Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 11. Salah Sangka



Di sekolah Ardian menghampiri Boy yang tengah duduk di kantin. Tak biasanya bocah jangkung itu meninggalkannya. Ardian sudah pasti bisa menebak, jika sahabatnya belum sarapan dari rumah.


“Woy, mikirin apa Bro? sombong amat, gue ditinggal!” sapa Ardian yang mengejutkan Boy.


“Wah Lo bro, gue belum sempat sarapan tadi, jadi buru-buru ke kantin dan nggak sempat kasih tau Lo!” dengan tas punggung yang masih di gendong, keduanya menunggu bel tanda masuk.


Semua para siswi tak berhenti mengagumi wajah tampan Ardian. Mereka berandai-andai, bagaimana caranya bisa menjadi seseorang yang dekat dengan siswa populer itu.


“Nih, buat Lo!”


Ardian meletakan sebuah kotak berukuran sedang di atas meja kayu. Boy yang sedang makan pun terkejut. Tak menyangka jika Ardian bisa se romantis ini.


“Hah! nggak salah gue? ada angin apa Lo Bro?” Boy membuka kotaknya, dan matanya pun nyaris keluar. Ia tak percaya jika Ardian memberikannya sebuah hadiah yang cukup mahal. Boy menempelkan punggung tangannya ke kening Ardian, dan mereka berdua tertawa.


“Anget! Lo lagi kesambet Dewa Asmara atau gimana? Habis kencan gue langsung dapat hadiah, mana mahal lagi.” imbuh Boy.


Ardian tersenyum menadapati reaksi Boy, tetapi ada benarnya juga. sepertinya efek jatuh cinta memang seperti ini. Siswa populer itu tak peduli, dari mana ia mendapatkanya. Hanya ada sebuah pesan tanpa nama yang tersemat di atas kotak itu.


“Kok lo tahu sepatu ini harganya mahal?” tanya Ardian, meski begitu hadiah yang sudah diberikan tak mungkin akan ditarik kembali.


“Tahu dong, gue kan pecinta barang mahal.” Canda Boy.


Bocah tampan itu tak memberitahu sahabatnya, jika ukuran sepatu itu tak sesuai dengannya. Ketika dicoba oleh Boy, sepertinya memang berjodoh, karena pas di kakinya.


“Kan, makin keren lo Boy! Coba besok Lo pakai pas tanding basket, Oke!” pinta Ardian, dan Boy dengan senang hati menyanggupinya.


Mereka berdua kembali ke kelas setelah Boy menyelesaikan sarapan. Ardian mengatakan jika dirinya dan Dista akan melakukan kencan berikutnya. Kali ini gadis itu yang mengajaknya lebih dulu, bahkan Ardian tak pernah membayangkan jika gadis itu berinisiatif.


Mungkin benar, gadis itu kesepian dan menganggap dirinya adalah seorang teman yang baik yang ia butuhkan. Tak henti-hentinya Ardian membuat hati Boy merasa iri, karena telah memiliki pacar, dan membayangkan wajah mupeng Boy, Ardian hanya tertawa.


“Lo beruntung Di, lahir dengan wajah sempurna, otak cerdas punya keluarga yang hangat di tambah punya cewek spek bidadari lagi, hah! kapan gue bisa dapat salah satu dari semua yang Lo punya!” Boy berkeluh kesah, sedangkan Ardian mendengarkan sambil berbalas chat dengan Dista.


Boy tak sengaja melihat foto mereka berdua, sepertinya Boy pernah melihatnya. Tapi dimana, pikir bocah jangkung berlesung pipi itu.


“Tunggu Di, kayaknya nggak asing deh itu cewek Lo,” sanggah Boy.


“Lo lihat dimana? Tempat lomba? Emang iya itu crush yang gue kejar, dan ternyata alam menyatukan kita berdua, haha ...,” canda siswa populer itu.


Keesokan harinya, Ardian dan team tengah bersiap di lapangan. Mereka melakukan pemanasan.


Boy, William, Beni dan Rico terkejut saat melihat Ardian datang dengan seorang gadis yang membuat mulut mereka menganga lebar.


"Woowww ...." ucap mereka serempak.


“Gila! siapa itu cewek? bening banget!” ujar Beni dan William, sedangkan Rico masih mematung tak berkedip. Ardian memintanya untuk mendukungnya melawan sekolah lain hari ini. mengenakan kemaja slim fit berwarna putih dan rok denim diatas lutut, membuat semua perhatian siswa laki-laki tertuju ke arahnya.


“Oke! kamu yang semangat ya Di! Nanti kalau menang, aku kasih hadiah deh, gimana?” goda gadis itu. Ardian hanya tersenyum, hatinya berbunga-bunga melihat Dista mendukungnya sepenuh hati.


Ia semakin tak sabar, setelah pertandingan ini mereka berdua akan pergi ke sbuah tempat wisata yang cukup sejuk di daerah Bogor.


