Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 41. Buat Onar



Tiga bersaudara dan semuanya laki-laki. Namun jarang sekali berkumpul bersama. Apalagi dua kakak beradik ini. Selisih Vicky dan Ardian hanya dua tahun dan keduanya tumbuh dengan cepat.


Ardian jarang bicara, tak seperti Abangnya yang mudah bergaul dengan siapa saja. Namun, keduanya sama-sama dingin terhadap lawan jenis. Baginya tak ada perempuan yang lebih mereka sayangi selain Imas, ibunya. Terlebih lagi Ardian dan Vicky memiliki Gavin yang memiliki karakter seperti anak perempuan, sudah cukup membuat mereka berdua sakit kepala setiap hari.


Obrolan mereka berjalan santai, sampai Vicky menanyakan hal yang membuat Ardian membeku. Entah dari mana Vicky mulai tertarik dengan hal-hal yang di luar kebiasaannya.


Ardian berusaha untuk tidak menebak hal itu. Ia khawatir, isi pikirannya sama dengan Vicky karena mereka berdua memiliki selera yang sama.


“Dek, Lo kenal sama ...?”


“Nggak Bang!” jawab Ardian cepat. Vicky menoleh ke arahnya dan melempar bantal kepada adiknya. Bahkan pertanyaannya belum selesai sudah main ceplos aja.


Haha... Keduanya tertawa.


“Sorry-sorry, siapa Bang yang Lo maksud?” Ardian semakin deg-degan. Berharap Vicky tak menyebutkan nama atau ciri-ciri dari mantan kekasihnya itu.


“Cewek yang kemarin Lo ajakin duduk di kantin, Lo kenal sama dia?” tanya Vicky dengan sedikit senyum di bibirnya.


Deg! Tepat sesuai tebakannya, karena selera mereka berdua itu sama. Belum lagi kenekatan Ardian waktu itu, yang sengaja menyapa Dista di depan Vicky. Tentu saja membuat pria dingin itu penasaran. Ardian mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Vicky.


“Nggak tahu, Gue ajakin dia duduk sama Gue, karena meja Lo penuh. Kasihan dia,” balas Ardian yang kemudian melarikan diri sebelum mendapat banyak pertanyaan dari Vicky.


Di kamar, Ardian berbalas pesan dengan sang mantan. Tetapi responnya tak secepat biasanya padahal statusnya sedang online. Di sisi lain, Vicky juga tengah tersenyum membaca pesan dari gadis itu.


Vicky


[Gimana? sampai rumah nggak kena marah kan? Udah jangan nangis lagi, soalnya gue nggak ada di sana!]


Dista


[Nggak telat kok, ya... lebih sedikit sih. But, it’s okay. Thanks ya Vicky, udah mau gue repotin.]


Vicky


[Udah tidur sana! Kalau ada apa-apa Lo bisa hubungi gue kapan aja!]


Mereka berdua pun mengakhiri obrolannya. Tak ingin banyak berpikir, hanya sesekali tersenyum kecil melihat kelakuan gadis itu. Berbeda dengan Vicky, Ardian yang masih melanjutkan berkirim pesan dengan Dista berguling-guling di atas tempat tidur. sesekali berkirim pesan suara, membuat keduanya tertawa di tengah malam.


Ardian


[Beb, udah malam? Kamu buruan tidur gih! Tapi aku boleh video call sebentar ya? Masih kangen nih.]


Dista


[Iya, ini udah siap-siap mau tidur. ya udah sebentar aja ya! kadang Papa suka ngecek kamar aku kalau belum mati lampunya!]


Ardian pun beralih mode panggilan video. Saat terlihat gambar gadis yang membuatnya gila belakangan ini, wajah Ardian sumringah. Meski hanya menatap gadis dalam layar itu. Ia teringat dengan kelakuan nakalnya. Beruntungnya mereka berdua bisa mengendalikan diri. Tiba-tiba saja wajah Ardian memerah.


Dista


[Kamu kenapa? Kok jadi senyum-senyum nggak jelas begitu?]


Ardian


[Ingat pesan aku ya, kalau keluar mau sama Maya, mau sama teman kamu siapa pun jangan pernah pakai baju minim bahan seperti tadi. Kecuali perginya sama aku! haha...]


Dista


Ardian


[Benar! Semua kontak cewek di ponselku udah nggak ada. Cuma ada kamu sama Maya udah. Itupun karena dia udah jadian sama Boy. kamu udah lebih dari cukup kok Beb, sayangnya kamu yang sepertinya menyesal jadi pacar aku. buktinya kamu udah dua kali putusin aku!]


Dista hanya tertawa melihat kelakuan bocah itu. Setelah menghabiskan waktu enam puluh menit yang katanya hanya sebentar mereka berdua memutuskan mengakhiri panggilannya untuk beristirahat dengan perasaan yang jauh lebih baik.


Lain dengan Ardian, Aldo dan kedua temannya meninggalkan hotel tempatnya menginap. Vania menangis sesenggukan melihat kepergian mahasiswa tampan itu. Aldo pun hanya tertawa melihat kelakuan bocah labil seperti Vania. mereka berdua tidak terikat hubungan apa-apa. Namun, malah berakhir seperti ini.


