When I Meet You

When I Meet You
29 : Cemburu Katanya



Seperti perkataan Kaivan, yang akan membawa Naya belajar memasak dengan chef yang berada di restorannya. Sore ini Kaivan benar-benar membawa Naya ke sana.


Setelah menitipkan Nayra pada Arsa, Kaivan menarik tangan Naya lalu membawanya ke dapur. Di sana pria itu sempat berbincang sebentar dengan koki yang biasanya memasak di restoran tersebut, sebelum menyuruh Naya memakai apron yang dibawanya.


"Saya beneran boleh belajar masak di sini, Pak?" tanya Naya memastikan lagi.


"Bener, ini buktinya saya bawa kamu ke sini," balas Kaivan sambil memakai apronnya juga.


"Karena saya juga mau belajar, jadi saya temani kamu di sini," imbuh Kaivan yang membuat dahi Naya berkerut heran sejenak. Tapi setelahnya Naya mengendikkan bahunya acuh, membebaskan Kaivan untuk berbuat apa pun. Toh ini juga restoran miliknya, Naya tidak berhak melarang ini dan itu.


"Jadi ini yang namanya Naya?" Saat selesai memakai apron, Naya terlonjak kaget dengan kedatangan seseorang dari belakangnya. Seorang pria yang tingginya berbeda sedikit dengan Kaivan tersenyum padanya.


"Perkenalkan, saya Bimo. Saya chef di resto ini. Kata Pak Kaivan, kamu ingin belajar masak di sini, benar?" tanya Bimo. Suaranya terdengar begitu sopan dan menjelaskan jika si pemilik nama Bimo tersebut adalah pria yang hangat dan sopan.


"Saya sebenarnya dibawa Pak Kaivan ke sini begitu aja," jujur Naya yang membuat Kaivan meringis karena kepolosan Naya. Padahal tadi, Kaivan berbicara pada Bimo dengan mengatakan keinginan Naya sendiri yang ke sini. Maklum saja, dia tidak ingin dipandang mengistimewakan pengasuh puterinya oleh Bimo. Meskipun sebenarnya memang demikian.


Bimo tertawa kecil dibuatnya, pria itu juga melirik Kaivan yang sudah buang muka karena malu. Sepertinya, sekarang Kaivan tidak bisa berbohong jika dia memiliki perasaan spesial pada pengasuh puterinya sendiri.


"Oke nggak apa-apa. Jadi, kamu mau belajar masak apa di sini?" tanya Bimo dengan sopan.


Naya sempat berpikir sejenak, selama ini—dia hanya bisa memasak menu masakan khas Indonesia. Sepertinya, belajar memasak menu luar negeri harus Naya coba.


"Masakan luar negeri, kira-kira masnya bisa ajarkan?" tanya Naya.


"Luar negeri itu banyak. Di sini ada masakan Korea, Thailand, China, Jepang, atau yang western. Masakan-masakan itu kebetulan lagi rame dipesen di resto ini. Jadi mau belajar yang mana?"


"Western, kayanya saya mau coba yang itu dulu," ujar Naya begitu antusias. Dia pernah menonton video memasak masakan western. Tapi karena dia tidak memiliki uang lebih untuk membeli bahannya yang langka jika di kampung, Naya tidak bisa belajar masakan western.


"Oke, mari kita memasak." Naya mengikuti ke mana Bimo melipir dan berakhir di sebuah meja yang luas, dan tentunya terdapat cukup banyak bahan-bahan masakan.


"Kebetulan sekali, saya tadi baru saja membuat masakan western. Makanya bahan-bahannya masih ada di atas meja. Baiklah Naya, saya akan perkenalkan dulu bahan-bahannya." Bimo menarik kulit lasagna ke depan Naya.


"Ini namanya kulit lasagna. Jadi, hari ini kita akan membuat lasagna yang sebenarnya makanan khas Itali." Naya nampak mengangguk, memahami penjelasan Bimo.


"Untuk membuat saus lasagnanya, ada daging sapi cincang, tomat, kaldu ayam, air, daun seledri, bawang bombay, wortel, daun basil, dan daun parsley. Semua bahan ini diaduk jadi satu. Sekarang kita mulai membuat sausnya dulu," kata Bimo sambil membagi bahan-bahannya dengan Naya dan Kaivan.


