
Dalam acara reuni sekolah yang dihadiri oleh Grace juga Anggi, ternyata sosok Veli juga berada di sana. Kakak kandung Vania yang awalnya enggan untuk mendatangi acara seperti ini, merasa ada gunanya juga saat melihat sosok bening yang menjadi pusat perhatian banyak orang.
Melihat Vania terus bersedih karena diabaikan oleh Ardian, hingga mendapat hukuman dari mamanya dengan memindahkan sekolahnya ke tempat yang jauh. Sang kakak pun merasa tak terima. Saat melihat kesempatan datang, Veli pun tak membuang waktu lama untuk memberikan pelajaran bagi bocah sok tampan itu.
“Kenapa? Apa yang salah dengan Vania? Adik gue bahkan rela menghabiskan seluruh tabungannya hanya untuk membeli hadiah untuk bocah tengil itu.” gusar Veli. Gadis dengan potongan bob itu pun penasaran. Bagaimana Ardian bisa berkencan dengan gadis biasa seperti Grace dan menduakan pacarnya.
Jika dibanding dengan Grace, Penampilan Vania jauh lebih baik. Setelah mendapatkan beberapa angle foto yang cukup bagus. Veli menghubungi Maya yang telah berteman dengan Dista. “Lo sakitin Adek Gue, kini Gue yang akan membalasnya.”
Veli
[Halo May, Gue bisa minta tolong, please!]
Maya
[Minta tolong apa kak?]
Veli
[Lo kan sekarang berteman dekat sama anak basket itu, yang ditaksir adek Gue? Lo punya nomor hape ceweknya nggak May, ini penting!]
Veli mulai mengarang cerita untuk merebut simpati dari Maya, mengatakan hal-hal buruk yang telah dilakukan Ardian kepada adiknya dan juga banyak gadis-gadis lainnya. Dan dengan mudahnya Maya mempercayainya begitu saja. Veli berpikir jika Maya selain cupu juga bodoh dan gampang diperdaya.
Maya tak banyak bertanya, dirinya tahu siapa Veli sebenarnya setelah kejadian kasus Ardian yang akan di skors. Untuk itu Maya segera memberitahu teman barunya jika ada nomor asing berkata yang bukan-bukan tentang Ardian, untuk tidak meresponnya.
Pagi hari, dengan skinny jins dan kaos putih dengan rambut hitam tergerai, memasuki gerbang sekolah. Gadis berparas ayu itu menunggu Papanya, dengan berjalan-jalan dan berhenti tepat di depan lapangan basket. Di mana pertandingan basket Ardian waktu itu digelar.
Gadis pemalu itu tampak gusar. Saat ditatap banyak pasang mata oleh para siswa dengan seragam olah raga di sana. Salah satunya menatapnya dengan tatapan tajam, seolah sedang membidik target sasaran dan menguncinya ...
‘siapa dia?’ batinnya, senyum kecil itu terbit diujung bibir merahnya.
Saat fokusnya teralih, sebuah serangan datang dan berhasil memasukan bola ke dalam keranjang.
“Heh, tumben sampai kemasukan? Lagi lihatin siapa sih Bro, fokus amat?” tanya seorang timnya.
“Hm, nggak ada! Sorry-sorry Yuk lanjut!”
...
Distanika Fadila, sekarang resmi terdaftar di sekolah yang sama dengan kekasihnya, Geri Ardiansyah. Dista duduk di bangku XII IPA 2, dan akan mulai masuk sekolah hari Senin. Setelah selesai melakukan pendaftaran, Ia segera meninggalkan gedung besar itu untuk menyiapkan keperluannya.
Dari arah belakang Rico dan Boy menghampiri Ardian untuk mengajaknya ke kantin. Sebuah kesempatan untuk Rico menyampaikan pesan dari Anggi semalam. Boy yang tak tahu apa-apa hanya bisa menyimak obrolan dua pria itu.
“Bro, Semalam Lo pergi sama siapa? Kacau Lo, Anggi marah-marah sama Gue suruh bilang sama Lo jangan bikin pacarnya patah hati, Kalau nggak Lo bakal menyesal seumur hidup, gitu katanya!” papar Rico. Ardian mengira jika yang mengadu domba hubungan mereka berdua adalah Anggi.
Padahal Anggi hanya sekedar mengingatkan, jika teman Dista itu gadis yang baik dan lembut juga baru pertama kali menjalin hubungan dengan lawan jenis setelah berusia 17 tahun.
“Wah, Lo pergi sama siapa Bro? Gue ketinggalan berita nih!” Boy mendesak Ardian untuk bercerita.
“Lo bilangin juga sama si Anggi, jangan ikut campur hubungan Gue sama Dista. Gue sama cewek semalam nggak hubungan apa-apa Bro! Cuma bisnis!”
“Wah gaya Lo! Iya sih, Gue percaya! Lihat tampang Lo yang bete udah kelihatan jelas kalau cewe itu bukan tipe Lo!”
“Nah, itu tahu! Masa Gue mau ninggalin pacar gue demi cewek agresif kayak begitu! parahnya Dista dapat foto Gue sama Grace dari mana? Yang Gue tahu di tempat pesta Cuma ada Anggi sama Lo yang Gue kenal!”
Rico meyakinkan Ardian jika bukan Anggi pelakunya tetapi pria itu tak memiliki buktinya.
...
Di sekolah, Vania memulai kegiatan belajar di sekolah yang baru di Surabaya. Ia mulai merubah penampilannya secara perlahan. Ia ingin menunjukan pada semua laki-laki, jika dirinya juga bisa tampil cantik dan menarik juga layak untuk dimiliki.
Vania selalu berkirim pesan kepada Veli, tentang bagaimana kelanjutan hubungan Ardian dengan kekasihnya. namun jawaban Veli tak sesuai dengan harapan Vania. Gadis cupu yang sering dihina dan diremehkan banyak orang, kini berubah 180 derajat. Menjadi sosok angkuh dan menjadi sosok gadis yang gemar mematahkan hati banyak pria. Baginya membalas perbuatan Ardian adalah tujuan utamanya. Untuk itu Vania banyak berlatih dengan menggunakan para siswa di sekolah barunya.
‘Ternyata begini ya rasanya, mendapat banyak cinta. Cukup menyenangkan, tapi cowok yang Gue mau cuma Ardian. Sebelum Gue berhasil mendapatkannya, Gue nggak akan berhenti bermain dengan cowok-cowok di sini.’ batin gadis itu.
Keberanian Vania datang begitu saja, ketika mengingat rasa sakitnya penolakan itu. Sampai Ia mulai mendaftarkan diri di beberapa aplikasi kencan online dengan identitas serta wajah barunya tanpa sepengetahuan Veli. Dari internet Vania belajar banyak hal, bagaimana cara menaklukan pria dingin dan cuek. Untuk gadis cerdas seperti Vania hal tersebut bukan masalah besar.
‘Tinggal di rumah Nenek malah membuat Gue merasa bebas dari tekanan Mama, tapi sayang Gue harus jauh dari Veli.’ gumam Vania sembari berselancar mencari targetnya. Dan Ia berhasil mendapatkannya.
“Lumayan buat latihan,”
Vania tidak tahu dibalik asyiknya dirinya bermain dengan banyak pria di dunia maya, ada bahaya yang sedang mengancamnya.
...