
“Bang! kamu nggak sekolah? sudah jam enam, nanti telat!” Imas mengetuk pintu kamar putra keduanya. Tak biasanya Ia bangun terlambat. Semenjak pulang sekolah kemarin ardin menjadi pendiam. Imas tahu jika putra tampannya menyembunyikan sesuatu.
“Bang Vicky sudah berangkat Lo Bang! Ibu boleh masuk?” tak ada jawaban, wanita cantik dengan tiga putra itu membuka pintu kamar Ardian. Bocah tampan itu tertidur dengan menelungkupkan wajahnya di bantal. Rasanya enggan untuk bangkit.
Imas mengusap kepala putranya dengan lembut. Dan menanyai tentang masalah yang dialaminya. Akhirnya Ardian pun menjawab pertanyaan ibunya.
“Bu, Abang minta maaf. hari ini sampai seminggu ke depan, Abang tidak masuk sekolah.” Imas tak segera menghakimi. Ia menunggu putranya selesai bercerita. Imas memiliki tiga anak, dan semuanya laki-laki.
Sudah hafal di luar kepala cara membesarkan dan menyelesaikan masalah mereka. maka dari itu, ketiga putra Imas tak pernah membangkang kepada kedua orang tuanya.
“Abang ada masalah di sekolah? bilang sama Ibu, apa kamu berantem?”
“Bukan,”
Ardian membenarkan posisi duduknya. Menyugar rambutnya terdiam beberapa saat. Ardian memilih kalimat yang tepat untuk menyampaikan kepada Ibunya. yang pasti akan susah diterima.
“Bu, Abang di skors dari sekolah. Karena mendapat tuduhan melakukan perbuatan terlarang, tapi Abang berani bersumpah Bu, bukan Abang pelakunya.” Terdengar suara Ardian yang tak kuasa menahan kecewa. “Ibu percaya sama Ardian kan?”
Imas yang sering sakit-sakitan, merasakan sesak dalam dadanya. Tak percaya jika putranya mengalami hal yang tak menyenangkan. Siapa yang tak menginginkan Vicky, Ardian juga Gavin? Ketiga putra Imas adalah anak yang rajin, pintar juga penurut. Tak sekali dua kali, banyak godaan para tetangga. Namun baru kali ini Imas mendengar tuduhan keji untuk putranya yang paling tampan.
“Ibu percaya! Tapi Ibu juga perlu bukti kalau kamu nggak melakukannya. Pasti Ibu disuruh datang ke sekolah kan?”
Ardian mengangguk. Menyerahkan surat pemberitahuan skorsing.
Imas tertawa. “Dulu Abang kamu, di skorsing tiga hari karena berantem. Sekarang kamu, di hukum seminggu karena kasus seperti ini. Tapi Abamg benar-benar tidak melakukannya kan?”
“Nggak Bu, Abang nggak senakal itu. Dan gara-gara hal ini juga, Abang diputusin sama pacar Abang.”
“Ehm... Ketahuan kan sekarang!” Ardian dan Ibunya tertawa kecil. “Udah putus kok Bu!”
Imas meminta putranya untuk membantunya berdagang di rumah selama dihukum. Sementara Imas bersiap-siap datang ke sekolah.
...
Setelah tidak sadarkan diri lebih dari dua puluh empat jam, Vania akhirnya bangun. Di sisinya sudah ada sosok tegas Anne dan kakanya, Veli.
Vania pun melihat sekelilingnya, jika ternyata dirinya berada di ruangan serba putih dan bau khas obat-obatan.
“Ma! Kak Veli!” sapa Vania.
Anne yang ketiduran pun segera bangun mendapati panggilan anak bungsunya.
Anne yang masih shock tak ingin menanyakan hal memalukan yang menimpa anaknya. Efek obat keras yang diberikan kepada gadis manis itu berakibat hilangnya kebanggan Vania sebagai seorang gadis. Sayangnya Vania tak mengingat Aldo.
“Ardian di mana Ma?” tanya gadis itu.
“Jadi pria itu Ardian? Anaknya Imas pedagang pecel langganan Mama dulu?”
Vania terdiam. “Iya Ma, cowok yang Mama tampar waktu itu.” sela Veli. Vania memandang kakaknya.
