When I Meet You

When I Meet You
15 : Gara-gara Ular Tangga



"Iya, cita-cita saya sejak kecil itu ingin menjadi seorang koki. Karena saya keterbatasan ekonomi, saya tidak bisa ikut kursus memasak untuk mengasah hobi saya."


"Saya lupa bilang, kalau saya juga punya usaha yang bergerak dalam bidang kuliner. Sepertinya, tanpa kursus memasak—saya bisa membantu kamu untuk mewujudkan cita-cita kamu itu." Perkataan Kaivan membuat Naya memutar tubuhnya, untuk menghadap pria itu.


"Maksudnya?" tanya Naya masih belum paham.


"Nanti, saya akan ajak kamu untuk berkunjung ke salah satu restoran saya. Di sana, kamu bisa belajar memasak dengan kokinya langsung. Bagaimana? Kamu mau, kan?"


"Mau!" seru Naya dengan girang.


"Baiklah, kamu persiapkan saja memasak sekarang. Saya akan nilai masakan kamu hari ini," kata Kaivan yang membuat Naya tersenyum sumringah.


"Oke, Pak."


Selama 20 menit berlangsung, Naya sibuk memasak makanan. Sedangkan Kaivan, duduk di kursi meja makan dengan pandangan memperhatikan Naya yang cekatan dalam hal memasak.


Melihat bagaimana semangat juang perempuan itu, Kaivan tersenyum tipis. Ternyata, selain Naya itu penyayang anak-anak—perempuan itu juga terlihat gigih dalam mencapai cita-citanya.


"Silakan dicicipi, Pak. Makanannya sudah siap. Saya akan panggilkan Nayra dulu untuk ke sini." Kaivan menganggukkan kepala pada Naya dan membiarkan perempuan itu untuk memanggil Nayra.


Sepeninggal Naya, Kaivan menatap hidangan makanan yang dibuat langsung oleh tangan Naya. Masakan ayam kecap, udang saus padang, dan tempe bacem menjadi hidangan yang tersaji di atas meja makan.


Jika dilihat dari harum dan penyajian, Kaivan akui semua makanan itu sudah menggugah seleranya. Tapi entah dari rasa, dia belum ingin mencicipi sebelum Nayra juga ada di sini.


"Wahh, makananya udah jadi. Aku mau ayam kecap yang banyak." Nayra dengan semangat duduk di sebelah Kaivan, dia menunggu Naya untuk menyajikan nasi dan ayam kecap untuknya.


Pemandangan di mana Naya menyiapkan nasi dan lauk seperti ini, membuat Kaivan merasa jika dia sedang disiapkan makan oleh istrinya.


"Segini cukup nasinya, Nayra?" tanya Naya sambil memperlihatkan nasi yang sudah ia sajikan di atas piring.


"Iya, udah. Aku nggak mau banyak-banyak nasi," balas Nayra.


"Oke, ini makanannya untuk Tuan Putri." Naya memberikan piring yang sudah lengkap dengan nasi dan lauk pauk itu pada Nayra.


Dan sekarang giliran dia menyiapkan untuk Kaivan, mula-mula Naya menyindukkan nasi lebih dari ukuran Nayra untuk Kaivan. Lalu memasukkan sepotong ayam kecap dan 3 udang saus padang.


"Ini untuk Bapak," kata Naya.


"Terimakasih," ucap Kaivan.


"Kamu mau ke mana, Naya?" tanya Kaivan saat Naya melengos pergi.


"Mau ke kamar sebentar, kalian makan aja dulu. Saya makannya nanti kalau Bapak dan Nayra selesai makan," balas Naya.


"Kenapa begitu? Kita makan bersama saja." Kaivan berkata.


"Tidak usah, Pak. Lagipula, jarang ada seorang majikan makan bersama bawahannya. Jadi, saya nanti saja."


"Naya," seru Kaivan penuh penekanan. "Saya tidak pernah membedakan derajat siapa pun, ayo kita makan bersama! Atau saya tidak ingin makan," lanjut Kaivan.


"Jangan, Pak!"


"Ya sudah, ayo makan bersama!"


***


"Masakan kamu rasanya enak, kamu lihat Nayra tadi—dia nambah dua kali. Padahal biasanya, Nayra itu sulit untuk makan," ujar Kaivan pada Naya.


"Syukurlah kalau Nayra suka, jadi gimana penilaian Bapak? Apa saya layak jadi koki nantinya?"


