Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 22. Mirip Ardian



Malam menjadi begitu panjang saat Ardian tak bisa melakukan apapun. Jika itu sore hari, pasti Ia akan segera menyambangi rumah Dista. Kekasihnya telah memutuskan hubungan secara sepihak.


Ardian juga menyadari jika mereka berdua sama-sama sibuk. Bedanya Dista sibuk dengan kegiatan di sekolahnya dan Ardian sibuk dengan aktivitasnya sebagai kekasih bayaran dalam aplikasi online.


Meskipun begitu hasilnya pun tak main-main, semuanya Ardian lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dan juga bisa Ia gunakan untuk mengahabiskan waktu bersama kekasihnya tanpa harus meminta kepada kedua orang tua.


Ardian pria tampan yang lahir dalam keluarga sederhana. Ia dan Abangnya adalah anak yang mandiri dengan mencari penghasilan tambahan di sela-sela kegiatan sekolahnya. Meski begitu keduanya adalah pelajar berprestasi di sekolah.


Hal yang sangat membanggakan bagi kedua orang tuanya juga adiknya. Di samping itu keduanya juga tak malu untuk membantu ibunya berdagang. Tidak heran jika kedua putra Imas dan Panji menjadi rebutan banyak para tetangga untuk dijodoh-jodohkan dengan anak mereka.


Ardian


[Sayang, bercandamu nggak lucu ah! Ini sudah malam, Aku tak mungkin ke rumahmu sekarang. Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu? Apa kamu nggak kangen sama Aku?]


Dista


[Oke, banyak hal juga yang perlu Aku sampaikan Yang, dan nggak bisa dijelaskan lewat pesan. Kangen banget, tapi kamunya yang nggak peka. Sekarang kamu istirahat ya! Aku masih harus belajar untuk ulangan besok pagi]


Nyatanya sampai larut Ardian tetap tak bisa tidur. Ia membuka galeri hapenya yang berisi foto manis mereka berdua. saat mereka mulai memutuskan menjalin hubungan untuk pertama kalinya. Berulang kali diusap gambar gadis berparas ayu itu. “Aku nggak mau kita putus Yang!”


Distanika Fadila, adalah gadis pertama dalam sejarah yang menjadi kekasihnya. Entah sihir apa yang begitu kuat, hingga dapat meluruhkan pertahanan Ardian. Tapi kini semua menjadi rumit, saat Dista ingin mengakhiri hubungannya.


Di sekolah, Ardian tampak murung tak seperti biasanya. Boy pun merasa aneh dengan perubahan sikapnya. Yang menjadi lebih pendiam dari biasanya.


Akhir-akhir ini Ardian tak punya waktu untuk berlatih basket, pergi ke perpustakaan atau sekedar nongkrong dengan William dan Rico di kantin sekolah. Ardian begitu sibuk dengan urusannya sendiri. Setiap bel pulang berbunyi, Ardian menjadi yang pertama meninggalkan kelas. bahkan jejaknya pun tak bisa dilacak. Boy kesepian merasa ditinggalkan oleh sahabat baiknya.


“Bro, kenapa Lo? lagi ribut sama cewek Lo?”


“Dista minta putus Boy! Gue bingung, apa kesalahan Gue!” Boy melongo.


“hah! serius Lo? Lo apain dia Bro sampai minta putus, kenapa tiba-tiba begitu? Jangan-jangan Lo ketahuan ganti-ganti pacar lagi.”


Ardian mengedikkan bahu, Ia sendiri masih butuh penjelasan dari gadis yang Ia sukai. Tanpa sengaja Ia melihat seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Dista di kantin sekolah. Duduk dalam satu meja bersama kakak kelasnya yang paling populer yang salah satu diantaranya adalah Abangnya, Vicky.


“Di, bukannya itu cewek Lo ya? Jangan-jangan dia lagi yang jadi bahan gosip satu sekolah. Anak baru pindahan itu?” Boy mengucek matanya. Ia juga melihat Abang Ardian bersama tiga teman prianya di sana. “Mau Lo samperin?”


