
"MAMA NAYA TOLONGIN NAYLA!" Suara nyaring dari teriakan di halaman belakang, membuat seorang pria berusia kepala tiga tersebut menghentikan sejenak kegiatan mengetiknya.
"NAYRA! KENAPA KAMU BISA DI KOLAM?!" Lalu suara kedua, Kaivan kenali sebagai suara Naya. Perempuan itu nampak memekik dan samar-samar mengucapkan kata 'kolam'.
"Sebenarnya apa yang sedang mereka berdua lakukan?" Kaivan hendak menemui mereka ke halaman belakang, namun saat dia berdiri—sebuah suara yang dihasilkan dari ponselnya mengurungkan niat pria itu.
Kaivan mengangkat telepon dari Arsa terlebih dahulu, kedua laki-laki yang bersahabat itu berbincang mengenai urusan pekerjaan. Untungnya, Arsa tidak lama menelepon, dan hal itu membuat Kaivan kembali mendengar teriakan yang ketiga kalinya dari halaman belakang.
"MAMA NAYA TOLONG!" Teriakan ini Kaivan hafal, siapa lagi jika bukan suara puterinya. Lalu beberapa detik setelah teriakan Nayra, Kaivan mendengar ada suara orang masuk ke dalam kolam renang.
Khawatir jika terjadi sesuatu, Kaivan menghentikan pekerjaannya. Tapi lebih dulu dia membereskan segala peralatannya. Baru setelah itu pergi menuju halaman belakang.
Dengan langkah tergopoh, Kaivan menuju halaman belakang. Sesampainya dia di kolam renang, pria itu melihat Nayra yang sedang berenang di sana. Namun, tangan puterinya itu seperti kesulitan menggapai sesuatu. Sampai pada saatnya, Kaivan membelalak—melihat ada orang lain di dalam kolam yang perlahan merosot ke dasar kolam.
"NAYA!" Tanpa berpikir apa-apa lagi, Kaivan melompat masuk ke dalam kolam. Dia mula-mula meraih tangan Nayra untuk membawanya ke sisi kolam, syukurnya—pegawai Kaivan yang lain pun berdatangan, lalu membawa Nayra naik ke atas.
Sedangkan Kaivan, menyelam ke dasar kolam untuk meraih tubuh Naya yang semakin merosot ke bawah. Jantungnya sudah berdegup kencang saat melihat mata Naya terpejam dan tubuhnya semakin lemas.
Hap!
Kaivan berhasil menarik lengan perempuan itu, lalu disusul dengan kedua tangannya yang merengkuh pinggang Naya. Perlahan-lahan, Kaivan membawa Naya naik ke atas permukaan kolam. Syukurnya, di atas para pegawainya sudah siap menolong Naya.
"Bantu saya angkat Naya, cepat!" Kaivan mendorong tubuh Naya ke atas. Lantas segera naik juga dari kolam.
Dilihatnya, nafas Naya kian sedikit. Lalu Kaivan ambil langkah inisiatif untuk menekan dada Naya sebagai pertolongan pertama agar air yang terminum oleh perempuan itu bisa keluar. Lalu langkah selanjutnya adalah, dengan memberinya nafas buatan.
"Maaf Naya, tapi saya harus lakukan ini." Selanjutnya, Kaivan menundukkan kepala. Kedua tangannya bekerja untuk membuka bibir Naya, dan dari situ—Kaivan memberi Naya nafas buatan dari bibirnya.
Bibir mereka memang bersentuhan, tapi itu dilakukan Kaivan untuk memberi nafas buatan pada Naya. Sama sekali bukan bermaksud untuk mesum.
Setelah dirasa cukup, Kaivan kembali menekan dada Naya. Hingga usahanya membuahkan hasil. Naya terbatuk dengan mengeluarkan cukup banyak air dari mulutnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar," kata Kaivan menghela nafas lega.
"Kamu mau apa? Oh, pasti kamu kedinginan ya?" tanya Kaivan saat Naya membuka mulut hendak berbicara. Namun belum sempat Naya buka suara, tubuhnya melayang karena digendong ala bridal style oleh Kaivan lalu dibawa masuk ke dalam rumah.
"Bi Ijah, tolong ikut saya untuk menggantikan baju Naya," ujar Kaivan menyuruh salah satu ART yang paling tua di rumah itu.
