Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 26. Namanya Aldo



Ardian tengah fokus merangkum tugas dari Boy dan kawan-kawannya. Imas merasa bersyukur, teman-teman putranya peduli dan percaya jika Ardian anak yang baik. mereka pun akhirnya bercengkrama dengan ibu rumah tangga yang memilih berdagang pecel di rumah demi membesarkan ketiga putranya. Sedangkan Panji Ayah Ardian bekeja sebagai buruh pabrik.


Boy banyak bercerita tentang gadis yang menyukai Ardian waktu itu. Padahal Ardian sudah melarangnya untuk tidak mengingat gadis yang menjengkelkan itu. Imas tahu, jika Vania adalah anak langganannya dulu, yang pernah menjelek-jelekan cara mendidiknya.


“Oh, iya Ibu ingat. Gadis itu juga pernah kemari gara-gara Ardian lupa mengambil bayaran dagangannya.”


“Ya kan memang dia Bu, yang sering gangguin kita!” tukas Boy. “sekarang dia pindah ke Surabaya, kata Maya!”


Ucapan Boy tentu saja membawa angin segar bagi Imas dan Ardian. Menyimpulkan bagaimana peristiwa itu terjadi sudah pasti sangat tidak masuk akal. “Gimana ceritanya Ardian di sini , gadis itu di Surabaya terus keluarganya mina tanggung jawab sama anak Ibu?” Imas mendekati Boy, dan meminta sumber yang bisa di percaya.


“Tolong ajak teman kamu yang kenal baik sama Vania ya Nak ya! Ibu mohon sekali, semua demi nama baik Ardian. Kalau memang anak Ibu seorang berandal atau preman sekalipun, Ibu sendiri yang akan membawanya ke kantor polisi, tapi kalian semua mengenal Ardian kan? kenal sama Bang Vicky juga kan? bisa-bisanya si Anne bilang menuduh putra Ibu seperti itu. padahal anaknya yang kegenitan.”


Ardian meredakan amarah ibunya. baru juga hari pertama di skors, Imas sudah beberapa kali menangis.


“Sudah Bu, jangan khawatir. Semua teman Ardian siap membantu kok.” Teman-teman Abang juga Bu,” sela Vicky yang baru saja pulang dari sekolah.


“Makanya, kalau waktunya pulang sekolah tuh langsung pulang! bantuin Ibu di rumah. Kelas angkatan Abang jadi ngomongin Lo dek!”


Haha... “Tapi serius kan Lo nggak berbuat kayak gitu.” goda Vicky


“Gue juga milih-milih kali Bang!” timpal Ardian.


“Orang pacar Ardian juga beuh, mantab! Masa mau sama cewe cupu pakai kawat gigi, rambut singa kayak begitu.” Boy menjelaskan secara detail tentang Vania. Mereka tidak tahu, jika si cupu kini berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.


Ardian menyenggol lengan Boy, untuk tidak mengatakan tentang pacarnya kepada Ibu dan Abangnya. Lagipula hubungan mereka berdua sudah berakhir. Ardian masih belum merelakan gadis itu, Ia tak ingin melihat gadisnya bersama pria lain.


“Emangnya siapa ceweknya? Anak mana? kalau berani ajak ke rumah! Biar Ibu tahu, Lo jalan sama siapa. Bukan kayak begini caranya. Udah Lo fokus belajar aja, Abang sama yang lain juga cari tahu kok.”


“Serius Bang?”


“Tuh dengarin kata Abang, kamu belajar ya! Ibu mau menyiapkan makan siang. Kalian semua makan disini ya! jangan pulang dulu!” pinta Imas.


Rumah Ardian memang sering menjadi tongkrongan anak-anak SMA, karena Vicky dan teman-temannya sering berkumpul di sana. Termasuk Boy, yang akhir-akhir ini sering mampir kerumah Ardian.


“Iya! ya udah gue masuk dulu.” Vicky dan Imas berlalu.


Membicarakan tentang sang mantan, rasanya gelar itu masih tak rela di terima Ardian. baru seumur jagung hubungan itu terjalin, harus kandas karena berita sialan yang menimpanya. Bocah tampan itu mengeluarkan ponselnya.


“Lo mau telepon Dista?”


“Iya, gara-gara Lo, gue jadi kangen sama dia!”


“Bagus deh! siapa tahu mau Lo ajak balikan lagi! soalnya Gue lihat cewek Lo tadi duduk sama kakak kelas yang kayak preman itu.” Imbuh Rico.


“Berisik Lo!” meminta temannya untuk diam, saat panggilannya diangkat sang pujaan hati.


Dista


[Halo Di, apa kabar?]


Ardian


[Beb, kabarku nggak baik setelah kamu mutusin hubungan kita. Kapan kamu ada waktu?]


Boy Rico dan Willi mencoba menahan tawa. Bisa-bisanya saat sedang di skors mengajak mantannya keluar. Memang cuma Ardian saja yang bisa melakukan hal ini. ketiganya bercanda sampai suara tawa mereka terdengar hingga ke seberang.


Dista


[Hmm, sabtu sore mungkin. Kamu lagi di rumah kan? kok ramai banget?]


Ardian


[Iya di rumah, hari pertama kena skorsing. Kenapa? kamu mau aku kenalin sama Ibuku? Aku jemput sekarang.]


Bocah tampan berkulit putih itu tak bisa menahan rindunya. Meskipun hanya dari suaranya saja. Boy menepuk punggung Ardian cukup keras. Saking gemasnya dengan pasangan bucin ini. melihat perjuangan mereka berdua.


“Ajakin kemari Bro! terus balikan, keburu di gebet kakak kelas nanti.” bisik Boy!


