Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 31. Bagai Pinang Dibelah Dua



Grab! Sebuah tangan menahan perut rata milik gadis berkemeja pink dengan skinny jins biru laut. Rambutnya terurai dengan bandana senada warna jins nya. ‘Cantik’ yang ada dalam pikiran pria itu. Gadis itu terkejut saat menatap pria itu.


“Eh siapa kamu?” tapi dalam hatinya berkata lain. Dista melihat pria yang nyaris menyerupai kekasihnya. hanya saja potongan rambut dan aksesoris yang melekat di tubuhnya yang membedakan. Ardian bocah tampan dengan tampilan sederhana.


“Sorry, Aku nggak sengaja menabrak mu tadi.” Gadis itu mengurai tangan pria itu yang di tertawai kedua temannya. gadis itu beranjak pergi. namun, tak tahu di mana Ardian berada. Berulang kali pria itu tersenyum melihat gadis di depannya kebingungan menanti seseorang.


“kamu lagi nungguin seseorang?”


“Iya, kamu ngapain masih di sini!” merasa tak nyaman karena pria itu menyunggingkan senyumnya sembari menatap penampilannya, gadis itu mencoba menghubungi Ardian.


Melihat Dista gelisah, pria yang ternyata adalah Aldo tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Niat hati dirinya ingin menemui Vania tetapi malah bertemu dengan gadis cantik lainnya ditengah lautan manusia.


“Ya Aku Cuma mau jagain kamu aja sampai teman kamu datang. nggak lihat di sini banyak orang, nanti kalau ada apa-apa sama kamu gimana?”



Dista panik, dan segera menghubungi kekasihnya.


Dista


[Halo Yang! lama banget sih, kamu dimana?]


Ardian


[Iya, Ini udah kok. Sabar ya, sebentar lagi Aku jalan kesana!]


Suara gadis itu yang hampir menangis membuat Ardian khawatir. Kenapa tadi tak ikut saja dengannya. Malah harus bertemu dengan pria aneh yang mirip dengan Ardian. Aldo masih mengikuti Dista. Sampai gadis lemah lembut itu harus memarahi Aldo karena membuatnya merasa tak nyaman.


“Please, jangan ganggu Aku! sebentar lagi pacarku datang. jadi ...” gadis itu menoleh saat suara derap kaki seorang pria berlari ke arahnya dan menyenggol gadis itu. Hingga terdorong membentur dada bidang Aldo cukup keras. Aldo pun dengan sigap menangkapnya.


“Sakit ya!” Aldo mengusap kening gadis itu, namun ditepis oleh Dista. “Kan, Aku bilang juga apa! Pacarmu tega banget biarin kamu sendirian di tempat begini!” bisik Aldo menunduk melihat gadis berpipi putih mulus itu yang tingginya hanya sebatas hidungnya. Bukannya melepaskan, pria itu justru mengeluarkan rayuan mautnya.


“Lepasin nggak!” Dista mendorong bahu kokoh itu dengan semua usahanya. Semakin mencoba melepaskan diri justru membuat Aldo tertawa.


“Coba kalau bisa! Kamu tahu nggak sih, kamu itu lucu kalau lagi marah. Wah kalau begini jadi makin betah tinggal di Jakarta.” goda pria itu. Sampai Dista menginjak kaki Aldo cukup keras. Mereka berdua tak menyadari jika seseorang datang dengan tatapan cemburu yang dalam.


“Lepasin pacar gue!” keduanya pun menoleh ke sumber suara.


“Jadi Lo pria yang ada di internet itu? Yang bikin masalah buat Gue!” Ardian mencengkeram kerah jaket kulit itu dan menatapnya nyalang. “Pria brengsek kayak Lo nggak seharusnya berkeliaran di sini! Apalagi Lo baru saja menyentuh cewek Gue! jauhkan pikiran kotor mu dari dia, Gue nggak suka itu!” hardik bocah SMA itu. baru kali ini Dista melihat Ardian marah begitu menyeramkan.


“Udah Yang, kita pulang aja ya!” Dista memisahkan Ardian dan memintanya untuk menjauh dari pria nakal itu. mereka bertiga kini menjadi tontonan orang-orang di sana. Kedua teman Aldo pun melihat dua pria dengan wajah serupa hanya menganga saking kagumnya.


“Gila sih, ada ya cowok gantengnya sama persis kayak mereka. Gue pikir Aldo udah yang paling ganteng, ternyata ada yang sama.”


“Hm, Aldo berasa ketemu adiknya nggak sih, bedanya lebih kalem dan dingin haha...”


Ardian melepaskan pria itu dan mendorongnya menjauh darinya. Beralih kepada kekasihnya yang tampak berkaca-kaca setelah melihat kedatangannya. “Beb, kamu nggak di apa-apain sama cowok brengsek itu kan?” Ardian memeriksa pipi gadis itu ke kiri dan kanan dan berganti memutar tubuhnya.


“Nggak Yang, Ayo kita pulang!” Aldo menatap kepergian sepasang kekasih itu. Pria yang sama yang disukai oleh Vania. Saat malam itu, Vania terus menyebutkan nama Ardian hingga Aldo menjadi penasaran dengannya. Dan Tuhan mengizinkan mereka berdua untuk bertemu secara tidak sengaja di tengah ribuan manusia.


“Nggak jadi nonton? Nanti marah lagi sama Aku karena batal nonton konser.” tanya Ardian yang masih kesal.


“Nggak sayang, kita pergi aja dari sini! Aku nggak sangka kalau kita akan ketemu sama pria itu!”


“Kamu percayakan, kalau bukan Aku pelakunya. tinggal meminta keluarga gadis itu untuk membersihkan namaku di depan Ibu. Yang lainnya aku sudah nggak peduli.”


“Hmm, kamu yang sabar ya!” cukup dengan gadis ini saja Ardian bisa merasa amarahnya luluh seketika. Mereka berdua pun meninggalkan jalanan Sudirman.


...


Vania berada di kamarnya. Tiba-tiba mendapatkan pesan dari nomor asing. Mengatakan jika Ia akan mengunjunginya dalam waktu dekat. Vania tak yakin, jika nomor itu berasal dari pria yang sama yang mengancamnya waktu itu. Vania tak ingin menggubrisnya.


Akibat ancamannya kemarin, Anne memutuskan untuk tidak memperpanjang kasusnya. Tetapi Ia tak bisa melanjutkan sekolahnya selama beberapa waktu. Anne tak memiliki rasa bersalah, karena telah menuduh anak Imas sebagai pelakunya. Meskipun Vania sudah mengatakannya berulang kali, Anne tetap tidak peduli.


Aldo


[Aku ada di Jakarta, ingin menemui mu kapan kita bisa bertemu?]


Pesan yang sudah dua hari yang lalu yang belum Vania balas hingga sekarang, Ia takut melakukan kesalahan yang sama. Bertanya kepada Veli juga bukan keputusan yang tepat.


‘Apa yang harus gue lakukan! Untuk apa dia datang kemari?’


...