
Rumah berlantai dua dengan gaya klasik, menjadi objek yang pertama kali Naya lihat begitu dia sampai di hunian baru.
Ruma yang diperkirakan berdiri di tanah seluas 300 m2 itu berwarna latte, nampak kalem memanjakan mata.
Dengan pandangan masih terkagum dengan melihat keindahan tampak depan rumah tersebut, Naya keluar dari mobil bersama Nayra. Dulu, saat dirinya di kampung-ia hanya bisa melihat rumah mewah seperti ini di televisi. Sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke rumah mewah seperti itu.
"Jadi di sini rumahnya ya, Nayra?" tanya Naya pada anak perempuan yang tangannya tengah digenggam olehnya.
"Iya Mama Naya, sekarang kita tinggal di sini."
"Ayo masuk! Ngapain berdiri di situ terus?" Ucapan yang terlontar dari Kaivan membuat Naya meringis pelan, bisa-bisanya dia melupakan kehadiran majikannya tersebut.
Begitu masuk ke ruangan pertama, kedatangan mereka bertiga sudah disambut hangat oleh keempat pegawai di rumah ini yang pernah Kaivan sebutakan tadi.
Ada dua orang laki-laki dan dua orang perempuan, masing-masing orang itu terlihat sudah berumur. Mungkin kisaran usia di atas kepala tiga atau mungkin empat.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya, dan Nona Nayra." Keempat pegawai Kaivan tersebut lantas membungkukkan badan sebagai tanda menghormati majikannya.
Tapi Naya heran, kenapa dirinya disebut Nyonya? Bukankah di sini, statusnya juga sama seperti mereka? Sama-sama pegawai dari Kaivan. Bedanya, mungkin Naya hanya bertanggung jawab atas Nayra dan segala keperluannya. Karena itu dia terlihat dekat dengan Nayra atau bahkan dengan Kaivan sendiri.
Mengabaikan ucapan selamat datang itu, mereka bertiga menuju ke ruangan keluarga. Yang di mana, ruangan tersebut lebih luas dibandingkan dengan ruangan di apartemen. Pun terdapat sebuah foto yang terpajang di dinding begitu besar. Foto di mana pernikahan Kaivan dengan Indira.
Naya terpaku sesaat melihat foto yang terpajang itu, dia memperhatikan wajah dari perempuan yang sedang dirangkul mesra oleh Kaivan dalam foto tersebut. Ternyata benar, jika dilihat sekilas-postur tubuh dan wajahnya memang sedikit mirip dengan Naya. Mungkin itu alasan kenapa Nayra, sejak awal bertemu sudah ingin memanggilnya dengan sebutan 'mama'.
"Mantan istri pak Kaivan ternyata cantik juga, pantas saja pak Kaivan susah move on," celetuk Naya tanpa sadar. Dia lupa, jika Kaivan masih ada di sekitarnya. Alhasil, pria yang berada di depannya dengan jarak 3 meter itu menghampirinya.
"Daripada mengomentari hidup saya, lebih baik kamu susul Nayra yang sudah naik ke lantai atas. Oh iya, kamar kamu dengan Nayra bersebelahan. Sedangkan kamar saya, berada tepat di sana." Kaivan menunjuk posisi kamar yang terletak tidak jauh dari tempatnya berpijak.
"Baik, Pak. Saya mengerti. Kalau begitu, saya pamit ke atas dulu ya. Mau beresin barang-barang juga."
Sepeninggal Naya, Kaivan kepikiran dengan perkataan Naya tentang dia yang sulit move on. Pria berusia 30 tahunan itu lantas memandang wajah mantan istrinya di foto yang terpajang, Indira memang sempurna dalam segi wajah dan penampilan. Tapi Kaivan tidak menyangka jika perempuan yang ia cintai dulu itu mempunyai hati yang buruk.
Lalu perihal move on, Kaivan akui-sebelum kedatangan Naya, dirinya masih terbayang-bayang wajah Indira. Bahkan hampir setiap malam, Kaivan harus memandangi foto Indira dulu di ponsel sebelum tidur malamnya. Namun sejak kedatangan Naya di rumahnya, Kaivan mendadak lupa dengan kebiasaannya itu. Bahkan separuh pikirannya sekarang sudah dihuni oleh Naya. Atau jangan-jangan bukan hanya pikiran, tapi hatinya juga.
