
Lain ladang lain belalang, begitulah peribahasa yang menggambarkan dua pria berbeda karakter yang saat ini dekat dengan Dista. Dengan gagahnya pria di sampingnya berjalan menggandeng tanganya, memastikan dirinya aman. Tatapan dinginnya membuat semua orang terkesima. Bahkan yang membuat gadis itu tak habis pikir, orang-orang pun memberinya jalan.
“Lo mau ke toilet juga? nanti gue tunggu di luar ya!”
“Oke!” Dista dan Vicky berpisah di depan toilet. gadis itu berbelok ke kanan, sedangkan pria itu ke arah berlawanan. Setelah beberapa menit berlalu Maya menghubunginya untuk menunggu di depan counter boba kesukaannya karena temannya mengabarkan akan sedikit terlambat.
“Masih lama?” tanya Vicky. jujur saja pria itu merasa bosan. Karena tak ada yang bisa Ia lakukan. Apalagi melihat banyak pria menatap gadis itu dengan tatapan nakal membuatnya kesal.
“Sepertinya iya, kenapa bosan ya?”
“Nggak, biasa aja! dengar ya, besok lagi kalau keluar jangan pernah pakai rok mini begini ya!”
“Ih kok ngatur? Memangnya mau ajakin gue keluar lagi?” Dista kesal, pertama kali keluar dengan Vicky tapi banyak sekali larangannya. Meski terdengar sederhana, tapi gadis itu merasa harus menurutinya. karena ucapannya sepertinya tak bisa untuk ditolak.
“Menurut Lo? Gue nggak mau ya, cowok-cowok di luar sana melihat Lo dengan tatapan seperti itu!”
“Memangnya Lo siapa?” gadis itu berjalan mendahului Vicky. melihat gadis itu berjalan di depannya saja Ia merasa gemas. Apalagi orang lain, yang tak tahu pikiran mereka seperti apa. Kadang-kadang gadis polos model Dista begini susah diberi tahu. Karena Vicky sendiri adalah seorang pria normal dan keduanya berada dalam puncak masa puber.
“Lo mau gue jadi sepenting apa?” tanya Vicky balik dan menggandeng gadis yang terus membalas ucapannya. “Dasar anak bungsu!”
Gadis itu tertawa kecil, “Ih Kok tahu...?” balasnya. kenapa pria itu bisa membuat perasaannya campur aduk dan bikin dongkol. Karena lelah mengitari mal itu yang cukup luas, mereka berdua memutuskan untuk memasuki gedung bioskop.
“Mau nonton aja?”
“Hmm, tapi gue selesaikan urusan sama Maya dulu ya Vick, coba cari film romantis gitu ada nggak?”
Belum juga Vicky menjawab pertanyaannya, Dista memberitahu jika Ia akan menemui Maya sebentar di lantai bawah. “Vicky gue ketemu Maya dulu ya, sebentar kok! Nanti gue kirim chat setengah jam lagi, oke!”
“Serius nggak mau gue antar?”
Gadis itu melambaikan tangannya dan berlalu pergi. Vicky memilih film yang menurutnya gadis itu juga menyukainya. ‘Film romantis tetapi yang nggak bikin orang bosan apa nih?’ melihat posternya sepertinya menarik, dan Vicky memilih film luar genre remaja.
“Haha... seru nih kayaknya, Tessa sama Hardin.” pungkasnya. Sembari menerima dua lembar tiket film itu. memeriksa jam di tangannya, ternyata menunggu tiga puluh menit sangat menyiksanya. Mengingat gadis itu pergi sendirian. Vicky pun iseng menyusulnya karena filmnya masih ada satu jam lagi sebelum di tayangkan.
Maya melihat temannya datang dengan terburu-buru. Tetapi sampai sekarang Vania justru yang tidak menepati janji. Maya melihat Dista berkeringat dan memintanya menunggu di mejanya, sementara dirinya akan memesankan minuman untuk mereka berdua.
“Sorry ya Dis, kita bahkan sampai jauh-jauh ke sini. Padahal Lo juga lagi ada acara kan?”
“Nggak apa-apa kok May, tapi kita di sini nggak lama kan?”
“Nggak kok tenang aja!”