"Ini dipotong biasa saja?" tanya Naya pada Bimo.


"Iya, dipotong biasa saja."


Naya lantas melirik ke arah Kaivan.


"Bapak yakin mau bantu masak? Motong bawang aja nggak bisa, kan?" tanya Naya yang membuat Kaivan mendelikkan matanya.


"Lagian, mau bantu masak tapi nggak bisa motong bawang sedikit pun." Meski Naya mengoceh, tapi tak urung dia meraih pisau Kaivan lalu memberikannya contoh cara memotong bawang seperti apa.


"Jadi caranya begini?" tanya Kaivan sambil memegang tangan Naya yang sedang memegang pisau Naya. Sedangkan Bimo, geleng-geleng kepala melihat Kaivan yang sedang modus pada Naya yang lugu.


"Ya begitu, teruskan saja sampai habis." Naya menarik tangannya lalu beralih pada pekerjaannya.


"Setelah ini, kita akan membuat saus bechamel. Bahannya ada susu cair, keju parmesan, mentega, dan tepung terigu." Naya mengangguk sekali lagi atas penjelasan dari Bimo.


"Sekarang kita tumiskan dulu bawang bombay, seledri, dan wortel hingga cukup matang. Setelahnya, kita masukkan daging cincang, pasta tomat, dan tomatnya sendiri hingga mengental. Tapi ingat, harus tetap diaduk. Mungkin sekitar kurang lebih 30 menit dimasaknya," kata Bimo.


"Setelah ini, kita masukkan daun parsley sesuai selera saja. Saya di sini pakai sejumput saja," kata Bimo lagi.


Naya memperhatikan Bimo memasak lasagna sampai lasagna itu jadi, dari setiap gerakan Bimo dan penjelasan—dia benar-benar mempelajarinya.


"Nah sekarang lasagnanya sudah jadi, ini mau dimakan di sini atau dibawa pulang saja?" tanya Bimo.


"Bawa pulang saja, saya tunggu di luar." Bukan Naya yang menjawab tapi Kaivan, pria itu lantas menarik tangan Naya lalu membawanya keluar dari dapur.


Selama memasak lasagna yang menghabiskan waktu sekitar 1 jam, Kaivan terlihat sangat badmood. Bukan tanpa alasan dia badmood, pria itu cemburu karena Naya berdekatan dengan Bimo yang sedang mengajarkannya memasak lasagna.


"Sepertinya setelah ini, saya akan meminta koki yang mengajarkan kamu perempuan saja," celetuk Kaivan saat mereka sambil berjalan.


"Memangnya kenapa?" tanya Naya.


"Saya cemburu." Dua kata yang terlontar dari bibir Kaivan, tanpa Naya duga membuat dia mengulum senyumnya sendiri. Bagaimana wajahnya yang tertekuk, pun dengan bibir yang sedikit maju—membuat Naya gemas melihatnya.


"Baiklah Bapak Kaivan yang terhormat, saya menurut saja apa kata Bapak," kata Naya lalu tersenyum kecil.


Terbiasa mendapatkan perhatian lebih, pun beberapa kalimat frontal yang berkata jujur aka perasaannya—Naya sadari, jika sekarang hatinya mulai berubah.


Tapi tetap saja, Naya mesti memastikan kembali. Apakah perasaannya itu hanya sekedar tertarik biasa atau lebih dari itu. Karena yang sekarang dia sukai itu, bukanlah pria biasa. Selain Kaivan orang berada, statusnya yang punya masa lalu turut menjadi perhatian Naya.


"Kamu tidak boleh dekat dengan lelaki lain selain saya." Tiba-tiba kembali, Kaivan menyeletuk.


"Kok gitu? Saya bukan pasangan Bapak loh, Bapak ngga berhak posesif sama saya."


"Sekarang memang bukan, tapi nanti kamu akan jadi pasangan saya. Jadi, jaga diri dan hati kamu dari laki-laki lain buat saya, Naya." Naya lagi-lagi mengulum senyum saat keposesifan Kaivan padanya begitu jelas. Maka dengan perlahan, dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Bapak Kaivan yang terhormat."