Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 25. Pertemuan Pertama



Suara sorakan di lapangan basket menyadarkan Dista yang masih memejamkan matanya. Saat sadar dirinya sudah berada lengan hangat seseorang. Gadis itu pun mendongak, dan menemukan sepasang mata tajam yang menatapnya dingin. Tak ada senyuman di sana, hanya suara bariton yang terngiang di telinga Dista.


“Kamu nggak apa-apa kan?”


Pria tinggi, kuning langsat dengan rahang tegas dan hidung mancung. Tengah bermain basket di lapangan saat gadis itu melintas. Dan saat bola hampir membuat gadis itu tersungkur, Vicky refleks menariknya.


“Oh sorry, nggak apa-apa!” Dista melepaskan diri, saat ketiga teman pria itu terus menggoda mereka. tatapan mereka berdua tak lepas, bahkan sebelum berpisah, Dista diminta untuk lebih berhati-hati. Dan saat peristiwa itu terjadi semua siswi di sekolah mulai membenci gadis itu.


...


Imas telah menemui guru pembimbing di sekolah itu dan menjelaskan terkait masalah Ardian. Sang Ibu percaya, dirinya membesarkan dan mendidik ketiga putranya dengan kasih sayang. tak akan membiarkan putranya menjadi pria yang tak bertanggung jawab. Imas marah, karena prestasi Ardian seakan tak lagi dianggap hanya kesalahan yang tak di perbuat putranya.


“Kami memang berasal dari keluarga biasa Bu, Abangnya pun juga selalu mengawasi Ardian di sekolah. tapi pernahkan Ibu melihat kelakuan kedua putra saya yang keterlaluan?” Saya akan membuktikan tuduhan itu tidak benar, dan saya meminta pihak sekolahan untuk membersihkan nama Ardian nantinya. Saya permisi!”


Imas bersedih. Sambil berjalan wanita cantik dengan tiga putra itu mengusap air matanya. Ardian memang tak seterbuka Vicky. tapi untuk hal-hal buruk seperti ini Ia percaya bukan anaknya yang dalam berita itu.


“Bro, itu Nyokap Lo! kasus adek Lo belum kelar?”


“Belum, dia di skors. Nggak tega Gue lihatnya. Gue penasaran, sama siapa yang udah sebarin berita palsu begitu.”


“Ck! Jangan khawatir, kita cari tahu nanti! Adek Lo sih, pakai acara ganti-ganti pacar, kena masalah kan sekarang?”


Hahaha... mereka pun kembali bermain basket.


Setelah kejadian di lapangan basket, Dista semakin merasa asing. Gadis pemalu itu mendadak di diamkan dan menjadi bahan gosip teman satu kelasnya. Pertama berita tentang ketahuan menjadi kekasih Ardian.


Sekarang menggoda salah satu siswa senior paling populer yang terkenal badung itu. Tak ada satupun dari mereka yang mau berteman dengan gadis itu. Juga tak ada yang mengetahui jika Dista adalah anak dari seorang kepala sekolah.


Setiap jam istirahat Ia tak pernah keluar kelas. Hanya sesekali jika memang mendesak. Menjadi anak baru di sebuah Kota besar ternyata merepotkan. Namun sayangnya, kali ini mereka benar-benar keterlaluan.


“Duh, gara-gara lupa sarapan, perutku jadi melilit begini.” Gadis itu memesan semangkuk soto ayam di kantin. Sayangnya, tak ada tempat yang kosong untuknya. Awalnya kantin lumayan sepi. Namun setelah dirinya datang, kantin menjadi ramai pengunjung. Sudah beberapa ini Dista menyadarinya. Saat beranjak pergi, tiba-tiba ...


“Eh, mau dibawa ke mana?” tangannya ditarik paksa seorang pria. Dan mengajakny duduk bersama dengan ketiga kawannya yang terus tersenyum menatap kehadiran gadis itu.


“Duduk dan makan di sini!” selorohnya.


Ya, mereka adalah keempat siswa kelas XII yang populer. Salah satu yang paling menonjol diantara mereka memperkenalkan diri. Bisa dipastikan dia adalah ketua geng itu.


“Hai cantik, Lo anak baru ya? perasaan baru lihat!” melihat gadis itu dibawa Vicky, karena setelah melihat sekeliling memang tak ada lagi meja yang kosong di kantin.


