
Sial! Naya memaki dalam hati. Usai pernyataan cinta yang terjadi di tiga malam yang lalu, Kaivan semakin gencar mendekatinya. Per hari ini saja, pria yang berstatus sebagai duda anak satu itu malah membawa paksa Naya ke kantornya. Dan yang lebih parahnya lagi, pria itu memperkenalkan Naya kepada semua jajaran pegawainya sebagai kekasih dari Kaivan.
"Mati gue! Niat hati jadi pengasuh karena kasihan sama Nayra, sekarang bapaknya malah kepincut sama gue." Naya meringis, dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Saat ini, Naya berada di ruangan pribadi Kaivan. Lebih tepatnya di sebuah kamar khusus untuk Kaivan beristirahat. Pria itu sekarang sedang pergi meeting bersama pegawai bagian marketingnya. Dan Naya ditinggal sendirian di ruangan dengan luas 5 x 6 m² itu.
Sedangkan Nayra, gadis kecil itu telah kembali bersekolah. Mungkin akan dijemput dua jam lagi dari sekarang. Bukan hanya Naya yang akan menjemput, tapi Kaivan bilang—mulai hari ini, mereka berdua akan setiap hari menjemput Nayra di sekolahnya.
"Padahal tampang gue nggak menarik, tapi kenapa pak Kaivan malah suka sama gue? Nggak mungkin juga kan, kalau status pacar pura-pura itu jadi beneran?" Naya merebahkan punggungnya pada kasur, sedangkan kakinya menggantung ke bawah lantai. Dia berpikir, apa istimewanya dirinya? Sampai-sampai Kaivan—seorang duda kaya raya nan tampan yang sudah pasti digilai banyak perempuan, menyukai dirinya.
Naya memang tidak munafik, jika Kaivan seorang pria yang sempurna. Jika dibilang tertarik, siapa yang tidak tertarik pada Kaivan? Tubuhnya yang tinggi semampai, pun atletis. Wajah yang sempurna ketampanannya, harta yang mungkin saja bagi Naya tidak akan habis tujuh turunan, pun dengan kepintaran—Naya yakin Kaivan mempunyai otak yang cerdas.
Jika dilihat dari semua aspek itu, Naya akan jujur jika dia tertarik. Namun statusnya yang jauh dari kata pantas untuk pria itu, membuatnya tidak meyakini perasaan Kaivan yang seperti bualan semata.
"Gue nggak cantik, gue nggak pinter, gue bukan cewek kaya. Terus pak Kaivan liat gue dari apanya?" Naya mengerjapkan mata sambil memandangi langit-langit kamar tersebut. Perempuan itu terus berpikir, sampai-sampai dia tidak menyadari—ada sepasang mata yang memperhatikannya di daun pintu dengan senyum.
Sepasang mata itu milik Kaivan, pria yang bekerja sebagai pemimpin perusahaan itu sudah menyelesaikan pekerjaannya di ruangan lain. Dan sekarang kembali lagi ke ruangan pribadinya.
Di saat kembali ke ruangan pribadi, Kaivan malah terpaku dengan presensi seorang gadis yang sedang merebahkan dirinya di kasur—sambil terus memikirkan perasaan Kaivan padanya.
"Seumur-umur, gue kan nggak pernah pasang susuk. Kalau gue pasang susuk, baru gue percaya pak Kaivan bisa suka gue gitu aja. Ini kan gue nggak punya apa-apa, tapi kenapa pak Kaivan bisa suka gue?"
"Saya menyukai kamu apa adanya, Naya. Bukan karena ada apanya kamu." Sahutan dari seseorang membuat Naya refleks bangun dari baringnya. Dia menolehkan kepala, saat melihat presensi Kaivan yang berdiri di daun pintu dengan kedua tangan terlipat di atas perutnya.
"Pak Kaivan?" Naya mengerjapkan mata. Dia refleks menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena Kaivan ternyata mendengar celotehan randomnya.
