Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 35. Gadis yang Mana?



“Suiiuiit... Cantik..!” sapa Dion, memanggil gadis berkulit putih yang berjalan ke kantin. Ke empat senior populer itu seperti biasa, selalu menghabiskan waktunya bersama di meja khusunya. Tak hanya mereka ber-empat, Ardian pun juga memiliki tempat spesial di kantin itu. hanya Anak-anak basket yang boleh menempatinya.


Dion membawa gadis itu ke tempatnya. Hanya pria itu saja yang berani terang-terangan menggoda siswi pindahan itu. Dion dan gengnya memang pilih-pilih apalagi soal gadis, mereka semua memiliki selera yang tinggi.


“Makan di sini aja, kan kita udah jadi teman Lo, iya kan?” Dion terus menatap intens gadis itu. di waktu yang bersamaan Ardian melintas dan duduk tepat bersebelahan dengan Dista. Dengan batas satu meja sebagai pemisah.


Mendadak suasana menjadi canggung. Ardian merasa tak nyaman melihat kekasihnya duduk diantara geng Abangnya yang terkenal rusuh.


“Kamu bisa duduk di meja ku, di sini kosong!” Ardian berdiri meminta Dista untuk pindah ke mejanya.


“Nggak perlu, Aku lebih nyaman berada di sini.” Dion tersenyum kecut. Melihat adik dari sahabatnya menggoda gadis incarannya.


“Lo nyaman sama kita berempat atau sama Gue? tanya Dion sembari mendekatkan wajahnya. Namun gadis itu justru menatap pria dengan rahang tegas di depannya yang terus memperhatikannya. Dista tak menjawab.


“Oh iya, Gue dengar-dengar Lo single kan? kenapa Lo nggak jadi cewek gue aja? kita berempat ini high quality jomblo Dis, Lo nggak akan menyesal mendapatkan salah satu dari kita.” goda Dion. Dista tersenyum kecil. Dan berusaha menimpali candaan mereka.


“Nggak ah, lagi patah hati. Semua cowok sama aja!” gadis itu tiba-tiba melirik meja Ardian kemudian beranjak pergi. Perasaanya menjadi sensitif. Selepas kepergian Dista, Ardian ingin menyusulnya tetapi Dion menahan langkah Ardian. Pentolan geng senior itu menanyai terkait kasusnya. Sehingga Ardian tak bisa mengejarnya.


Gadis itu tak kembali ke kelas. Mengikuti langkah kakinya Dista malah menuju ke UKS dan merebahkan diri di sana. Tiba-tiba saja kepalanya berat karena semalaman terus menangis mengingat kelakuan Ardian. Karena ruangan itu sepi, Dista nyaris tertidur.


Cklek!


Mendengar suara pintu terbuka, gadis itu segera menutupi dirinya dengan selimut dan berpura-pura tidur. namun sayang, rencananya tak berhasil. Karena seseorang di sebelahnya membuka selimut itu secara tiba-tiba.


“Lo ngapain?” sapanya.


Dengan cepat Dista mengusap sudut matanya yang basah. Gadis itu merasa aneh, saat bersama teman-temannya siswa yang berdiri di depannya sangat dingin dan cuek. Tetapi saat berdua dengannya, dia menjadi banyak bicara.


“Nggak apa-apa, Lo ngapain kemari?” tanya gadis itu yang berusaha menaikan selimutnya. Namun tangannya segera di cekal oleh Vicky.



“Gue mau mengobati seseorang yang lagi patah hati.” Ucap Vicky serius.


Sontak saja membuat Dista terkejut. Ia takut akan ada seseorang yang melihat mereka berdua nanti. Dista melepaskan tangan pria dingin itu yang membuatnya merasakan perasaan aneh.


“Jangan Vicky, nanti dilihat yang lain!” bisiknya.


“Memangnya gue mau ngapain? Oh ya, seragam Lo masih di rumah. Kapan-kapan ambil aja kalau Lo ada waktu.” tukasnya.


“Idih, siapa yang mau main ke rumah cowok! Udah pakai aja seragamnya.” Dista membuang wajahnya sambil terus menahan senyumnya. Vicky belum melepaskan tangan gadis itu yang tak mau menatapnya.


“Lihat Gue! Kapan ada waktu? gue mau ajak Lo jalan!” ucapnya to the point.


Dista menggeleng. Ia menolak ajakan Vicky karena masih merasa tak nyaman untuk keluar bersama pria lain. meskipun dirinya dan Ardian sudah tak memiliki hubungan apapun.


