
Satu hari ini, Indira sengaja mengosongkan jadwalnya untuk khusus menemui Nayra di sekolahnya. Usai melihat foto Nayra yang diberikan oleh Lena—sekretarisnya, Indira sangat ingin bertemu dengan Nayra. Rasa rindu yang selama ini dia rasakan ingin segera terobati. Maka setelah dia bersiap di rumahnya, dengan segala hadiah makanan dan mainan yang akan diberikannya pada Nayra. Perempuan yang kali ini mencepol rambutnya asal itu sudah nangkring di depan parkiran sekolah Nayra.
Kedatangannya ke sekolah Nayra, sempat membuat beberapa orang heboh dan meminta foto bareng dengannya. Tapi setelah memanggil bodyguard untuk berjaga, Indira bisa menikmati waktu dalam menunggu Nayra pulang.
"Apa kita tidak berniat untuk bertanya langsung pada gurunya, Bu? Mungkin saja Nayra bisa keluar lebih dulu kalau tau Ibu menjemputnya," usul Lena—asisten pribadi Indira.
"Biar saja, saya menunggu di sini saja. Nayra sebentar lagi juga pulang kok," balas perempuan itu dengan senyum mengulas di wajahnya yang cantik jelita.
"Tapi, bagaimana kalau Nayra terkejut? Dan nanti melaporkannya pada pak Kaivan. Apa nanti pak Kaivan akan marah saat Bu Indira menemui Nayra?"
"Saya rasa Kaivan tidak seharusnya marah, Nayra juga puteri saya. Tentu saya juga berhak menemuinya, bukan hanya Kaivan." Lena mengangguk saja sebagai respon, Indira memang benar ibu kandung dari Nayra. Tapi keberadaannya selama ini ke mana? Kenapa dia baru mau kembali setelah mencapai kesuksesan?
Pikiran Lena sebenarnya berkecamuk, dia ikut mengkhawatirkan bagaimana respon Nayra saat bertemu kembali dengan ibu kandungnya. Apalagi dengan kehadiran orang baru dalam hidup Nayra.
Sebenarnya Lena sudah tau, jika ada seorang perempuan yang terlihat akrab dengan Nayra. Dia bahkan menduga perempuan itu sebagai sosok ibu pengganti untuk Nayra. Meski dia belum tau seperti apa rupanya, jika dilihat dari perlakuannya—perempuan itu sangat meyayangi Nayra.
Beberapa hari ini, Lena menjadi penguntit Nayra di keseharian gadis kecil itu. Makanya dia tau kehadiran Naya dalam hidup Nayra.
Lena sengaja tidak memberitahukan fakta jika di sisi Kaivan dan Nayra sudah ada sosok perempuan lain, khawatir jika Indira akan marah besar dan akan berakibat pada dirinya ataupun pekerjaan.
Bekerja selama hampir 3 tahun bersama dengan Indira, Lena hafal bagaimana sifat perempuan itu. Tentunya dia akan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan orang yang menghalangi dirinya dalam mencapai tujuan.
"Anak-anak sepertinya sudah bubar," kata Indira lantas segera keluar dari dalam mobil. Perempuan dengan dress berwarna army itu menyapu pandangannya, untuk mencari ke mana sosok Nayra.
Di saat sudah mencocokkan dengan foto yang berada di genggaman, dalam mencari diri Nayra. Indira terpaku dengan Nayra yang berjalan dengan tangan dituntun oleh seorang perempuan.
Nayra terlihat begitu akrab dengan perempuan itu, dan Indira tidak senang dengan pemandangan tersebut. Tangannya mengepal di sisi tubuh, netranya menatap tajam perempuan di sebelah Nayra.
"Siapa perempuan itu Lena?" tanya Indira sambil tak sama sekali memalingkan wajahnya dari Nayra dan sosok perempuan asing di sebelah Nayra.
"Saya tidak tau, Bu Indira. Mungkin saja dia pengasuh baru Nayra atau mungkin ibu baru untuk Nayra." Perkataan Lena membuat darah Indira mendidih. Perempuan itu menolehkan kepala pada Lena, menatap asisten pribadinya itu dengan tajam akibat berkata seperti itu.
"Ibu Nayra hanya saya, bukan perempuan asing itu." Selanjutnya, Indira melangkahkan kakinya menuju Nayra.
"Sial! Siapa perempuan itu?" tanya Indira selepas Nayra dibawa pergi oleh Kaivan dengan perempuan asing itu.
Jika Indira sedang menahan gejolak emosi karena kehadiran orang baru di hidup Nayra, Lena memicingkan matanya untuk melihat perempuan di sebelah Nayra. Pasalnya, wajah perempuan itu tak asing bagi Lena.
"Cewek itu kok mirip sama Naya ya? Tapi kayanya nggak mungkin Naya, Naya kan ada di kampung. Lagipula, dia nggak mungkin jadi ibunya Nayra." Lena membatin saat matanya memperhatikan seorang perempuan yang tadi ada di sebelah Nayra.
Sementara di sisi lainnya, selepas menjemput Nayra di sekolahnya. Kaivan berniat membawa puterinya itu untuk ke kantornya saja, biar nanti sore dia bisa membawa puterinya dan Naya pergi makan di salah satu restoran favoritnya.
Masih dengan posisi Naya duduk bersama Nayra di kursi belakang, Kaivan melirik Naya dari kaca spion. Perempuan yang berstatus sebagai pengasuh Nayra tersebut tengah membacakan dongeng binatang pada Nayra.
Melihat bagaimana kedekatan Naya dan Nayra, Kaivan selalu dibuat tersenyum dengan hal itu. Banyak harapan jika kedekatan tersebut akan terus terjalin sampai nanti. Mungkin itu akan terjadi jika Naya menerima dirinya.
Meskipun banyak harapan dalam hati Kaivan, tapi pria itu berjanji untuk tidak memaksa Naya untuk menerima dirinya. Kaivan tidak ingin membuat Naya tidak nyaman karena perasaan Kaivan padanya. Dia ingin Naya masih bersikap seperti biasanya seperti sebelum Kaivan ada perasaan.
"Nanti sore Papa akan ajak Nayra sama Mama Naya makan di resto Papa," kata Kaivan memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
"Sekalian ajarin Mama Naya masak di sana," imbuh Kaivan yang lantas membuat Naya menatap padanya.
"Beneran, Pak?" tanya Naya, memastikan.
"Iya, waktu itu saya pernah berjanji pada kamu bukan? Untuk ajak kamu ke salah satu restoran saya, biar di sana kamu juga bisa belajar sama kokinya langsung." Perkataan Kaivan, sontak saja membuat Naya berbinar.
"Terimakasih banyak, Pak Kaivan." Senyum gadis itu terus mengulas, padahal hal seperti ini menurut Kaivan hanyalah hal kecil. Tapi bagi Naya yang memang mempunyai cita-cita menjadi seorang koki, saat belajar langsung dari koki di salah satu restoran bintang lima—tentu saja membuatnya sangat senang.
"Sesenang itu ya kamu dengan memasak?" Pertanyaan dari Kaivan tanpa ragu Naya angguki.
"Dari kecil, saya suka bantu ibu saya memasak. Nggak taunya, saat sudah besar—malah ingin menjadi seorang koki." Kaivan mengangguk paham. Jika hal seperti ini dapat mengundang senyum dari Naya, maka akan dengan senang hati Kaivan memberikan fasilitas khusus untuk Naya di salah satu restoran miliknya.
"Saya menantikan masakan kamu di sana."