“Kasihan, pasti Lo di kerjain sama mereka! Hem, mending gabung sama kita-kita aja! kenalin Gue Dion, yang paling kalem Bayu. si paling konyol Iwan, dan yang baru aja bawa Lo kemari, si paling pinter dan rajin. Namanya Vicky.”


“Udah selesai kan makannya! balik sana!” Vicky meminta gadis itu untuk segera pergi. Meskipun sudah dilarang oleh yang lain. Dista akhirnya meninggalakan kantin. Saat Ia berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya tiba-tiba banyak siswi yang sudah menunggunya. Membawa satu kantung kresek yang berisi Air bercampur telur dan terigu.


“Dasar cewek gatel! Kemarin Ardian sekarang godain gengnya Dion. Ini rasakan!”


Semuanya bersiap dengan kantung-kantung gendut berisi cairan kental lengket. Tak dapat dibayangkan bau amisnya jika mengenai tubuh mereka. Dista menunduk dan menutup kepalanya dengan kedua tangannya. Ia sudah hampir menangis. Rasanya keputusannya salah untuk masuk di sekolah tempat Papanya bekerja.


Namun sampai hitungan ketiga dalam hatinya, Ia merasa tak terjadi apa-apa. Dista pun bangkit dan menoleh. Ternyata sosok tinggi itu lagi yang berada di belakangnya. Tubuh dan seragamnya bau amis akibat pecahan plastik berisi cairan itu.


“Vicky! Lo ngapain?” Dista memeriksa pria itu dan mendapati seragamnya kotor serta bau.


“Lo nggak terluka kan?” tanya Vicky dingin. Tubuhnya yang tinggi dengan bahu yang lebar bisa menutupi Dista dari serangan gadis-gadis yang suka membulli temannya.


“Nggak! Tapi seragam Lo kotor. Tunggu sebentar ya!” Dista menarik Vicky dan mencuci seragam pria itu. bahkan sampai tangan gadis itu lecet, bau amisnya tak bisa hilang.


“Jangan nangis! Masa cuci baju nggak bisa begitu aja nangis sih!” godanya.


Dista menghubungi Papanya untuk meminta seragam baru untuk siswa laki-laki. Dan Dista meminta Vicky untuk menunggunya di kamar mandi. Setelah beberapa menit dari ruang TU. Dista kembali ke kamar mandi dan gadis itu tak menemukan Vicky di sana.


“Halo!” lirihnya. Menengok sedikit lebih ke dalam namun sepi. Akhirnya Dista memutuskan kembali sebelum ada siswa laki-laki yang masuk. Tetapi saat Ia berbalik, Ia terkejut dengan kehadiran Vicky di belakangnya.


“Ih ngagetin aja! ini di pakai! Gue balik ke kelas. Terima kasih, udah menyelamatkan gue dari serangan telur itu.” baru beberapa langkah, terdengar suara segerombolan anak laki-laki memasuki toilet itu. Vicky pun langsung membawa Dista masuk ke dalam salah satu bilik toilet. dan memintanya untuk diam.


Namun, bukannya diam. Dista malah menangis. Gadis itu menatap mata Vicky, karena mantan kekasih Ardian telah menjadi bahan perbincangan para siswa. Jika bodoh sekali melepaskan gadis yang semenarik Dista. Dan masih banyak ucapan-ucapan tak pantas untuk di dengar. Sebagai seorang Vciky tak bisa melihat gadis menangis di depannya. Ia memasukan gadis itu dalam pelukannya.


“Sshhtt, Lo bukan gadis seperti itu, percaya sama gue!”


Setelah sepi, mereka berdua keluar dari kamar mandi pria. Beberapa jepretan foto telah berhasil diambil dari beberapa sudut.


Di rumah Ardian,


“Bro, Gue turut prihatin sama kasus yang menimpa Lo ya! tapi Gue sama anak-anak akan bantu mencari tahu, Lo jangan khawatir!”


Boy, Rico dan Willi mengunjungi temannya. merasa tak tega dengan perlakuan tidak adil yang menimpa Ardian, terlebih saat melihat Imas kembali dari sekolah dengan mata sembab. Juga gosip yang menyebar di lingkungan rumah.


“Bu, sudah jangan pikirkan Abang. selama ibu percaya sama Ardian, Abang akan baik-baik saja.” ketiga teman siswa tampan itu merasa sedih mendengarnya.


“Bro, Lo ada curiga nggak sih sama keluarga si cupu? Cuma mereka doang yang benci banget sama kita gara-gara anaknya yang prik itu?”


...