
Sepulang sekolah, Ardian datang ke rumah Dista bersama Boy. Berkat sahabatnya itu, Ardian tak jadi mendapat hukuman. Oleh sebab itu mereka ingin merayakannya dengan melakukan kencan ganda.
“Lo serius mau ajakin Gue Bro?” nanti Gue jadi obat nyamuk dong!” ucap Boy khawatir.
“Ayo ikut aja!” Ardian mengendarai motor dengan kecepatan tidak manusiawi, membuat Boy nyaris terbang tertiup angin. Setelah memasuki kawasan perumahan elit, motor itu berhenti di sebuah rumah dengan halaman yang luas.
“Ini rumahnya? Wah, gede juga ya! Tapi kayak nggak asing rumah ini,” lirih Boy seraya mengingat sesuatu.
Ardian menekan bel pintu beberapa kali, hingga sosok cantik pun keluar dari dalam rumah. Seorang gadis berkulit putih dengan rambut tergerai mengenakan daster rumahan.
“Eh Kamu Di, sama siapa?” tanya Dista. Dengan gaya anak rumahan, gadis itu menoleh mencari keberadaan seseorang, karena ternyata Boy sedang bersembunyi.
“Kok manggilnya masih Ardi sih?”
“Hah, maksudnya?” Dista yang tidak peka, membuat Boy yang bersembunyi harus menahan tawanya.
“Panggil sayang dong, kan aku sekarang pacar kamu!”
Boy yang bersembunyi, tak kuasa menahan senyum, melihat kelucuan mereka berdua membuat jiwa jones nya memberontak.
“Ih, kamu ya! Kan aku malu Di!
“Coba sekali aja, aku mau dengar panggilan sayang dari kamu, apa aja terserah!”
Ardian menyelipkan anak rambut Dista yang menutup wajah ayunya, memberi kode gadis itu untuk melakukannya.
“Masuk dulu ... Yang!” lirih gadis itu malu-malu, karena terus ditatap oleh kekasihnya.
“Nah gitu kan enak dengarnya. Oh iya, hari ini aku mau ajak kamu keluar, bisa nggak beb?” Ardian memberi kode kepada Boy untuk keluar dari persembunyian. Dista tak terkejut melihat kehadiran Boy karena saat bersembunyi, gadis itu melihat penampakan di samping tanaman hias papanya.
“Aku udah tahu, pasti ada Boy di sini. Memangnya kita mau keluar kemana Yang,” gadis itu membiasakan dirinya untuk memanggil Ardian dengan sapaan yang lebih manis. membuat Boy menepuk sofa berkali-kali.
“Dis, Lo punya teman nggak yang masih jomblo, kenalin ke Gue kek! Kalau bisa yang sebelas- dua belas kayak Lo ya cantiknya!”
“Ih Boy, katanya kamu punya pengagum rahasia, ajak saja dia! siapa Yang namanya?”
“Maya,” timpal Ardian. Membuat mereka berdua bertepuk tangan melihat ekspresi Boy yang menahan kesal.
“Minimal Lo berterima kasih, Maya bahkan sampai ke sekolah buat ketemu Lo!”
Jika dipikir-pikir lagi, gadis culun itu tidak jelek. Hanya saja penampilannya yang kurang modern. Menatap Dista, dirinya jadi memiliki ide untuk mengubah tampilan Maya menjadi lebih manusiawi.
“Dis, Gue boleh minta tolong nggak?
“Lo kan udah cakep nih, bisa lah bikin teman Gue yang culun jadi manis gitu, biar enak dipandang mata nggak bikin sepet!” oceh Boy dengan gaya berlebihan.
Ardian tertawa melihat tingkah konyol Boy. Dista pun setuju, meskipun dia tak banyak mengenakan riasan, minimal dia tahu cara menutupi kekurangan di wajahnya. Boy menghubungi gadis itu, dan memintanya untuk datang ke rumah Dista.
“Eh, ke rumahku?”
“Kenapa? Nggak boleh ya?” tanya Boy dan Ardian kompak. Dista berpikir jika sore nanti Papanya akan pulang, dan dirinya tidak di ijinkan bepergian petang hari.
“Kita ketemuan di Mall aja ya, aku siap-siap dulu!” ucap Dista, “Yang, kamu tunggu sini aja ya, nanti bawa motor sama Aku.”
