When I Meet You

When I Meet You
27 : Indira Hilmani



Naya masuk ke dalam kamarnya dengan tergesa, langkahnya langsung menuju lemari untuk mengambil pakaian khusus untuk menjadi diri Zora Arsyila. Pakaian-pakaian bagus dengan harga fantastis yang dibelikan Kaivan untuknya.


Dress berwarna maroon menjadi pilihan Naya, dengan gerakan cepat—gadis itu memakai dress yang telah dipilihnya.


Naya melirik jam dinding, sudah ada lebih dari 3 menit dia bersiap. Saat ini, tangannya dengan cepat menyambar rambut palsu yang digunakan untuk menutupi jati diri Naya sendiri.


Setelah memastikan rambut palsu tersebut terpasang rapi, Naya duduk di depan meja riasnya. Berbekal tutorial dari YouTube tentang make up, Naya mencoba memoles wajahnya sendiri dengan alat dan keahlian seadanya.


"Kayanya udah cukup deh, jati diri gue sebagai Naya udah nggak kelihatan." Naya lantas berdiri, merapikan sedikit dress dan rambut palsunya lagi sebelum dia melangkah pasti menuju ruang tamu—di mana orang tua Kaivan berada.


"Kamu sembunyikan Zora di rumah ini ya?" Bertepatan dengan pertanyaan dari ayah Kaivan, Naya datang dengan jati diri Zora Arsyila.


"A-anu, Pa. Zora—"


"Aku di sini, Tante Om." Naya dengan cepat menyela ucapan Kaivan yang bingung akan menjawab apa.


Melihat Naya yang sudah merubah dirinya menjadi Zora, Kaivan mendesah lega. Tidak sia-sia dia memperkerjakan Naya yang cekatan dalam segala hal.


"Zora? Tante dan Om kira kamu tidak sedang di sini," kata ibunda dari Kaivan.


"Aku lagi main di sini, Tante. Kebetulan habis masakin Kaivan sama Nayra, kita bahkan tadi lagi makan bersama. Eh nggak taunya, ada Tante dan Om yang datang. Kalau begitu, sepertinya sekalian aja kita makan bersama." Kaivan menahan senyuman di bibir saat Naya benar-benar memerankan Zora dengan baik.


"Oh ya? Kalau begitu, ayo! Tante ingin coba masakan kamu." Lengan Naya ditarik begitu saja oleh wanita yang telah melahirkan Kaivan ke dunia. Menyisakan dua pria dan Nayra yang mengekori dari belakang.


Andai ini terjadi bukan sandiwara, mungkin Kaivan akan jauh lebih bahagia lagi. Melihat betapa mamanya senang dengan Naya dalam diri Zora.


Setibanya mereka di ruang makan, kedua orang tua Kaivan tersebut disuguhi dengan pemandangan aneka masakan yang katanya dibuat langsung oleh tangan Zora/Naya sendiri.


"Dari kelihatannya aja kayanya enak ya, Pa," kata ibunda dari Kaivan.


"Mari duduk, Tante Om! Silakan dinikmati. Kalau kurang enak, mohon dimaklumi," ujar Naya merasa sungkan. Perempuan itu juga menyiapkan dua piring untuk kedua orang tua Kaivan lalu menyodorkan beberapa lauknya pada orang tua itu.


"Ada ayam kecap. Masakan seperti ini kesukaannya Nayra, Zora," kata ibunda dari Kaivan pada Naya.


"Kaivan juga bilang begitu, jadi aku sengaja buatin ayam kecap khusus untuk Nayra."


"Zora ini bener-bener perempuan idaman ya, Ma? Sudah cantik, pintar, berpendidikan, dari keluarga yang baik, pintar masak pula. Kaivan, kapan kalian akan menikah? Papa harap, kalian bisa menikah secepatnya. Sepertinya Nayra juga sudah nyaman dengan Zora, jadi tunggu apa lagi?" Perkataan ayah Kaivan untuk Naya, benar-benar berlebihan. Padahal pada kenyataannya, Naya bukanlah perempuan seperti itu. Jika nanti fakta mereka bersandiwara, akan semarah apa mereka? Naya benar-benar tidak bisa membayangkan, bagaimana kecewanya dua orang tua Kaivan jika tau semua kebohongan ini.


