
Seperti perkataan Kaivan kemarin, sekarang pria itu telah membawa Naya ke sebuah salon kecantikan untuk merubah penampilan Naya.
"Buat perempuan ini secantik mungkin, ini baju yang akan dipakainya." Kaivan menyerahkan totebag berisi pakaian yang kemarin malam mereka beli bersama kepada beautician.
Naya sendiri sudah duduk dengan anteng, sebelum wajahnya dipoles make up agar tambah menawan—rambut Naya lebih dulu di creambath agar lebih terawat, meskipun nantinya akan memakai rambut palsu dengan warna berbeda dari warna aslinya.
Selepas melihat Naya yang mulai diproses, Kaivan membawa Nayra ke ruang tunggu. Membiarkan Naya dimake over oleh hairstylist dan juga MUA.
Mula-mula, rambut hitam Naya yang mencapai dadanya itu dicuci hingga bersih. Dipakaikan shampoo yang sangat harum, pun kepalanya dipijat-pijat pelan. Naya memejamkan mata, menikmati sentuhan jemari dari beautician yang membuat kepalanya terasa lebih ringan. Ternyata, seperti ini yang namanya creambath.
Dulu saat di kampungnya, Naya hanya pernah melihat salon kecil-kecilan dan dia tak pernah merasakan pelayanannya bagaimana. Uang yang selalu dia hasilkan tak lebih untuk keluarganya, sama sekali tidak ia pergunakan untuk hal-hal yang tidak penting.
"Mbaknya beruntung banget bisa dapetin pak Kaivan." Di saat menikmati kepalanya dipijat-pijat, Naya membuka mata kala orang yang memijatnya bertanya.
"Mbaknya pacar dari pak Kaivan, kan?" tanyanya lagi. Yang kali ini membuat Naya meringis pelan.
"Iya, saya pacarnya." Pacar pura-pura maksudnya. Naya melanjutkan kalimat terakhirnya di dalam hati. Jika pacar beneran, mana mungkin Kaivan memilih dirinya yang burik dan dekil ini menjadi pacar. Untuk menjadi pacar pura-pura saja Naya merasa tidak pantas, apalagi pacar beneran.
"Pak Kaivan itu udah langganan di salon ini, Mbak. Dulu, istrinya—mbak Indira juga sering ke sini. Cuma emang setelah bercerai, saya nggak pernah lihat lagi mbak Indira ke sini."
Naya mengangguk saja untuk respon. Tapi tak urung juga jika dia kepo tentang mantan istrinya Kaivan tersebut.
"Jadi, namanya Indira. Namanya bagus, pasti cantik." Naya membatin sambil membayangkan bagaimana rupa dari Indira.
"Jadi mereka berpisah karena perceraian? Saya kira mantan istrinya itu meninggal." Salahkan saja otaknya yang berpikir mantan istri Kaivan itu meninggal, lagipula—mana mungkin seorang ibu meninggalkan bayinya begitu saja kalau bukan dipanggil Tuhan? Itu pikiran Naya.
"Jadi Mbaknya belum tau? Sepertinya pak Kaivan belum cerita ya? Saya denger gosip, kalau mbak Indira itu ninggalin pak Kaivan. Dulu, pak Kaivan itu tidak sesukses sekarang. Saya tau karena saya pernah satu kerjaan bareng sama dia sebelum kerja di salon ini." Naya diam mencerna tiap perkataan yang terlontar dari orang tersebut.
"Yang lebih parahnya lagi, mbak Indira itu ninggalin pak Kaivan setelah melahirkan puterinya. Jadi, puterinya itu sama sekali tidak mengenal sosok ibu."
"Malah nih ya Mbak, sebelum berpacaran dengan Mbak—pak Kaivan itu dikenal jarang senyum, jarang ngomong, pokoknya keliatan galak gitu. Tapi setelah bertemu Mbaknya, saya lihat pak Kaivan berubah. Pasti pak Kaivan bucin banget ya sama Mbaknya?" Naya meringis pelan saat ditanyai hal itu, tapi tak urung juga kepalanya mengangguk.
