Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 32. Kerja Sama



Rasa takut Vania akan tersebarnya video itu masih menghinggapinya. Ia juga tak ingin gegabah lagi untuk menemui teman kencannya. Namun, mengetahui Aldo sudah berada di Jakarta ada perasaan tak tega. Saat malam itu Aldo mengiriminya sebuah foto bersama kedua temannya saat sedang menyaksikan konser di Sudirman.


Aldo


[Van, kalau kamu nggak percaya coba lihat nih! kamu nggak kasihan Aku datang jauh-jauh dari Surabaya khusus untuk ketemu kamu.]


Vania


[Untuk apa lagi Al? Aku bahkan berusaha melupakan peristiwa itu. kamu malah mengusikku lagi.]


Aldo


[Makanya, temui Aku sekali saja Vania, Aku janji nggak akan macam-macam oke, besok kita ketemu di tempat pilihanmu oke sayang!]


Vania


[Oke!]


Sore itu, sesuai kesepakatan Vania bertemu dengan Aldo di sebuah kafe. Vania masih saja merasa canggung, karena Aldo tampan seperti biasanya mengingatkannya kepada Ardian. Dan benar saja mahasiswa itu bersikap sopan.


Entah apa yang merasuki pikiran bocah nakal itu hingga mengajaknya bertemu hari ini. yang lebih mengejutkan Vania, Aldo melepas aksesoris di bagian tubuhnya.


“Apa kabar?” Aldo membuka pembicaraan, karena Vania masih menatapnya tak percaya meskipun di tengah banyak orang.


“Aku baik-baik saja sebelum bertemu denganmu! Katakan ada apa?”


Jawaban ketus Vania membuat Aldo tersenyum kecut, rupanya gadis itu masih menyimpan rasa benci padanya. Bagaimana tidak benci, bertemu dengan pria yang memanfaatkan dirinya lalu meninggalkannya tanpa sebuah tanggung jawab.


“Aku cuma mau minta maaf, meskipun permintaanku tetap sama untuk tidak menuntut ku.”


Haha...


“Minta maaf? tapi minta untuk tidak di tuntut? Yang benar saja kamu?” Vania tersenyum kecut.


Aldo ingin menyentuh tangan gadis manis itu, tetapi Vania menepisnya kasar. Aldo menjelaskan alasannya kenapa Ia berbuat seperti itu. meski tidak bisa dibenarkan tetapi Aldo tak ingin membuat keluarga Vania dan dirinya juga terlibat urusan yang panjang dan melelahkan. Karena keluarga besar Aldo tak akan membiarkan nama baiknya tercemar karena kenakalan mahasiswa tampan itu.


“Kamu sudah pasti akan kalah, meskipun bukti yang kamu punya memberatkanku. Karena kalian tidak mengenal keluargaku. Jadi, Aku akan menebus kesalahanku dengan cara yang lain, bagaimana?”


Vania berpikir, bisa saja Aldo membohonginya. Selama ini Vania memang terkenal polos dan lugu. Saat sedang berpikir pria tampan itu tersenyum.


“Kamu nggak sedang berpikir memintaku untuk menikahi denganmu kan?”


“Haha... mana mungkin aku mau menikah dengan pria tak bertanggung jawab sepertimu. bahkan aku hampir di usir dari rumah akibat perbuatanmu.”


“Haha... baguslah! Kalaupun kamu mau, kamu harus menungguku beberapa tahun lagi, bagaimana?”


“Sekali nggak tetap nggak!”


Sampai pelayan kafe datang mengantarkan makanan yang mereka pesan. Aldo tak meminta Vania memaafkannya secepat itu. Aldo mengira jika Vania sama seperti dengan gadis-gadis kenalannya yang sudah terbiasa melakukan ‘hal’itu.


Tetapi Vania memang lain. bisa membuat pria itu meminta maaf dan mengakui kesalahan di depannya. Bahkan rela jauh-jauh menemuinya sampai ke Jakarta.


“Kamu masih mencintai Ardian? Sampai kamu nggak bisa memberiku kesempatan?” Aldo menatap mata Vania yang terus menunduk.


“Bukan urusanmu!”


“Hehe, benarkah? Bukankah pria itu sudah memiliki kekasih?”


Vania terkejut. Menatap Aldo secara tiba-tiba dan menunjukan rasa penasaran, bagaimana pria itu mengetahui segalanya.


“Aku melihat mereka berdua berciuman di konser kemarin malam. Kekasihnya sangat menarik, jujur Aku Pun menyukai gadis itu.” Aldo mulai menyulut amarah Vania, terlihat tangannya mencengkeram kuat dan bibirnya bergetar.


Brak!!


Vania menggebrak meja. Hentikan Al! Kalau kedatanganmu hanya untuk membicarakan omong kosong itu, Aku mau pulang.” ancam Vania.


Gadis manis itu beranjak dari mejanya dan hendak pergi. Namun, tangan Aldo dengan cepat menarik gadis itu untuk tetap tinggal.


“Kamu ingin mereka putus kan? kamu hanya butuh Aku untuk mendapatkan pria itu, mau mencobanya?”


