
Memasuki hotel berkelas, Agung menjadi penasaran. Bagaimana mungkin Vania bisa mempunyai akses untuk menginap, sedangkan dirinya belum mempunyai kartu identitas. Sudah berapa lama anak gadisnya seperti ini? apakah Vania hanya sendirian saja? rasanya tidak mungkin.
Namun, semakin dipikirkan Ia menjadi takut kalau Vania terjerumus pergaulan bebas. Mengingat Jakarta yang tak memiliki jam tidur.
“Selamat sore, Kami keluarga dari gadis ini ingin membawanya pulang.” sapa Agung kepada manager hotel. Mendengar suara familier, gadis manis itu pun lantas menoleh.
“Papa, Veli!” pekik Vania.
“Selamat sore Pak, baik Pak saran saya untuk anak yang belum memiliki tanda pengenal mohon untuk tidak dibiarkan ke tempat-tempat seperti hotel, fitness centre, dan lain-lain tanpa pengawasan, yang menjadi kekhawatiran semua orang tua adalah jika terjadi apa-apa, itu saja.” Agung mengiyakan karena semua ucapan pria itu benar.
“Nak, kamu kan seorang pelajar tugasnya belajar jangan membuat orang tuamu khawatir, mengerti kan!” pesan manager yang begitu bijak mengunggah hati Agung. Selama ini Ia hanya bekerja, kurang memberikan pengawasan kepada kedua anak gadisnya.
Pihak hotel pun tak menyulitkan mereka, hanya saja Vania diminta untuk meminta maaf kepada petugas hotel itu, yang hampir kehilangan pekerjaannya akibat tindakan impulsifnya. Sebagai tanda permintaan maaf, Agung memberikan sejumlah uang atas nama Vania.
“Mas, tolong diterima. Anak saya memang merepotkan, tolong jangan dimasukan ke dalam hati.”
“Tapi Pak...?”
...
Agung, Vania dan Veli ketiganya berjalan kaki menyusuri trotoar ibukota. Sesekali mereka tertawa karena Agung mengingatkan hal-hal kecil dua anak gadisnya. Hal yang tak pernah sosok ayah lakukan ketika anak gadisnya menginjak remaja.
“Van, Van, sok-sokan kabur bawa koper tapi naik taksi mau ngutang! Malu-maluin Papa kamu!”
“Vania minta maaf Pa, janji nggak akan kabur-kaburan lagi. Kak Veli, Lo masih marah sama Gue?”
“Menurut Lo?”
“Heh—heh malah berantem! gimana kalau kita makan es krim?”
“Wah, mau—mau!”
Pria kulit putih dengan kumis tipis itu ingin meminta penjelasan kepada kedua anak gadisnya. Kenakalan apa saja yang pernah mereka lakukan. Tentu saja hal ini dijadikan batu loncatan besar si cupu Vania untuk memenangkan taruhan itu.
Lantas Vania menceritakan setiap kronologi memalukan itu. membuat Veli dan Papanya menertawakannya.
“Kamu serius sampai kecebur selokan?”
“Cowok itu nggak salah, kamunya aja yang maksa! Ya sudah, besok biar Papa saja yang datang ke rumah bu Imas untuk meminta maaf atas perbuatan Mama kamu itu.”
“Papa janji, hanya karena hal itu Mama kamu nggak mau minta maaf, anak gadis Papa harus pergi dari rumah. Eh, memangnya cowoknya ganteng? Kamu sampai rela kecebur selokan?”
Merasa kesal dengan perbuatan Anne, Pria dua anak itu memutuskan untuk kembali pada malam hari. Mereka bertiga berkeliling ibukota sekedar membuang rasa sesak yang menyelimuti hati Agung. Masih ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam pikirannya.
“Van?”
“Iya Pa?”
“Coba tebak, harga satu kamar yang kamu tinggali tadi berapa?”
“Berapa ya? bagus banget sih gila! Vania aja sampai betah di sana, ya... satu sampai dua juta lah Pa!” tiba-tiba Veli menepuk bahu adiknya dan menunjukkan harga sewa tipe kamarnya. Seketika tubuh Vania pun lemas.
“Kenapa Van?”
“Benarkah semahal itu Pa?”
“Benar, Papa mau bertanya siapa teman kamu yang membayar tagihan itu?”
Vania tak ingin Aldo terbawa dalam masalah keluarganya. mereka berdua telah sepakat untuk tidak saling menuntut. Mahasiswa tampan itu juga telah banyak membantunya, sampai jauh-jauh datang ke Jakarta.
“ehm...”
“Teman Vania Pa, dari Surabaya.” Vania menarik napas dalam karena Papanya tak lagi banyak bertanya tentang siapa pria itu.
“Tapi kalian nggak satu kamar kan?”
“Nggak Pa!”
“Awas ya ketahuan bohong, Papa akan cari teman kamu itu!”
Lantas mereka bertiga pun kembali ke rumah dengan perasaan yang jauh lebih baik. hubungan kakak beradik itu juga kembali rukun. Anne mendengar suara mobil suaminya terparkir di garasi. setelah sempat mengintip di jendela, Anne pun segera berlari menuju ke kamarnya. Namun sampai satu jam menunggu, nyatanya Agung tak kunjung masuk ke kamar.
“Kemana Papa?”
...