
Vania perlahan berubah menjadi gadis gaul yang sangat populer dalam lingkup sosial media. Dengan parasnya yang semakin memesona, dan usianya yang masih sangat muda membuatnya menjadi gadis yang paling dicari.
Banyak permintaan pertemanan yang menunggu diterima oleh Vania. Mayoritas adalah kaum adam yang tak sedikit yang berparas tampan. Vania tenggelam dalam hingar bingar rayuan maut para buaya yang bertebaran dalam aplikasi jejaring sosial. Hingga beberapa diantaranya mengajaknya untuk bertemu.
Vania
[Hah! ke-kenapa harus bertemu di tempat tertutup seperti itu? bukannya kafe sangat banyak di sekitar Pakuwon?]
Pria A
[Memangnya kenapa? Kamu takut ya kalau Aku akan berbuat macam-macam? Tenang saja, temanku juga membawa pasangannya. Kita bisa melakukan double date nanti.]
Vania
[Aku tidak janji. Kalau di tempat lain, Aku akan mengusahakannya.]
Pria A
[Baiklah, Aku akan menunggumu di Astro Kafe]
Vania pun mengiyakan selama tempat itu bukan semacam hotel, hostel atau penginapan. Meskipun Vania adalah sosok gadis lugu tetapi dia bukan anak bodoh yang mudah terjerat tipu daya. Sayangnya kali ini gadis itu tak mencoba mencari tahu lebih dulu tempat macam apa yang akan Vania datangi.
Pukul Lima sore Vania izin keluar kepada Rumi. Berpamitan untuk hanya sekedar menonton film dengan teman sekolahnya. Dan wanita lansia itu mengizinkan dengan catatan untuk tidak pulang terlambat.
Di depan sebuah bangunan yang ramai hilir mudik sepasang muda-mudi, Vania masuk ke dalam. Astro Kafe, bangunan dua lantai dengan basement. Gadis itu celingukan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Perasaannya tidak enak. Vania memutuskan untuk pulang saja sesaat setelah Veli meneleponnya.
Karena berada di lantai dasar Vania tak dapat menerima sinyal ponselnya dengan baik. alhasil sambungan itu gagal tersambung.
‘Gue pulang aja ah! Mana ngeri banget di sini. Sial, Gue dikerjain.’ Saat Vania hendak menuju pintu keluar di lantai atas, Tangan Vania ditarik paksa oleh seorang pria.
“Hey, Kamu Vania Kan? jangan terburu-buru, kita bahkan belum membuka obrolan sedikitpun.”
Vania tercengang, melihat sosok pria yang berada di hadapannya. Mata gadis itu tak berkedip, bahkan mulutnya pun menganga sempurna.
“Hey, Vania ada apa denganmu? Ada yang salah denganku?”
Vania menggeleng, gadis itu merasa tenggorokannya kering dan meminta segelas air. Pria itupun menyodorkan segelas orange jus.
“Kamu haus, di minum dulu!”
“Ar-ardian ...?” sapa Vania begitu antusias saat melihat pria yang berada di depannya.
“What do you say? Ardian? Siapa dia? pacarmu ya?”
Vania mengucek matanya berulang kali. Ia benar-benar dalam keadaan sadar, jika pria tampan di depannya adalah Ardian. Siswa tampan yang Ia gandrungi.
“Gue Aldo, bukan Ardian.” Vania menyeruput minuman pemberian Aldo hingga ludes. Pria itupun tersenyum samar.
“Mau kemana kita sekarang? Di sini mulai ramai,” Aldo meraih tangan Vania dan gadis itu pun mulai mengikuti kemana Aldo membawanya. Si cupu yang berubah menjadi kupu-kupu seakan lupa diri dengan situasi yang tengah dihadapinya. Seharusnya Ia waspada, bukan malah sebaliknya. Kini hanya ada Ardian di matanya. Ia lupa, bahwa dirinya berada di Surabaya, bukan di Jakarta.
Vania terus tersenyum menatap pria sempurna di sampingnya. Vania berujar, wajar saja Ardian tak mengenalinya karena dirinya telah bertransformasi menjadi gadis populer seperti yang disukainya.
