
Sekarang siang sudah mau habis, sinar matahari pun sudah meredup dan sebentar lagi akan terbenam. Bahkan, para pengunjung taman bermain pun satu persatu mulai meninggalkan taman bermain.
Di bawah sebuah pohon yang rindang, seorang gadis meloloskan nafas kasar. Berjam-jam dia berkeliling taman bermain untuk mencari Kaivan dan Nayra, namun tetap saja tidak dia temukan. Sempat terpikirkan jika dia pulang saja, tapi kembali lagi saat dia tidak tau arah jalan pulang ke rumah.
Gadis yang tak lain adalah Naya tersebut menyandarkan punggungnya pada batang pohon, di bawah pohon mangga tersebut dia menatap satu persatu wahana yang akan ditutup. Mungkin tinggal menghitung menit lagi, taman bermain pun akan ditutup.
"Gua harus gimana? Mau pulang pun gue nggak bisa," kata Naya lantas meloloskan nafas kasar untuk yang ke sekian kalinya.
Dia lalu melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, di sana—lebih tepatnya sudah menunjukkan pukul 17.27 WIB. Bahkan beberapa menit dari sekarang, adzan magrib akan segera berkumandang.
"Baru kali ini gue tersesat, mana sendirian pula." Naya mengurut-ngurut kakinya yang terasa pegal akibat berjalan-jalan terus sejak tadi.
"Kayanya gue harus keluar dari sini deh, taman bermain mau ditutup soalnya." Naya lalu menegakkan tubuhnya, dia berdiri lalu membersihkan area bokongnya karena ada daun dan rumput yang menempel.
"Nunggu di luar gerbang kayanya lebih baik, siapa tau pak Kaivan juga cariin gue." Naya melirik ke sekitarnya, benar dugaannya jika taman bermain akan segera tutup. Terbukti dengan penjaga yang sudah berkeliling untuk memastikan tidak ada lagi pengunjung.
"Nona tunggu!" Saat melihat Naya, salah satu penjaga menghentikan langkah Naya.
"Sepertinya anda yang dicari oleh pria itu ya?" tanyanya pada Naya.
"Pria yang mana?" Dahi Naya berkerut, tapi tak urung dia juga memikirkan, apa pria yang disebut adalah Kaivan?
"Dia bersama seorang anak perempuan, dia bilang jika dia kehilangan istrinya. Kami juga hendak mencari Nona sejak tadi, hanya saja—ada briefing dari pihak taman bermain membuat kami para penjaga harus menunda pencarian Nona. Tapi sepertinya, suami Nona masih berada di sekitar sini deh. Soalnya dia bilang, tidak akan pulang dulu jika belum menemukan istrinya." Penjelasan dari penjaga tersebut membuat hati Naya terenyuh, apalagi saat Kaivan menyebutnya sebagai seorang istri. Tanpa bisa dicegah lagi, hati Naya berdesir hebat.
"Lalu sekarang di mana dia ya, Pak?" Belum sempat penjaga itu menjawab pertanyaan Naya, seorang pria dari belakang—yang tak lain adalah Kaivan sendiri, berlari lantas menarik lengan Naya untuk membawa tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.
Grepp!
Naya terkejut saat tubuhnya tiba-tiba saja terhuyung karena tarikan tangan seseorang dari belakang, dia membelalakan matanya saat merasakan seseorang yang menarik tangannya tersebut memeluknya amat erat.
"Naya! Kamu ke mana saja? Saya seharian mencari kamu," ucap pria yang memeluknya.
Mendengar suara yang sangat Naya hafal, Naya menghembuskan nafas lega. Tanpa sadar, dia membalas pelukan tersebut sama eratnya.
"Saya yang justru cari-cari Bapak sama Nayra, sampai kaki saya pegal banget ini." Naya terkekeh kecil di akhir kalimatnya.
"Mana yang sakit?" Kaivan tiba-tiba melepaskan dekapan, lantas berjongkok untuk memeriksa kaki Naya.
"Kenapa tidak menelpon? Kenapa juga tidak datang ke pos penjaga?" cerocos Kaivan saat memeriksa kaki Naya.
Melihat Kaivan yang seperti itu, Naya menahan senyum. Antara salah tingkah dengan perlakuan Kaivan, pun malu karena dilihat oleh penjaga-penjaga tersebut.
"Ayo kita pulang!" Kaivan kembali berdiri, tapi sebelum itu—dia lebih dulu berterimakasih pada penjaga-penjaga tersebut.
Usai para penjaga tersebut kembali berkeliling, Kaivan lagi-lagi berjongkok. Tapi kali ini dibarengi dengan tepukan di punggungnya.
"Bapak ngapain?" tanya Naya.
"Ayo naik ke punggung saya, Naya!" Untuk beberapa saat, Naya mengerjapkan matanya. Masih sedikit kurang mencerna ucapan Kaivan.
"Ck, saya akan gendong kamu. Ayo cepat naik!"
"Hah? Eh nggak usah, Pak!" tolak Naya saat sadar jika Kaivan memberinya perhatian lebih, bahkan tak sungkan untuk menggendongnya.
"Ayo cepat naik! Sebelum saya berubah pikiran," kata Kaivan lagi.
"Yaudah, berubah pikiran aja." Naya kembali menolak, dia lantas berjalan hendak meninggalkan Kaivan.
Tapi tanpa perkiraan, berubah pikiran yang Naya kira jika Kaivan tak akan lagi menawarinya untuk digendong di punggung—ternyata malah menggendongnya paksa ala bridal style.
"Pak turunin saya!" Naya meronta, tapi tak urung kedua tangannya melingkar di leher milik Kaivan.
"Saya sudah berubah pikiran, karena kamu lama." Kaivan terus berjalan dengan Naya dalam gendongannya, pria itu membawa Naya keluar dari area taman bermain menuju mobilnya.
Dalam gendongan Kaivan, Naya mengulum senyum. Meski kesannya menolak, tapi hatinya justru senang. Apalagi sekarang jantungnya sudah berdegup tak karuan.
Melihat wajah Kaivan yang hanya berjarak sekian inchi dengan wajahnya, Naya bisa melihat bagaimana rahang tegas tersebut menambah aura ketampanan dari seorang Kaivan Pradipta.
Untuk sekian menit, Naya hanyut menatap wajah Kaivan. Sampai sebuah suara membuatnya tiba-tiba berpaling.
"Sudah puas lihatin wajah sayanya? Bagaimana? Tampan, bukan?" Pertanyaan dari sang pemilik wajah yang ditatap oleh Naya tersebut membuat Naya mendelikkan matanya.
"Siapa yang lihatin Bapak? Geer banget," sanggah Naya.
"Semakin kamu menyangkal, semakin besar tumbuhnya perasaan itu. Bilang aja, kalau kamu sekarang mulai terpikat dengan saya, kan?"
"Ihh, sumpah geer banget." Naya melipat bibirnya ke dalam.
"Apa saya harus berbuat sesuatu dulu supaya kamu sadar sama perasaan kamu?" tanya Kaivan.
"Berbuat apa?"