Maya meninggalkan meja itu dan mengantri pada barisan cukup panjang. Entah baru kali ini Maya merasa pelayanan di restoran cepat saji itu lama sekali. Bahkan Maya mengirimkan chat kepada temannya untuk sabar menunggu. Dista yang sedang asik memainkan ponselnya bahkan tak menyadari jika seseorang telah duduk tepat di hadapannya.
“Halo Dis, kita bertemu lagi.” sapa gadis itu.
Tentu saja Dista segera mengalihkan atensinya kepada gadis yang telah membuat hubungannya dengan Ardian berantakan. Siapa lagi jika bukan Vania. Awalnya Dista tak menaruh curiga saat pertemuannya pertama kali di lapangan basket. Sampai Ia mulai sadar jika gadis itu terus mengejar Ardian.
“Ada perlu apa?”
“Soal hubungan Lo sama Ardian yang harus putus, gue minta maaf. kalau Ardian ternyata juga menjalin hubungan sama gue selama ini tanpa sepengetahuan Lo!”
Melihat Dista hanya diam saja dan menatapnya datar, memicu emosi Vania untuk membuat hati gadis lembut itu patah hati yang kedua kalinya.
“Soal ciuman bibir gue sama Ardian malam itu, itu karena dia lebih memilih gue daripada melanjutkan hubungannya sama Lo! sorry ya, Lo ikhlas kan?” Vania mengiba, dengan senyum simpul di sudut bibirnya.
Dista memasukan ponselnya ke dalam tas. Gadis itu kesulitan menelan salivanya. merasakan beban berat membentur dadanya, rasanya sesak. Ingin Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Matanya tak bisa berbohong. Netra indah itu berkaca-kaca, buliran air matanya sudah siap terjun. Sampai seseorang menarik tangan Vania paksa.
“Brengsek! jadi ini ulah Lo?”
Kedua gadis itu menatap pria yang baru saja datang ke meja mereka. semua perhatian pengunjung tertuju kepada tiga orang di meja sudut. Tak terkecuali Maya yang langsung keluar dari antrean.
“A-ardian, Lo ngapain di sini!” Vania gugup. Ardian melihat Dista menangis di sana. Mendengar semua ucapan Vania, Dista berlari ke toilet yang tak jauh dari restoran itu. Maya pun mengikutinya.
“Cewek nggak tahu diri, bisa-bisanya berbuat hal rendah seperti ini.” Ardian menyeret Vania pergi dari tempat yang cukup jauh dari keramaian. Entah apa saja yang sudah Vania katakan kepada mantan kekasihnya. Pantas saja Dista tak mau lagi menerima apapun penjelasannya, ternyata biang keroknya adalah Vania yang terus merongrongnya.
Aldo datang menghampiri Maya dan memintanya untuk pergi dari sana. Tentu saja gadis itu tidak mau karena merasa dirinya lah yang mengajak Dista jauh-jauh kemari, hanya untuk di perlakukan tak baik oleh Vania.
“Heh cowok brengsek, nggak usah mengejar-ngejar teman gue! dia nggak cocok sama maniak kayak Lo.”
“heh bocil, lebih baik Lo pulang sekarang sebelum gue telepon orang tua Lo buat jemput Lo kemari!” Aldo menunjukan foto Maya dan Boy saat di taman hiburan waktu itu. Maya pun terkejut, dari mana pria mesum itu mendapatkannya.
Meskipun toilet itu sepi, Aldo tak berbuat hal melebihi batas. Ia hanya ingin berusaha lebih dekat dengan gadis yang tengah patah hati itu. tak sengaja kehadiran bocah tampan yang serupa dengannya malah menjadi bumbu penyedap drama percintaan remaja.
Merasa lelah, Dista keluar setelah mencuci wajahnya. Namun, di depan pintu itu Aldo datang dan memberinya sapu tangan.
“Sudah, yang sudah berlalu biarkan berlalu. kenapa masih kamu tangisi.” Aldo melihat gadis itu merapikan riasannya yang berantakan. Membuatnya semakin gemas. Tak bisa di pungkiri Aldo tidak tahan dengan kelakuannya sendiri. berulang kali tangannya tak tahan untuk merengkuh tubuh gadis itu. namun masih Ia tahan.
“Kamu mau aku antar pulang? temanmu sudah pulang meninggalkan mu sendirian di sini.” Aldo terus mengoceh tanpa henti. Dari sisi kiri pindah ke kanan, mencari perhatian gadis itu. sampai sepasang mata mereka bertemu.
