Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 37. Kena Batunya



“Veli, ayo turun Nak! Sudah waktunya makan malam.” lengkingan suara Anne yang terdngar hingga ke kamar anaknya. Gadis berpotongan bob itu mengetuk pintu kamar milik adiknya yang terdengar sangat damai.


“Van, turun! Waktunya makan.”


Namun sampai anak sulung Anne sudah sampai di meja makan pun tak ada tanda-tanda jika Vania akan ikut makan malam bersama keluarganya.


“Ma, kenapa Vania sekarang berubah. Papa lihat dia sudah nggak seceria dulu lagi, pasti Mama yang sering memarahi anak itu.” tukas Agung sembari melihat ke atas arah pintu kamar gadis bungsunya.


“Sudah Pa, biarkan saja. dia saja malu mengakui Mama sebagai orang tuanya.” Anne mengoceh dengan kemiringan bibirnya enam puluh derajat yang membuat suaminya tertawa.


“Kapan Vania bilang seperti itu? Veli apa kamu tahu hal itu?” Veli menggeleng.


“Masa Pa, Vania bilang Mama disuruh minta maaf ke sekolahnya dan ke rumah Imas. Ya Mama nggak sudi lah. mau di letakan di mana muka Mama, demi bocah miskin itu Vania sampai berlaku kurang ajar.”


“Terus sekarang di mana Vania? Kenapa di panggil tidak turun? Jangan-jangan marah lagi.”


Veli segera memeriksa ke kamar Vania dan setelah mengetuknya beberapa kali. Tak tampak ada siapapun di dalam ruangan bernuansa pink itu, semuanya nihil.


“Maa! Paa! Vania kabur dari rumah...” pekik Veli dari atas.


Agung menghentikan makannya dan menatap tajam istrinya. Sebelum akhirnya menyusul Veli dan memeriksa kamarnya. Sedangkan yang sedang dicari oleh seisi rumah tengah bersenang-senang di tengah hiruk pikuk dunia malam.


‘Ternyata bebas dari rumah begitu menyenangkan, tanpa mendengarkan ocehan Mama yang belakangan ini begitu memuakan. tapi bagaimana caranya bisa membawa gadis itu kemari?’ Vania terus berpikir karena hingga sekarang Ia tak menemukan jalan keluarnya.


Vania


[May, gue mau minta maaf sama Lo juga teman Lo itu, tapi gue nggak tahu bagaimana cara menemuinya, Lo bisa kan membantu gue?]


Tiba-tiba saja ide Vania mengalir begitu saja. akibat ulahnya kemarin, Maya sangat marah karena merasa terus dimanfaatkan oleh Vania.


Maya


[Giliran ada butuhnya aja Lo mau minta maaf. Gue udah tahu rencana Lo buat mengganggu hubungan mereka berdua kan, dan Lo puas mereka berdua udah putus.]


Vania tertawa merasa puas. Apa yang diucapkan oleh Aldo benar. Hanya butuh dirinya saja semua urusan akan selesai dengan mudah.


Vania


[Karena Itu May, gue mau minta maaf sama kalian berdua. besok kita ketemu di senayan city ya! Lo ajak Dista juga, please gue serius.]


Maya


[Gila Lo! Lo yang butuh kenapa kita berdua yang harus samperin Lo? ke senayan lagi.]


Vania


[Gue diusir Nyokap dari rumah May, please ngertiin gue ya! sekali ini aja.]


Maya pun luluh. Melihat Anne seperti mak lampir yang menampar anak orang tak bersalah, melempar tuduhan palsu, mencoreng nama baik Ardian dan Boy dan sekarang mengusir anaknya sendiri. tak habis pikir dengan kelakuan keluarga kaya itu.


Maya


[Oke, kirimkan saja di mana gue harus temuin Lo!]


Setelah berkirim pesan dengan Vania, Maya menghubungi mantan kekasih Ardian. Sayangnya gadis itu sudah memiliki acara di malam minggunya. Maya menebak jika itu adalah Ardian.


Maya


[Kalian balikan lagi? syukurlah kalau begitu, ajak saja Ardi aku juga akan mengajak Boy]


Dista


[Hehe, sayangnya bukan Maya... maaf ya! nggak bisa ikut sama acara kamu!]


Maya berusaha menyakinkan gadis itu untuk sebentar saja menemaninya. Ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tetapi mengingat tempatnya cukup jauh dari rumah Dista harus berpikir ulang.


Dista


...


Malam minggu yang di tunggu akhirnya tiba. Di rumah, Imas harus melihat ketiga putranya tengah sibuk dengan rencananya masing-masing. Baru pukul lima sore namun semuanya sudah membuat Imas geleng-geleng kepala.


“Aduh jagoan ibu pada mau ke mana ini? rumah langsung sepi kalau kalian bertiga keluar rumah semua.”


