
“Haaah...”
Ardian melepaskan pagutannya secara perlahan, saat melihat Dista kehabisan oksigen. Wajah gadis ayu itu memerah, dengan bibir yang masih basah tak kuasa membuat Ardian mengecup puncak kepalanya.
“Jangan tinggalin Aku lagi ya Beb! baru kamu tinggal sebentar, masalah yang datang padaku banyak banget Beb.”
“Ehm...” gadis itu mengangguk. “Tapi kamu nggak lupa risikonya kan kalau kamu bohongin Aku?”
“Iya, Aku janji akan menghapus semua aplikasi itu di depan kamu. Soal pekerjaan sambilan itu, aku bisa mencari kegiatan yang lain.”
Ardian berpikir jika Ia sering mendapatkan masalah dari pekerjaan sambilannya. akibat sering membuat anak orang (baper) terbawa perasaan. Padahal siswa tampan itu hanya iseng sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Ardian bisa mencoba mencari penghasilan tambahan dengan cara yang lain. yang penting, gadis dalam dekapannya ini masih bersamanya.
“Beb, memangnya Papa kamu tahu, kalau kamu jalan sama Aku?” gadis itu mengangguk.
“Hehe, Iya soalnya kamu pacar pertamaku, jadi Aku kasih tahu ke Papa. tapi Papa nggak tahu lho kalau kamu adik kelasku.” Dista menutup bibirnya karena menahan tawa dan Ardian melihat hal itu.
“Ck! tapi Aku nggak kelihatan lebih muda dari kamu kan? kenapa kamu malu ya?”
“Nggak kok, mana ada malu jalan sama kamu. udah jangan berpikir yang nggak-nggak,Yang.”
Malam-malam Ardian kini kembali berwarna. Ia tak lagi murung seperti biasanya. sampai saat tiba di rumah Ia menyalami semua orang termasuk adiknya.
“Sukses ya Bang? senang banget kayaknya.” tangan Gavin menengadah, menagih sisa uang tutup mulut yang dijanjikan abangnya.
“Hih! Duit aja nggak pernah lupa. Tapi nggak bisa jaga rahasia, dasar bocah ember!” Imas yang mendengarnya pun menghampiri putranya.
“Boleh kok Bang kalau mau di kenalkan sama orang rumah. Biar Ayah sama Ibu tahu, dan nggak mendengar omongan nggak enak dari tetangga. Abang kamu juga terlalu cuek sama cewek, padahal banyak yang nanyain.
“Nanti saja Bu, kita kan masih sekolah. pasti Abang bawa ke rumah.” tutur Ardian.
“Bang Vicky memangnya nggak ada yang naksir di sekolah? masa kalah sama Adiknya.” goda Imas. Karena hanya memiliki tiga anak laki-laki terkadang Imas merasa kesepian. Sepertinya memiliki anak perempuan pasti terasa menyenangkan.
Meskipun keinginan menambah momongan itu sangat besar, tetapi sebagai orang tua mereka tak ingin egois, karena si bungsu Gavin kini sudah berusia 14 tahun.
...
Setelah meninggalkan gadis lugu itu di depan kafe, tiba-tiba saja Aldo merasa kasihan. Ia kembali membuka percakapan sebelumnya dengan manis yang telah menghabiskan malam indah dengannya. tak ingin berbuat kasar, hanya saja ancaman yang Aldo berikan sedikit keterlaluan.
Ia mencoba mencari kontak gadis SMA itu dalam aplikasinya. Sayangnya, akun itu sudah tidak aktif. beberapa malam diliputi rasa bersalah. Aldo berusaha mencari tahu keberadaan Vania melalui sosial media dan mahasiswa itu menemukannya setelah meminta bantuan temannya seorang IT.
“Jakarta?” senyum itu tersungging di sudut bibirnya. Ia pun menghubungi teman-temannya. tak ada salahnya menghabiskan liburan semester di ibukota.
Dua minggu kemudian.
Sebuah konser grup K-Pop diadakan tepat di bundaran Hotel Indonesia. Dista ingin sekali menyaksikan idola favoritnya. Jarang-jarang Ia mendapat kesempatan untuk melihat oppa kesayangannya (sebutan untuk idol laki-laki) secara langsung.
“Tapi Beb, itu pasti berdesakan, bukannya nggak mau! Tapi ...” Gadis itu menunjukkan wajah mengibanya. Kepada siapa lagi jika bukan kepada kekasihnya.
“Please, aku belum tentu bisa terbang ke Korea untuk melihat Cha Eun Woo.”
“Memangnya Aku masih kurang ganteng dari cowok siapa tadi namanya?” balas Ardian cemburu. Meskipun tak ingin, tetapi tak tega juga melihat gadis itu memohon. Ya sudah tapi jam sepuluh kita pulang ya! aku cuma khawatir sama kamu. konser itu pasti berdesakan, apalagi gratis di tempat terbuka lagi.” sepanjang perjalanan Ardian menasehati Dista yang terus tertawa.
Belum juga sampai di lokasi. Sepanjang jalanan Sudirman di tutup hingga Sarinah. Mereka berdua terpaksa berjalan kaki.
“Beb, kita harus parkir di sini! Jauh banget, kamu tetap mau lanjutkan?” Dista mengangguk. Gadis itu merasa senang bisa melihat keramaian orang yang tengah berjalan kaki. Melihat Ardian cemberut gadis itu menautkan lengannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Kekasihnya.
“Wajahnya jangan di tekuk begitu dong sayang, kan nggak sering ada acara seperti ini di Jakarta.” imbuh Dista. gadis itu tak sadar mengelus lehernya dan berdeham.
“Masa aku harus lihat kamu dadah-dadah sama cowok lain? Aku beli minum dulu, kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana.”
Ardian meninggalkan Dista sendirian. Saking banyaknya orang yang mulai memadati jalanan, Seorang pria dengan jaket kulit tengah berjalan mundur saat bercanda dengan kedua temannya. Tiba-tiba menabrak tubuh seorang gadis hingga terdorong ke depan dan nyaris jatuh.
“Ups! Sorry... Can-tik!”