
Kebahagiaan terpancar dari wajah seorang gadis kecil begitu dia tiba di kawasan taman bermain. Lelah selama hampir seminggu full sekolah, Nayra—si gadis kecil tersebut merengek pada papanya untuk mengajaknya pergi jalan-jalan ke taman bermain.
Kaivan yang memang tidak suka mata Nayra berkaca-kaca saat meminta sesuatu—langsung menuruti permintaan puterinya tersebut saat ingin pergi ke taman bermain.
Mengingat jika saat mereka sampai, jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Di mana sinar matahari pun sudah cukup menyorot tajam, Kaivan dan Naya sempat khawatir pada Nayra yang bisa saja kambuh karena terkena sinar matahari. Meskipun saat ini, gadis kecil tersebut memakai pakaian panjang yang menutupi tangan dan kakinya. Pun menggunakan topi untuk melindungi wajahnya dari sinar matahari.
"Ingat! Jangan lepas topi dan sweaternya! Papa nggak mau Nayra kambuh ruam-ruam lagi," peringat Kaivan pada Nayra yang langsung menunjukkan sikap hormat padanya usai dia berkata seperti itu.
"Siap, Papa!" jawab Nayra sembari hormat pada Kaivan.
"Pokoknya Nayra sama mama Naya nggak boleh jauh-jauh dari Papa, nanti tersesat." Kaivan mengingatkannya kembali. Dua perempuan berbeda usia itu sama-sama nampak antusias saat ia ajak ke taman bermain. Kaivan takut, saking excitednya mereka ke taman bermain—mereka berlarian entah ke mana dan berujung tersesat.
Taman bermain dengan luas hampir mencapai 5 hektare tersebut tentunya sangat besar, Kaivan akan kesusahan untuk mencari jika salah satu dari mereka hilang.
"Iya, Papa. Kenapa sih sekalang jadi celewet?" celetuk Nayra yang membuat Kaivan bungkam. Apa iya, dia sekarang jadi cerewet?
"Emangnya dulu-dulu nggak, Nayra? Bukannya Papa kamu emang begitu dari dulu?" tanya Naya yang membuat Kaivan langsung mendelikkan mata padanya.
Melihat Kaivan yang sudah menatapnya dengan tajam, Naya terkekeh pelan. Sepertinya, menggoda Kaivan sekarang sudah menjadi salah satu kebiasaannya.
"Papa biasanya ****** ngomong panjang, kalaupun ingetin aku—Papa langsung ambil tindakan," kata Nayra yang diangguki oleh Naya. Ucapan Nayra, memang pada kenyataannya begitu. Buktinya saja, Kaivan tanpa basa basi langsung menyatakan cinta padanya di malam itu. Tentunya pria itu langsung bertindak, bukan?
"Jadi, Bapak sekarang berubah sikap begitu ya?" tanya Naya dengan seulas senyum di wajah.
"Nggak, saya memang punya dua kepribadian." Ucapan Kaivan, membuat Naya menutup mulutnya dengan tangan—seolah pura-pura kaget.
"Benarkah? Jangan-jangan, Bapak punya apa itu namanya? Eumm, DID atau kepribadian ganda begitu?"
"Bukan penyakit mental seperti itu, Naya!" Kaivan dengan gemas menyentil dahi Naya hingga membuat gadis berusia 25 tahun itu mengaduh kesakitan.
"KDRT nih, Pak!" cibir Naya.
"Kamu aja belum terima cinta saya, mana bisa disebut KDRT," sindir Kaivan yang membuat Naya bungkam di tempatnya.
"Saya bercanda kok, Naya," sambung Kaivan lagi setelah ada jeda sekitar 10 detik tanpa pembicaraan.
"Maaf ya, Pak. Kalau saya masih butuh waktu banyak buat jawab iya atau nggaknya. Tolong maklumi saya, karena saya sedang mempertimbangkannya." Perkataan Naya, membuat Kaivan mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala gadis itu. Pria berusia kepala tiga itu tidak. bermaksud untuk memaksa, sekali pun Naya memberinya jawaban di tahun depan pun—Kaivan siap menunggunya. Asalkan setiap harinya, Naya selalu berada di samping dirinya dan Nayra.
"Ayo kita naik kincil angin, Pa," ucap Nayra sambil menarik tangan Naya maupun Kaivan.
"Mama Naya nggak takut naik kincil angin, kan?" tanya Nayra.
"Nggak dong, Mama Naya justru sering banget dulu naik kincir angin kayak gini di pasar malam." Naya menjawab pertanyaan Nayra sambil mengusap-usap kepala Nayra.
"Kalau begitu, nanti kita ajak dedek bayi juga main ke sini," ujar Nayra lagi.
"Dedek bayi?" Dahi Naya berkerut heran.
"Iya, kemalin kan Papa sama Mama Naya udah bobo balengan. Kata Om Alsa, kalau Mama Naya sama Papa udah bobo balengan—nanti bakal ada dedek bayi di pelut Mama Naya ini," katanya sambil mengusap perut rata Naya.
Mendapati seorang anak berusia 5 tahun berbicara seperti itu, Naya menolehkan kepala pada Kaivan.
"Kalau om Alsa ngomong gitu lagi, Nayra bilang ke Papa ya. Satu lagi, jangan dengerin omongannya om Arsa—dia otaknya setengah soalnya," balas Kaivan pada Nayra.
"Oh gitu ya, Pa? Om Alsa punya otak setengah doang? Setengahnya lagi ke mana?"
"Digondol kucing," balas Kaivan.
Pembicaraan mereka harus terjeda karena mereka sekarang naik ke gerbong kincir angin. Kaivan yang lebih dulu naik setelah Nayra duduk dengan tenang, lantas mengulurkan tangan pada Naya agar gadis itu bisa berpegangan padanya.
"Terimakasih, Pak," ucap Naya.
"Sama-sama."
Setelah semuanya naik dengan aman, kincir angin tersebut bergerak memutar ke atas. Berada di ketinggian puluhan meter dari permukaan tanah, Naya mulai tenggelam dengan pikirannya.
Yang semula dia dari kampung pergi ke kota mencari pekerjaan agar bisa mencapai cita-cita, sekarang malah berujung menjadi seorang pengasuh dari anak yang menderita penyakit lupus.Tidak hanya itu, takdir juga membawanya bertemu Kaivan dan pria itu malah tertarik padanya.
"Apa gue bener-bener udah suka juga sama Pak Kaivan ya?" Naya mengguman dalam hati sambil melirik presensi Kaivan yang juga sibuk dengan pikirannya sambil memejamkan mata.
Angin yang berhembus pun sempat menerbangkan anak rambut Naya yang terlepas dari kunciran. Menatap wajah tampan seorang pria di depannya, tanpa sadar membuat Naya kesulitan menelan salivanya sendiri.
Wajah itu, nyaris tidak ada hal buruk sekali pun. Akan Naya akui, wajah Kaivan sempurna menurut pandangannya. Pun bagaimana sikap dan perhatian pria itu yang telah membuat hati Naya merasa nyaman. Sepertinya, dia memang menyukai pria itu.
Bertepatan saat Naya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, di detik itu juga Kaivan membuka matanya. Waktu seolah berhenti berdetak, kala kedua netra milik Naya dan Kaivan bertabrakan. Keduanya, seolah sedang berbicara tanpa suara dengan melalui tatapan.
Saat waktu seolah kembali berdetak, baik Naya ataupun Kaivan—sama-sama mengulas senyum lebar.