
Hari ketiga Nayra di rumah sakit, gadis kecil itu sudah kembali ceria seperti sebelumnya. Mungkin, setelah dinyatakan boleh pulang ke rumah oleh dokter—Kaivan pasti akan segera membawanya pulang.
Saat ini, Nayra sedang disuapi makan buah mangga segar oleh Naya. Bagaimana lahapnya dia memakan, sudah menandakan jika Nayra sudah kembali pulih dari sakitnya.
"Mama Naya senang kalau Nayra sehat lagi, apalagi makan banyak kayak gini." Naya mengusap rambut sebahu Nayra dengan satu tangannya yang bebas tak memegang apa pun.
"Mama Naya, Mama Naya nggak boleh pelgi tinggalin Nayla ya," kata Nayra tiba-tiba, sontak saja hal itu membuat Naya mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa Nayra tiba-tiba bilang begitu, hm? Mama Naya bakalan terus ada untuk Nayra, nggak akan ninggalin Nayra." Nayra dibuat mengulas senyum dengan perkataan Naya, gadis kecil itu lantas melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Naya untuk memeluk.
"Pokoknya Mama Naya nggak boleh kayak mama kandung Nayla, yang kata papa ninggalin Nayla lagi bayi." Mendengar anak sekecil Nayra yang berkata seperti itu, benar-benar membuat Naya seolah ikut merasakan sakit. Ditinggal sejak bayi, seorang anak yang seharusnya mendapatkan perhatian atau bahkan dekapan hangat dari ibundanya—justru tidak mendapatkan itu.
Mengingat bagaimana kerasnya kehidupan pada Nayra, membuat Naya mengusap pipi gadis kecil itu dengan penuh perasaan. Ditatapnya Nayra dengan lembut, tanpa pernah menghakimi.
"Walaupun mama Nayra tinggalin Nayra dari bayi, tapi kalau nanti ketemu—Nayra harus tetap sopan ya sama beliau. Karena bagaimana pun, mama kandung Nayra itu udah kandung Nayra selama sembilan bulan, terus bertaruh nyawa juga untuk melahirkan Nayra ke dunia. Jadi, Nayra harus tetap hormat sama mama kandung Nayra." Naya tau, tidak mudah untuk seorang anak seperti Nayra—apalagi gadis kecil itu sudah diceritakan jika ibunya pergi meninggalkan dia saat masih bayi. Tapi bagaimana pun, ibunya tetap ibu kandung yang patut dihormati. Sebisa mungkin, Naya akan menanamkan rasa hormat di hati Nayra pada ibunya itu.
"Tapi kata oma, mama Nayla itu jahat. Buktinya dia tinggalin Nayla dali bayi," kata Nayra lagi-lagi menyayat hati Naya.
Diusapnya pelan kepala Nayra, Naya bisa merasakan kesepian yang selama ini Nayra rasakan. Melihat bagaimana tatapan memohon agar dirinya tidak melakukan hal yang sama seperti ibunya Nayra, Naya jadi terbawa suasana.
Gadis berusia 25 tahun itu berkaca-kaca, tanpa menunggu lama lagi—air matanya menetes begitu saja. Tentang permintaan Nayra yang tidak ingin dia pergi meninggalkan juga, Naya mungkin bisa menjawab hal itu sekarang, Tapi tidak dengan nantinya. Naya tidak tau, akan sampai kapan dia berstatus sebagai pengasuh Nayra. Jika ke depannya Kaivan bosan, ada kemungkinan dirinya bisa dipecat bukan? Atau jika Naya melakukan kesalahan, dia pasti akan dipecat bukan? Atau jika ada sebuah peluang besar untuk Naya meraih cita-citanya?
Tapi meskipun begitu, Naya berjanji—akan tetap berkabar dengan Nayra meskipun dia tidak lagi menjadi pengasuh gadis kecil itu.
"Mama Naya kenapa nangis?" Nayra bertanya sambil mengusap air mata yang turun ke pipi Naya.
Sontak saja, Naya menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak sanggup menjelaskan semuanya.
"Mama Naya nggak apa-apa, cuma lagi terharu aja sama Nayra yang nggak kepengen Mama Naya pergi."
Ternyata, percakapan dua perempuan berbeda usia itu—lagi dan lagi terdengar oleh Kaivan yang tidak jadi masuk dan hanya mengintip di celah pintu. Bagaimana dengan jelasnya Nayra meminta Naya untuk tetap berada di sisinya, membuat Kaivan bimbang setengah mati.