Entahlah, Kaivan masih tidak mengerti dengan perasaannya. Dia akan membiarkan segalanya berjalan sebagaimana mestinya saja.
***
"Di sini enak kan, Mama Naya? Bisa belenang sepuasnya lho." Nayra berkata dengan suara khas cadelnya.
Naya menganggukkan kepala sebagai respon, suasana di sini memang terasa lebih nyaman. Selain dia bisa mempunyai teman mengobrol jika Nayra sedang bersekolah, ada banyak tanaman dan pohon juga yang memanjakan pandangan Naya.
Sedangkan di apartemen kemarin, objek yang seringkali Naya lihat-hanyalah peralatan rumah. Sekali pun di balkon kamar, objek yang dia lihat hanyalah pemandangan kota yang terlihat sangat kecil—karena jarak balkon kamar dengan kota itu jauh.
"Mama Naya, Nayla kayanya pengen buah mangga potong deh. Malam-malam begini makan mangga kayanya enak," kata anak itu.
"Yaudah, Nayra tunggu di sini ya! Tapi ingat, jangan coba-coba nyebur ke kolam!" peringat Naya sebelum pergi mengambil buah mangga yang diinginkan Nayra.
Bukan tanpa alasan Naya menyuruh Nayra untuk diam di tempat, karena jika terjadi sesuatu dan Nayra tenggelam—Naya sendiri tidak bisa menolong karena tidak bisa berenang.
Sepeninggal Naya, Nayra akan meluncurkan rencana pertamanya untuk menjebak Naya dan Kaivan. Karena sekarang posisi Kaivan berada di ruang keluarga, jadi—jika Naya berteriak nanti, pasti akan terdengar.
Mula-mula, Nayra masuk ke dalam kolam renang. Dia dengan bebas memeragakan gaya renang apa pun. Sejak kecil, Nayra memang sudah terlatih untuk berenang. Alhasil, meskipun kolam renang ini untuk dewasa—dia tetap mampu berenang di kolam ini.
Namun saat Nayra melihat Naya berjalan ke arahnya, anak itu berpura-pura tenggelam dengan menggerakkan tangannya ke permukaan. Sedangkan kepalanya dia sengajakan masuk dan keluar dari dalam air.
"MAMA NAYA! TOLONGIN NAYLA!" Begitu mendengar pekikan Nayra dari dalam kolam, Naya terkejut bukan main. Dia bahkan menutup mulutnya tidak percaya, pun membuang begitu saja piring berisi mangga segar yang untungnya terbuat dari plastik tersebut.
"NAYRA!" KAMU KENAPA BISA DI KOLAM?!" Naya panik setengah mati, dia bergerak gelisah. Dan suaranya yang nyaring terdengar oleh Kaivan di ruang keluarga.
"MAMA NAYA TOLONG!" Naya tidak bisa berpikir jernih dalam keadaan terdesak, Nayra lebih penting dari dirinya. Maka tanpa pikir panjang, Naya pun melompat masuk ke dalam kolam renang untuk menggapai posisi Nayra yang ternyata berada di tengah.
Dengan sekuat tenaga Naya mencoba mengatur nafas dan menggerakkan kakinya, tapi usahanya hanya mampu beberapa meter.
"Nayra," lirih Naya yang mulai hilang timbul di permukaan air. Tangannya mencoba menggapai ke permukaan. Sedangkan Nayra, terkejut melihat Naya yang sepertinya kesulitan berenang.
"Mama Naya nggak bisa belenang?" tanya Nayra pada dirinya sendiri.
"Gawat! Mama Naya tenggelam." Nayra dengan segera mencapai ke posisi Naya, tapi karena tubuhnya yang kecil—dia tetap tidak mampu membawa tubuh Naya ke permukaan. Untung saja, papanya datang di waktu yang tepat.
Kaivan datang tergopoh sehabis mendengar teriakan Nayra ataupun Naya, dilihatnya—Nayra kesusahan di dalam air. Tapi yang lebih mengejutkan adalah, adanya Naya tenggelam di sana.
"NAYA!"