
Senin Pagi, dengan semangat penuh terisi Ardian bangun lebih dulu daripada ibu dan abangnya. Siswa tampan dan populer itu bersiap lebih dini untuk tiba ke sekolah, karena ingin menjemput pacarnya. Ia menyadari jika mereka berdua terpaksa backstreet mengingat mulut Boy yang ember. Sahabat Ardian yang mengatakan jika Dista tengah di bully oleh fans Ardian di sekolah.
Tak hanya di kantin, Dista sering tak mendapat tempat duduk. Tetapi di toilet perempuan gadis itu juga sering mendapatkan masalah. Banyak yang memata-matai anak gadis kepala sekolah tersebut yang terkenal pendiam dan tak berniat melaporkannya. Mengingat masa sekolahnya tinggal beberapa bulan saja Ia sanggup menghadapinya.
Pukul 06.00 Ardian sudah sampai di depan rumah gadis itu. tentu saja Herman terkejut, mengingat masih pagi, Dista ingin segera berangkat ke sekolah.
“Beneran nggak berangkat bareng Papa?”
Dista yang sedang membungkus beberapa roti lapis untuknya sarapan nanti di kelas hanya tersenyum.
“Nggak Pa, Dista mau bareng sama teman, sebentar lagi juga datang.” menenggak segelas susu secara perlahan dan menyeka bibirnya. Dista meminta uluran tangan papanya untuk berpamitan.
“Hmm, hati-hati di jalan! jangan ngebut bawa motornya.” Pesan pria berkaca mata minus itu.
“Hehe, Iya Papa.” Gadis itu melambaikan tangannya. Melihat kekasihnya yang tampan sudah tiba di halaman rumah, gadis itu buru-buru untuk duduk di jok motornya.
“Pagi cantik! kok buru-buru?”
“Papa ada di depan jendela, buruan!”
“Hah? memangnya kenapa?” Ardian ingin bertanya lebih banyak tetapi Ia segera menjalankan motornya setelah gadis itu duduk dengan aman dan menepuk bahu lebar kekasihnya itu. Ardian berhenti di taman dekat sekolah untuk menikmati sarapan mereka berdua.
Suasana yan masih sepi, hanya terlihat beberapa pedagang jajanan yang mulai berdatangan. Dista tampak lucu saat mengeluarkan kotak bekalnya. Roti lapis dan susu kotak untuk mereka berdua.
“Aku tahu kamu pasti belum sarapan kan?” ujar gadis manja itu. Ardian menatap gadis ayu dengan bandana di kepalanya. Sesekali melihat jam di tangannya. Biasanya Boy sering melintasi tempat ini.
“Belum sih, tapi kamu nggak perlu repot-repot begini Beb!” padahal dalam hati Ardian terus bersorak hore, hanya saja Ia merasa gengsi menunjukkan hal itu di depan Dista. Ia ingin menunjukan jika Ia adalah pria dewasa yang layak di perhitungkan. Tangannya menggenggam jari-jari lembut kekasihnya.
“Terima kasih ya, kamu udah mau kembali sama Aku! Aku cuma butuh kamu, beb!”
“ehm..” Dista berdehem. Pagi-pagi sudah disuguhi gombalan dari Ardian. Wajah mereka pun sama-sama merona karena malu. Sampai gadis itu mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya Yang, Maya mengirimkan pesan. Ia penasaran dengan taman hiburan yang baru di buka kemarin. Kamu mau kesana lagi?” tanya gadis itu sembari melanjutkan sarapannya. Tentu saja Ardian bersedia. Apalagi akan ada temannya di sana, siapa agi jika bukan Boy.
“Tentu saja Aku mau, apalagi kan sama kamu, ya kan?”
“Oke, kalau begitu nanti Aku akan memberitahu Maya secepatnya.” Dista melihat jam di tangannya masih ada lima belas menit. mereka segera kembali ke sekolah dan berpisah di depan gerbang. Ardian terus mengawasi gadis itu dari belakang. setelah tak tampak lagi bayangannya Ardian dikejutkan dengan kehadiran seseorang.
