When I Meet You

When I Meet You
21 : Nayra Kambuh?



Kedatangan Naya ke sekolah Nayra menjadi sorotan para wali murid yang lain. Selain karena penampilan gadis itu yang sekarang jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali mengantar Nayra ke sekolah, bagaimana raut wajah yang nampak cemas menjadi sorotan mereka juga.


Saat Naya sedang membereskan barang-barang di kamarnya, dia mendapatkan telepon dari pihak sekolah Nayra. Mereka mengatakan jika penyakit Nayra kambuh dengan muncul banyak ruam di sekitar pipi anak itu. Merasa situasi memburuk, Naya pun segera bergegas pergi menuju sekolah Nayra. Tapi sebelumnya, dia juga sempat menelepon Kaivan—mengabarkan kondisi Nayra yang penyakitnya kambuh kembali.


"Di mana Nayra?" tanya Naya pada salah satu guru di sana yang Naya kenali sebagai wali kelasnya.


"Mari, Bu. Saya antarkan ke UKS." Selanjutnya, langkah Naya membawanya ke sebuah ruangan khusus untuk anak-anak yang sakit. Begitu tiba di sana, Naya langsung memeluk tubuh Nayra. Dia juga memeriksakan ruam-ruam merah di pipi Nayra.


"Kenapa Nayra bisa kambuh, Bu? Bukannya pak Kaivan sudah memberikan banyak pesan tentang hal-hal yang dilarang dan yang boleh dilakukan untuk Nayra?" Saat mendapatkan pertanyaan itu, wali kelas Nayra pun menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Saya mewakili pihak sekolah meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena kami, telah lalai menjaga Nayra dengan baik. Menurut dugaan saya, Nayra kambuh karena tadi dia mengikuti kegiatan olahraga di lapangan. Saya mohon maaf, karena guru olahraga yang sekarang mengajar—baru pindah ke sini hari ini. Dia sepertinya tidak tau, jika Nayra tidak boleh kepanasan karena matahari. Sekali lagi saya mohon maaf, Bu." Guru tersebut pun membungkukkan badannya pada Naya.


Mendengar penjelasan wali kelas Nayra, Naya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan guru tersebut. Bagaimana pun, ini sudah terjadi.


"Nayra, kamu kenapa?" tanya Naya saat melihat Nayra nampak menggigil. Anak itu seolah memeluk dirinya sendiri.


"Dingin, Mama Naya. Nayla kedinginan," jawab Nayra yang semakin membuat Naya dilanda kecemasan.


"Ayo, Mama Naya bawa Nayra ke rumah sakit ya." Tanpa memikirkan hal apa pun lagi, Naya segera menggendong Nayra. Membawa tubuh gadis kecil itu berlarian memecah kerumunan yang sudah memperhatikan kambuhnya Nayra.


"Permisi, permisi! Hal seperti ini tidak pantas kalian tonton. Puteri saya sedang sakit, bukan sedang berkreasi," ujar Naya pada wali murid yang berkumpul untuk melihat Nayra. Dia bahkan refleks menyebut Nayra puterinya saat sedang cemas seperti ini. Tanpa Naya sadari, ada seorang pria yang berdiri di balik dindin melihat perlakuannya pada Nayra.


Pria itu Kaivan, saat dia panik dari kantor untuk ke sekolah Nayra. Dia menghela nafas lega saat Naya telah tiba lebih dulu, lalu menenangkan Nayra dengan pelukannya. Dan barusan saja, Naya menyebut Nayra sebagai puterinya untuk memecah kerumunan para wali murid. Perempuan itu, benar-benar memiliki sikap keibuan meski statusnya masih lajang.


Saat Naya sudah pergi ke parkiran, Kaivan pun menyusulinya. Dia menahan kepergian Naya yang hendak naik taksi dengan membunyikan klakson mobilnya.


"Naya! Ayo bawa masuk!" Peluh keringat yang bercucuran dari dahi ke pipi Naya, tak sama sekali gadis itu hiraukan. Dia lega saat Kaivan juga ternyata sudah sampai di sekolah Nayra.


"Ayo bawa Nayra ke rumah sakit terdekat, Pak. Dia menggigil," kata Naya pada Kaivan.