"Saya berharap banget, hubungan Mbak sama pak Kaivan itu langgeng. Terus, saya mohon sama Mbaknya—jangan tinggalin pak Kaivan kayak mbak Indira. Kasihan Mbak, gitu-gitu juga saya pernah jadi orang yang tau kalau pak Kaivan sekacau apa waktu itu. Dia pernah hampir mau terjun ke sungai loh Mbak." Untuk yang ini, Naya benar-benar terkejut.
"Iya hampir, untungnya saya sama temen-temen kerja yang lain lihat itu dan cegah semuanya."
"Saya nggak tau kalau dia pernah terpuruk begitu," balas Naya ikut prihatin dengan Kaivan saat dulu. Sudah ditinggalkan istrinya, harus membesarkan anak seorang diri, Naya benar-benar tidak habis pikir dengan perempuan bernama Indira itu.
Dikaruniai sosok suami tampan dan baik hati seperti Kaivan, pun dengan seorang puteri yang lucu dan menggemaskan seperti Nayra—kenapa bisa meninggalkan keduanya? Apa perjuangan cinta dan perjuangan saat akan menjadi ibu tidak dirasakan oleh Indira? Naya menggelengkan kepala tak percaya.
"Setau saya, mbak Indira itu model. Mungkin dia nggak mau terbebani kalau punya anak, makanya pergi gitu aja." Alasan yang satu ini menguatkan pikiran Naya juga, mungkin memang bisa jadi alasannya seperti itu. Seperti yang pernah ia lihat di film-film ataupun berita, seorang model itu sibuk. Apalagi jika sudah go International. Tentunya mempunyai seorang anak akan menghalangi kariernya.
"Apa salahnya punya anak? Justru anak itu anugerah dari Tuhan. Kalau iya alasan dia pergi karena itu, gue bener-bener nggak habis pikir sebagai sesama perempuan." Naya membatin lagi. Hatinya merasa ikut sakit saat tau Nayra sudah menderita sejak dia bayi. Pantas saja jika bersamanya, Nayra selalu ingin memanggilnya dengan sebutan 'mama'. Itu mungkin terjadi karena anak itu merindukan sosok ibu.
"Nggak kerasa, rambut Mbaknya udah tertata rapi lagi. Sebentar saya tinggal dulu ya, Mbak. Saya akan pilihkan wig yang bagus buat Mbak."
Sepeninggal beautician itu, pikiran Naya dipenuhi dengan kisah hidup Kaivan yang ternyata pernah hilang arah. Selama 5 tahun ini, pria itu pasti banyak melewati hal-hal sulit. Meskipun terlihat seperti baik-baik saja di depan orang lain, Naya yakin hatinya berbeda. Dan mungkin saja alasan kenapa selama ini dia melajang pun, ada karena masa lalunya.
"Kenapa bisa, cowok seganteng dan sebaik pak Kaivan disia-siain begitu. Ck, jadi cewek nggak bersyukur banget." Naya menggerutu kesal, hatinya mendadak panas mendengar keegoisan mantan istri Kaivan.
"Kalau gue nih ya, dikasih cowok modelan pak Kaivan—bakal gue sayang-sayang. Nggak bakal gue sia-siain begitu, kapan lagi kan punya cowok modelan pak Kaivan yang tiap hari indah dipandang." Naya jadi tersenyum sendiri sambil memandangi pantulan dirinya di cermin.
"Nah ini Mbak! Wig ini pasti cocok sama Mbak," kata beautician yang datang sambil membawa rambut palsu dengan cuttingan rambut bergelombang dan berwarna coklat mahoni.
"Mbaknya ke sini yuk! Mukanya mau didandani ala apa?" tanyanya lagi.
Naya menggaruk tengkuknya bingung, dia sama sekali tidak paham ala-ala make up bagaimana.
"Terserah deh, yang penting kelihatan bagus."
"Oke, make up ala Korea sepertinya cocok untuk Mbak." Selanjutnya, Naya digiring menuju ruangan lain untuk didandani.
Selama proses make up, Naya tak sama sekali bertanya. Pikirannya sudah penuh oleh Kaivan, pun dengan Nayra yang malang.