
Vania pulang ke rumah dengan raut masam. Sepanjang perjalanan, gadis itu merutuki kebodohannya. Bagaimana mungkin semua terjadi di luar kendalinya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan mudah tak bisa ia jawab dengan benar. Veli sudah menghibur adiknya, namun tetap saja tak mengurangi kesedihan gadis manis itu.
“Sudah Van, yang sudah terjadi tak perlu disesali. Lo hanya perlu konsentrasi dan fokus terhadap tujuan lo, oke!” Veli mengusap rambut adiknya agar sedikit tenang, namun pada kenyataannya tak mengurangi kadar kekecewaan Vania sedikitpun.
Vania membanting tasnya ke lantai, membuang sepatunya ke sembarang arah. Rasanya malu setengah mati, terlebih lawan dirinya dalam kompetisi ternyata adalah cowok tampan yang dia idamkan semalaman.
“Tamat sudah hidup gue, di sekolah pasti sudah habis di rujak sama anak-anak brengsek. Apa bedanya gue menang atau kalah, toh mereka juga nggak akan peduli sama gue, Hah!” Vania merebahkan tubuhnya dan mulai menatap langit-langit kamarnya. Perlahan ia larut dalam keheningan dan gadis itu pun akhirnya tertidur.
Lain Vania lain juga dengan Ardian. Idola para gadis itu kini sedang merayakan hari besarnya bersama Boy. Baru pertama kali Ardian merasa gugup untuk menemui seorang gadis. Bisa dikatakan sekelas Ardian, berkencan dengan banyak macam tipe sudah menjadi keahliannya. Namun entah kali ini ada sensasi lain yang mendera diriny.
“Boy, bantu gue buat ngedate malam ini ya!” Boy memberikan dua jempolnya.
“Gimana kalau kita ke mall? Lo udah ganteng, ya perlu di poles sedikit lagi lah supaya langsung kepincut itu gebetan lo, gimana Di?”
Usulan Boy mendapat apresiasi dari Ardian, dan mereka pun segera meninggalkan kafe itu. Ardian dan Boy bagai oase di gurun pasir untuk kau hawa. Pasalnya mereka berdua sama-sama memiliki wajah yang tampan. Sayangnya Boy tak secerdas Ardian, dan lebih cengengesan. Namun soal setia kawan, jangan ditanya, karena Boy adalah satu-satunya teman yang dipercaya oleh Ardian.
“Gimana Di, Lo puas kan? jangan lupa kabarin gue ya, kalau sukses oke!” Boy pun mengantar sahabat baiknya sampai ke rumah. Setelah sampai, anak kedua dari tiga bersaudara itu segera bersiap. Membersikan diri dan mengenakan masker wajah.
“Sudah pulang bang?” tanya Imas. Ibunya memeriksa ke dalam kamar karena tak ada jawaban dari Ardian. Setelah membuka pintu, Imas mendapati putranya tengah menatapnya dan tak mengatakan apapun. Jari telunjuknya menunjuk ke arah wajahnya, yang tidak bisa bicara karena sedang memakai masker.
“Duh jagoan ibu, pakai masker segala. Mau kemana sih bang?” Imas duduk di ranjang samping putranya yang berkulit putih dan tampan. Jika abang Ardian yang memiliki kulit kuning langsat dan adiknya yang memiliki kulit halus seperti bocah perempuan.
Ardian hanya tertawa, tak menanggapi pertanyaan ibunya. Imas lalu memberikan hadiah karena putranya telah memenangkan lomba, juga sebelum pergi Imas meminta untuk mengantarkan pesanan seperti biasa ke tempat langganannya, Bu Anne.
“Rumah besar yang di ujung jalan itu, bu?”
Imas mengangguk, sembari mengusap rambut putranya. Karena hari ini hatinya sedang senang, Ardian pun bersedia. Pukul 18.00 pria tampan itu sudah rapi, dan ia sengaja mengantarkan pesanan ibunya lebih cepat. Ardian tak ingin membuat Dista menunggu dirinya. Setibanya di rumah itu, Vania yang bangun tidur membuka pintu. Ia takjub, dengan apa yang dilihatnya.
“Hah! gue mimpi kali ya? bisa ketemu sama cowok itu lagi, mana cakep banget lagi,” tukas Vania sambil mengucek matanya.
“Lihat apa? Ini pesanannya!” Ardian melihat jam tangannya. Yang awalnya dia bersabar, kini ia mulai berdecak sebal. Karena gadis di depanya lagi-lagi membuang waktunya. Pria dengan setelan kemeja formal itu nampak memukau, membuat Vania terpesona tak berhenti menatapnya. Hingga pria berkulit putih itu berdeham.
