Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 28. Ancaman Aldo



Pria berkulit putih mengenakan hoodie hitam. Dengan piercing di telinganya menatap gadis pucat yang gugup menanti kabar dari saudara perempuannya. Saat mendengar sapaan yang familier, fokus Vania kini terbagi. Membangkitkan rasa traumanya.


Glek! Vania kesulitan menelan ludahnya. Ketika sosok tinggi semampai berdiri di depannya.


“A-aldo...”


Dengan senyum yang mematikan Aldo menaikan dagu Vania yang tengah gemetar dan membuang wajahnya.


“Kamu masih mengingatku rupanya. Oh iya sedang apa kamu di sini?” Vania terus menoleh ke dalam kafe, membuat Aldo melakukan hal yang sama. Sepertinya gadis lugu ini tengah menunggu seseorang. Aldo mulai curiga dan segera mengajak Vania pergi dari sana.


“Ikut Aku, ada yang ingin Aku tunjukkan!” Aldo menggandeng tangan Vania yang menahan langkahnya. Vania menarik tangannya kembali dengan kasar. dan tak ingin meninggalkan tempat itu. apa jadinya nanti, jika Ia pergi dan peristiwa yang menimpanya terulang lagi.


Kesabaran mahasiswa tampan itu menipis. Aldo membuka ponsel pintarnya dan menunjukan beberapa file yang berdurasi masing-masing lima belas menit.


“Mau Aku tunjukkan di sini?” tantang Aldo. Vania tak bergeming. Dan saat Video itu mulai terputar otomatis, Vania membelalakan mata dan juga mulutnya. ‘Astaga, sialan cowok ini!’


“Aldo, kamu merekamnya juga?” Vania semakin ketakutan dan refleks merampas ponsel pria itu untuk menghapusnya. Sosok Ardian KW hanya tertawa melihat kepolosan bocah SMA itu. mau dia hancurkan ponselnya sekalipun video Vania sudah banyak salinannya yang Ia simpan di laptopnya.


“Aku tahu, kamu pasti akan mencariku cepat atau lambat, jadi Aku sudah menyiapkan hal itu sebelumnya.” jari-jari panjang Aldo merapikan anak rambut Vania yang berantakan. Mengusap peluhnya yang berjatuhan.


“Kamu manis Van, apalagi kalau kamu turutin perkataan Aku!”


“Tolong, jangan lakukan itu. kamu sudah membuatku menjadi seperti ini...” mohon Vania yang terisak di depan kafe. membuat mereka berdua menjadi tontonan. Aldo menarik tangan gadis itu dan memasuki mobilnya.


“Kita bicarakan baik-baik di dalam mobil.” Aldo membuka pintu mobilnya dan meminta Vania untuk masuk.


“Masuk sayang!” pinta Aldo, nada yang penuh dengan intimidasi itu membuat Vania memejamkan matanya seraya berdoa, semoga tak terjadi apapun padanya juga Veli.


Vania semakin ketakutan. Melihat potongan video yang berisi dirinya tengah melepas pakaiannya. Sungguh, rasanya Ia ingin lenyap dari muka bumi. Rasa-rasanya bagi Vania, Ardian adalah cowok paling jahat dan meyebalkan. Yang memberikan sepasang sepatu basket hasil tabungannya kepada Boy.


Vania tidak tahu saja, jika ukuran sepatu yang Ia beli ternyata kekecilan. Bahkan untuk Abang juga adik Ardian juga tidak muat. Sejak saat itu kebenciannya pada Ardian dan Dista semakin menjadi-jadi.


“Vania, Aku tahu kalau kamu gadis yang polos, tapi Aku tak menyangka kalau kamu sebodoh ini. jadi hentikan semua rencanamu untuk membawa masalah ini ke pihak berwajib!” tegas Aldo.


“Tapi kamu harus bertanggung jawab Aldo!”


“Untuk?” Aldo menghadap gadis itu dan menahan pundaknya.


“Vania, kamu sendiri yang datang menemuiku. Ingat pesanmu masih ada dalam ponselku.” Vania tersudut. Ia tak bisa mengatakan apapun karena memang Vania tak mengetahui kejamnya dunia maya.


“Tapi, Kamu memasukan sesuatu ke dalam minumanku waktu itu! dan membuatku kepanasan.” sambung Vania tak mau kalah. Sejak tadi si cupu berusaha mati-matian menghapus videonya namun tak bisa, karena harus menggunakan sandi untuk menghapus video itu.


“Jangan terlalu kaku Vania. Begini aja biar sama-sama enak, kita hentikan semuanya. Kamu minta gadis itu keluar dari sana, sebelum dibawa pergi sama teman-temanku! Dan hentikan tentang kasus ini. Oke!” Aldo mengacak rambut gadis itu.


Ponsel Vania berdering, sebuah panggilan dari Veli. Tentu saja Aldo segera mengetahuinya jika mereka saling mengenal satu sama lain.


