Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 23. Kehilangan Kendali



Dalam sebuah ruangan yang sejuk Vania merasa tubuhnya kepanasan. berulang kali Ia meminta tolong kepada pria yang Ia panggil Ardian. Aldo hanya tersenyum kecut, namun malah mendapatkan sebuah ide brilian.


Tak menunggu lama, Aldo membawa ke tempat pembaringan yang empuk dan membantu gadis itu menyalurkan kegelisahannya. Untuk sekelas Aldo yang merupakan seorang player, Vania dibuat luluh tak berdaya seketika.


Dalam hitugan menit peluh sebesar biji-biji jagung berjatuhan, menambah kenikmatan Aldo menguasai gadis itu. tak pernah terbayang sebelumnya jika pria yang nyaris mirip dengan Ardian itu mendapatkan harta berharga dari Vania untuk pertama kalinya. Meskipun fisik gadis itu biasa saja, tetapi Aldo meraskan hal yang tak pernah Ia dapat sebelumnya.


“Luar biasa Vania, kamu hebat. Aku adalah pria yang beruntung yang mendapatkan kegadisanmu.”


“Hmm, Ardian... bisakah perlahan, sakit!” isak gadis manis itu. Vania, telah menyerahkan mahkotanya kepada pria asing yang Ia sangka Ardian, siswa populer yang menjadi dambaannya. Cinta Vania kepada Ardian telah berubah menjadi sebuah obsesi, mengakibatkan dirinya buta dalam mengenal cinta.


Drrrrttt... drrrtttt...


Berulang kali ponsel Vania berdering. Panggilan masuk dari Veli yang khawatir dengan keadaan adiknya. Sampai Veli menghubungi neneknya untuk menanyakan keberadaan Vania. Baru tinggal selama satu bulan di Surabaya, tetapi Vania sudah banyak berubah. Benar apa kata Mamanya, jika Vania tak bisa dikenali lagi.


Veli


[Nek, apa Vania berada di rumah? Veli hubungi teleponnya kok nggak diangkat ya?]


Rumi


[Adikmu keluar, mau nonton film sama teman-temannya Veli. Sebentar lagi juga pulang.]


Veli


[Baiklah Nek, nanti kalau Vania sudah pulang minta tolong untuk telepon balik Veli ya, terima kasih nek.]


Veli mengakhiri panggilannya. Sepulangnya dari kampus Veli berniat mampir ke sebuah toko buku. Dan tak sengaja Ia melihat sosok Ardian melintas dengan sepeda motornya bersama Dista. Rasa bencinya kepada bocah itu sudah mendarah daging.


“Gue doain Lo putus sama cewek Lo!” umpat Veli. sampai keesokan harinya terdengar kabar telah ditemukan seorang gadis dalam sebuah kamar apartment. Gadis itu ditemukan oleh pemiliknya, dan segera membawanya ke rumah sakit, karena kondisinya tak sadarkan diri.


Rumi, wanita lansia yang hanya tinggal seorang diri di rumah segera mnghubungi anak perempuannya, Anne dan memintanya untuk datang ke rumah sakit di Surabaya. Wanita dengan dua anak itu nyaris pingsan, hatinya hancur mendapati berita yang begitu menyeramkan baginya.


“Veli! adikmu, Vania masuk rumah sakit, kita harus ke Surabaya sekarang!” Ibu dan Anak itu terbang ke Surabaya, dan langsung menuju ke ruangan tempat Vania di rawat. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam di udara.


“Ma, bagaimana keadaan Vania? Apa dia baik-baik saja?” Anne menangis tersedu-sedu. Harusnya Veli memberitahu mamanya semalam sebelumnya. bukan saat sedang seperti ini. saat menemui dokter dan meminta penjelasan kepada wanita berjas putih itu, Anne tak sadarkan diri.


“Ma! Bangun Ma!” pinta Veli dengan menepuk pipi mamanya berulang kali. Sambil menunggu Mamanya sadar, Veli memeriksa ponsel adiknya dan memeriksa riwayat pesannya beberapa hari terkahir ini.


“Aldo? Lalu apa ini?”