“Wah! Baru datang rupanya! Padahal pagi-pagi buta udah keluar dari rumah! Ke mana aja Lo!” sapa seorang pria dengan penampilan khas anak SMA yang tampan dan nakal.
Ardian berjingkat saking terkejutnya. Ternyata Abangnya yang baru saja tiba bersama ketiga kawannya yang lain, datang berboncengan.
“Bukan urusan Lo Bang! udah ah, mau masuk dulu!” Ardian meninggalkan seniornya di tempat parkir. ‘Semoga saja Abang nggak lihat gue sama Dista tadi’ batinnya.
...
Sore hari Boy dan Maya sudah tiba di tempat mereka sepakat untuk bertemu. tak berselang lama sosok yang di tunggu pun datang juga, Ardian dan Dista. Mereka berempat menghabiskan malam dengan bersenang-senang di tempat yang penuh dengan wahana permainan yang menegangkan.
“Aku nggak mau naik histeria, Aku takut ketinggian Yang!” sesal Dista. Padahal mereka bertiga sangat bersemangat untuk itu.
“Ya sudah, Aku juga nggak ikut. Biar Boy sama Ardian aja yang naik!”Maya merangkul sahabat baiknya yang tampak bersedih.
“Nggak usah May, Aku menunggu kalian di sini aja ya! selagi sepi, buruan kalian antre!” pinta Dista dengan menyuruh mereka memasuki arena wahana itu.
Dista melihat kekasihnya dan teman-temannya sudah duduk di bangku wahana yang memacu adrenalin. Gadis itu pernah sekali menaikinya. Rasanya begitu menguras emosi, karena merasa jantungnya nyaris lepas dari tempatnya. Wahana yang memiliki ketinggian kurang lebih 60 meter itu membuatnya trauma hingga saat ini.
Melihat mereka berteriak histeris, Dista merasa haus. Dan mengunjungi boot minuman tak jauh dari tempatnya menunggu.
“Berapa semuanya?” gadis itu membuka dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang.
“Sudah dibayar kak, sama pacarnya.” gadis ayu yang semula menundukkan kepalanya perlahan menatap penjual minuman itu.
“Pacar?” sontak Dista menoleh ke arah wahana itu. memastikan Ardian sudah turun.
Cupp!!
“Sayang, kita bertemu lagi.” sapa pria itu. sontak Dista menyadari jika pria itu bukanlah Ardian, tetapi pria yang pernah Ia lihat saat acara konser malam itu.
Plak!
“Dasar pria kurang ajar!” dengan cepat Dista mengelap bibirnya. Setelah menampar pria itu, tangannya bergetar. Baru kali ini Ia berbuat kasar kepada seseorang. Gadis itu ketakutan dan meninggalkan Aldo yang masih mengikutinya.
“Tunggu, tunggu! Aku nggak sengaja. Aku Cuma senang aja melihat kamu lagi di sini. Aku serius.” Aldo menghadang langkah gadis itu. Tangan Aldo menyentuh bahu gadis imut itu yang sedang marah. Baru kali ini Aldo berurusan dengan gadis ABG. Tak jauh seperti Vania yang mudah marah.
“Aku sendiri, kamu sendiri. lebih baik kan kalau kita jalan berdua. Nggak akan ada yang mengganggu kamu Cantik!”
“Aku nggak kenal sama Kamu, jadi tolong minggir sebelum Aku berteriak!”
“Aku Aldo, kamu bisa memanggilku sayang, cinta, honey juga boleh.” goda Aldo yang merasa geli dengan gombalannya sendiri.
“Kamu mencari siapa? Nggak ada siapa pun di sini selain kita sayang!” Dista melihat wahana itu telah berganti orang. Lantas kemana mereka bertiga pergi? Apakah mereka meninggalkan dirinya dengan pria brengsek seperti Aldo. Hati Dista berkecamuk dan mulai mengalami mood yang buruk.
Aldo terus mengikuti langkah Dista yang semakin tak jelas tujuannya. Sampai Ia menemukan bahwa Ardian tengah berada dalam roda raksasa bersama gadis lain yang tak di kenalnya. Aldo memperhatikan arah pandang gadis ayu bermata bulat itu.
