Untouchable Boyfriend

Untouchable Boyfriend
Bab 29. Balikan



Perlunya pertimbangan matang untuk mengambil sebuah keputusan adalah hal penting. Bukan berarti kamu pintar dan cerdas semuanya menjadi benar bagimu. Kenyataannya orang cerdas bisa kalah dengan orang yang beruntung. Sama seperti keadaan yang dialami Veli dan Vania saat ini.


Keduanya adalah gadis yang pandai dalam bidang akademik. namun tak diimbangi dengan tingkah laku yang baik. seolah semua keadaan berbalik kepada mereka. Aldo bisa meloloskan diri dari perbuatannya. Namun satu fakta baru yang Vania ketahui tentang pria idamannya.


‘Ardian ternyata adalah seorang kekasih sewaan.’ Sembari menatap profil Ardian, Vania yang awalnya bersedih kini bisa mengulas sedikit senyumnya.


Sepanjang perjalanan kembali ke rumah. Veli terus mengomel dan merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa Ia ditipu mentah-mentah tentang pria itu. Tanpa Veli ketahui Aldo sudah memperhatikan kakak beradik itu sebelumnya. kadang hal-hal kecil seperti itu yang membuat bad boy tampan itu malas bermain dengan bocah-bocah kemarin sore.


Taksi yang di tumpangi Vania dan Veli telah sampai di rumah nenek mereka. akan tetapi pemandangan koper-koper besar di depan teras membuat kedua remaja itu bertatapan seolah mengatakan buat ulah apa lagi mamanya.


“Ma, apa ini?” tanya Veli ketika melihat koper mereka berada di luar.


“Kita kembali ke Jakarta. Mama nggak terima, bocah itu lolos begitu saja!” Rumi terus menangis melihat Anne akan membawa Vania kembali bersamanya. Lansia itu pasrah, karena tak bisa menjaga pergaulan remaja anak sekarang. Membuat mereka merasa kecolongan.


“Cukup Ma! Kalau Mama masih berkeras untuk melaporkan Ardian karena kasus ini, lebih baik Vania nggak perlu jadi anak Mama lagi!”


Vania masuk ke dalam. Ancaman Aldo masih terngiang jelas, belum lagi jika tersebar luas sampai Jakarta. apa yang akan Vania dapatkan? jangankan mendapat rasa belas kasihan, Ia juga sudah bisa di pastikan tak dapat melanjutkan pendidikannya di sekolah manapun.


‘Maaf Ma, Vania nggak bisa mengatakan yang sesungguhnya.’ Gadis remaja itu menelusupkan wajahnya dalam tumpukan bantal.


...


Malam minggu, hari ke tiga paska di skorsing. Ardian tak lagi memasang wajah muramnya. Ia berpamitan kepada Imas untuk pergi ke luar. Setelah mendapat penjelasan dari Maya kemarin, Imas mulai berlega hati. Jika putranya memang tidak bersalah.


“Abang mau ke mana rapi banget?” Gavin, si bungsu yang selalu penasaran dengan kegiatan Abangnya selama ini. masih sekolah, tetapi Ardian selalu bisa membeli barang-barang yang Ia suka. Seperti play station, konsol game dan PC yang ada di kamarnya. Belum lagi uang tutup mulut yang selalu Ardian berikan untuk tidak mengadu setiap Ia bocah tampan itu keluar rumah.


“Bang, Lo mau pacaran ya? ketahuan Bang Vicky di omelin lagi Lho!” Gavin menatap langit-langit sambil bersiul. Melihat Ardian merogoh saku celananya.


“Sshht! Lo pasti kehabisan paket internet kan? nih, kalau kurang nanti Abang kasih pas udah balik ya, buru-buru soalnya.” Meskipun adiknya terkadang menyebalkan. Namun Ardian tak pernah sekalipun marah padanya. Adik yang diharapkan lahir perempuan tapi keluarnya malah laki-laki. Menjadikan si bungsu bahan bulan-bulanan satu rumah.


“Hehe.., siap Bang!” Gavin membuka lembaran kertas warna biru lalu mengecupnya penuh kepuasan.


