
Keributan dalam ruangan Vania dirawat semakin menambah kericuhan. Saat perlahan ingatan Vania kembali pulih. Meskipun Vania ingin membalas sakit hatinya kepada lawan mainnya dalam kejuaraan cerdas cermat waktu itu. Bukan berarti Ia harus melakukan hal di luar kemanusiaan.
Veli mulai mengakses siapa pria yang bernama Aldo dalam situs sosial media. Ternyata tak mudah jika tak memiliki petunjuk. Hal yang mengejutkan pun terjadi. Dalam situs kencan online memang di temukan banyak pria bernama Aldo, namun yang lebih mengejutkan lagi identitas Ardian juga terbongkar.
“Ardian...?” Vania menutup mulutnya. Yang menggemari pria idamannya sangat banyak. Tetapi jumlah gadis yang bisa berkencan dengannya hanya beberapa saja. sosok Ardian dan Aldo bagai pinang dibelah dua. Hanya saja Ardian berada di Jakarta, dan Aldo di Surabaya. Serupa tapi tak sama, Vania jatuh ada pesona pria tampan itu.
Aldo adalah anak tunggal dari seorang perwira berpangkat tinggi, selain tampan dan kaya pria itu juga memiliki latar belakang keluarga berpengaruh. Menempuh pendidikan di universitas swasta di Surabaya. Kegiatan pria tampan itu hanya bersenang-senang. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Ardian.
“Lo udah lihat kan Van, kalau cowok tengil yang Lo taksir juga sama bejatnya dengan Aldo itu. jadi apa salahnya jika menjatuhkan tuduhan itu kepadanya dengan dasar bukti ini!” tutur Veli tanpa dosa. Vania tak ingin melakukan hal itu. sejahat-jahatnya pikiran dia, Vania memiliki rencana lain yang tak diketahui siapapun.
“Kalau kalian memang ingin mencari keadilan buat Gue, bawa si pelaku! Bukan memfitnah orang lain. bagaimanapun Vania menyukai Ardian, dan tak ingin dia masuk penjara.
“Lo bego ya! capek gue ngomong sama Lo!” Veli membanting pintu dan pergi meninggalkan ruangan. Dengan sengaja menabrak beberapa pengunjung yang melintas di lorong.
Tersisa si cupu Vania yang mencoba mengakses kembali akunnya. Setelah berhasil masuk, Ia melihat sosok Aldo yang juga sedang berada di room chat. Vania mencoba menyapanya.
Vania
[Aldo...]
Aldo
[Siapa ya?]
Vania
[Gue Veli, boleh kenalan?]
Vania tak menyangka jika Aldo tak mengenalinya, atau karena Veli telah menghapus aplikasi itu. Membuat pria tampan dengan banyak asesoris di anggota tubuhnya tak menyadarinya.
Akhirnya Vania menggunakan identitas kakaknya untuk menemui Ardian KW lagi. Selagi Mama dan kakaknya berada di sini, gadis cupu itu bisa memanfaatkannya. Vania mulai memasang foto Veli yang cantik. dan seperti dugaannya, buaya mulai memakan umpan dan masuk ke perangkap.
Aldo
[Oh, tentu saja cantik. Tapi bisa “main” kan?]
Vania yang tak tahu apa-apa pun langsung mengiyakan, sama seperti kesalahan yang Ia lakukan sebelumnya. Bodohnya Veli yang menghapus chat dari Aldo yang bisa dijadikan barang bukti. Kali ini Veli harus menjadi umpan, untuk semua kebodohannya.
Vania
[Tentu, tempat kamu yang atur oke!]
Setelah berbalas pesan, Vania meninggalkan room chat dari aplikasi mechat. Gadis itu ingin menemui dokter yang menanganinya. Karena Vania terus diliputi kegelisahan dan rasa haus yang berlebihan. Pucuk dicinta ulam tiba, sosok yang paling Ia nantikan muncul dari balik pintu.
“Halo Vania!” sapa dokter. Wanita dengan stetoskop itu memeriksa tekanan darah juga aliran cairan dalam botol infusnya. “Setelah melihat hasil lab, kondisi kamu bisa dikatakan cukup baik.”
“Dokter, selagi nggak ada Mama, saya mau menanyakan tentang bagaimana ceritanya saya bisa berada di sini.”
Karena keluarga Vania tak ada yang menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya. gadis manis itu memberanikan diri akibat rasa penasarannya.
Sang dokter turut prihatin dengan kejadian yang menimpa siswi SMA itu. Tangannya menggengam erat jemari Vania untuk mensupportnya. Dengan engatur napas perlahan, dokter pun tak bisa memberitahukan kondisi Vania secara detail, mengingat pasien masih berusia 16 tahun.