Suara peluit tanda pertandingan akan dimulai, Ardian memberikan kiss bye untuk gadis itu. membuat semua para siswi yang memandangnya berteriak histeris. Dista duduk berada di barisan sekolah lawan. Sepuluh menit pertandingan berjalan, Dua orang siswi dengan kaca mata duduk di depan Dista.


Ardian yang terus menatap kekasihnya, melemparkan senyum. Dista pun membalasnya dengan sebuah lambaian tangan, namun teriakan dua orang siswi di depannya membuatnya tak bisa mendengar apapun.


“Aaaaa.... Dia dadah-dadah sama gue!” teriak siswi dari sekolah lawan. Ya, dia adalah Vania bersama Maya. Dua siswi cupu yang sengaja bolos sekolah demi bisa menyaksikan cowok idamannya. Maya mengguncang-guncang tubuh Vania tak percaya, jika ucapannya adalah benar.


“Gila Lo Van, jadian juga lo sama cowok populer itu? wah, ternyata masih ada ya cowok yang nggak memandang fisik.” Maya pun jadi membayangkan hal serupa, jika Vania saja bisa mendapatkan cowok idola sekolah, dirinya pun pasti juga bisa.


Maya menatap sosok tinggi berlesung pipi yang sedang melakukan slam dunk. Mereka berdua bukannya mendukung sekolahnya malah mendukung sekolah Ardian. Setiap team Ardian mencetak poin, kedua gadis itu bersorak layaknya cheerleaders, membuat Dista tertawa.


“Semangat!” teriak Vania, sembari melambaikan tangan ke arah Ardian. Namun malah tatapan aneh dari yang lain, begitu juga dari sekolah gadis itu.


Ardian dan team terus mencetak poin, semangat cowok-cowok tampan itu bertambah berkali lipat, saat Dista memberikan tepuk tangan. Bahkan Boy juga ikut menikmati senyum gadis berparas ayu itu.


“Bro, Cewek Lo bikin kita semangat, thanks ya udah di bawa kemari!” ucap Rico yang dibenarkan oleh Boy dan juga Beni.


“Yo’i Bro, nanti hadiahnya kita apakan nih? Kan lumayan duitnya.” kata Ardian. Saat terjeda beberapa menit untuk beristirahat, Ardian yang terkenal dingin dan susah digapai oleh siswi di sekolahnya, melemparkan love sign ke arah gadis ayu yang duduk di bangku penonton.


Seketika suasana lapangan menjadi heboh lantaran Vania, menari jingkrak-jingkrak diatas bangkunya. Maya pun ikut berdesir melihat kenyataan yang ada, dan terus mendukung impian sahabatnya itu.


“Woy, turun Lo! Malu-maluin sekolah kita aja. Heh Cupu, kalian berdua nutupin kita semua yang lagi nonton pertandingan basket, bukan mau nonton lo lawak di sini!” berbagai cacian dan makian tak lagi Vania hiraukan, selama Ardian menatapnya, semua hanyalah angin lalu.


Hahaha...


Terdengar suara tawa dari sekolah Ardian. Di saat team sekolah lawan kalah, pendukungnya malah melakukan selebrasi. Begitu juga dengan Boy, yang sangat kenal dengan tampilan si cupu Vania.


“Bro, kayaknya itu cewe culun yang ikut lomba, naksir sama Lo deh!” ucap Boy, dan Ardian berkata dirinya hanya milik gadis cantik itu, bukan untuk yang lain


“Buat Lo aja Boy, katanya Lo mau punya cewek, hah! Haha...” ledek Ardian


Priiittttt!!!


Suara peluit tanda pertandingan berakhir, yang sudah pasti dimenangkan oleh SMA 10, sekolah Ardian dan teamnya. Semua mengucapkan selamat. Saat semua telah meninggalkan lapanga, Ardian dan ke empat temannya menghampiri bangku pentonton di sisi lawan.


“Van, Van, jantung gue berdebar! Itu kenapa mereka semua yang ganteng-ganteng pada kemari, Aduh, gue belum siap, Van! Gue mau pingsan.” cerocos Maya panjang lebar. Vania pun juga membatu, netraya juga tak berkedip manatap Ardian yang terus melangkah ke arahnya. Saat sudah dalam jangkauan, Vania berdiri.


“Ha- Haaii...” sapa Vania tergagap.


Arah tangan Ardian terulur, tapi bukan untuk gadis cupu bin culun itu, melainkan untuk gadis yang kini tengah berdiri dan turun dari bangku penonton.


“Makasih ya sayang, kamu sudah kasih aku dan team ku semangat!” bisik Ardian di telinga Dista. Seketika Vania dan Maya menoleh ke belakang, menatap sosok gadis yang bagai langit dan bumi dengan mereka berdua.


Dista memberikan beberapa botol air minum untuk kelima cowok itu. Dista yang di gandeng mesra oleh Ardian di hadapan banyak pasang mata, membuat hati seorang gadis lain hancur. Saat melihat sepatu yang Ardian kenakan bukan berasal darinya, gadis itu mulai menyadari jika ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan.


“Yah, Van! Berarti sejak tadi kita ...,” potong Maya, sambil menutup mata dan mulutnya.


...