"Kita pulang, anak cantik!" Saat memasuki ruangan, Kaivan sengaja mengulas senyum lebar untuk menyambut puterinya.
"Nayla udah boleh pulang, Pa?" tanya Nayra yang langsung diangguki oleh Kaivan.
"Asyikk, akhirnya aku bisa pulang juga."
"Yaudah, ayo siap-siap. Kita pulang ke rumah," kata Naya yang lantas saja bergerak membereskan keperluan Nayra ke dalam tas.
***
Saat ini malam telah datang menyapa, kerlap-kerlip bintang di atas sana menambah keindahan malam ini. Di pukul 23.00 WIB seperti ini, Naya justru sulit untuk tertidur. Dan akhirnya memilih mencari ketenangan dengan bersantai di halaman belakang—lebih tepatnya di pinggir kolam renang.
Naya memang tidak bisa berenang, tapi bukan berarti dia takut dengan airnya. Hanya untuk menjuntaikan kaki seperti ini, sama sekali tidak membuatnya takut.
"Tidak takut tenggelam lagi seperti kemarin?" Naya menoleh, dan mendapatkan Kaivan yang ikut-ikutan menjuntaikan kaki ke kolam renang setelah pria itu mengambil duduk tepat di sebelahnya.
"Pak Kaivan ngapain di sini?" tanya Naya.
Satu alis Kaivan naik ke atas lantas bertanya. "Memangnya siapa yang melarang saya untuk ke sini? Ini rumah saya," kata Kaivan.
Naya meringis pelan dengan perkataan Kaivan.
"Iya tau, ini rumah Bapak. Cuma saya heran, kenapa Bapak ada di sini malam-malam, memangnya tidak tidur?" tanya Naya.
Bukannya menjawab, Kaivan malah balik bertanya. "Kamu sendiri, ngapain di sini? Tidak tertidur?"
"Insomnia saya terkadang kambuh, makanya saya butuh ketenangan. Jadi ke sini deh," jawab Naya yang membuat Kaivan menganggukkan kepalanya.
Ada hening beberapa saat di antara mereka berdua, hanya ada suara hembusan nafas dari keduanya yang terdengar samar-samar.
"Naya," panggil Kaivan tiba-tiba. Dan Naya menanggapinya dengan sebuah deheman pelan.
"Apa perkataan kamu pada Nayra saat di rumah sakit itu benar?" Naya menolehkan wajah pada Kaivan saat pria itu bertanya.
"Yang mana, Pak?" tanya Naya.
"Perkataan kamu yang katanya tidak akan meninggalkan Nayra seperti ibunya." Naya baru mengingatnya, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Mungkin untuk saat ini, saya bisa berjanji untuk tidak pergi meninggalkan Nayra. Tapi suatu saat nanti, saya tidak bisa berjanji."
"Kenapa?" tanya Kaivan penasaran.
"Bisa aja kan saya membuat kesalahan fatal sehingga menyebabkan Bapak pecat saya, atau Bapak bosen lihat muka saya—terus Bapak pecat saya. Atau mungkin juga, saya dapet peluang buat raih cita-cita saya jadi koki. Tapi saya janji, kalaupun saya nggak lagi jadi pengasuh Nayra—saya tidak akan melupakan dia. Saya akan tetap berkabar, mungkin lewat telepon." Mendengar ucapan Naya, Kaivan jadi meyakinkan dirinya untuk menyatakan sesuatu pada perempuan itu.
"Naya," panggil Kaivan lagi.
"Ya, Pak?" Di saat itu juga, Kaivan memutar tubuhnya 90° untuk menghadap Naya. Diraihnya tangan perempuan itu, pun ditatapnya perempuan itu dengan tatapan yang membuat Naya membeku.
"Saat bertemu dengan kamu, ada perasaan berdesir yang tak bisa saya jelaskan saat itu juga. Tapi satu yang saya sadari, hanya kamu yang bisa membuat perasaan saya berdesir begitu saja. Naya ... kalau saya bilang, saya suka sama kamu, apa kamu percaya?" Selama hidup 25 tahun ini, Naya tak pernah mendapati pernyataan cinta se mendebarkan ini. Bagaimana dia yang ditatap dengan penuh cinta, pun dengan tangan yang sudah digenggam lembut.
"J-jangan jatuh cinta sama saya, Pak. Saya bagaikan langit dan bumi kalau sama Bapak."