Veli mendapati banyak aplikasi kencan online yang terpasang di layar ponsel adiknya. Gadis berkulit putih itu geleng-geleng kepala. Ia membaca percakapan dari semua aplikasi itu dan mengambil napas dalam-dalam.


‘Astaga Vania, apa yang Lo lakukan selama ini.’ Veli menangis. Ternyata semua tidak terlepas dari kesalahannya yang lepas kontrol kepada adiknya. Sampai Ia membaca sebuah pesan dari seorang pria bernama Aldo. Veli yang membuka fotonya terkejut saat melihat wajah pria itu. Sangat mirip dengan bocah tengil yang Ia benci. Sampai terlintas sebuah ide yang sangat keji yang keluar dari pikiran gadis itu.


...


Di sekolah, Ardian yang tengah bermain basket, mendapat panggilan dari guru BP. Meminta siswa populer itu segera ke sana. Takada angin tak ada hujan, Dirinya mendapat skorsing akibat perbuatan yang tak pernah dilakukannya.


“Ada apa ini Bu? Kenapa hal seperti ini terjadi lagi sama saya?” tanya Ardian yang kebingungan.


Wanita berseragam coklat susu itu pun menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan sosok pria muda yang wajahnya memiliki kemiripan nyaris seratus persen. Tentu saja Ardian menolaknya mentah-mentah.


“Apa Ibu bisa membuktikan kalau itu benar adalah saya? Sejak kemarin saya tidak kemana-mana dan Ibu bisa lihat alamat IP dari pengakses berita itu juga lokasi apartment itu.” Ardian tak bisa lagi memaklumi kesalahan pihak sekolah begitu saja.


“Bu, kedua orang tua saya tidak pernah sedikitpun memberi pengaruh yang buruk kepada saya. Ibu juga tahu, saya dan Abang saya seperti apa, jadi saya mohon untuk diperiksa lagi.”


“Iya Di, Ibu paham situasi kamu sekarang ini, tapi untuk sementara waktu kamu harus menerima hukuman selama satu minggu belajar di rumah. Tolong direnungi lagi, dan Ibu minta salah satu dari orang tua kamu untuk datang ke sekolah besok pagi, ya! Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk meluruskan kasus ini demi nama baik sekolah kita.”


“Baik Bu, kalau begitu saya permisi.”


Ardian merasa dongkol, hatinya kecewa. Siapa lagi yang tega memfitnahnya memberikan berita buruk tentangnya. Setelah keluarga Vania dan Ibunya, lalu foto tentang Grace yang dikirimkan oleh Veli, yang ternyata adalah kakak kandung Vania. Ardian pun menyimpulkan pelakunya tak jauh dari keluarga mereka.


Berita tentang kasus yang menimpa Ardian menjadi sorotan untuk seluruh siswa. Tak terkecuali Abangnya yang duduk di bangku kelas XII. Bahkan Dista menyayangkan, ternyata pihak sekolah sudah mengetahuinya.


Dista


[Di, Aku sudah mengetahui berita tentang dirimu yang beredar di internet, maafkan Aku jika aku tidak bisa menerimanya. Aku mau kita akhiri saja hubungan kita, sekali lagi maafkan Aku Ardian.]


Ardian


[Kamu yakin? Tolong kamu pikirkan sekali lagi sayang, apa kamu sudah nggak peduli lagi denganku?]


Dista


[Di, jujur Aku sayang banget sama kamu, tapi kita udah nggak bisa bersama. Jaga dirimu baik-baik ya Ardian!]


Ardian


[Baiklah, kalau itu maumu. Kamu nggak percaya sama Aku, bukan Aku pria yang beredar di internet itu Dista. Jaga dirimu juga ya, semoga kamu mendapatkan pria yang lebih baik dari Aku.]


Mata bening Ardian berkaca-kaca. Mulai saat itu Ardian menutup akses dengan siapapun. Hubungannya dengan Boy pun mulai merenggang. Ardian mulai mengasingkan diri dan menjadi lebih misterius dari sebelumnya.


“Gue harus cari tahu, siapa pria itu dan siapa penyebar berita itu. Dista, kenapa Lo melakukan ini sama Gue, saat Gue sangat butuh dorongan dan kepercayaan dari Lo.”


...