“Pacar? Aku bahkan masih sendiri sampai sekarang. Apa kamu mau menjadi pacarku Vania?”
...
Sore hari Ardian telah tiba di rumah kekasihnya dan mengajaknya keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Setelah kencan pertama, Dista dan Ardian belum pernah menghabiskan waktu lagi. Rencananya kakak kandung Gavin akan menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam itu.
“Yang, nggak apa-apa kan kalau kita pulang agak malam?”
“Ih, jangan dong! Nanti Papaku marah, besok Senin Aku sudah mulai sekolah tahu.”
“Hm, Tapi Aku masih boleh main ke rumah kan?” Dista mengangguk.
Ardian mengajak Dista ke kota tua, meski cukup jauh tapi mereka menikmati suasana malam itu berdua. sambil berjalan-jalan pria tampan berkulit putih itu mengatakan jika Grace adalah gadis yang dulu pernah menggunakan aplikasi kencan dan meminta Ardian untuk membantunya. setelah tak ada lagi kerja sama, mereka tak lagi saling kontak alias tak lagi ada hubungan.
“Lalu?”
“Saat kita nonton film bareng Boy, ternyata Grace juga berada dalam gedung yang sama dan meminta bantuanku lagi Yang, Aku takut kamu marah. Makannya Aku nggak bilang sebelumnya sama kamu.”
“Apa Anggi yang mengirim foto itu?” Ardian penasaran.
“Bukan, tetapi kata Maya dia itu Veli. Katanya kamu punya banyak pacar diluar sana. Isi chat nya pun juga masih ada.”
“Lalu kenapa malam itu kamu marah?”
“Yah lagian siapa yang mau pacarnya dibawa kemana-mana sama gadis lain, gitu Loh Ardian! Masa kamu nggak ngerti sih. kalian foto berdua begitu dekat, terus kamu yang di pegang-pegang. Ihh...”
Ardian tersenyum dan meraih tangan kekasihnya. “Aku sudah menolak sebelumnya. Dan Aku janji sama kamu, kalau Aku dapat pekerjaan lagi, nggak akan ada semacam itu lagi sayang, semuanya punya kamu.”
Dista memicingkan matanya tak percaya. Bibirnya mengerucut. Dista yang setahun lebih dewasa dari Ardian membuat siswa populer itu merasa nyaman.
“Tapi Aku senang kalau kamu cemburu begitu, berarti kamu beneran sayang sama Aku, ya kan?” Ardian mengecup tangan lembut Dista dan menatapnya. Gadis itu merona dan berjalan mendahuluinya.
“Tahu ah!”
Sejak peristiwa Grace, Ardian tak pernah lagi menerima permintaan kliennya yang macam-macam. Jangankan minta gandeng, pegangan diatas motor saja dilarang. Jika tak setuju dengan syarat yang Ardian ajukan, maka kesepakatan gagal.
Sepanjang perjalanan Ardian mulai mengingat siapa Veli, ternyata gadis itu adalah anak dari langganan Ibunya dulu. Anak pertama dari Anne, kakak kandung Vania.
Dista sudah tak marah lagi dengannya, namun semenjak masuk sekolah gadis itu mulai semakin sibuk dengan pendidikannya. Terlebih sudah memasuki masa ujian akhir, waktu mereka berdua benar-benar sangat terbatas. Hanya seminggu sekali Ardian bisa menemui gadis berparas ayu itu.
“Yang, Aku kangen. Kapan kita bisa bertemu?” Dista mengirimkan pesan. Namun Ardian mulai lambat meresponnya. Dista yang suka overthingking, mencoba untuk mengerti kesibukan kekasihnya.
Mereka berdua hanya bisa berkirim pesan tiap malam. Sampai suatu ketika Ardian menggunakan waktu luangnya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari teman kencannya. Tak ada salahnya sambil menyelam minum air. Kesibukan mereka berdua membuatnya lupa waktu untuk saling berkirim kabar.
“Yang, Aku ingin kita bicara.” karena sudah beberapa bulan ini mereka tak ada komunikasi, Dista akhirnya mengambil keputusan berat itu. Ardian yang tiba-tiba menerima pesan dari kekasihnya, memiliki perasaan tak enak.
“Yang, Aku mau kita putus!”
...