
Memasuki ruangan yang gelap, sepasang muda mudi itu duduk di bangku yang agak menjorok ke sudut. Dalam dua barisan paling atas, hampir semuanya adalah remaja seusianya.
“Vicky jauh banget sih duduknya, kenapa nggak di tengah yang dekat jalan?”
“Nggak ah, berisik. Peneranganya mengganggu. Belum lagi banyak yang mondar-mandir nanti jadi nggak fokus nonton.” Terangnya.
“Memangnya filmnya bagus? Peminatnya banyak banget, sampai hampir penuh begitu.”
“Sshhtt...!”
Gadis itu mendapat protes dari Vicky karena terlalu banyak bicara.
Sampai muncul scene romantis yang di luar perkiraan mereka berdua yang membuat jantung mereka berdesir.
‘Sial, kenapa isinya banyak adegan begituan sejak film di mulai.’ Vicky memegang kepalanya yang terasa pusing.
Belum lagi Ia melihat gadis itu tampak menikmati. Vicky yang melihatnya pun hanya dapat menahannya saja.
“Vick, kenapa filmnya begini?” lirih gadis itu, yang tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Membuat pria di sebelahnya hanya mampu berdehem karena tergoda.
“Ehm, kenapa filmnya? Selain ini udah ngga ada lagi yang lain, Cuma ada film horor sama film laga, nanti kamu marah lagi.” Sesalnya.
“Tapi Vick, ini filmnya bikin aku ingin ke toilet.” Padahal sejak tadi Vicky hanya memperhatikan gadis di sisinya daripada menonton film itu.
“Haha... Sabar, sebentar lagi juga selesai.”
‘sama gue juga, filmnya sengaja banget mancing-mancing suasana.’
...
“Ayo angkat dong beb!” pria itu gelisah, karena panggilannya tak di respon oleh Dista. Bisa dipastikan gadis itu sangat marah. Mengingat Dista sudah dua kali melihat dirinya berinteraksi dengan Vania.
Ardian tak habis pikir dengan kenekatan si cupu yang terus mengancamnya dengan menyebarkan rahasia tentang pekerjaan sampingannya itu. Karena selain mengancam tak ada yang bisa Ia lakukan.
Rasa sakit hati ibunya belum sembuh, akibat ucapan Anne tempo hari. Ditambah kelakuan anaknya yang di luar logika. Beruntungnya Ardian datang tepat waktu, sehingga mengetahui penyebab hancurnya hubungannya dengan sang kekasih. Melihat Dista menangis, ingin sekali Ia memeluknya dan menjelaskan semuanya. Namun, yang Ia lakukan justru memperburuk situasi dengan membawa Vania pergi dari sana.
Setelah menunggu hampir satu jam di dalam mal dan tak menemukan mantan kekasihnya, Ardian memutuskan untuk pergi ke rumah Boy. barangkali sahabatnya mengetahui sesuatu. Dalam perjalanan pulang Ardian mengenang saat-saat indahnya. Gadis yang bisa menerima kondisinya dengan baik. tak pernah Ardian merasakan kenyamanan seperti bersama Dista.
Meskipun Ia tahu, gadis yang Ia sukai merupakan anak dari keluarga mampu tetapi kerendahan hatinya membuatnya tak ingin berpaling pada gadis lain. Di luar fisiknya yang memang sudah mengagumkan.
Memasuki halaman rumah Boy, Ardian di sambut dengan sebuah kata “tumben.”
“Woy Bro, tumben Lo main ke rumah gue malam minggu begini?” Boy yang sedang memetik gitar bersama Rico merasa takjub. Mereka berdua menebak jika Ardian sedang mengalami banyak masalah.
“Gue kira Lo pergi sama Maya, makanya gue susulin ke senayan.” Ardian menyetandarkan motornya dan menghampiri kedua teman baiknya itu.
Boy bingung. Maya tak pernah mengatakan apa pun tentang malam minggu ini. setelah hubungan mereka kurang baik paska pergi ke taman hiburan waktu itu.
“Udah lah, sekali-sekali kita aja yang nongkrong nggak usah ada cewek di tengah-tengah, bikin ribet tahu nggak sih!” imbuh Rico.
“Haha... bilang aja karena nggak ada yang mau sama Lo!” timpal Ardian membuat lelucon untuk mencairkan suasana.
Setibanya di rumah, Maya merasa buruk. Ternyata Vania mengatur pertemuan antara Dista dan cowok internet itu menggunakan dirinya sebagai perantara. Tak cukup sekali, Maya merasa bodoh karena terlalu sering di manipulasi oleh teman baiknya dulu.