“Udah, sekarang lebih baik kamu pulang! di sini nggak ada yang jagain kamu Van, bisa kan nurut omonganku!” ujar Aldo.


“Iya, setelah kalian berangkat aku akan check out. Masih ada dua jam lagi, jangan lupa berkirim kabar ya Al,” isak Vania. Gadis manis itu melambaikan tangannya kepada ketiga pria keren asal Surabaya itu. berselang sepuluh menit selepas taksi meninggalkan hotel, Vania kembali ke kamarnya.


‘Enak aja, gue disuruh pulang! kesepakatan gue masih berlaku sama Ardian kalau Mama mau datang ke rumahnya dan mengakui kesalahannya. Kita lihat, siapa yang akan menang.’ Vania masih berkeras untuk menaklukan siswa populer itu. Akan menjadi sebuah kebanggan baginya jika seorang cupu seperti Vania bisa mendapatkan cowok idaman kaum hawa.


Haha... gadis itu tertawa lobby dan menaiki lift. Tak ada pesan atau telepon dari Mama Anne ataupun Veli. Mereka berdua juga sudah habis mendapatkan omelan dari Papa Agung. Menurutnya, Anne terlalu menggampangkan setiap permasalahan. Wanita itu tak berpikir kejahatan jaman sekarang yang menimpa gadis belia seusia kedua anak gadisnya. Bahkan Anne dan Veli tak berkaca pada kasus Vania sebelumnya.


Vania terlelap di dalam kamarnya. Sampai gadis itu lupa berkemas jika dirinya harus keluar dari hotel sebelum pukul dua. Masih asyik dengan impiannya, Vania bisa memperlakukan Ardian dengan semena-mena, memamerkannya diantara teman-teman sekolahnya yang dulu pernah membully Vania. Tak ada faedahnya hidup di dunia jika kamu di lahirkan tidak menarik. Vania terus tertawa penuh kemenangan, sampai seseorang melempar sepatu ke arahnya.


“Nih, Gue balikin sepatu Lo! dasar cewek nggak tahu diri!”


Deg!


Vania tersadar dan memegang kepalanya. Namun tak merasakan sakit ataupun terluka. Matanya mengerjap beberapa kali dan Ia mendengar suara ketukan pintu.


“Iya sebentar!”


Vania berpikir, jika itu adalah keluarganya yang menjemputnya. Saat gadis itu berjalan ke arah pintu dan membukanya, Vania justru dikejutkan dengan kehadiran seorang pria dengan pakaian serba cokelat.


“Ada apa ini?” Vania takut, padahal pria itu tidak melakukan apa pun. Ia hanya di minta untuk segera check out, karena waktu menginapnya sudah habis. Gadis itu bingung, Ia ta tahu lagi harus ke mana, tetapi yang pasti Vania harus berkemas dan meninggalkan tempat melarikan diri yang sangat nyaman untuk dua malam ini.


“Oh, begitu! kalau begitu saya akan berkemas. Mas, bisa bantu saya untuk membawa koper ini ke bawah?” tanya Vania, gadis itu mencoba peruntungan saja, dengan memegang tangannya yang pura-pura keseleo. Tentu saja sudah menjadi petugas bellboy untuk membantu tamunya.


Pria itu melihat Vania berjalan dengan girang. Seperti tak mengalami cidera sedikitpun. Sesampainya di lobby, Vania menerima kopernya dan bellboy itu masih menunggu. Vania tak mempedulikan pria berseragam cokelat itu.


“Mas, ngapain masih menunggu di sini? Mau pesan taksi juga?” Vania lalu membuka sling bag nya dan Mas-mas bellboy pun menyunggingkan senyumnya. Vania yang melihatnya pun ikut tersenyum.


“Mas, Saya mau naik taksi tapi saya nggak ada uang receh. Boleh pakai uang Mas nya dulu? nanti saya ganti? Hehe...” Vania menampakan wajah tanpa dosa. Seketika senyum seterang matahari milik Mas bellboy itu pun memudar. Ingin marah tapi tetap tidak bisa.


“Mohon maaf Mbak, saya juga tidak ada uang kecil.” Pria itu hendak berlalu dan Vania menarik seragamnya.


“Kalau begitu uang gede aja mas! Mas, kok pergi sih? kan saya belum selesai bicara?” teriakan Vania membuat seluruh orang yang berada di lobby memperhatikan mereka. Pria berpostur tinggi menghampiri mereka berdua untuk mengetahui permasalahannya.


“Ini Pak, Mas ini mau melarikan diri padahal saya membutuhkan bantuan!” pekik Vania.


Membuat Mas bellboy mendapat teguran, tetapi pria itu dengan tenang menjelaskan jika gadis belia ini hendak memakai uangnya. Vania akhirnya di minta untuk menunjukan kartu identitasnya sampai pihak hotel menghubungi orang tua Vania.


“Tuh kan Pa! Lihat kelakuan anak gadismu itu! sekarang Vania berada di Four season, cepat jemput anakmu! Mama nggak mau melihat dia sampai Vania minta maaf sama Mama!” Anne membanting pintu kamarnya.


“Ck! Ayo Veli ikut Papa!”


...