"Apa? Kamu peluk Nayra dengan erat, saya akan ngebut biar kita cepat sampai ke rumah sakit."


Selanjutnya, mobil yang dikendarai oleh Kaivan pun membelah jalanan di kota Jakarta Timur tersebut. Tujuan mereka saat ini adalah menuju rumah sakit terdekat.


Setibanya mereka di rumah sakit, Kaivan mengambil alih Nayra di gendongan Naya lalu membawanya berlari kecil menuju ruang UGD—agar Nayra secepatnya bisa ditangani.


"Penyakit lupus puteri saya kambuh, Dokter. Ruam-ruam di pipinya tambah banyak, dia juga merasa kedinginan." Kaivan menjelaskan apa yang dirasakan oleh Nayra pada dokter yang menjaga.


"Baiklah, saya akan periksa ya."


Selama Nayra diperiksa oleh dokter, Naya yang paling cemas di sini. Dia baru pertama kali melihat Nayra kambuh seperti ini. Bagaimana ruam-ruam merah di pipi anak itu, pun dengan badan yang menggigil—membuat Naya menaruh kekhawatiran berlebih.


"Nayra ...," Naya menggumamkan nama Nayra sepanjang anak itu diperiksa, dan Kaivan—mencoba menenangkan Naya dengan menepuk pundaknya dua kali.


"Tenang, Nayra tidak akan kenapa-napa. Dia anak yang kuat," kata Kaivan.


"Saya baru kali ini melihat penyakit Nayra kambuh, Pak. Saya nggak tau, kalau bagi orang—kena sinar matahari anggapannya sepele, tapi bagi Nayra itu fatal."


"Iya, Nayra memang tidak boleh kepanasan. Dia juga nggak boleh kecapean. Kedua itu, seringkali bikin dia kambuh kayak gini, Naya." Naya berjongkok lemas mendengar penjelasan Kaivan, hal sepele baginya—ternyata berakibat fatal untuk anak seperti Nayra.


"Maafkan saya, Pak Kaivan. Saya gagal menjaga Nayra dengan baik." Naya merasa bersalah atas apa yang terjadi, sedangkan Kaivan di depannya menggeleng. Pria itu lantas merunduk sebentar untuk memegang bahu Naya, lantas membantu gadis itu untuk kembali berdiri tegak.


"Ini bukan salah kamu, ini kesalahan dari sekolahnya Nayra."


"Tadi, saya sempat mengobrol dengan wali kelas Nayra. Dia bilang, ada guru olahraga baru yang tidak tau dengan kondisi Nayra. Yang akhirnya, menyuruh Nayra untuk ikut olahraga di lapangan," jelas Naya.


"Kalau begitu, besok saya urus masalah ini ke sekolah Nayra. Untuk beberapa hari, mungkin Nayra tidak akan saya izinkan untuk sekolah dulu."


"Itu lebih baik, Pak. Biarkan Nayra pulih dulu, baru sekolah lagi. Saya akan jaga Nayra dengan baik setelah kejadian ini." Kaivan menganggukkan kepalanya, dia juga tersenyum tipis pada Naya.


"Saya senang, kamu benar-benar bertanggungjawab dengan peran kamu, Naya." Mendapatkan Kaivan berkata seperti itu, Naya membalasnya dengan seulas senyum.


"Sebenernya, dari awal saya bertemu Nayra. Saya seolah merasa dekat dengan Nayra, apalagi saat saya ditawarkan untuk menjadi pengasuh Nayra—yang kebetulan saya juga butuh pekerjaan. Jadi sampai saat ini, saya bahkan lebih merasa dekat lagi dengan Nayra. Atau bahkan mungkin, saya sudah menganggap Nayra seperti puteri kandung saya sendiri. Meski dia tidak lahir dari rahim saya."


Kaivan dibuat menahan senyuman di bibir saat Naya mengatakan itu langsung pada dirinya. Tidak taukah Naya, jika saat ini—hati Kaivan berdesir hebat mendengar itu? Jika begini, Kaivan menjadi semakin yakin—jika hatinya sudah jatuh pada Naya.