Selanjutnya, Naya pun direbahkan di tempat tidur. Kaivan menaruh jemarinya di bibir Naya saat Naya lagi-lagi akan berbicara.
"Jangan bicara apa pun dulu! Kalau kamu khawatir spreinya basah, bisa diganti lagi. Sekarang, kamu ganti baju dibantu Bi Ijah. Lalu istirahat di sini, jangan memperkerjakan apa-apa dulu. Urusan Nayra, biar saya yang urus." Usai berkata seperti itu, Kaivan pun bergegas pergi meninggalkan Naya—yang menatapnya dengan tatapan kagum sekaligus bingung. Entah apa yang sudah terjadi, karena seingatnya—dia akan menolong Nayra yang tenggelam. Lalu saat bangun, dia langsung melihat wajah Kaivan yang hanya berjarak sekian inchi dari wajahnya.
***
Kaivan dan Nayra, sekarang berada di kamar Kaivan untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat tadi pada Nayra.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nayra? Kenapa mama Naya bisa tenggelam begitu?" tanya Kaivan pada Nayra yang sekarang menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
"Maafin Nayla, Papa. Nayla kila, mama Naya bisa belenang. Makanya Nayla pula-pula tenggelam bial mama Naya ikutan nyebul." Jawaban dari Nayra membuat Kaivan meloloskan nafas kasar lalu mengusap wajahnya.
"Sayang, sebelum lakuin sesuatu—kamu harus tanya dulu ya. Gimana kalau tadi Papa terlambat tolongin mama Naya? Bisa fatal akibatnya, Sayang. Kamu juga nggak bisa bantu mama Naya kan, walaupun bisa berenang?" Pertanyaan Kaivan dijawab menggunakan anggukan kepala dari Naya.
"Maaf, Papa."
"Bilang maafnya nanti ke mama Naya, karena kamu mama Naya hampir celaka," ujar Kaivan.
"Lain kali, hal yang kayak gini janga diulangi lagi ya, Nayra. Papa nggak mau Nayra jadi anak nakal lagi kayak dulu, janji sama Papa ya?" Kaivan melipat jemarinya, tapi meninggalkan jemari kelingking. Lalu ayah dan anak itu, saling janji dengan mengaitkan jari kelingking masing-masing.
"Sekarang kita temui mama Naya, Nayra ingat di sana harus ngapain?" tanya Kaivan.
"Minta maaf ke mama Naya."
"Bagus, anak pinter." Kaivan mengusap kepala puterinya dengan sayang. Meski yang terjadi hari ini dikarenakan ulah Nayra yang nakal, tapi Kaivan tak sampai pernah marah besar pada puterinya tersebut. Selama hidup, Nayra adalah separuh jiwanya. Jangankan memarahi, berkata terlalu keras pada anak itu saja Kaivan tak mampu.
Sementara di sisi lain, Naya yang sedang memainkan ponselnya terkejut—saat Kaivan dan Nayra masuk ke kamarnya.
"Bagaimana keadaan kamu, Naya?" tanya Kaivan.
"Saya sudah baik-baik saja, Pak. Oh iya, terimakasih atas pertolongannya. Karena Bapak, saya selamat dari tenggelam." Naya berkata.
"Tidak apa-apa, justru di sini saya ingin minta maaf sama kamu. Gara-gara mau nolongin Nayra, kamu tenggelam. Padahal, Nayra itu pintar berenang. Tanpa bantuan kamu pun, Nayra bisa naik kembali dari kolam." Naya menganga, tentu dia terkejut dengan penjelasan Kaivan. Jika pintar berenang, kenapa Nayra berpura-pura tenggelam padanya? Oh, atau mungkin—anak itu hendak bermain-main dengannya.
"Nayra, sana!" Kaivan mendorong pelan tubuh Nayra yang menunduk dalam sejak dia datang ke kamar Naya.
"Hei anak cantik! Kenapa kepalanya nunduk begitu, hm?" tanya Naya sambil mensejajarkan tingginya dengan Naya.
"Aku mau minta maaf sama Mama Naya, aku udah bohong kalau aku tenggelam. Maafin aku ya, Mama Naya." Suara Nayra terdengar tulus, Naya mana mampu memarahi anak itu.
"Iya, Sayang. Mama Naya uda maafin Nayra. Tapi ingat! Jangan bohongin Mama Naya lagi ya? Apalagi suruh Mama Naya berenang, Mama Naya soalnya nggak bisa berenang kayak Nayra."