"Saya tau, pernyataan cinta saya pasti membuat kamu terkejut. Tapi Naya, perasaan saya benar adanya sama kamu. Saya belum pernah sejatuh ini pada perempuan selain pada kamu," ucap Kaivan sambil memangkas jarak yang ada—pria itu berjalan mendekati Naya yang duduk di sisi kasur.
"Saya tidak akan memaksa kamu untuk membalas perasaan saya, tapi saya harap—kamu bisa membalas perasaan yang sama seperti saya pada kamu. Kalau kita bersama, bukan hanya saya yang akan bahagia. Tapi Nayra juga. Dia pasti senang saat tau kita bersama, dia akan merasa—kalau kamu tidak akan pernah meninggalkannya." Posisi mereka berdua sekarang duduk bersisian, dengan Naya yang duduk dengan gelisah sambil memainkan jemari-jemarinya, dan Kaivan duduk sambil menolehkan kepala pada Naya.
"Naya," panggil Kaivan sambil meraih tangan Naya. Dibawanya tangan perempuan itu ke atas pahanya, lalu diusapnya punggung tangan Naya menggunakan ibu jarinya.
"Tapi, Pak? Saya tidak pantas untuk Bapak, saya banyak kurangnya, saya tidak seperti perempuan-perempuan yang ada di sekitar Bapak, say—"
Ucapan Naya yang tidak selesai itu harus terhenti saat jemari Kaivan nangkring di bibirnya, lalu disusul gelengan kepala dari pria itu.
"Apa di pandangan kamu saya pria seperti itu? Sudah saya bilang, saya mencintai kamu apa adanya. Lagipula, kamu ini terlalu banyak insecure. Siapa bilang kamu tidak cantik, hm?" Sekarang, jemari besar itu memegang dagu Naya. Memutar kepala Naya sedikit.
"Justru karena wajah kamu ini, malam-malam saya tidak sama seperti malam kemarin. Wajah kamu ... selalu terbayang di pikiran saya, Naya."
"Van! Gue cariin terny—" Di kala Kaivan dan Naya sedang bersitatap, di situ Arsa datang dengan hebohnya mencari Kaivan. Ucapannya langsung terhenti saat matanya melihat ada Naya di ruangan pribadi Kaivan.
"Busett! Lo berdua ngapain berduaan di sini?!" tanya Arsa yang membuat Kaivan mendengus kesal. Jika saja Arsa bukan sahabat sekaligus sekretarisnya, Kaivan ingin sekali memecatnya. Bisa-bisanya Arsa mengganggu momen berdua antara dirinya dan Naya.
Jika Kaivan memaki Arsa dalam hati, Naya salah tingkah sendiri. Dia jadi seperti terpergok orang sedang berbuat yang tidak-tidak.
"K-kita nggak ngapa-ngapain kok Pak Arsa, beneran!" Naya mengangkat dua jemarinya ke udara.
"Nggak ngapa-ngapain tapi pipinya blushing begitu, Nay. Hayo, abis diapain barusan sama Kaivan?" selidik Arsa seraya memicingkan matanya.
"Lagian lo ngapain sih ke sini?" tanya Kaivan dengan nada kesal.
"Wih santai Bos! Gue cuma mau ingetin lo lagi, kalau sore ini lo ada meeting sama pak Gunawan. Nggak taunya lo lagi berduaan sama Naya di sini," kata Arsa.
"Aduh, Pak. Saya sama Pak Kaivan nggak ngapa-ngapain kok, kita cuma ngobrol biasa. Pak Arsa jangan salah sangka," ucap Naya lagi memperjelas. Dia takut sekali disangka yang tidak-tidak.
"Santai aja Nay, saya tau kamu nggak bakalan berbuat yang tidak-tidak. Kecuali ...." Arsa menjeda kalimatnya.
"Kecuali apa, Pak?" tanya Naya.
"Kecuali Kaivan."