Baru saja hendak naik ke tempat tidur setelah mencuci wajahnya. Suara ketukan pintu di luar rumah membuatnya terkejut. Maya mulai mengintip melalui jendela kamarnya yang berada di depan. Melihat sebuah mobil terparkir di depan pagar rumahnya.
“Maya, di luar ada kakaknya Vania. Coba temui, katanya penting!” pinta ibunya, Maya hanya memutar bola matanya malas. Ia mengatakan tak tahu menahu tentang gadis itu.
“Maya kan udah lama nggak satu sekolah sama Vania Bu, mana Maya tahu.” Wajah kesal gadis manis itu tak dapat ditutupi dari ibunya. namun, Maya tetap di minta untuk menghargai orang lain karena mereka telah jauh-jauh datang ke rumah.
“Temui dulu nak, Cuma sebentar saja ya! kasihan, kalau ibu yang di perlakukan begitu kamu pasti juga tidak mau kan?” sang Ibu mengusap punggung putrinya untuk berlapang dada.
Derap kaki Maya menuju ruang tamu. di sana sudah ada Anne dan Veli. Tatapan Maya kepada Veli sudah sangat tidak ramah mengingat kelakuan keluarga mereka sama semua.
“Ada apa ya?”
“Maya, tante mau bertanya, apakah kamu tahu keberadaan Vania?” ucap Anne sok manis. Maya menirukan gaya bicaranya dalam hati. Ingin rasanya tak peduli dengan keluarga mak lampir itu. tapi sekali-sekali Vania harus di beri pelajaran.
“Oh, Vania ya! barusan saja saya ketemuan dengan Vania di senayan. Katanya dia di usir dari rumah ya tante? Vania juga pergi bersama laki-laki memasuki hotel. Coba saja di cari, mungkin saja masih berada di sana!”
Memang keluarga bad attitude sampai kapan pun akan selalu begitu. bukannya berterima kasih karena sudah di berikan informasi yang valid. Malah menceramahi Maya dengan banyak kata-kata menyakitkan.
“Maya, kamu kalau ngomong jangan asal. Kami datang ke sini baik-baik tapi kamu nya malah nyolot begitu. dasar anak jaman sekarang nggak punya sopan-santun.” sahut Anne.
“Ya sudah, tante datang kemari minta tolong. Tetapi malah menghina saya di rumah saya sendiri. Veli, lebih baik ajak mamanya pulang, saya capek habis malam mingguan mau istirahat.” Maya berdiri di ambang pintu sambil memegang pintunya dan menunjukan jalan keluarnya.
“Awas kamu ya!” jari telunjuk Anne mengarak ke wajah Maya dengan tatapan sadis.
“Pantes anaknya minggat, ibunya kayak begitu!” gerutu Maya
Brak!!
Pintu kayu itu di tutup Maya dengan sedikit bertenaga. Veli merasakan jika Maya tak lagi menyukai keluarga mereka. Mendengar ucapan gadis SMA itu, mungkin ada benarnya jika Vania sudah mulai memberontak dengan perlakuan mamanya. Tetapi siapa pria yang membantu Vania?
Kehadiran Vicky dan Ardian yang tak di sengaja, menggagalkan rencana mereka berdua untuk berbuat nekat kepada Dista. Memang segala perbuatan buruk akan kembali kepada pemiliknya.
Bukannya mendapatkan cinta dari orang yang di maksud, justru mendapatkan rasa sakit. Seperti Aldo, harus mendapat bogem mentah. Vania juga terancam menerima serangan mental dari Ardian.
Kini mereka berdua saling mengobati. Di depan mini market, Vania mengobati luka di wajah Aldo.
“Hiss... Sakit Van, pelan-pelan sedikit kalau niat mengobati!” gerutu Aldo.
“Kamu tahu siapa pria itu?” imbuhnya.
“Siapa yang kamu maksud? Boy? Ardian?”
“Ck! Bukan, memangnya kamu nggak tahu Dista datang sama siapa? Gila, tenaganya. Rahang ku hampir patah,” rengek Aldo. “Tapi lain kali kalau ketemu lagi, bisa nih buat teman duel!”
Vania hanya diam saja tak menanggapi ocehan mahasiswa itu. Selain gagal membantu Aldo, Ia juga mendapat banyak kata-kata kasar dari Ardian. Tetapi kenapa Dia bisa datang kemari, apa Ardian sengaja mengikuti Dista?
Saat sedang serius ponsel Vania berdering.
“Siapa Van? Kenapa nggak diangkat?”
“Nggak ah, malas! Ini nyokap, minta aku buat segera pulang.”
...