Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 40. Salah Sangka



Aldo yang merasa kesakitan, mengusap rambut bocah SMA itu. menyarankan untuk segera pulang. karena besok Aldo dan kedua temannya akan kembali ke Surabaya, mengingat liburan kuliah mereka akan segera berakhir.


Entah kenapa Vania merasa sedih saat Aldo mengatakan akan pergi. Meskipun awalnya Vania membencinya, tetapi mahasiswa tahun kedua itu tak seburuk yang Ia kira. Bahkan selama tinggal di Jakarta, hanya Aldo yang bersedia membantunya. Entah karena rasa bersalah atau apapun Vania sudah tak peduli lagi.


“Al, kamu serius besok akan pulang?”


“Iya, lagi pula di sini membosankan. Nggak ada yang bisa diajak bersenang-senang.” desis Aldo yang merasakan perih di bibirnya. “Kenapa, kamu sedih ya? jangan bilang kamu merasa kehilangan.”


Jujur saja Vania mulai merasa nyaman kepada mahasiswa tampan itu. sayangnya lamunannya harus kembali disadarkan oleh dering ponselnya. Tangan Aldo hendak mengambil ponsel itu, tetapi segera di tepis oleh Vania.


“Mau ngapain sih? kamu tahu Al, Aku sudah berusaha menutupi kesalahanmu agar kamu bebas tuntutan. Malah sengaja cari mampus.” omel Vania.


“Wah udah pintar sekarang!” Aldo mengacak-acak rambut Vania dan mereka berdua melupakan panggilan dari Veli yang terus berdering.


“Tenang saja, selama kamu nggak pindah rumah atau ke luar negeri, Aku akan mengunjungimu nanti kalau kuliahku ada libur, Oke manis! sekarang bantu Aku berkemas, setelah itu kita bisa jalan-jalan sebelum kita berpisah!”


Di depan mal besar itu, Veli dan Anne tampak kesal karena merasa dikerjai oleh bocah kemarin sore seperti Maya. Begitu juga dengan anaknya yang tak kunjung mengangkat teleponnya. Agung yang melihat keduanya pun hanya bisa menghela napas. mencoba memberi solusi untuk keluarganya yang tak akan mungkin membiarkan anak gadisnya berkeliaran di luar rumah tanpa pengawasan.


“Ma, begini saja! kita tidak mungkin akan seharian di sini menunggu Vania. Mama kirim pesan kepadanya, kalau bersedia memenuhi permintaannya.” usul Agung, yang langsung mendapat pukulan dari Anne.


Wajahnya seketika menahan marah. Tidak terima jika Ia harus menurunkan harga dirinya. Veli hanya bisa menutup kedua kupingnya mengahadapi sikap mamanya yang sejak kapan mulai egois. Akhirnya kedua orang tua Vania berdebat dan meninggalkan pusat perbelanjaan itu.


“Pokoknya kalau sampai terjadi apa-apa lagi sama Anak gadisku, Papa nggak akan memaafkan Mama!” tegas Agung, sembari melajukan mobilnya dengan terburu-buru. Veli mengirimkan pesan kepada Vania jika besok mereka akan kembali menjemputnya. Namun, Vania membalas pesan yang tentu saja memicu amarah saudara perempuannya.


Vania


[Tolong bilang aja sama Mama, kalau masih nggak mau minta maaf sama keluarga Ardian, jangan harap gue mau pulang ke rumah!]


Veli


[Lo sama Mama sama aja Van! Menyebalkan. Kalau perlu nggak usah pulang sekalian, ikut saja sama laki-laki yang membawamu ke hotel, terlanjur basah-basah sekalian.]


Vania membaca pesan kakaknya dan hanya tertawa kecil. Aldo melihat isi pesan itu dan ikut tertawa saat membacanya. Aldo tidak tahu bagaimana dengan keluarga Vania, hanya saja mungkin tak se-otoriter keluarganya. Membuat Aldo mencari kebahagiaan di luar.