“Hah! Aldo, ...” panggil Dista. Dada gadis itu bergemuruh. Pria kembaran Ardian besorak. Senyumnya terkembang bagai adonan kue. Bagaimana tidak, gadis berparas ayu itu memanggil namanya dengan jelas.
“Iya sayang!”
“Tolong pergi dari hadapanku sekarang juga, please!” gadis itu mengatupkan kedua tangannya meminta maaf. namun Aldo terus menghalangi jalannya. Sampai Gadis itu justru tersudut, karena Aldo tak mau mengalah.
“Besok Aku akan kembali ke Surabaya, jadi nggak ada salahnya kalau kita bersenang-senang malam ini, bagaimana? Atau kamu mau ikut denganku?” jari tangan Aldo mengusap pipi lembut gadis itu dan terus bergeser ke bibir pink yang pernah dikecupnya tak sengaja.
“Nggak usah mimpi! Minggir!”
“Meskipun wajahku sama dengan pacarmu, tetapi aku lebih bisa membahagiakanmu, percayalah!”
“Aku sarankan sekarang kamu pergi, atau kamu akan...”
Tubuh mahasiswa tampan itu di tarik paksa dari belakang dan sebuah kepalan tangan mendarat di rahang tegas milik Aldo. Mengusap sudut bibirnya yang terasa asin, rupanya ada juga yang mengajaknya berkelahi di sini. Aldo melawannya, namun sekali lagi bogem mentah itu mencicipi wajahnya yang tampan.
“pria brengsek! berani-beraninya Lo berbuat tak senonoh di tempat umum.”
“udah Vick! Ayo pergi, jangan sampai kita kena masalah gara-gara orang seperti ini.”
Vicky yang menarik kerah baju milik Aldo, mendorongnya.
“Dua kali salam perkenalan gue pikir udah cukup untuk memperingatkan Lo, jangan pernah ganggu cewek gue! Ngerti Lo!”
“Lo nggak diapa-apain kan? bilang aja selagi kita masih di sini!” tanya Vicky yang mengusap pipi gadis itu yang basah.
Dista menggeleng dan menarik tangan Vicky pergi dari lorong toilet yang ternyata memang jarang di singgahi pengunjung.
“Mau pulang aja? tapi sayang tiketnya kalau nggak di tonton.” Pria dingin itu mengatakan telah membeli dua buah tiket film.
“Tadi ngajakin pulang, sekarang nggak jadi gimana sih?” gerutu Dista melihat Vicky sedikit menahan senyumnya.
“Sayang, Lo tahu nggak sih.”
“Iya... eh!” Dista menutup bibrnya dan keduanya menoleh. “Lo nggak manggil gue sayang kan?” tanya Dista. Vicky terus membuat dirinya merasa malu. Karena ucapannya yang membuat dirinya merasa GR.
“Nggak, gue Cuma bilang sayang aja tiketnya udah terlanjur dibeli. Ayo!”
“Oh, kirain... haha...” gadis itu tertawa karena malu.
“Jangan bilang Lo mengaharap panggilan sayang dari gue, haha... sabar! Belum waktunya.” Balas Vicky mengusap kepala gadis itu.
...
Ardian bertemu Maya di depan lobby. Gadis itu terburu-buru dan segera memesan ojek online. Ardian yang melihatnya menanyainya, karena Maya hanya seorang diri.
“May, kok Lo balik sendiri? Dista kemana?”
“Di, Dista lagi sama cowok brengsek itu! buruan susulin,” Maya pergi meninggalkan Ardian yang marah dengan tingkah semua orang belakangan ini. susah payah Ardian kembali ke restoran itu, tetapi Dista sudah tak ada di sana.
Ia melihat Aldo yang akan menaiki lift. Merasa tak terima karena tak ada yang bisa memberinya penjelasan Ardian hendak menghajar mahasiswa itu.
“kenapa muka Lo! bocah kurang ajar memang pantas mendapatkannya! Lo bawa kemana cewek gue?”
Aldo menertawakannya. Namun tak mengatakan apa pun, “Selamat patah hati Boy! cewek Lo sudah menemukan penggantimu.”
Ting!
Pintu lift itu tertutup, dan keduanya terpisah di balik kotak besi itu yang bergerak turun. Ardian semakin yakin, jika Dista pergi dengan seseorang yang lain, tetapi siapa?
...