“Kurang ajar, Anak orang miskin kelakuannya nggak ada didikan sama sekali.”
Anne menghubungi Agung, suaminya Dan memintanya membuat laporan ke kantor polisi dengan tuduhan perbuatan pelecehan.
‘Untung udah Gue hapus semua chat si Vania sama si Aldo-Aldo itu.’ Veli membersihkan semua aplikasi kencan online itu.
Karena kejadian terjadi di Surabaya. Veli tak bisa mendatangkan saksi juga barang bukti yang menyudutkan si pelaku. Terlebih Veli tahu jika Ardian berada di Jakarta.
‘Sial! Kenapa Gue nggak kepikiran kamera cctv ya!’
Rasa dendamnya membuat buta mata. Segala cara Veli lakukan untuk adiknya. Membuat seorang pria tak bersalah harus mendapatkan perlakuan tak adil.
Sedangkan Ardian yang masih berusaha menenagkan diri, lain halnya dengan Dista. Di sekolah, Boy benar-benar menemukan kekasih Ardian di sekolah yang sama. Dista sedang menuju kantin. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang memberikan gadis itu tempat duduk. Sampai Boy datang menghampirinya.
“Dista, Ini beneran Lo kan? Pacar Ardian?”
“Boy!”
Dista menatap sekeliling, untuk tidak membahas hubungannya dengan siswa populer itu. Boy mengajaknya duduk, di meja spesial yang menjadi langganan Ardian.
“Duduk sini! Gue penasaran sama apa yang terjadi, Ardian di skors, Lo tahu?”
Dista mengangguk.
“Dan Lo dengan tega-teganya mutusin hubungan kalian? Wah kacau Lo, Dis!”
Sebenarnya Dista tak ingin menceritakan masalahnya kepada siapapun, tapi selama Boy bisa menutup mulutnya Dista akan membaginya pada pria tinggi itu.
“Boy, ada beberapa alasan yang nggak bisa Gue ceritain ke Ardian. Kalau sebenarnya, banyak yang tahu kalau Gue sama temen Lo itu pacaran. Dan Gue dapat teror selama beberapa hari ini. Tapi, Gue janji kok akan bantu Ardian diam-diam untuk cari tahu siapa yang membuat fitnah itu. Lo bisa jaga rahasia kan?”
Boy menatap gadis itu. Sebenarnya kasihan juga, jika hanya gadis ayu ini saja yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Hanya karena siswa populer dan tampan itu menyukainya.
Awalnya tak jadi masalah, karena Dista belum pindah ke sekolah yang sama. Tetapi setelah mengetahu fans fanatik Ardian. Dista yang terkenal pemalu dan overthingking berusaha mencari jalan aman. Karena masa sekolahnya tinggal beberapa bulan lagi.
“Tapi Dis, Lo masih suka kan sama teman Gue? Dia sedih banget kemarin. Jangan tinggalin Ardian Dis, cuma Lo semangatnya sekarang ini.”
Gadis bermata bulat itu tersenyum kecil. “Sama Gue juga,” lirih Dista. Namun, Boy mampu mendengarnya.
“Gue juga akan bantu bocah itu, Lo lihat nggak, tadi Nyokapnya Ardian di ruangan BP?”
“Serius?”
Dista semakin penasaran dan membuka berita online yang menyudutkan Ardian. Saat di telusuri berita itu terbit di Surabaya. Waktu dan tempatnya pun, tak ditemukan di sini.
“Boy, ada yang mau Gue sampaikan ke Lo, kalau malam sebelum berita itu keluar, Ardian memang lagi bareng sama Gue di Kota Tua. Lo merasa aneh nggak sih?”
Boy berpikir panjang. Ia akan meminta teman-temannya untuk melacak kebenaran berita itu.
“Gue duluan ya Dis! Nanti sepulang sekolah Gue mau ke rumahnya, Lo mau ikut?” ajak Boy. Siapa tahu mereka berdua bisa berbaikan kembali.
Dista menggeleng dan melambaikan tangan membiarkan Boy pergi. Saat sedang berjalan melintasi lapangan, tiba-tiba sebuah Bola basket mendarat dengan cepatnya menuju ke arah gadis itu, dan ...
Bugh!!
Gadis itu menutup matanya saat ada yang menarik tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?”