“Bagaimana kalau gagal?” Vania berkata lirih. Aldo pun mengajak gadis itu untuk keluar dari Kafe. kita bisa membicarakan hal itu di bioskop. Ayo! Aku ingin kamu mengajakku jalan-jalan selagi di sini.”


Mereka berdua pun meninggalkan kafe. dalam hati Vania tersenyum kecil, semua cara pun memang harus dicoba, tak peduli gagal atau berhasil. Kali ini Vania mencoba percaya kepada Aldo untuk memisahkan mereka berdua.


...


Di sekolah, kasus Ardian tiba-tiba di tutup begitu saja. Pihak sekolah mulai mengalihkan berita buruk yang menyeret siswa tampan berprestasi itu. semua penghargaan Ardian dan teman-teman yang membawa nama baik sekolah mulai di pampang di papan mading.


Bahkan di setiap upacara, tak henti-hentinya pihak sekolah selalu menyebut namanya.


Tak sedikit para siswa yang berlega hati karena tuduhan itu tidak benar. Dan Ardian dinyatakan tidak bersalah. Termasuk Vicky dan teman-temannya. Boy dan anak-anak tim basket bersorak dalam barisannya. Juga teman sekelas Ardian yang tak kalah heboh karena merasa terharu.


Namun sayang, permintaan maaf dari pihak sekolah tak pernah sampai ke telinga dirinya dan keluarganya. bahkan hukumannya pun telah dijalaninya selama seminggu penuh tak bisa mengikuti pelajaran. Ardian tak peduli lagi akan hal itu. hanya saja belakangan ini, Ibunya menjadi sering sakit-sakitan setiap mendengar nama putranya terlibat masalah.


Hari ini adalah hari terakhir Ardian di skorsing. Senin besok bocah tampan itu akan kembali memulai aktivitas belajarnya di sekolah. Boy dan teman-temannya datang untuk memberi kabar bahagia dengan membawa banyak makanan sebagai perayaan. Karena mereka akan bertemu lagi. saking lamanya tak bertemu, mereka semua memeluk Ardian bergantian.


“Bro, akhirnya nama Lo bersih juga. di sekolah udah nggak ada desas-desus tentang peristiwa itu.” Boy bersuka ria, juga Willi dan Rico.


“Gue udah nggak peduli sama reputasi gue di sekolah. Gue masih nggak terima Bro, mereka belum minta maaf sama Nyokap. Bahkan sekarang Nyokap lagi sakit gara-gara mikirin nasib gue di sekolah Bro!” ujar Ardian.


“Namanya juga orang tua Bro, khawatir kalau anak-anaknya tersandung kasus. Apalagi yang model kayak Lo, ngeri sumpah.” Boy bergidik.


“Gue juga nggak bisa bayangin kalau itu terjadi sama Gue. tapi tumben, mendadak banget pengumuman itu, kenapa baru sekarang?” timpal Rico yang sama penasarannya seperti mereka.


“Nggak tahu, mana gue udah di skorsing lagi di rumah.” Sesal Ardian menikmati cemilan yang dibawa teman-temannya.


Mereka semua menghela napas panjang. memang benar, pihak sekolah juga punya andil besar untuk meluruskan permasalahan itu. Minimal dengan datang ke rumah Imas dan memberikan penjelasan. Supaya ibu dengan tiga anak itu bisa kembali pulih seperti sedia kala.


Tanpa Ardian ketahui, ternyata kekasihnya lah yang sudah meminta pihak sekolah untuk menghentikan hal itu. Dista memberitahu kepada Papanya, tentang runtutan kejadian yang sebenarnya.


Bahkan hingga larut malam sepulangnya dari menonton konser, Dista mengganggu Papanya untuk meminta keadilan kepada salah satu siswanya. Gadis itu rela di interogasi Papanya tentang hubungannya dengan Ardian yang sengaja Ia sembunyikan.


“Pasti karena si Ardi itu pacar kamu kan?” Herman menurunkan kaca matanya, melihat anak gadisnya tersenyum malu menjawabnya, membuat Herman semakin yakin.


“Mau pacar Dista atau bukan, tapi memang Ardi nggak salah Pa. Malam kejadian itu kan Ardian pergi sama Dista ke Kotu (Kota Tua). Ardi anak yang baik kok Pa, Dista jamin deh nggak akan mengganggu belajar anak Papa ini, Oke!” rayu gadis manja itu kepada Papanya.


Herman sendiri juga sudah mencari tahu kebenarannya. Selain melalui data dari sekolah, pria dengan kaca mata minus itu bertanya kepada warga sekitar rumahnya. Juga kepada saudara siswa itu yang berada dalam satu sekolah yang sama dengan Ardian.


Karena pihak sekolahnya benar-benar dirasa kurang gesit dalam menangani permasalahan yang merugikan nama sekolah juga siswanya. Herman tak segera mengiyakan, karena Ia akan segera mengumumkannya langsung di depan umum agar tak ada lagi yang ditutup-tutupi.


“Benar? Papa memberimu kesempatan Nak! Jadi pergunakan dengan baik, jangan kecewakan Papa!”


“Oke, Thanks Papa!”


...