Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 36.



Panik. Hal yang di lakukan Vania adalah terus menghubungi mahasiswa tampan asal Surabaya itu untuk menemuinya. Malasah itu kecil, mereka hanya perlu bicara lebih lanjut nanti. Asalkan nasibnya tidak lontang-lantung di depan lobby hotel.


Vania menjadi sorotan banyak orang. Bagaimana tidak, gadis SMA dengan leluasa masuk ke tempat yang bukan pada umumnya untuk gadis seusianya. Beberapa kali ponsel itu berdering, hanya saja aldo hanya tertawa tanpa berniat mengangkatnya.


‘kasihan juga anak orang.’ Aldo pun turun ke lobby tanpa menjawab panggilannya. Tampak seorang gadis yang kacau dengan koper di depannya. Menahan perutnya yang sudah lapar. Pria itu berjalan mendekat, dan memintanya untuk mengikutinya ke luar.


“Kamu lapar? Kita makan dulu, sebelum memulai bisnis kita!” Aldo mengusap pipi gadis belia itu. merasa tenang, jika pria yang pernah berbuat jahat padanya kini malah menjadi partner dalam menghancurkan hubungan orang lain.


“Katakan, apa maksud pesan terakhirmu?” tanya Vania. Tangannya terus menyendok sepiring nasi goreng di pinggiran jalan Senayan, depan Istora Gelora Bung Karno.


Suasana malam di daerah sentral Jakarta memang tak pernah sepi, membuat kawasan itu menjadi spot favorit pemuda Ibu kota. Untuk Aldo yang terbiasa hidup borjuis, sangat cocok tinggal di kawasan ini. puluhan mobil sport mentereng berbaris di sana, yang akan melakukan balap liar jika tengah malam tiba. Aldo tak bisa kepas dengan kehidupan malam dan liar seperti itu.


Kebiasaan bersenang-senang dengan seorang gadis pun juga tak bisa Ia tinggalkan. Tetapi kali ini berbeda, Ia tak ingin hanya sementara, menurutnya ada daya pikat yang cukup kuat yang menarik pria badung itu.


“Aku sudah membantumu, sekarang giliranmu! Kamu tahu kan apa yang aku mau?” Aldo mengeluarkan ponselnya. Dan menunjukkan sebuah foto kepada Vania.


Uhukk...uhukkk...


Nasi yang sudah masuk ke dalam mulut, terpaksa menyembur keluar. Dengan cepat gadis itu menenggak air mineral dalam botol hingga ludes tak bersisa.


“Gila kamu Al! Sengaja banget menunjukan foto itu.”


“Aku mau dia, kamu bisa kan? bukankah kita sudah sepakat?”


Vania kesulitan menelan ludahnya. Karena apa yang diminta oleh Aldo rasanya sangat tidak mungkin bisa dilakukan oleh gadis cupu itu. siapa lagi yang akan membantunya.


“Hehe, Aldo gimana kalau Maya saja. dia juga manis kok! Kamu lihat sendiri kan kemarin?” tawar Vania. Jemarinya terus menggeser-geser layar ponselnya. Namun, tak menemukan satu pun nama teman perempuannya. Karena Vania hanya memiliki Maya seorang.


“haha... Gila ya! cewek kayak gitu kamu tawarin ke Aku? Hey Vania, di Surabaya banyak banget. Sorry to say nih ya, kamu sama teman kamu itu kelas biasa di Surabaya.” imbuh Aldo sembari menghirup vape di tangannya. Memainkan kepulan asap wangi di depan gadis itu.


Vania menciut, ucapan Aldo benar-benar menyinggungnya. Aldo yang nakal saja punya pemikiran demikian karena memang sudah sering bermain dengan banyak gadis-gadis seperti dirinya. lalu apa kabar dengan Ardian.


“Aku Cuma mau gadis itu, Dia lebih dewasa, dan Aku bisa merasakannya saat melihatmu mencium kekasihnya. Gadis itu benar-benar menahan amarahnya dengan baik. jadi, apa kamu sanggup?”


Aldo melihat gadis manis itu berpikir. Di saat yang sama Aldo membuka aplikasi di ponselnya dan memesan kamar untuk Vania beristirahat.


“Lihat! Aku sudah membuka kamar untukmu, untuk dua malam. Aku tak bisa membiarkan anak orang tidur di jalanan. Tapi pastikan, kalau kamu tidak mengkhianatiku, oke manis! Ayo, kita letakan barang bawaanmu. Aku dan teman-teman mau menyaksikan balapan liar sebentar lagi.”


...


Paska putus, Ardian terus mencari keberadaan sang mantan. Namun, tak pernah Ia jumpai meskipun sekali. Justru teman-temannya yang sering bertatap sapa dengan Dista. Bagaimana tidak kesal, dari Boy, Rico sampai William.


“Coba Lo tunggu di kantin, kalau nggak di perpustakaan. Gue sering lihat cewek Lo di sana!”


“Serius bro! kalau iya, Gue langsung ke sana nih!” Ardian sudah bersiap untuk pergi, tapi Boy menahan seragam belakangnya. Mengingatkan jika saat ini, Dista sedang tidak sendiri seperti dulu.


“Kenapa?” Ardian keheranan melihat Boy seakan tak enak mengatakan sesuatu.


“kayaknya Doi udah di tembak sama senior, salah satu dari geng abang Lo, Cuma gue nggak tahu yang mana,” timpal Boy.


“Ck! Nggak usah bikin gosip Lo Boy! cewek gue bukan tipe yang kayak begitu.” Ardian tak terima.