Vania menatap Aldo, sesekali menyunggingkan senyum kecil. Jika dalam mode lembut seperti ini yang Vania lihat adalah Ardian. Entah kenapa, Vania merasa susah sekali melupakannya. Apakah karena rasa penasaran saja, entahlah gadis cupu itu tidak tahu apa yang dinamakan jatuh Cinta?


“Kenapa Van? Awas, nanti naksir aku tahu rasa kamu!”


Vania tak menjawabnya, namun secara tak sadar wajahnya berubah merah dan Aldo menyadarinya.


...


Tepat pukul sembilan malam sebuah mobil memasuki halaman. Perasaannya telah kembali seperti semula. Namun, baru saja memasuki ruang tamu gadis itu dikejutkan dengan senyuman dari seseorang yang sangat dikenalnya.


“Baru pulang Nak?” tanya Papa Herman. Dista segera menyalaminya dan mengatakan langsung pulang begitu acaranya sudah berakhir.


“Dista nggak telat kan Pa?” sembari menengok jam yang melingkar di tangannya. “Tepat pukul sembilan, lebih sepuluh menit sih, hehe...” senyumnya yang manis membuat pria tampan yang duduk di sofa, ikut tersenyum.


“Ya sudah, Ardian sudah menunggu kamu sejak tadi. Papa masuk dulu. Nak, dilanjut saja ngobrolnya!” sambung pria paruh baya yang berlalu menuju kamarnya. Dista meletakan tas kecilnya, namun tak sengaja ada yang terjatuh dari sana.


“Ardi, kamu udah lama? Aku buatkan minum dulu ya!” gadis itu berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Ardian yang memungut benda kecil yang terjatuh. ‘tiket bioskop untuk dua orang?’ Ardian harus bersabar untuk menanyakan hal ini nanti.


Dista keluar dengan dua gelas minuman dan satu botol jus dalam kemasan besar. Ardian tersenyum, karena Dista tidak pernah lupa dengan kesukaannya. Melihat Ardian memegang dua buah tiket, Dista penasaran. Namun dirinya hanya diam saja, mengingat pria itu telah membuatnya menangis sore tadi.


Sampai lima menit berlalu mereka berdua hanya berdiam diri. Tak ada satu pun yang ingin membuka suara terlebih dulu. Ardian mendekat, mengikis jarak duduknya.


“Kata Papamu kamu pergi sama Maya, jadi aku menyusul mu...”


“Aku memang pergi untuk menemui Maya di senayan. Kita berdua bertemu di sana.”


“Aku tidak tahu kalau di sana ada gadis itu Beb, Aku mendengar semua ucapannya kepadamu jadi aku ha-...”


Ardian mengangguk. Kedua tangannya Ia simpulkan dan terus menunduk. Mencoba menjelaskan tapi tak pernah di terima. kemudian Ardian menunjukan dua tiket yang Ia temukan di lantai.


“Lalu kamu kemana lagi? Aku kembali mencari mu masuk ke tempat sebelumnya, tapi kalian berdua sudah tidak ada.”


“A-aku pergi ke bioskop. Aku tak bisa pulang begitu saja dengan keadaan kacau seperti tadi.”


“Dengan siapa?” Ardian berharap jika Dista akan menjawab jujur. Saat melihat Maya di lobby dan pria dalam internet itu babak belur, tidak mungkin jika Dista pergi sendirian terlebih bersama teman perempuannya.


Ardian melihat baris tempat duduk itu, juga film yang di tontonnya. Sekali lagi rasa penasarannya begitu membakar api cemburu dalam hatinya.


“Siapa beb? Aku hanya ingin tahu, Cuma itu saja. memastikan kamu baik-baik saja pergi keluar tanpa aku.”


“A-Aku pergi dengan Maya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Aku lagi.” Ardian hanya tersenyum kecut. Gadis yang tak bisa berbohong mencoba untuk menipunya. Kebohongan pertama yang gadis itu lakukan. Pria tampan itu mengecup tangannya dan gadis itu reflek mengatakan semuanya.


“Ardi, apa yang kamu lakukan?” pria tampan itu mengetahui dengan jelas kelemahan Dista.