Dista


[Ih kamu, nggak ah! Malu.]


Ardian


[Aku mau ajakin kamu jalan-jalan, seminggu di rumah itu bosan Beb! Aku jemput Sabtu sore ya!]


Dista


[Hmm, Iya aku tunggu di rumah. Kalau telat, Aku batalin pokoknya!]


Ardian


Setelah menutup sambungan teleponnya semuanya bersorak. Menanyakan bagaimana kelanjutan hubungan keduanya. Ardian hanya mengatakan jika Dia butuh semangat dari gadis itu. untuk bisa melewati masa-masa sulit ini.


“Gue mau lanjutin lagi kerjain tugasnya, kalau begini kan enak. Semangat Gue ada lagi setelah mendengar suaranya, haha...”


“Halah, bilang aja Lo kangen sama bibirnya kan!”


“Haha... tahu aja Lo Boy!”


...


Di rumah sakit Vania terus bertanya, tentang apa yang menimpanya. Namun, mama dan kakak perempuannya malah membahas Ardian. Vania memang melihat pria yang tampan wajahnya mirip dengan Ardian, tetapi nama pria itu Aldo. Berulang kali menjelaskan kepada mamanya, namun Veli terus mengatakan jika pria itu bernama Ardian.


“Kak! Mana ponselku?”


Veli tak ingin menyerahkannya. Vania memintanya dengan sedikit memaksa bahkan dengan berteriak. Sampai Rumi meminta Veli untuk memberikan ponselnya. Veli panik, saat adiknya terus menggulir ponselnya namun raut terkejutnya tak bisa di tutupi.


“Mana, kok nggak ada semua?” tatapan Vania tertuju kepada Veli lalu beralih kepada mamanya. matanya memicing memperhatikan gelagat aneh gadis berpotongan bob itu.


“Kak, Lo apain ponsel Vania? Kenapa aplikasinya banyak yang hilang? Terus kontak teman Vania juga hilang semua? Ini pasti ulah kalian berdua kan!” pekik gadis dengan baju serba putih khas rumah sakit.


Anne mencoba menenangkan putri bungsunya. Dan mengatakan jika orang tuanya sedang mengurus keadilan untuknya. Vania bingung, apa yang sedang mereka bicarakan dan mengapa Ia terbaring di rumah sakit masih belum ada yang bersedia menjelaskan.


“Dari awal Vania ragu sama kalian berdua. kalau kalian nggak mau mengatakan yang sebenarnya Vania akan keluar dari rumah sakit, entah kalian suka atau tidak.”


Ancaman Vania tak main-main, sampai gadis itu melepas selang infus yang tertancap di tangannya. “Akh!” gadis itu menariknya paksa. Hingga darah segar mengalir dari tangannya.


“Hentikan Vania, jangan nekat kamu! dasar anak kurang ajar, bikin malu nama keluarga aja!”


“Kamu Mama pindahkan ke Surabaya supaya belajarmu lebih fokus dan terhindar dari pengaruh cowok miskin yang terus mengganggumu, bahkan sampai kemari.”


Hahaha...


“Siapa yang kalian maksud? Ardian?” Vania mengatakan hal itu dengan jelas dihadapan kedua wanita beda usia.



“Nggak mungkin, justru Vania yang terobsesi sama dia. bahkan anak gadismu ini rela merubah penampilan dirinya supaya bisa lebih dekat dengan Ardian. Mama tahu? Ardian itu jijik Ma sama Vania!”


Gadis itu terisak. Rumi tak tega melihat cucu perempuannya terduduk di lantai. Anne menatap Veli yang mengedikkan bahu. Tak berselang lama, Papa Vania menelpon jika laporannya akan dibuat jika keterangan barang bukti, laporan dari saksi juga sudah dipersiapkan.


Anne


[Memangnya nggak bisa kalau hanya dari pernyataan saja? dari artikel yang terbit di berita memangnya tidak cukup?]


Agung


[Nggak bisa Ma! Justru kita dituduh mengarang cerita. Korban di Surabaya, berita terbit di Surabaya laporan penangkapan pelaku di Jakarta, Mama mikir dong! Bikin malu orang saja!]


Anne


[Tapi Pa...!]


Agung


[Tanyakan kepada Vania kalau sudah sadar, bukannya membuat asumsi sendiri.]


Anne semakin marah dirinya mendapat kata-kata kasar dari suaminya. Karena terlalu mendengarkan kata-kata Veli, semua menjadi berantakan. Dengan kasar, Anne menarik lengan Veli dan memintanya untuk mengatakan yang sesungguhnya.


“Katakan Veli, kamu yang membuka ponsel adikmu pertama kali siapa dia sebenarnya. Orang bodoh saja bisa berpikir, berita baru terbit pagi hari masa pelaku sudah berada di Jakarta bahkan sebelum kejadian. Jakarta Surabaya Lo Veli, kamu jangan ikut-ikutan jadi gadis konyol seperti adikmu!”


Anne menghardik Veli karena tak segera mengatakan hal yang sebenarnya.


“Katakan!”


“Aduh, sakit Ma! Lepaskan dulu tangan Mama, Oke, Veli akan mengatakan siapa pria itu.”


Meskipun di ponsel Vania semua data sudah di hapus oleh Veli, tetapi gadis 18 tahun itu menyalin kontak semua pria yang pernah berhubungan dengan adiknya.


Sambil menunjukkan foto pria tampan dengan piercing di telinganya, tampilan anak-anak nakal dengan rambut cepak berwarna kecoklatan. Nyaris menyerupai Ardian. Hanya saja yang membedakan siswa tampan dan sederhana anak kedua dari Imas tak pernah menggunakan asesoris seperti itu.


“Na-namanya Aldo.”


...