"Kita belum terpikirkan ke sana, Pa," sahut Kaivan.


Kaivan hanya menanggapi perkataan papanya dengan senyum, perihal menikah dengan Naya? Kaivan memang menginginkan itu, tapi dia harus lebih dulu menyelesaikan sandiwara ini.


Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu, karena orang tua Kaivan sibuk mencicipi masakan yang dibuat oleh Naya. Kedua orang tua itu nampak menikmati masakan Naya, terlihat dari raut wajah yang terlihat puas dan kepala yang mengangguk-angguk.


Sementara di sisi lain, seorang wanita yang memakai long dress berwarna gold—berjalan anggun saat dirinya keluar dari ballroom hotel bintang lima. Presensinya yang cantik, membuat banyak pasang mata memandangnya tanpa kedip. Apalagi mereka tau, siapa sebenarnya dia.


Indira Hilmani, yang mempunyai nama panggung Indira Calista saat menjadi seorang model—dikenal ke berbagai penjuru. Namanya bukan hanya dikenal di Indonesia, tapi di negara tetangga karena mengikuti ajang bergengsi di setiap tahunnya dan selalu menang. Jika tidak menang sebagai runner-up, maka posisinya adalah yang pertama.


Seperti impiannya dulu, yang ingin menjadi seorang model terkenal—Indira sudah mewujudkan semua mimpinya itu. Tapi di saat kariernya berada di puncak seperti ini, Indira merasakan penyesalan luar biasa karena sudah pergi meninggalkan keluarga kecilnya karena meraih mimpinya.


Maka setelah dia sukses meraih berbagai gelar dalam dunia modeling, Indira ingin kembali. Kembali pada keluarga kecilnya, tentu dengan mimpi yang tidak akan pernah meredup.


Terkait akan bagaimana opini publik yang nanti akan tau jika Indira sudah menikah dan mempunyai anak, dia akan sedikit bersandiwara.


"Lena! Kamu bilang akan mengirimkan foto puteriku, mana!" Indira menagih janji dari asisten pribadinya yang bernama lengkap Lena Marisha.


"Iya sebentar, Bu. Saya akan kirimkan foto Nayra pada Bu Indira," katanya dengan segera mengotak-atik ponselnya untuk mengirimkan foto pada Indira.


"Sudah saya kirimkan, Bu." Indira mengangguk pada Lena, seraya melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, wanita berusia 27 tahun itu terpaku pada sosok kecil yang tersenyum di ponselnya.


Dia Nayra Ishwari Pradipta, puteri kandungnya yang ia tinggalkan saat dia berusia 5 bulan. Melihat Nayra, Indira tanpa sadar berkaca-kaca. Puteri kecil yang dulu berada di dalam perutnya, lalu ia lahirkan dengan penuh perjuangan itu sudah besar dan tumbuh menjadi anak yang cantik dan ceria.


"Puteriku," gumam wanita itu sembari mengusap layar ponsel yang menampilkan Nayra.


"Dia sangat cantik sekali," katanya lagi sambil mengecup layar ponselnya, seolah Nayra ada di dekatnya sekarang.


"Mama rindu Nayra, Nayra sekarang cantik seperti Mama, Sayang." Air mata itu tanpa bisa dicegah merebak begitu saja, Indira merasa sesak luar biasa di dalam hatinya. Dia yang dulu egois meninggalkan Nayra yang masih kecil hanya untuk meraih mimpinya.


"Nayra juga mungkin kangen sama mamanya, Bu. Apa lebih baik kita segera bertemu saja?" tanya Lena, yang duduk di sebelahnya.


"Nanti, Lena. Aku belum siap untuk bertemu dengan Kaivan, dia pasti kecewa banget."


"Ya sudah, Ibu bersabar ya. Atau kalau mau, kita bisa ketemu Nayra di sekolahnya besok. Bagaimana?" Tawaran Lena yang ini sepertinya tidak menyulitkan Indira.


"Sepertinya ide kamu yang ini bagus, Lena. Besok kita pergi ke sekolahannya Nayra."