Sampai Boy menunjukan foto di mana seorang sepasang siswa yang keluar dari dalam toilet pria di sekolah. juga yang terbaru saat keduanya terlihat melihat memasuki ruangan UKS dalam waktu yang berdekatan.


Tak bisa di pungkiri jika Ardian sangat mengenali sosok dalam foto itu. entah salah satunya atau bahkan mungkin keduanya. Kali ini rasa kecewanya lebih besar dari sebelumnya, jika Dista benar-benar marah dengan dirinya. bahkan saat di kantin pun, Ia merasa diacuhkan.


“Lo yakin Doi masih di perpustakaan?” tanya Ardian.


“Hmm, coba aja kesana! Nanti juga Lo akan tahu sama siapa cewek Lo sekarang.” Rico dan Boy menyaksikan Ardian pergi. Willi pun merasa kasihan kepada temannya itu, hanya saja mereka semua tidak mengetahui permasalahan Ardian yang begitu tertutup. Hanya Boy yang tahu, kali ini pria jangkung itu tak mau membuka tabir kesedihan sahabat baiknya.


“Kasihan ya, bocah cerdas, ganteng kayak Ardian kalau udah kenal cinta kenapa jadi bego ya!”


Haha... ketiganya menertawakan Ardian yang sudah meninggalkan mereka di kantin.


Sedangkan Di perpustakaan, Ardian melihat Dista duduk dengan banyak tumpukan buku di sana. Ia tak melihat siapapun, membuatnya berlega hati. Ardian duduk di depan gadis itu dan menyapanya seperti biasa.



“Beb, bisa kita bicara sebentar?” lirihnya. Ardian harus mengecilkan suaranya karena kalau tidak mereka berdua harus keluar dari ruangan yang penuh dengan susunan rak dan buku-buku itu.


“Bicara apa lagi Di? Rasanya sudah tidak ada yang perlu kamu jelaskan.” Dista berdiri dan mencoba mengembalikan buku itu ke tempatnya. Adik kelas sekaligus mantan kekasihnya pun membantunya menjadikan kesempatan untuk bisa mengutarakan permintaan maafnya.


“Beb, tolong dengarkan Aku sepuluh menit aja!” mohon Ardian yang terus mengekorinya. Saat Dista berbalik ke arahnya tiba-tiba, pria itu menabraknya dan tertawa.


“Kamu lucu banget sih kalau sedang marah,” goda pelajar itu yang menyandarkan Dista di rak buku yang tinggi.


“sepuluh menit terlalu lama Di, lima menit.” balas Dista. Namun sekeras apa pun Ardian mencoba, Dista tak mau lagi patah hati untuk kesekian kalinya.


Dengan berat hati, gadis itu merelakan Ardian untuk melanjutkan apa yang menjadi kegiatannya. Ia tahu sebelum mengenal dirinya, Ardian telah lama menyalurkan waktunya untuk memenuhi kebutuhannya. Dan Dista berusaha mengerti itu. sifatnya buruknya yang terlalu posesif dan over thinking membuatnya mengambil keputusan itu.


“I‘ll be Okay, jangan hanya karena Aku kamu merelakan semuanya. Ingat kita berdua masih terlalu dini untuk memikirkan hal berat itu Di, Kita jalani saja masing-masing apa yang ada di depan kita sekarang,” pungkas Dista sembari menguatkan hatinya.


“Tapi, Aku nggak bisa Beb, please! Aku sudah pernah mencobanya sekali.”


Dista menepuk pundak lebar itu yang pernah Ia jadikan sandaran. “Kamu pasti bisa, kamu hanya perlu mencobanya lebih keras. Kalau jodoh nggak akan kemana, benarkan?” gadis itu berusaha menghiburnya.


Bayang-bayang gadis lain mencuri kekasihnya masih membekas di ingatannya. Gadis itu berlalu meninggalkan Ardian yang masih terpaku di depan rak buku. Di balik rak buku itu, seseorang mendengarkan percakapan mereka berdua. membuka buku yang menutupi wajahnya, membasahi bibirnya dan menyimpulkan senyum dingin miliknya.


Saat menuju parkiran yang lumayan jauh, gadis itu memperhatikan sekeliling agar tak ada satupun siswa yang melihatnya masuk ke mobilnya. Namun alangkah terkejutnya saat Ia membuka handle pintunya.


“Malam minggu jadi kan?”


Dista sontak menoleh karena suara itu benar-benar membuatnya berjingkat dan mengelus dada.


“Hah! Lo suka banget ngagetin gue! Kalau gue nggak mau gimana?” tantang gadis itu.


“Lo Nggak akan bisa menolaknya.” melihat ponsel berada di tangan gadis itu, Vicky mengambilnya dan meminta gadis itu untuk membuka paswordnya. Dista menolak, karena layar ponsel itu menampilkan dirinya dengan sang mantan yang tak lain adalah Ardian.


“Kenapa? Ada foto pacar Lo di sana?” Vicky menyerahkan ponselnya dan meminta gadis itu memasukan nomornya. Mana ada cowok yang melakukan pendekatan seperti ini, tak ada manis-manisnya sama sekali. Hanya membuatnya berdebar setiap bertemu dengannya, batin Dista


“Nih! Udah Ah, gue nggak mau dilihat anak-anak yang lain!” gadis itu memasuki mobilnya dan beranjak pergi. Melihat jass warna merah itu, seperti tak asing untuk Vicky. Ia pernah melihatnya di sekolah ini juga, mungkinkah dia gadis yang sama?”


...