
"Apa saya harus berbuat sesuatu dulu supaya kamu sadar sama perasaan kamu?" Pertanyaan dari Kaivan, tiba-tiba saja membuat Naya kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Berbuat apa?" tanya Naya dengan rasa penasaran.
Tiba-tiba saja, Kaivan menurunkannya dari gendongan. Selain karena mereka sudah tiba di depan mobil Kaivan, hal yang membuat Naya menahan nafas adalah karena Kaivan menekan punggungnya di body mobil—dengan tatapan tertuju tepat pada bola matanya.
Naya waspada, dia takut jika Kaivan nekad menciumnya di tempat umum seperti ini. Melihat jika Kaivan semakin menyurukkan wajahnya, jantung Naya semakin bertalu dengan kencang.
"B-bapak mau ngapain?" tanya Naya gugup.
"Menurut kamu saya mau ngapain?" Bahkan hembusan nafasnya saja Naya bisa merasakan, pun dengan suara berat bercampur rendah itu—yang terdengar jelas di telinganya. Kaivan, adalah definisi dari pria dengan segala kesempurnaan.
"Apa kamu bisa merasakannya sekarang? Bagaimana jantung kamu berdegup kencang saat di dekat saya, Naya? Saya tau, jantung kamu berdegup kencang sekarang, kan?" Naya mengerjapkan mata, dia juga mengulum bibirnya ke dalam. Rasanya, menolak ataupun menghindar lagi pun—Kaivan seolah tau jawabannya sendiri.
"Pak jangan begini! Kalau ada orang yang lihat, mereka bisa salah paham." Saat Naya berkata demikian, Kaivan pun menarik tubuhnya. Tapi karena gemas dengan Naya yang terus menghindarinya, Kaivan pun mengetuk kening Naya dengan jemari telunjuknya pelan hingga membuat Naya mengaduh kesakitan.
"Sepertinya saya memang harus terus menyadarkan kamu ya. Ayo sekarang kita pulang!" Kaivan lalu menggeser tubuh Naya untuk membukakan pintu agar Naya segera masuk ke dalam mobil.
Naya yang melihat itu, tertegun sebentar. Dia sadar memang, menghindari perasaannya sendiri. Tapi Naya apa boleh buat, dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya bukan? Meskipun Kaivan terang-terangan bilang menyukainya, Naya hanya tidak ingin—Kaivan hanya sekedar memanfaatkan perasaan itu. Naya tetap harus memastikan semuanya lagi.
Bisa jadi kan, perasaan yang Kaivan rasakan itu hanya sekedar rasa nyaman. Bukan cinta yang seperti Naya rasakan. Naya tau diri, dia memangnya memiliki apa? Sampai-sampai Kaivan jatuh cinta pada dirinya yang jauh dari kata sempurna.
"Saya nggak takut tuh sama hantu," balas Naya sambil masuk ke dalam mobil.
"Kalau begitu, kapan-kapan saya akan ajak kamu main ke rumah hantu."
Jika Naya dan Kaivan sekarang bersama di dalam mobil karena akan pulang ke rumah. Berbeda dengan Indira, yang masih berkutat dengan kesibukannya sebagai seorang model. Pemotretan demi pemotretan dia jabani hingga menjelang malam seperti ini.
"Masih ada satu pemotretan lagi, Bu Indira." Indira menghela nafas lelah saat asisten pribadinya berkata demikian.
"Bisa kamu tunda jadi besok saja, Lena? Saya lelah," kata Indira sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Baiklah Bu Indira, saya akan bilang ke fotografernya untuk menunda pemotretan malam ini menjadi besok. Oh iya, lalu bagaimana rencana Bu Indira selanjutnya? Untuk mendekati Nayra?" Indira tertegun sejenak, pikirannya tertuju pada seorang perempuan yang kemarin terlihat dekat dengan puterinya. Siapa perempuan itu sebenarnya? Apa mungkin jika perempuan itu adalah istri baru Kaivan? Tapi selama ini dia tidak pernah mendengar jika Kaivan telah menikah.
"Atur jadwal saya lagi, Lena. Besok pagi, saya ingin berkunjung ke sekolahnya Nayra. Mungkin saja, pihak sekolah tau tentang perempuan itu."
Rencana awal Indira adalah, mencari tau siapa perempuan itu sebenarnya dan apa hubungannya dengan Nayra dan Kaivan. Jika memang kecurigaannya benar, maka Indira harus lebih berusaha lagi untuk mendapatkan hati Nayra. Tapi tidak dengan Kaivan, kariernya bisa terancam jika nekad menjadi pelakor.
"Baiklah, Bu Indira."