When I Meet You

When I Meet You
16 : Mulai Suka



Sial! Kaivan sudah berulang kali mengumpat dalam hatinya, akibat terus kepikiran dengan ciuman tiba-tiba kemarin pada Naya. Ciuman yang tak sengaja mendarat karena dorongan dari Nayra yang usil di belakangnya, alhasil—bibir Kaivan tanpa sengaja mengecup bibir mungil milik Naya yang sedang terkatup rapat itu.


Ini padahal sudah berlalu sekian jam, tapi Kaivan masih merasakan bagaimana bibirnya menyentuh bibir Naya tersebut. Jika begini urusannya, dia tidak bisa fokus dalam pekerjaannya.


Lihat saja! Belum ada satu pun berkas yang dibaca dan ditandatangani olehnya sejak Kaivan duduk di kursi kebesarannya 2 jam yang lalu. Pria itu hanya terus memandangi ponsel sambil sesekali menyentuh bibirnya, di sana—ada bekas bibir Naya.


"Gue nggak mungkin mulai suka sama Naya, kan?" tanya Kaivan pada dirinya sendiri. Tidak hanya bekas bibir Naya yang seolah masih dirasakan oleh Kaivan, tapi juga wajah Naya yang selalu terbayang di pikirannya.


Kaivan baru berhenti memikirkan hal itu karena kedatangan Arsa—sahabat sekaligus sekretaris pribadinya.


"Bos, nanti sore bakal ada meeting di L'Amour Cafè. Jangan lupa ya," peringat Arsa sebagai seorang sekretaris.


"Hampir aja gue lupa kalau nggak lo ingetin, Sa." Kaivan membalas.


"Sini lo! Bantuin gue buat pelajari berkas-berkas ini," lanjut Kaivan.


"Loh? Gue kira lo udah selesai sama berkas-berkas itu, Van," ujar Arsa sambil berjalan mendekat.


Selanjutnya, dua orang lelaki yang bersahabat sejak dari bangku putih abu-abu tersebut sama-sama mempelajari berkas-berkas yang ada di meja Kaivan. Jadi rencana perusahaan ke depan, adalah membuat menu makanan baru yang akan disediakan di semua outlet.


Di sela-sela kegiatannya, Kaivan berhenti sejenak untuk membaca berkas. Dia melirik Arsa untuk mengajukan pertanyaan, tapi dia sendiri masih ragu untuk menanyakan hal ini atau tidak. Karena mungkin saja, Arsa akan menaruh kecurigaan padanya. Tapi jika tidak, Kaivan sendiri yang bingung dengan perasaannya. Tentang apakah benar, jika dirinya mulai menyukai Naya atau tidak?


"Sa," panggil Kaivan.


"Apaan?" Arsa menjawab dengan kepala masih tertunduk karena membaca.


"Gue mau tanya sesuatu sama lo, ini di luar pekerjaan." Arsa mendongakkan kepala saat Kaivan berkata demikian. Dia menyimpan sejenak berkas ke atas meja, lalu menatap Kaivan.


"Ada apa? Lo ada masalah di luar?" tanya Arsa.


"Kalau lo tiba-tiba kepikiran sama satu cewek, padahal sebelum-sebelumnya nggak. Apa itu udah masuk ke tahap suka sama cewek itu?" Pertanyaan Kaivan sontak saja mengundang tawa bagi Arsa, tidak menyangka jika seorang CEO seperti Kaivan—mendadak jadi dungu seperti ini hanya karena cinta.


"Hal kayak gitu aja lo tanyain ke gue, Van?" Arsa tertawa lagi.


"Fiks, lo mulai suka sama cewek yang mana? Penasaran gue sama tuh cewek, bisa-bisanya bikin lo jadi dungu begini." Kali ini Arsa tertawa lebih keras.


Karena kesal dengan respon sahabatnya, Kaivan pun menggunakan kuasanya.


"Potong gaji 50% ya kalau lo ketawa lagi," ancam Kaivan.


"Buset! Iya deh, gue ngga ketawa lagi. Serem amat dipotong gaji 50%," ujar Arsa ketakutan.


"Lagian lo malah tanya hal itu, gue kira lo mau nanyain tentang apa. Lo emang mulai suka sama cewek yang mana?" tanya Arsa selanjutnya.