“Palingan itu cewek cuma mirip, dan nggak dapat tempat duduk, makanya duduk di sana. Lagian ada Abang Gue, nanti ditanya macam-macam lagi.”


Sepulang sekolah, Ardian menuju rumah gadis itu, dan mengajaknya keluar. Hanya dengan menatap wajahnya saja Ardian merasa lelahnya hilang. Dan pria itu mencoba bertanya, apa yang Dista rasakan saat ini.


“Yang, kenapa semalam kamu chat Aku seperti itu?”


“Di, Aku minta maaf banget. Bukan kamu yang salah. Tapi semua salahku, Aku yang udah izinin kamu masuk terlalu dalam. Kamu pasti tersiksa kan jadi pacarku.”


Merapikan anak rambut Dista yang berterbangan menutupi wajah ayunya. Ardian mengangkat dagu gadis itu, Ia tak pernah keberatan dengan sikap posesifnya.


“Aku belum pernah menyukai gadis seperti Aku menyukaimu, jadi jangan pernah berkata seperti itu. Aku tahu, mungkin ini terdengar seperti omong kosong, Tapi Aku nggak mau putus sama kamu Yang!”


Di sekolah Dista mendengar banyak siswi perempuan mengidam-idamkan sosok Ardian dan berharap bisa menjadi pacarnya. Namun siswa populer itu tak bisa disentuh. Terlalu dingin dan acuh. Dista bersorak dalam hatinya, ingin mengatakan jika Pacarnya bukan pria seperti yang mereka bicarakan.


Sampai suatu ketika ada seorang Siswi yang menunjukan sebuah foto seorang pria yang sangat mirip dengan Ardian. Sedang berada di sebuah kamar apartment bersama seorang gadis remaja tanpa busana. Tentu saja hal itu membuat Dista tak percaya.


Namun sekali lagi over thingkingnya membuatnya gelisah siang dan malam. Akhirnya Dista memutuskan Ardian melalui pesan singkat, tanpa menanyainya lebih dulu.


“Yang, kenapa kamu bengong? Kamu lagi mikirin apa sih?”


...


Gadis yang tengah di mabuk cinta, tak sadar dengan apa yang Ia lakukan. Setelah menenggak minuman pemberian Aldo, Vania menjadi sering tersenyum dan mengucapkan kata-kata tak masuk akal. Aldo tak membiarkan waktunya terbuang. Ia membawa gadis manis itu ke tempatnya yang tak jauh dari Astro Kafe.


Menggandeng tangan Vania memasuki mobil dan berhenti di sebuah bangunan tinggi yang mewah. Sesekali Aldo memberi kecupan manis di pipi gadis itu, dan Vania tak menolak. Sampai tiba di sebuah kamar berukuran cukup luas.


“Tunggu sebentar ya, Kamu bisa duduk dulu.” Vania menatap sekeliling. Langkahnya menuju ke sebuah jendela besar. Meski tubuhnya gelisah dan mulai mengeluarkan keringat dingin, gadis itu tetap tak curiga sama sekali. Dam mengira pria yang Ia temui adalah Ardian.


Sampai Ia mulai melepaskan tiap helai kain yang melekat di tubuhnya. ‘Haus banget, perasaan baru saja minum segelas air.’ Vania melepaskan sweaternya, dan mulai membuka beberapa anak kancing bajunya. Aldo yang melihatnya pun tersenyum kecil dan menghampirinya.


“Kenapa kamu hanya melepas luarnya saja? Sini Aku bantu!” Vania berdebar, namun tatapannya berubah menjadi sayu saat atasannya mulai terbuka sepenuhnya. Menyisakan bra berwarna pastel di kulitnya yang putih.


“Kenapa di sini panas sekali?” suara Vania mendayu, membuat Aldo semakin tak tahan untuk segera memberikan tanda merah di sana.


“Kamu cantik, Vania. Kamu harus jadi milikku malam ini!”


...