Seorang gadis telah menunggu kehadirannya di rumah. Gadis yang usianya setahun lebih dewasa dari Ardian yang tak pernah gagal membuat pria tampan itu tak bisa move on. Kebetulan Herman sedang ada di rumah. Ia mengenali siswa yang membawa harum nama sekolahnya, tetapi sayang Ardian tak menyadari kehadiran pria dengan kaca mata minus itu.


“Tuh Pacar kamu sudah datang!”


“Teman Pa, Dista kan mau fokus buat ujian dulu!”


“Papa nggak melarang Nak, tapi ingat menjaga diri. Papa cuma punya satu anak gadis, dan harus membesarkan kamu sendirian sampai nanti kamu menikah. Jaga kepercayaan Papa ya Nak!”


Gadis itu berpamitan kepada Papanya. Sebenarnya Ardian ingin meminta izin kepada Herman. Namun, Dista tak mengizinkannya. Yang gadis itu takutkan adalah saat Papanya mengetahui mereka berdua berkenalan dari aplikasi kencan. Dan menuduh Ardian yang tidak-tidak nantinya.


“Udah Di, nggak apa-apa! Papa udah memberi izin kok, memangnya kita mau kemana?”


Tampan dan Cantik seperti biasanya, mereka berdua selalu menjadi pusat perhatian. Di Taman Hiburan yang baru di buka, Ardian mengajak Dista kesana.



Mereka berdua kembali mengingat saat pertama kali berkencan. Hanya ada tawa kesenangan di sana. sepanjang jalan tak henti-hentinya Ardian memuji gadis itu. hanya saat bersama Dista saja semua pikiran kalutnya memudar.


Bagaikan pheromones, senyum gadis itu menjadi candu baginya. Ardian pun tak mengerti, selama ini belum pernah ada gadis yang membuatnya gelisah siang dan malam. Terlebih saat Riko memberi tahu jika Dista menjadi target kakak kelasnya. Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Melihat bianglala, Ardian memutuskan untuk menaiki wahana itu. Dan meminta Dista untuk kembali padanya. Saat roda raksasa itu tengah berada dalam posisi puncak. Lampu-lampu di jalanan Jakarta menjadikan pemandangan malam ini begitu indah. Meskipun gugup, Ardian harus mencobanya.


“Beb!”


“Iya!” refleks gadis itu menjawab panggilan sayang dari sang mantan. dan segera menutup bibirnya. Wajahnya merona dan berubah hangat. Ardian mengusap pipi gadis itu gemas.


Kedua tangan Ardian meraih jemari lentik gadis itu dan menggenggamnya erat. Rasanya begitu mendebarkan sekaligus menyenangkan. Jantungnya seakan meledak. Ardian jatuh cinta kedua kali dengan gadis yang sama.


“Kita balikan yuk! Aku mau kamu jadi pacarku lagi, mau kan!”


Tatapan Ardian seolah menembus hati Dista. Semburat merah itu tak bisa Ia sembunyikan. Dista juga merasa bersalah, saat meninggalkan Ardian dalam posisi terburuknya.


“Beb..., Kamu mau kan?”


“Ehm, Aku....”


Saat gadis itu hendak menjawab permintaan Ardian. Puluhan notifikasi di ponselnya masuk bersamaan membuat ponsel itu terus berbunyi. gadis itu pun merasa kesal.


“Di, Kalau kamu masih terus kayak begini Aku nggak mau ah!” Dista melepaskan tangannya.


Ardian segera mematikan ponselnya yang terus mengganggu. Mati-matian Kakak kandung Gavin mengajak gadis itu keluar untuk bisa kembali padanya, namun malah membuat semuanya kacau seperti ini.


“Beb, Please! Aku minta satu kesempatan lagi. Aku nggak akan pakai aplikasi itu lagi Oke, Aku Cuma akan fokus sama kamu, Cuma sama kamu, Aku janji!” Ardian berpindah tempat, tepat duduk di samping gadis itu.


“Ardian Aku...”


“Kamu tahu beberapa hari ini Aku kepikiran kamu, Aku memikirkan Ibuku juga keluargaku, juga sekolahku... Untuk itu, tetaplah bersamaku, biar Aku bisa melewati semua masa sulit ini Beb,”


Sebelum roda kembali berputar ke bawah, Ardian menarik gadis itu lebih dekat. Menautkan bibirnya yang begitu dingin dan menghangatkannya.


“Aku Cuma mau kamu Beb, bukan yang lain...”


...