"Nggak ada, gue kan tanya kalau. Bukan berarti gue mulai suka sama cewek." Kaivan membantahnya.


"Halah, Van! Lo nggak bisa bohong sama gue, lo jujur aja—cewek mana yang udah bikin hati lo cenat-cenut?"


"Semakin lo ngelak, semakin keliatan dari mata lo. Apa jangan-jangan ...," Arsa memicingkan mata curiga. "cewek yang lo suka pengasuh baru Nayra, ya? Setau gue, akhir-akhir ini lo nggak deket sama cewek mana pun selain pengasuh barunya Nayra."


Ucapan Arsa seperti skak mati dalam permainan catur bagi Kaivan, pria itu dibuat bungkam seribu bahasa dengan perkataan Arsa yang memang kenyataannya.


"Wahh, tuh kan lo diem. Dugaan gue bener, ya?"


Kaivan menggelengkan kepalanya. "Nggak bener!"


"Yaudah, kalau nggak bener—boleh kali lo kenalin pengasuh barunya Nayra ke gue, biar gue deketin dia."


"Enak aja! Nggak boleh! Naya harus fokus urus gue," ceplos Kaivan yang ucapannya salah.


"Urus lo? Ngapain urusin lo? Yang perlu diurusin itu anak lo, bukan lo." Arsa kembali tertawa keras. Niat hati ingin melarang, Kaivan malah membuka kedoknya sendiri.


"Pasti pengasuhnya cantik, kan? Sampai bisa-bisanya lo terpikat sama dia," pikir Arsa.


Kaivan tak menjawab pertanyaan Arsa, tapi dia memang mengakui jika Naya sangat cantik untuk ukuran menjadi seorang pengasuh. Jika saja nasibnya lebih baik, mungkin Naya lebih cocok untuk menjadi seorang pramugari jika dilihat dari segi fisiknya.


***


"Om Alsa, aku mau kenalin Om sama mama balunya Nayla. Om mau kenalan, kan?" Begitu Nayra tau, jika Arsa ada di apartemen papanya—gadis kecil itu antusias akan mengenalkan Naya pada Arsa.


"Oh ya? Mama baru? Bukannya yang baru itu pengasuh Nayra?" tanya Arsa.


"Aku nggak mau mama Naya jadi pengasuh, aku maunya mama Naya jadi mamaku aja." Arsa melirik Kaivan yang duduk dengan tatapan datar pada layar televisi, seolah-olah pria itu tak tertarik dengan percakapan dirinya dan Nayra. Padahal, Kaivan mati-matian menyembunyikan senyum saat Nayra bilang ingin Naya jadi mamanya.


"Sekarang, mama barunya Nayra ada di mana?" tanya Arsa.


"Lagi di kamal, Om tunggu ya! Aku panggilin mama Naya ke sini."


Selanjutnya, Nayra melesat pergi menuju kamar untuk memanggil Naya. Tak berselang lama, gadis kecil itu menuntun seorang perempuan dengan rambut hitam dicepol tinggi—sehingga memperlihatkan bagaimana lehernya yang putih nan jenjang.


"Om, ini kenalin—mama Naya, mama balunya Nayla." Naya sendiri mengulurkan tangan pada Arsa, seulas senyum manis pun ia tampakkan pada lelaki berusia 29 tahun itu.


"Perkenalkan, saya Naya, Mas." Naya memperkenalkan dirinya.


"Saya Arsa Auriga, boleh dipanggil Arsa, Riga, atau kalau mau panggil sayang juga boleh kok." Kala Arsa melontarkan godaan, Kaivan sudah memandangnya dengan sinis. Biar saja, biar Kaivan tau rasa karena sudah menyangkal perasaannya sendiri pada gadis seperti Naya.


"Masnya bisa aja," sahut Naya yang merasa lucu dengan godaan Arsa.


"Bener lo, kamu panggil Mas aja—hati saya di sini sudah cenat-cenut. Apalagi panggil sayang," kata Arsa sambil memegangi dadanya dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya yang lain masih menjabat tangan Naya.


Sedangkan Kaivan yang tak suka melihat interaksi itu pun berdiri, dia sengaja melewati pertengahan antara Naya dan Arsa—sehingga jabatan tangan itu terlepas paksa.


"Mau ke dapur dulu, maaf nggak sengaja."