“Kenapa? Lo takut sama cowok Lo atau takut jalan sama gue?” pria kuning langsat itu memajukan langkahnya semakin mendekat ke arah Dista.


“Bukan keduanya,” balas Dista singkat. Gadis itu mendorong Vicky untuk menjauh.


“Jadi...? Kapan Lo bisa keluar sama gue?”


Sepasang mata bulat itu menatap Vicky penuh tanda tanya. Dista melihat senyum simpul di sana. Apa yang akan Dista katakan, Ia merasa dipojokan dengan tatapan dingin Vicky untuk tidak berkata jangan.


“Kapan?” Wajah mereka semakin tak berjarak.


“Malam minggu,” balas Dista cepat. gadis itu memejamkan matanya. Karena ujung hidung mereka sudah bersentuhan. Napas hangat Vicky telah sampai ke pipinya. Membuat rona merah itu terlihat jelas di kulitnya yang putih.



“Kenapa semua jadi seperti ini sih? mau sekolah tanpa ada hambatan susah sekali rasanya.”


...


Di rumah Vania, gadis konyol itu meminta kepada Anne untuk datang ke sekolah Ardian. Dan mencabut laporannya terkait kasus itu. tentu saja Anne menolaknya mentah-mentah. Harga diri yang Ia pupuk lama harus jatuh karena harus menjilat ludahnya sendiri.


“Oh, jadi Mama nggak mau? Oke, begini saja Ma! Kalau Mama masih berkeras dengan pendapat Mama, biarkan Vania keluar dari rumah. Karena jujur aja Vania malu memiliki Ibu seperti Mama!” Vania hendak menaiki anak tangga dan Anne mengejarnya.


Merasa tersinggung dengan ucapan gadis bungsunya Anne menarik kuping gadis itu saking kesalnya.


“Kamu ya Van, semakin lama semakin nggak tahu mirip siapa kelakuan kamu! Oke kalau itu mau kamu, lebih baik sekarang kamu bereskan semua pakaian kamu dan keluar dari rumah. Mama masih punya Veli yang lebih menghormati Mama!”


Vania terkejut, alih-alih Anne mau menurutinya untuk mengakui kesalahannya. Malah kini dirinya harus keluar dari rumah. seperti turunan Anne, Vania juga memiliki harga diri yang tinggi. Gadis it naik ke kamar dan membawa beberapa pakaiannya.


Melihat beberapa nama kontak di ponselnya, rasa-rasanya tak ada yang bisa Ia mintai pertolongan. Seketika muncul nama Aldo di sana. Dan Vania menghubungi pria itu.


Vania


[Al, Lo masih di Jakarta?]


Aldo


[masih, Tapi lusa Aku udah balik lagi ke Surabaya. Ada apa Van?]


Vania


[Aku butuh tempat tinggal, habis di usir dari rumah sama Mama!]


Terdengar suara tawa renyah di seberang sana. Tentu saja Aldo akan membantunya. tetapi kali ini tidak gratis. Pria badung itu telah menginginkan sesuatu, jadi Ia harus mendapatkannya.


Aldo


[Boleh, kamu bisa datang ke hotel tempatku menginap. Aku tunggu pukul tujuh]


Setelah mengirimkan alamat hotelnya Vania bergegas pergi ke sana. Gadis itu mencari buku tabungan Veli yang tersimpan di lemari. Karena tabungan gadis itu sudah Ia habiskan untuk bersenang-senang kemarin.


Tanpa sepengetahuan Anne, gadis manis itu memesan taksi online dan pergi ke daerah Senayan. Di sana lah tempat Aldo menginap. Setelah menatap keluar jendela untuk waktu yang lama, Vania turun tepat di lobby hotel itu. dan menghubungi Aldo.


Vania


[Al, Aku sudah di lobby. Turun dong!]


Aldo pun tersenyum menatap pesan masuk dari gadis manis itu. merasa bosan tak ada yang bisa menghiburnya di Jakarta, akhirnya Aldo ingin membuat akhir pekannya menjadi menyenangkan.


Aldo


[Van, Aku bisa membuka kamar untukmu, dengan syarat kamu harus bisa membawa gadis itu kemari. bagaimana? Deal kan?]


Bukannya segera turun untuk menemuinya, Vania malah mendapat penawaran dari Aldo untuk membawa gadis ke hotelnya. Tetapi siapa gadis yang Aldo maksud? Apakah Maya atau ...


...