“Ayo, angkat! Jangan lupa nyalakan pengeras suaranya!”


Dengan sangat terpaksa, Vania melakukan apa yang diminta pria itu. tatapan Aldo sangat lembut, lain dengan Ardian yang sangat membencinya.


Vania


[Ha-halo Kak!]


Aldo berdiam diri, namun jemarinya mengelus paha yang terbalut skinny jins yang dikenakan gadis itu. membuat suara Vania gemetaran.


“hentikan!” Aldo tersenyum sambil menggeleng.


Veli


[Van, cowok yang gue temui bukan Aldo ternyata. Mereka berdua nggak kenal sama pria itu!]


Vania


“Jadi Veli itu kakakmu? Padahal Aku ingin sekali bermain dengannya, atau...” Vania tak ingin mendengar lanjutan kalimat dari Aldo, karena sejak tadi pria itu sudah memasang ekspresi yang tak ingin Vania lihat.


“Permisi, Aku mau pulang!” Vania membuka handle pintu mobil yang terparkir di depan kafe. sayangnya teman kencan Vania yang tampan telah menguncinya.


“Oh, tidak bisa semudah itu sayang, kamu sudah jauh-jauh datang untuk menemuiku! Dan kita belum mendapatkan jalan tengahnya,” Aldo mendekat ke telinga gadis itu dan membisikan sebuah perintah yang tentu saja mengejutkan Vania.


“Gimana kalau kita coba sekali lagi? atau kamu mau menukar dirimu dengan saudaramu yang berada di dalam?” Bibir merona milik Aldo menyentuk cuping telinga Vania. Bulu di tubuh gadis itu berdiri, memuat Aldo semakin bersemangat.


“Pertama kali mungkin sakit, yang kedua kali pasti nikmat, C’mon sayang! waktumu hanya sepuluh menit, sebelum mereka membawa Veli pergi...”


Plak!!


Vania menampar pipi Aldo dengan keras. Hingga menyisakan kemerahan bekas tamparan gadis lugu itu.


“Kamu mau mengambil kesempatan lagi dariku! Dasar pria brengsek!” Aldo mengusap pipinya yang panas. dan tak mau membuang waktu lagi.


“Artinya kamu menolak?” Aldo mengunci semua pintu mobilnya, memundurkan jok mobilnya ke belakang secara otomatis, membuat Vania semakin ketakutan. Setelah melepas hoodienya Aldo segera menuju ke tempat Vania berada.


“Aku harus mendapatkan apa yang Aku mau, bahkan tak cuma satu Kakakmu juga akan mendapatkan hak istimewa yang sama!”


Aldo memberikan tanda merah pada leher gadis itu, bahkan Vania sudah menangis Aldo tak membiarkan dirinya pergi. Saat kedua mata Vania bertemu dengan Aldo, bayangan gadis itu kepada Ardian tetap saja ada. ‘apakah Ardian juga tipe cowok brengsek sepertinya?’


“Hentikan Aldo! Oke, aku akan ...”


“Aku akan...” Vania tak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia akan habis menjadi bulan-bulanan Mamanya seandainya hal ini terjadi.


“Katakan, kalau kamu nggak akan pernah menuntutku!”


“A-aku berjanji untuk tidak akan melanjutkan kasus ini dan menuntut apapun kepadamu ... Sekarang biarkan aku dan Veli pergi!” isak gadis itu. kenapa semakin Ia ingin mencari jalan keluar semuanya malah menjadi semakin runyam.


“Ingat Vania, Aku mempunyai semua percakapan kita, dan video itu. sekali kamu melanggar, maka video dalam ponsel ini akan menyebar ke seluruh media sosial, lalu siapa yang di rugikan?” Aldo mengecup singkat bibir Vania.


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi teman-temannya yang berada dalam kafe untuk tidak berbuat macam-macam pada Veli.


Aldo


[Lepaskan target Bray!]


Teman Aldo


[ Tapi Bro, Lo coba lihat dulu kemari! memangnya nggak sayang!]


Aldo


[Biarkan gadis itu pergi!]


“Aku sudah memenuhi janjiku, sekarang kamu dan saudaramu jangan pernah menemuiku lagi atau aku akan berubah pikiran!” Aldo menatap lurus ke jalanan, membuka kunci mobilnya dan membiarkan Vania pergi dengan menangis.


Mobil Aldo segera melaju meninggalkan kafe itu dengan kecepatan cukup tinggi di jalanan padat di tengah ibukota. Veli keluar dengan tatapan bingung karena para pria itu tiba-tiba memintanya untuk pergi.


“Veli, Aku takut! Kita pulang sekarang!” Vania memeluk tubuh kakaknya dan menyembunyikan wajahnya disana.


“Sial! Cowok brengsek itu nggak datang Van!”


...