"Cocok, lidah saya sendiri tidak meragukan masakan kamu. Kalau Nayra begitu menyukai ayam kecap buatan kamu, saya lebih suka udang saus padang buatan kamu. Rasa pedas dan gurihnya pas di lidah saya." Naya merasa tersanjung dengan pujian dari Kaivan tentang masakannya.


"Papa, Mama Naya, ayo kita main ular tangga!" Lalu tibalah Nayra sambil membawa permainan ular tangga.


"Yang kalah halus mau dicolet pake bedak," kata anak itu lagi.


"Oke, siapa takut. Kalau Nayra kalah, jangan nangis ya. Nanti Papa coret muka Naya yang banyak," seru Kaivan.


"Aku yang bakal menang! Mama Naya sama Papa bakalan aku colet," kata Nayra yang sontak saja membuat Naya dan Kaivan kompak tertawa, karena melihat Nayra yang sudah berkacak pinggang sambil menatap mereka garang.


"Mama Naya ambil pion yang merah ya," kata Naya.


"Kalau begitu Papa yang biru," seru Kaivan.


"Yaudah deh, aku yang kuning." Nayra mengambil pion berwarna kuning.


"Kita hompimpa dulu," kata Nayra.


"Hompimpa alaiyum gambleng!" seru Nayra dengan antusias. Urutan pertama adalah Naya, lalu Nayra, dan yang terakhir Kaivan.


"Oke, Mama Naya yang pertama." Naya yang pertama kali melemparkan dadu, lalu munculah tiga titik di dadu tersebut.


"1 2 3, sekarang Nayra." Naya lantas memberikan dadu tersebut pada Nayra untuk dikocok.


"Yes, 5. Aku naik tangga!" seru anak itu saat pionnya mendapatkan titik 5 yang menggambarkan ada tangga.


"Wahh, Nayra udah naik aja. Kalau begitu, Papa juga harus naik." Kaivan melemparkan dadunya, ternyata sama seperti Naya—hanya mendapatkan tiga.


"Papa ikut-ikutan Mama Naya aja deh," kata Nayra.


"Ngga tau nih, dadunya yang pengen ikut Mama Naya." Kaivan membalas.


"Sekarang Mama Naya lagi, 1 2 3 4 5. Belum naik deh," kata Naya.


"Horee, 1 2 3 4 5 6. Pelatulannya, kalau dapet 6 kocoknya dua kali ya." Nayra pun mengulangi lagi, dan kali ini mendapatkan poin 4.


"Sekarang giliran Papa," kata Kaivan sambil melemparkan dadu, dan dia pun mendapatkan poin 4.


Permainan itu terus berlangsung hingga Nayra mendapatkan posisi pemenang, sedangkan Naya dan Kaivan sebagai pihak yang kalah. Alhasil, Kaivan dan Naya mendapat dua coretan di pipinya masing-masing dari Nayra.


Ternyata, permainan itu belum selesai sampai di situ. Karena mereka masih bermain, dan yang kedua kalinya—Kaivan yang menang. Dia mencoret wajah Nayra dan Naya dengan bedak.


Saat Kaivan akan mencoret wajah Naya dengan bedak, pria itu justru menahan pergerakannya karena wajahnya berdekatan dengan wajah Naya.


Naya sendiri sudah tutup mata, khawatir debu yang dihasilkan dari bedak tersebut memasuki matanya. Sedangkan Kaivan, terpaku dengan wajah Naya yang ternyata memiliki struktur wajah yang nyaris sempurna.


Dengan kedua alis tebal dan terbentuk rapi, lalu turun ke mata yang mempunyai bulu mata lentik, hidung kecil yang lancip, dan bibir mungil yang berwarna pink alami. Saat menatap bibir, Kaivan refleks menelan salivanya sendiri. Pikirannya mendadak berpikir, bagaimana rasanya mencicipi bibir itu?


Saat Naya berpikir kenapa Kaivan tidak kunjung mencoret wajahnya, Naya pun membuka mata. Dan dia terkejut, saat mendapati wajahnya dengan wajah Kaivan hanya berjarak sekian inchi.


Mereka akhirnya saling bertatapan dalam jangka waktu beberapa detik, seolah—dunia milik mereka berdua dan melupakan kehadiran Nayra yang tersenyum saat melihat Naya dan Kaivan saling memandang.


Bukan Nayra jika dia tidak usil pada siapa pun, saat melihat jika Naya dan Kaivan tak kunjung memutus tatapan—Nayra dengan sengaja mendorong punggung Kaivan, hingga Kaivan refleks mengecup bibir Naya yang terkatup rapat itu.