
Berkali-kali berusaha untuk tertidur, tapi Naya justru tetap kepikiran dengan perkataan bi Ijah tadi. Tentang Kaivan yang katanya menolongnya, lalu memberinya nafas buatan, pun dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir.
"Aduhh, first kiss gue diambil pak Kaivan dong." Naya menyentuh bibirnya, dia masih ingat jelas saat bi Ijah juga bercerita—bagaimana Kaivan yang mentransfer oksigen padanya lewat bibir, dan bibir mereka bersentuhan.
"Bukan first kiss lagi sih, first kiss gue diambil kemarin kan? Gara-gara ular tangga itu," pekik Naya saat ingat hari itu lagi. Hari di mana Kaivan mengecup bibirnya tanpa sengaja karena didorong oleh Nayra dari belakang.
"Curang! Pak Kaivan udah dua kali curi ciuman di bibir gue, sedangkan gue belum. Eh." Naya refleks menutup mulutnya. Kenapa dia harus mendapatkan ciuman balasan? Tidak, tidak! Naya sepertinya mulai gila gara-gara kepikiran Kaivan.
"Gue mikir apaan sih? Ya kali gue juga curi ciuman dari bibir pak Kaivan? Nanti apa kata dunia?" Naya memukul kepalanya, karena sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Kayanya gue harus install ulang otak gue nih, kenapa akhir-akhir ini selalu kepikiran pak Kaivan? Dia duda Nay, dia juga orang kaya, jauh sama lo. Ya walaupun lo sekarang pacar pura-puranya dia, tapi lo nggak berhak punya perasaan lebih. Ingat! Lo sama pak Kaivan itu bagaikan langit dan bumi."
"Butuh asupan gizi nih kalau kayak gini." Naya lantas turun dari kasurnya, malam-malam begini perutnya mendadak terasa lapar.
Selanjutnya, dapur menjadi tujuan Naya sekarang. Tapi saat keluar dari kamar, Naya terpaku dengan suara seseorang yang sedang berhitung. Dan suara tersebut berasal dari sebuah ruangan di sebelah kamar Nayra.
Naya yang memang pada dasarnya penasaran dengan ruangan dan suara itu, melangkahkan kaki menuju ruangan itu.
"Kok suaranya berhenti?" Naya menempelkan telinga pada pintu saat dia tak lagi mendengar suara seseorang berhitung.
"Gue penasaran ini ruangan apa," kata Naya sambil memutar knop pintu perlahan-lahan. Saat pintu itu terbuka, pandangan Naya terpaku pada mesin-mesin canggih yang sepertinya khusus untuk olahraga. Naya tau mesin-mesin itu karena beberapa kali pernah melihatnya di TV.
"Apa ini ruangan gym kayak artis-artis itu ya?" Naya masuk ke dalam, dia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Ada tiga jenis alat gym yang fungsinya berbeda di ruangan itu.
"Tapi di sini kok nggak ada orangnya? Padahal tadi gue denger suara orang berhitung di sini." Naya celingukan, mencari pemilik suara yang terdengar manly tersebut.
"Ini namanya alat apa ya?" Naya memegang salah satu alat gym.
"Itu treadmill namanya." Sebuah suara menyahuti dari belakang, dan sontak saja membuat Naya hampir melompat karena terkejut.
"Pak Kaivan?" kaget Naya saat memutar tubuh. Selain dia kaget karena kedatangan Kaivan tiba-tiba, Naya juga kaget pada penampilan Kaivan.
Laki-laki itu tidak memakai baju dan hanya menggunakan celana kolor sepaha, lalu keringat bercucuran menetes ke tubuhnya. Pandangan Naya terpaku dari wajah, lalu turun ke rahang dan leher, sampai berhenti di dada terus perut milik Kaivan yang mempunyai enak kotak.
Bolehkah saat ini Naya menjerit? Karena ini pertama kalinya dia melihat seorang lelaki sexy seperti ini. Lihat saja! Enam kotak yang ada di perut Kaivan, seolah memanggil dirinya untuk menyentuh.
"Kenapa melotot begitu? Kamu mau pegang?" tanya Kaivan sambil menatap ke perutnya, di mana Naya pun menatap perutnya tersebut.
"Emang boleh, Pak?" tanya Naya sambil mengangkat pandangan.
"Boleh, tapi ada syaratnya."
Pandangan Naya yang tadi berbinar sekarang meredup, saat Kaivan bilang ada syaratnya.
Mendengar pertanyaan Naya, Kaivan pun maju selangkah demi selangkah untuk memojokkan Naya. Dan Naya, merasa dirinya terpojok—mau tak mau melangkah mundur, sampai punggungnya menyentuh dinding.
"Kamu benar-benar ingin mencoba meyentuhnya, hm?" Satu tangan Kaivan menumpu di dinding.
"Kalau boleh sih itu pun, kalau nggak ya nggak apa-apa. Saya cuma penasaran aja, gimana rasanya pegang kotak-kotak di perut Bapak. Soalnya saya suka lihat kotak-kotak itu di perut suami online saya."
"Memangnya kamu sudah punya suami?" tanya Kaivan, lalu tahan nafas saat menunggu jawaban Naya.
"Punya dong, saya LDR-an. Dia Korea, saya di sini."
"Siapa suami kamu?" tanya Kaivan.
"Ehehe, Jungkook BTS." Jawaban Naya lantas membuat Kaivan akhirnya bisa bernafas lega.
"Dia nggak bisa kamu milikin, kotak-kotak di perutnya juga nggak bisa kamu pegang. Mending pegang punya saya, nih!" Kaivan benar-benar meraih tangan Naya lalu membawanya ke perut. Sedangkan Naya, sudah tahan nafas kala dia merasakan kerasnya otot perut milik pria tersebut.
"Kok bisa keras ya, Pak?" tanya Naya.
"Bisa, karena dilatih."
"Saya juga baru tau, kalau dada dan perut Bapak ada tattonya." Perkataan Naya membuat Kaivan menyeringai.
"Saya punya banyak tatto, kamu mau lihat?"
"Tapi ada syaratnya?" tanya Naya mengulang perkataan Kaivan.
"Iya, ada syaratnya." Kaivan lalu menyurukkan wajah ke telinga Naya, hembusan nafas hangat milik pria itu—membuat bulu kuduk Naya meremang seketika. Pun dengan jemari Kaivan yang bergerak menyingkirkan helai rambutnya ke belakang.
"Syarat bisa pegang perut saya tiap hari, dan lihat tatto saya yang lain cuma satu ...." Kaivan menjeda kalimatnya sebentar, pria itu meneguk salivanya dengan kasar. Berdekatan dengan leher jenjang nan putih milik Naya, membuatnya gemas ingin mengecup leher itu.
"Jadi istri saya, Naya."
Cup!
Kaivan benar-benar mencuri kecupan di leher jenjang milik Naya, yang sontak saja—membuat Naya meloto seketika. Apa yang dilakukan oleh Kaivan, membuat perasaannya campur aduk. Pun dengan perkataan pria itu, yang membuat pikirannya ke mana-mana.
Maka setelah apa yang dilakukan Kaivan padanya, Naya mendorong dada Kaivan agar pria itu menjauh dari tubuhnya. Lantas berlalu pergi dari ruangan itu, meninggalkan Kaivan yang tersenyum menyeringai.
"Nggak salah lagi, gue kayanya udah suka sama Naya."