“Abang ada acara di luar Bu sama teman! Mungkin pulangnya agak larut!” Vicky sudah bersiap dengan kaos berwarna putih dan celana jins miliknya. Rambut cepaknya membuat Gavin mengikuti gaya badung abangnya.


“Terus Abang Ardi mau keluar juga?”


“Iya Bu, ada urusan penting. Doakan semoga lancar ya Bu! Ardian mencium tangan ibunya. wangi aroma bocah tampan itu bahkan menguar ke seluruh ruangan.


“MasyaAllah Bang wanginya luar biasa, niat banget mandi pakai minyak wangi.” sanjung Imas melihat Ardian terus mengulas senyumnya. Biasanya setiap malam minggu Ardian akan apel ke rumah kekasihnya. semoga saja gadis itu bisa memaafkannya.


“Dek, Abang ikut sampai halte dekat sekolahan ya!” Vicky masih berbalas pesan dengan gadis itu.


“Ayo!” sahut Ardian.


Vicky dan Ardian larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali mereka berdua tersenyum tak jelas. Sampai Ardian menghentikan motornya tepat di halte yang berjarak lima puluh meter dari sekolah mereka.


“Hati-hati!” Vicky menepuk bahu adiknya dan Ardian pun mengangguk. Bocah tampan itu melajukan motornya menuju ke rumah Dista. Sayangnya karena percaya diri yang begitu tinggi Ardian tak mencoba mengirimkan pesan seperti biasanya.


“Malam Pak, Dista nya ada?” Ardian begitu gugup saat melihat kepala sekolahnya berada di depannya.


“Lho, masuk dulu Nak!” pria dengan kaca mata minus itu terkejut. Kenapa bocah tampan ini bisa ke rumah, sedangkan anak gadisnya telah berpamitan sepuluh menit yang lalu. Ardian baru kali ini bertemu dengan orang tua Dista, setiap kali ke rumah hanya ada Papanya saja. Ia tak pernah bertemu dengan Ibu gadis itu.


“Kamu yang namanya Ardi kan?” pria itu membenarkan posisi kaca matanya. Ardian pun mengangguk.


“Memangnya kalian berdua nggak janjian lebih dulu? Dista sudah keluar sepuluh menit yang lalu, mau ketemu Maya katanya, kamu kenal?”


Ardian pun mengangguk. Dalam hati bocah itu merasa lega jika Dista hanya pergi keluar bersama Maya bukan dengan yang lainnya. Akhirnya Ardian pun menghubungi Maya dan menanyakan di mana mereka akan bertemu. Ia tak ingin membuat mantan kekasihnya marah, maka Ardian berniat memberi kejutan untuknya.


Maya


[Gue di Senayan Di, kalau mau ke sini aja!]


Balasan cepat dari Maya membuat Ardian bersemangat dan berpamitan. Meskipun gugup, tetapi keluarga gadis itu benar-benar membuatnya merasa nyaman. tak menghakimi siapa pun, apalagi sosok anak sederhana seperti dirinya. Ardian semakin yakin jika gadis itu tak seharusnya untuk di lepaskan.


“Kalau begitu saya pamit dulu Pak.” Ardian undur diri.


...


Melihat sosok maskulin berdiri di depan halte, Jass merah itu menepi. Gadis bersurai panjang dengan kemeja slim fit membentuk tubuh dan rok plisket berwarna pink di atas lutut, mengacaukan pikiran pria dingin itu yang tak berhenti menatapnya.


‘gila, pikiran gue udah nggak beres ini!’ tawanya dalam hati.


“Ayo!” ajak Dista. “Sorry ya, jadi Lo yang harus ikut acara gue! tiba-tiba aja Maya mengajak ketemuan di Senayan City, nggak apa-apa kan?” tanya Dista.


“Hmm.”


Dista menambah sirkulasi AC mobilnya. tiba-tiba saja hawa panas mulai menyelimuti mobil itu. Padahal keduanya tak saling bicara. Hanya menatap jalanan yang padat merayap. Sesekali pria dingin itu mencuri pandang. Ada desiran aneh yang begitu mengganggu. Melihat kulit putih itu begitu menggodanya.


‘bego banget gue! kenapa mau ngomong aja susah!’ batin Vicky.


‘Ini cowok apa kulkas sih, dingin banget. Nggak bisa basa-basi apa kek gitu. Beda banget sama Ardian yang bisa banget bikin gue terhibur dengan joke-jokesnya.’


Sampai mobil itu memasuki halaman parkir mal itu. Dista mengambil napas panjang setelah keluar dari mobilnya. tiba-tiba saja sebuah tangan hangat menggenggamnya erat.


“Ayo! Gue udah nggak tahan!” ucap Vicky, membuat gadis itu merasa ambigu.


“Mau ngapain?” Dista berusaha menjaga jarak dengan, namun Vicky malah tersenyum menggoda melihat gadis itu ketakutan.


“Mau ke toilet, memangnya mau ngapain? ”


...