“Ehm! Sorry bisa buruan nggak? Gue nggak ada waktu!” merasa kesal, karena gadis dengan behel itu tetap saja mematung, Ardian berlalu meninggalkannya. Gadis itu membuat mood Ardian memburuk.
Cuaca yang awalnya terang, kini berubah mendung. Pria dengan setelan kemeja putih dan jins denim itu memasuki kafe tempat mereka berdua melakukan kopi darat. Lampu yang remang-remang itu tak menyurutkan Ardian untuk menyapu seluruh ruangan dengan tatapan sendunya.
Ternyata Dista belum datang, atau memang tidak datang karena di luar ternyata hujan. Saat melihat notifikasi di ponselnya, sebuah tangan menepuk pundaknya.
“Hai, kamu Ardian kan?”
“Iya, Dis. Kamu baru datang? aku juga baru sampai, kebetulan juga hujan.”
Mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung kafe. Layaknya pasangan yang serasi, keduanya nampak cocok dilihat dari berbagai sudut. Ardian yang lemah lembut, memperlakukan gadis itu sangat manis, bahkan Dista sendiri merasa tersanjung.
“Sorry ya Di, kalau kamu menunggu terlalu lama. Jadi temanku yang berada di Jakarta mengadakan pesta ulang tahun, dengan syarat aku harus datang membawa pasangan.”
Tatapan Ardian tak lepas dari gadis yang terus berbicara tanpa jeda, membuat senyum pria itu semakin menawan.
“Lalu, apa yang bisa aku bantu?” tawar pria itu.
“Tunggu dulu, aku belum selesai cerita nih,” lirih Dista manja, yang ternyata membuat debaran Ardian begitu tak terkontrol, padahal hanya mendengarkan gadis itu berkeluh kesah, namun baginya rasanya lain.
Ardian diminta untuk menjadi partner dalam acara itu, dan Dista bersedia membayar sejumlah uang untuk pekerjaan sambilan Ardian. Meskipun sangat selektif, nyatanya Ardian tetap menerima pembayaran dari Dista.
“Berapa lama, kamu butuh bantuanku? Aku bisa menjadi pacar super sempurna untuk kamu.” padahal biasanya pria itu hanya memberi waktu hanya sehari. Namun, kenapa rasanya ia ingin berlama-lama dengan gadis berparas ayu itu. Meskipun mereka berdua belum saling mengenal satu sama lain, tetapi sosok gadis Bandung ini bisa memikat hati Ardian begitu cepat.
“Satu minggu, aku akan membayarmu sesuai kesepakatan, bagaimana?”
“Tapi aku masih mempunyai satu syarat, apa kamu bisa menerimanya Dis?” Dista yang sedang membuka buku menu pun, mengangguk dengan syarat apapun itu. melihat gadis itu yang malu-malu juga kadang bersifat manja, Ardian ingin mengujinya. Apakah Dista sama seperti gadis-gadis yang mencoba mendekatinya, hanya untuk dipamerkan dan bisa melakukan kontak fisik layaknya sepasang kekasih.
“No physical touch, apa kamu setuju?”
Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung mengiyakan. Mereka berdua pun berjabat tangan tanda setuju. Obrolan mereka cukup intens dan membuat ketertarikan secara tidak sengaja. Diam-diam mereka berdua saling mengagumi, meskipun hanya melalui tatapan dan senyuman.
Saat mereka nampak romantis dengan canda tawa yang mengalir begitu saja, ternyata sejak tadi seorang gadis memperhatikan mereka. Membawa sejumlah uang untuk membayar pesanan mamanya, karena cowok tampan itu marah dan berlalu begitu saja meninggalkan rumahnya.
“Ternyata, dia sudah punya kekasih.” Lirih gadis itu, yang ternyata adalah Vania. Gilanya gadis itu bergegas mengejar Ardian secepat yang ia bisa, hingga ia berhenti di sebuah kafe yang cukup jauh dari rumahnya.
Pupus sudah harapan yang ia pupuk tinggi, ternyata sejak dalam kompetisi itu bukan dirinya yang ditatap oleh pria itu.
“Bego banget, kalau gue merasa besar kepala hanya karena tatapan dan senyuman itu, juga tentang pertemuan yang terjadi berkali-kali, semua hanya ilusi gue.” tak terasa air mata gadis itu mengalir. Ia melewati derasnya hujan yang turun membasahi kota Jakarta.
“Ma, Vania patah hati,” lirihnya dalam balutan air hujan.
...