Meskipun tak secara gamblang, dokter menjelaskan bahwa di dalam tubuh Vania terdapat cairan yang berasal dari obat keras yang membuatnya kehilangan kesadaran. Beruntungnya dosisnya tidak terlalu besar. Meskipun, penangangan Vania sedikit terlambat karena telah ditemukan beberapa jam setelahnya.
Melihat Vania menitikan air mata, wanita yang berprofesi sebagai tenaga medis itu memeluknya.
“Jika masih ada keluhan yang kamu rasakan atau kamu malu untuk bercerita, kamu bisa menghubungi dokter setempat di tempat tinggalmu, atau bisa kembali menemui saya ya!” pesan dokter itu panjang lebar.
Vania terhenyak. Tubuhnya terasa lemas, Ia mulai menyadari jika ada yang salah dengan dirinya. ‘Apa yang sudah Gue lakukan ya Tuhan? Apa ini ada hubungannya dengan pertemuan waktu itu dengan Aldo?’
Ternyata dendamnya membawa petaka untuk dirinya sendiri. Seakan mencari pengakuan, Vania ingin dicintai, layak dipuji dan mendapatkan perhatian banyak orang, nyatanya malah berdampak buruk yang nodanya bahkan tak bisa terhapus sampai kapanpun.
Vania pergi menjambak rambutnya frustrasi. Ia meminta kepada Mamanya untuk di rawat di rumah. Akan tetapi reaksi Anne justru sebaliknya.
“Vania, kita bisa pulang nanti malam. Dokter sudah memberikan obat dan juga alamat prakteknya di rumah. Kamu tetap bisa mendapatkan perawatan meski di rumah.”
Vania kembali ke rumah neneknya. Gadis itu meminta Veli untuk bekerja sama dengannya, jika tak percaya dengan ucapannya. Sayangnya Vania belum di izinkan untuk keluar rumah. Akhirnya Vania menunda rencananya menjadi dua hari kemudian.
Di sebuah Apartment mewah, Aldo tengah berpesta dengan ketiga kawannya. Membahas tentang gadis lugu tempo hari. Ternyata pemilik apartment Aldo juga salah satu komplotan dari mereka.
“Gue dapat target baru, Lo mau coba?” Aldo menyalakan sebatang rokok sembari berdiri di balkon. Mengepulkan asap penuh kemenangan.
“Masih fresh nggak Do?”
Hahaha... “Jangan salah, yang kemarin benar-benar masih segel. Anak Jakarta coy, Lo pasti nyesel karena nggak ikut gue party malam itu.” ucap mahasiswa yang mengaku sebagai anak SMA saat berkenalan.
“Besok, kita mau kopi darat, Lo stand by aja di sini! Nanti kita nikmatin rame-rame bagaimana?”
“Yang ini lebih menggoda, wajahnya liar dan sepertinya berpengalaman. Sayang kalau dilewatkan. Namanya Veli.”
“Cakep-cakep kenalan Lo! ada kontaknya?”
Aldo pun memberikan kontak Veli kepada temannya. Dan untuk menggunakan foto Aldo untuk membawa gadis itu keluar. Pergaulan di kota-kota besar seperti Surabaya memang sangat meresahkan untuk gadis remaja akhir-akhir ini.
Bagi Veli dan Vania yang merupakan anak rumahan, masih terasa awam. Terlebih tak pernah memiliki circle pertemanan seperti anak nakal seperti Aldo. Percakapan pria yang mengaku sebagai Aldo, berhasil memancing Veli untuk ketemuan. Vania pun mulai menjalankan rencananya.
Meminta izin untuk makan di luar, mereka berdua diizinkan. Selama Vania tidak sendirian Anne dan Rumi tidak masalah. Masalahnya adalah mereka berdua akan menghadapi hal serupa, tanpa memberitahukan kepada kedua orang tuanya terebih dahulu.
“Kak, kenapa perasaan gue jadi takut ya!” ungkap Vania tiba-tiba.
Veli pun merasakan hal serupa, hanya saja tak ingin menunjukkan hal itu di depan adiknya. Ia ingin menangkap pria itu sendiri. dengan bukti yang akan segera Veli kantongi.
“Kak Veli, ponselmu harus aktif terus ya! jangan mau diberi minuman apapun, Oke!”
“Oke!”
Veli memasuki kafe dengan penerangan minim membuatnya berdecak sebal. ‘Sial! Gimana gue bisa mengenali cowok itu kalau gelap begini.’ Di tengah kebingungannya dua orang pria tinggi dan keren membawa Veli duduk ke tempat yang sudah mereka pesan untuk kopi darat.
“Hai, Veli ...” sapa salah satu pria itu.
‘Sial, dia bukan Aldo atau bocah tengil itu. lantas siapa mereka?’ sedangkan Aldo menghampiri gadis yang tengah berdiri seorang diri di depan pintu masuk.
“Halo sayang! kita bertemu lagi. Aku ada sesuatu yang pasti kamu ingin lihat, ayo ikut aku!”
...