah, kamu bisa kembali memasak." Kaivan mundur. Di saat tubuhnya hanya berjarak sekian inchi dari Naya, Kaivan merasakan jantungnya berdegup kencang.


Bukan hanya Kaivan, Naya lebih merasakan jantungnya berdegup kencang. Pertama, dia terkejut saat Kaivan ada di belakangnya tiba-tiba. Dan yang kedua, terkejut karena Kaivan bersedia begitu saja mengikat rambutnya.


"T-terimakasih," ucap Naya dengan gugup.


Merasa jika Kaivan masih berada di sekitarnya, Naya memasak dengan canggung. Dia seperti seorang kontestan lomba memasak yang sedang diperhatikan oleh jurinya.


"Sebelum bertemu dengan saya, kamu sebenarnya tinggal di mana Naya?" Kaivan bertanya hal random untuk mengusir kecanggungan yang ada.


"Saya ini perantau, Pak. Orang tua saya asli suku Sunda, lebih tepatnya di Rajapolah Tasikmalaya. Niat awal saya merantau, karena ingin mencari pekerjaan dan mengumpulkan uang untuk saya kursus memasak." Cerita Naya mengalir begitu saja, sedangkan Kaivan tertegun dengan perkataan terakhir Naya.


"Kursus memasak?" tanya Kaivan.


"Iya, cita-cita saya sejak kecil itu ingin menjadi seorang koki. Karena saya keterbatasan ekonomi, saya tidak bisa ikut kursus memasak untuk mengasah hobi saya."