“Iya, kamu tahu kalau aku sedang berbohong. Aku ke bioskop bukan sama Maya tapi sama anak sekolah kita. Kamu puas!”


“Bang Dion?” tebak Ardian, karena setahu siswa populer itu hanya Dion yang mati-matian menunjukan ketertarikan padanya. “Dion anak IPS kan?”


“udah deh, kamu nggak perlu tahu urusan aku. kamu sudah punya gadis lain kan, bahkan terang-terangan berbuat seperti itu (berciuman) di depan aku. Aku bingung mencari mu tapi kamu ma-...”


Ardian menarik tengkuk gadis itu yang terlalu banyak bicara. perasaan kesal ditambah cemburu, belum lagi penjelasannya yang tidak diterima, malah mengatakan hal-hal yang membuatnya semakin dongkol. Meskipun perbuatannya nekat, Ardian tak bisa lagi menahannya. Dista benar-benar membuatnya gila dengan mengatakan pergi dengan kakak kelasnya.


Mana film yang di tonton kisah romantis lagi. Ardian menjadi membayangkan hal-hal seperti itu terjadi kepada Dista. Sedikit memaksakan ciumannya, Ardian memastikan jika gadis itu tak melakukannya dengan pria lain. kedua tangan Dista Ia tahan yang terus mendorong dada bidangnya.


Di menit kedua tak ada perlawanan, pria itu semakin menguasai teritorialnya. Biarlah, sebutan mantan hanya julukan saja. tetapi hati gadis yang Ia hadapi sekarang ini masih menjadi miliknya. Buktinya, di menit berikutnya Ardian mendapatkan respon yang Ia nanti-nantikan. Bahkan lengan gadis itu pun mengerat pada punggungnya.


Berani sekali bocah satu ini. Di rumah kepala sekolahnya. Ardian mendorong perlahan gadis itu hingga terbaring di sofa. Melihat Dista keluar dengan pria lain dengan rok minim seperti itu, Ia ingin memberinya sedikit pelajaran.


Perlahan jarinya menyentuh kulit halus itu hingga merayap naik. Gadis itu menahan sengatan listrik saat jari-jari panjang Ardian menyusuri perutnya. hingga tak sadar Dista membusungkan dadanya.


“Di, jangan...”


Ardian mengangguk saat tatapan mereka bertemu. Saat tangannya sudah berhasil menelusup masuk ke dalam kemejanya. Juga saat menyentuh dan sedikit memberikan remasan pada gundukan kenyal di sana yang membuatnya gemas.


“Ehm...” Gadis itu memejamkan matanya. Namun seketika keduanya tersadar dan merapikan dirinya menenggak minuman yang ada di meja secara bersamaan.


“Besok lagi, kalau keluar jangan pernah pakai pakaian begini lagi, mengerti!”


Dista hanya tertawa kecil. Dan mengiyakan. Ardian tak membahas lagi apapun, Ia hanya akan menjalani saja apa yang ada di depannya. Selama masih bisa menemui gadis itu, baginya sudah cukup.


“Aku pulang dulu Beb, sampaikan salam sama Papa kamu ya!” Lagi-lagi Ardian tak mau kehilangan momen manis malam minggu nya.


Kecupan hangat itu mendarat di kening Dista. Sebelum Ia pulang Ardian mengirimkan pesan, bahwa seluruh aplikasi kencannya sudah Ia non aktifkan dan sudah di hapus dari ponselnya. Sebelum bertambah banyak masalah yang ditimbulkan.


...


Sesampainya di rumah, Ardian hanya bertemu dengan Abangnya. Karena yang lain telah masuk ke kamarnya. Vicky yang sedang menonton acara televisi, melihat adiknya baru saja pulang.


“Dari mana dek!”


“Haha... Dari rumah Boy,” balas Ardian. “Bang, Memangnya Bang Dion udah punya pacar?”


“Setahu gue sih doi naksir cewek. Kenapa tiba-tiba tanya soal Dion?”


...