
Bayangan saat wajah Kaivan tepat di depan wajah Naya, masih terus terngiang di pikiran Naya. Pun dengan degupan jantung yang mendadak menggila saat mereka berada di dalam jarak yang cukup intim. Dan lebih malunya lagi, terpergok oleh Nayra yang mengira jika dirinya sedang mandi bersama Kaivan.
"Mau taruh di mana muka gue?" Naya meringis pelan, kakinya menghentak kesal di lantai apartemen milik Kaivan. Sudah tak terhitung lagi berapa kali dirinya meloloskan nafas kasar karena kejadian memalukan itu.
Saat ini, apartemen memang sedang sepi. Selain karena Kaivan sendiri sudah pergi ke kantornya, Nayra pun sedang sekolah dan akan dijemput oleh Naya sendiri 1 jam yang akan datang.
"Lagian lo sih Naya, ngapain pake acara kepeleset segala, hah?" Naya memaki dirinya sendiri, setelah kejadian itu—dirinya sudah tidak punya muka untuk bertemu dengan Kaivan. Naya malu karena mereka terpergok bersama oleh Nayra.
Sedangkan di sisi lainnya, Kaivan mengacak rambutnya frustasi setelah mendapatkan pesan dari sang ibu yang memintanya untuk datang ke rumah mereka—menghadiri acara makan malam bersama puteri dari salah satu kolega papanya.
"Kenapa lo? Kusut amat muka lo," celetuk Arsa yang tadi fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba mengalihkan atensi pada pria dengan setelan jas berwarna coklat di depannya.
"Nyokap nyuruh gue dateng ke acara makan malam," balas Kaivan sekenanya.
"Loh, makan malam sama keluarga doang sekusut itu muka lo?" Arsa menggelengkan kepala tak percaya. Bisa-bisanya Kaivan sefrustasi itu hanya karena ajakan makan malam bersama.
"Bukan karena makan malamnya, tapi nyokap adain acara makan malam bareng anak kolega bokap. Secara nggak langsung, mereka atur perjodohan buat gue. Lo tau gue kan, Sa? Gue paling males dijodoh-jodohin." Dasar nasib menjadi duda lapuk, yang sudah melajang selama 5 tahun—orang tuanya selalu saja berulah dengan mencarikan dia pasangan.
Sebenarnya Kaivan tidak mempermasalahkan jika ingin mengenalkannya dengan perempuan, tapi kebanyakan dari mereka—adalah tipikal perempuan matre, glamour, dan segala hal yang tak Kaivan sukai.
Yang Kaivan cari dari calon pasangannya adalah yang benar-benar menyayangi Nayra sebagai puterinya sendiri, pun mencintai dia apa adanya—bukan ada apanya. Kaivan sudah lelah dicintai dengan segala hal yang ia punya. Ketampanan, kekayaan, jabatan, Kaivan akui dia memiliki semua itu. Tapi hatinya justru ingin perempuan yang tak melihatnya dari semua itu.
Maka selama 5 tahun ini, dirinya sama sekali tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Alhasil, banyak dari karyawannya yang menilai jika dirinya adalah sosok yang dingin tak tersentuh.
"Ya salah lo juga jadi jomblo ngenes. Lo ledekin gue jones, nggak ngaca dirinya sendiri juga jones. Orang tua lo punya niat baik, Van. Dia mau lo punya masa depan, makanya kenalin lo sama cewek-cewek. Lo nggak mungkin kan biarin Nayra besar tanpa seorang ibu? Atau jangan-jangan, lo susah move on dari Indira, ya?" terka Arsa.
"Kagak! Gue udah lama move on dari Indira," jawab Kaivan cepat.
Saat nama Indira disebutkan, Kaivan bukan merindukan sosok perempuan yang pernah menjadi bagian dari hidupnya tersebut. Melainkan rasa benci dan tak suka mendengar nama perempuan itu.
Dulu, dia begitu memuja Indira. Mencintai perempuan itu dengan setulus hati. Pun memberikan segalanya yang ia punya. Tapi setelah menikah, bukan kebahagiaan yang Kaivan dapat—melainkan luka besar yang tak pernah sembuh sampai sekarang.
Jika dikata move on, Kaivan sama sekali tidak ingin menjalin hubungan lagi jika perempuan itu Indira. Cukup sudah masa lalunya tercoreng buruk. Tapi masa depannya jangan. Jika dikata trauma, mungkin Kaivan akan menjawab 'ya'. Siapa yang tidak trauma jika ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya?
Meski Kaivan begitu mencintai Indira, tapi saat perempuan itu memberinya luka—di hatinya seolah nama itu sudah ia hapus. Tentu dalam hidup, Kaivan mempunyai prinsip. Dikhianati, dikecewakan, maka siap-siap saja nama tersebut akan hilang di hatinya.
"Terus lo maunya gimana? Lo dijodohin nggak mau, cari sendiri juga nggak. Ck, seorang CEO kayak lo aja susah dapetin cewek. Apalagi gue, Van." Arsa mengakui, sosok Kaivan seolah tidak ada cacat yang dipunya. Tapi pria itu kesulitan mendapatkan seorang perempuan idaman.
"Van? Lo kok tiba-tiba diem?" tanya Arsa sambil berdiri dari mejanya, lantas duduk di pinggiran meja Kaivan.
"Gue nggak ambil calon pengasuh yang lo kirim," kata Kaivan akhirnya.
"Terus? Pengasuh dari mana?"
"Pengasuh dadakan yang Tuhan kirim buat Nayra." Jawaban dari Kaivan membuat Arsa mengerutkan keningnya bingung.
"Maksud lo?"
"Gue bakal ceritain ini dari awal sama lo," kata Kaivan merubah posisi duduknya jadi bersandar pada kursi kebesarannya.
Mula-mula, Kaivan berdehem pelan. "Pas gue dapet telepon kalau ruam-ruam Nayra kambuh kemarin, gue hampir nabrak orang."
"What?!" Arsa terkejut sampai dia berdiri.
"Terus orang itu nggak kenapa-napa, kan?" imbuhnya.
Kaivan menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, kan gue bilang hampir. Tapi karena dia kaget, tangannya luka terus kakinya terkilir. Karena gue ngerasa bersalah sama dia, gue bawa dia ke apartemen. Gue obatin dia, gue panggil tukang pijet buat dia sampai dia sembuh. Tapi, pas dia mau pulang—gue inisiatif buat anterin dia. Pas gue tanya di mana rumahnya, dia malah jawab nggak punya tempat tinggal."
"Karena gue lihat Nayra nyaman sama dia, dan dia juga keliatan suka sama anak kecil. Gue coba tawarin dia kerjaan, sekalian dia bisa dapet tempat tinggal kalau mau. Eh nggak taunya, dia terima kerjaan itu. Sampai akhirnya gue kasih berkas kontrak tanda tangan jadi pengasuhnya Nayra."
"Btw, dia ini cewek, kan?"
"Iyalah, mana mungkin pengasuh Nayra cowok." Kaivan menjawab.
"Cantik nggak, Bro? Kenalin lah sama gue, nama dia siapa?" Arsa mendadak antusias.
Kaivan yang kesal pun melempar bolpoin pada Arsa.
"Nama dia Naya, tapi gue nggak izinin lo buat kenalan sama dia!"
"Posesif banget lo! Dia kan cuma pengasuh, bukan bini lo," ucap Arsa.
"Justru karena dia pengasuh Nayra, dia harus fokus sama kerjaannya. Nggak boleh pacaran sama siapa pun! Termasuk lo."