
Hari Minggu, keluarga Ardian seperti biasa melakukan kerja bakti di lingkungannya rumahnya. Ardian dan adiknya kebagian mendapat mencabuti rumput dan membersihkan selokan. Abang juga ayah Ardian mulai meninggikan jalanan masuk ke rumahnya agar tak tergenang air.
Imas tak berjualan, Ia menyeduh kopi hitam favorit keempat jagoannya. Hanya mengenakan celana pendek dan kaos kutang tanpa lengan membuat Imas geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya.
“Yah, Pakai baju yang benar gitu lho! masa nggak malu sama anak-anak cuma singletan aja!” tegur Imas. Imas sering kali melihat para tetangganya yang genit mengintip di halaman rumah. entah siapa yang dijadikan korban. Sulungnya, Ardian, si bungsu, atau... suaminya.
“sudah ayo, kita makan dulu! semua cuci tangan ya, Ibu tunggu di luar!” teriaknya.
“Iya—iya Bu, sabar gantian ini cuci tangannya,” sahut Ardian yang sudah berada di luar. Mereka menikmati kebersamaannya, baru juga beberapa suapan nasi itu masuk ke mulutnya, terdengar langkah kaki memasuki halaman rumahnya.
“Selamat siang Pak, Bu Imas...,” sapa seorang pria berkumis tipis. “Wah sepertinya kedatangan kami kurang tepat.”
Serempak keluarga Ardian menoleh ke arah pria berkaos polo putih itu, dan ternyata di belakangnya ada dua orang gadis yang tengah menundukkan wajahnya. Mereka tak hanya datang dengan tangan kosong, Agung meminta anaknya untuk membawa sesuatu sebagai permintaan maaf.
“Siang, ada perlu apa ya Pak?” Imas dan Ardian mendadak tidak lagi selera makan, padahal masakannya siang ini begitu nikmat. Mereka semua akhirnya menyudahi acaranya dan memindahkannya ke dalam.
“Saya mewakili anak dan istri saya Anne, Vania dan Veli datang untuk meminta maaf atas kesalah pahaman yang pernah terjadi, Bu Imas.” Sembari menyerahkan bingkisan besar yang berisi makanan manis, Vania menyerahkannya kepada Imas. Ardian sudah semakin tak suka, bisa-bisanya gadis cupu itu membawa papanya untuk meminta maaf yang sudah pasti tidak mengetahui masalahnya dengan jelas.
“Oh, silakan duduk Pak. jadi begini ya pak ya apakah Bapak tahu apa yang sudah bu Anne katakan bahkan perbuat kepada putra saya?” Ardian coba ceritakan semua ya nak, biar bapaknya juga tahu seperti apa kelakuan kedua putrinya di luar rumah.”
Imas menjadi terbata-bata setiap mengingat perlakuan sekolah dan orang tua Vania. Sampai jatuh sakit dan penghasilannya menurun. Semuanya berdampak buruk akibat berita tidak benar itu. Ardian menceritakan panjang lebar tanpa di tutup-tutupi dan dikurangi.
Awalnya Agung yakin, Ia mampu mengatasi keluarga Ardian tanpa mengajak Anne, karena sejak pagi sudah berdebat dan menentang keras untuk tetap tidak mau meminta maaf. lambat laun, cerita Ardian membuat Agung menoleh ke arah Vania dan Veli yang sudah ingin lari pergi dari rumah sederhana itu.
“Saya tidak habis pikir bagaimana istri bapak mengatakan cara mendidik saya yang salah. Seorang bocah miskin yang tidak pantas dengan putri bu Anne, yang membuat fitnah sampai sekolah anak saya terganggu, lalu istri anda sembunyi begitu saja? itukah cara mendidik anak yang benar?”
Vania memainkan jarinya, ternyata ibunya Ardian sampai sakit itu semua berkat kesalahan mamanya, pantas saja sebegitu bencinya Ardian dengannya. Tak cukup menampar anaknya, ternyata secara kasat mata menampar hati seorang ibu. Benar-benar keterlaluan.
“Bu, sudah Bu! Kita masuk saja, nanti ibu sakit lagi biarkan Ardian yang menyelesaikan semua ini. Ibu sudah cukup menderita, jangan lagi ditambah dengan hal- tidak berguna seperti ini!” tegas Ardian. Lantas bocah tampan itu membawa ibunya masuk dan mendudukkannya di meja makan. Diberinya segelas air minum, dan Ardian kembali ke luar menemui Agung dan kedua gadis itu.
“Kalau kedatangan bapak meminta maaf, kami akan menerima jika ibu Anne sendiri yang datang menemui ibu saya. bapak tahu apa yang sudah kami lewati? Kami memang miskin Pak, tapi kami tidak pernah menghina harga diri orang lain atau bahkan merendahkan diri kami sendiri, seperti yang bu Anne tuduhkan.”
Agung duduk sedikit membungkukkan badannya. Ia merasa apa yang dilakukan keluarganya ternyata sangat keterlaluan. Pria dua anak itu menatap Ardian, pantas saja anaknya sampai terobsesi seperti itu.
“Vania, Veli apa tidak ada yang ingin kalian sampaikan?”
“Tidak Pa, buat apa lagian permintaan maaf papa ditolak bukan? Cih, sudah Veli tebak sebelumnya.”
Ardian semakin kesal dengan polah gadis kuliahan itu, keduanya sama saja. sama-sama pengganggu.
“Lo jangan pernah ganggu cewek gue lagi dengan kirim-kirim foto nggak benar! Lo pikir gue nggak tahu itu kelakuan Lo!”
“heh fitnah Lo ya!” maki Veli, sampai Ardian mendapatkan semua isi pesannya dan nomor kontaknya Ia tunjukan kepada orang tua gadis itu.
“Veli mau kemana Vel! Vania, kejar kakakmu Van Papa akan berpamitan kalau begitu.” mereka semua pun berdiri. Agung menepuk bahu Ardian, pasti sangat sakit rasanya sampai mereka begitu terpukul seperti itu. Agung akan mencoba mengajak istrinya lain kali untuk silaturahmi ke keluarga Ardian.
“Baiklah, kalau begitu kami undur diri.”
“Iya Pak,” Vania pun menoleh ke arah Ardian untuk menyerahkan bawaan itu tetapi tatapan dinginnya membuatnya urung dan membawanya kembali pulang.
“Sialan Ardian, bikin malu bokap Gue lagi!” Lo lihat aja...