“Kan, Aku bilang juga apa. Semua pria itu brengsek termasuk juga pacar kamu.” Aldo terus mengompori hati gadis itu yang mulai menangis. Kesempatan bagi Aldo untuk menenangkannya. Lengan pria tampan itu melingkar di bahu gadis itu.
“Lepaskan!” Dista menepis lengan Aldo. Pria itu hanya tertawa gemas melihat kekasih Ardian.
“Kalau mau menangis jangan sampai dilihat banyak orang. Kamu hanya butuh bahu ini untuk bersandar. Tuh, kurang baik apa Aku, padahal kamu sudah menamparku di depan penjual minuman tadi,” rengek Aldo.
Dista melihat bianglala itu berputar perlahan. Ia melihat Ardian dari bawah. Tak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Melihat gadis di depannya hanya termangu, Aldo membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
Mengelap air matanya. “Mau Aku antar pulang? kamu bilang dulu sama pacarmu, kalau mau sudah melihatnya bersama gadis lain!” pesan Aldo.
“Pergilah, Aku bisa pulang sendiri!” Dista meninggalkan Aldo dan berjalan menghampiri Ardian yang baru saja turun. Niat hati ingin meminta penjelasan, tetapi sayangnya gadis yang bersama Ardian dengan santainya mengecup bibir Ardian di depan mata Dista.
“Aku mau pulang!” suara itu mengejutkan Ardian. Dan menoleh ke sumber suara. Ardian melihat kekasihnya dengan mata yang basah.
“Yang, Aku bisa jelaskan semuanya! Ayo kita pulang!”
Bisa saja Dista meninggalkan pria itu di sana. Di depan matanya sendiri Ardian bisa berbuat seperti itu. gadis itu kecewa, ternyata hubungannya harus berakhir seperti ini. ardian berpamitan kepada Boy melalui pesan singkat. Sepanjang perjalanan mereka tak saling sapa.
Ardian mengetahui kemungkinan terburuknya akan berakhir seperti ini. Setelah menyetujui kesepakatan dengan gadis yang bersamanya saat diatas bianglala. Gadis itu adalah Vania, yang berjanji akan memberikan nama baiknya kembali dan meminta kedua orang tuanya untuk meminta maaf di depan sekolahnya dan keluarga Ardian.
Ardian pun tak berhenti meneteskan air matanya sejak tadi. Meskipun sudah berusaha Ia tahan, namun luruh juga. tangan Ardian berusaha menarik lengan gadis itu untuk memeluknya. Namun Gadis itu memberikan jarak pada tempat duduknya. Sesekali terlihat di kaca spionnya. Gadis itu menyeka air matanya berulang kali.
Memasuki halaman komplek rumahnya Dista menarik napasnya dalam-dalam dan menormalkan bicaranya. Beberapa kali gadis itu berdehem lirih menahan sakit hatinya yang teramat perih.
“Yang, Aku...”
Dista melepas helmnya. Ardian berusaha merapikan surai indah gadis itu. dan menghapus air matanya yang tersisa. Gadis itu membiarkannya.
“Untuk apa kamu menghapus air mataku, kalau kamu yang menyebabkan mereka jatuh.” Isak Dista dengan nada parau.
Ardian hendak turun namun gadis itu memundurkan langkahnya.
“Pulanglah Di! Aku hanya berterima kasih untuk waktu kita yang singkat ini. Aku harap kita tak pernah bertemu lagi!” Dista menekankan baris kalimat itu.
“Yang, kamu nggak mau mendengarkan penjelasanku dulu!” Ardian menangis di depan Dista.
“Mataku sudah cukup melihat semuanya, sekarang pulanglah! Jangan pernah menemui ku lagi Ardian! Mulai hari ini kita sudah tidak memiliki hubungan apapun, kita putus!” Dista meninggalkan pria itu yang masih terus melihat kepergian Dista hingga menghilang di balik pintu,
“Yang, maafkan Aku!”
...