Ardian mengangguk. Pria tampan itu membuka ponselnya dan banyak notifikasi pemberitahuan tentang gadis-gadis yang ingin meminta bantuannya. Ardian lupa untuk menonaktifkan aplikasi itu. meskipun bisa saja Ia menolak semua gadis yang ada di sana.
Setelah Ardian memeriksa dari ratusan permintaan yang masuk, Ardian hanya memilih beberapa yang masuk kriterianya. Namun tentunya Ia tak bisa sembarangan seperti dulu. Kini Ia memiliki kekasih yang harus dijaga perasaannya. Siapa yang mau, kekasihnya dinikmati orang lain.
Kali ini Ardian menolak semua permintaannya. ‘Kalau nggak demi Ayang beb, mana rela duit segitu banyak harus Ia sia-siakan. Pendapatan yang Ardian dapatkan dari aplikasi kencan itu cukup untuk menambah tabungannya. Ia sudah hampir dua minggu tak melakukan aktivitas apapun terkait side job nya.
“Yang, Kok bengong?” Dista sudah siap dengan penampilannya. Bagi gadis itu penampilannya adalah hal biasa, tetapi bagi pria di hadapannya, gadisnya terlalu seksi untuk di ajak ke Mall.
“Sayang, kamu pakai celana Jins aja deh, bukannya kamu nggak cantik pakai rok mini, nggak! Tapi Aku nggak rela banyak pria yang memperhatikan body kamu, please!” Ardian meminta gadis itu mengganti pakaiannya. Meski cemberut, Dista menurutinya.
Setelah gadis itu pergi, pria itu menyeka peluhnya. “Untung Gue tahan godaan jadi pacarnya!” gumam pria itu. “tapi lama-lama Gue pasti tergoda juga kalau lihat seperti itu terus menerus.”
Setelah semua aman, sepasang kekasih itu pergi ke Mall sesuai tempat mereka janjian. Dista dan Ardian menunggu Boy cukup lama. hampir satu jam mereka menunggu, di saat yang bersamaan Vania mengunjungi Mall itu dengan Veli. Mereka berdua seperti sedang berbelanja banyak kebutuhan.
Pasangan yang selalu menjadi pusat perhatian, membuat iri orang-orang di sekitarnya, saat pria itu membelikan es krim coklat kesukaannya. Veli yang melihat Ardian, memilih untuk putar arah sebelum adiknya mengetahuinya. Namun sayang, langkah Veli harus berhenti saat Vania bertemu dengan sahabatnya.
“Maya!!” pekik Vania. Di tengah keramaian suara gadis cupu itu mengundang perhatian. Yang lebih mengherankan Vania adalah sosok jangkung dan tampan di sebelahnya.
“May, Lo kok bisa sama temannya si brengsek ini sih?” Vania tak habis pikir, rupanya Maya diam-diam telah mengkhianatinya. Menjalin hubungan dengan pria yang sudah Vania hina di depan banyak orang.
“Memangnya kenapa dengan Boy?”
“Oh, bagus! Bahkan Lo udah tahu namanya, terus Lo kencan sama dia dan ... Maya, Lo ngerti nggak sih cowok macam apa mereka ini?”
Boy tidak terima dengan perkataan gadis rese itu, sudah cukup berbuat keributan di sekolah, Boy tak ingin terlibat dengan gadis pembawa masalah.
“Maya, Gue tunggu di atas ya, teman Gue udah nungguin kita sejak tadi! Jangan lama-lama, nanti Lo ketularan “JELEK” sifat Lo kayak Si Cupu ini!” Boy pun berlalu.
Mendengar kegaduhan dari lantai atas, Dista dan Ardian menyaksikan Vania dan Maya tengah berdebat. Boy pun mengejutkan mereka berdua.
“Asli, apes kali ini kalau ketemu anaknya Nenek sihir Wingardium Leviosa!” ucap Boy berapi-api. Melihat kedua temannya yang selalu tampak manis ini, Boy jadi penasaran dengan rahasia mereka berdua.
“Lo kenapa sih Boy, kesal terus bawaannya! Lagi dapat ya? hihi...” goda Dista.
“Gimana nggak kesal Dis, Lo lihat deh si cewe cupu itu pakai jelek-jelekin Gue di depan banyak orang kan Gue kesal!”
Ardian memberikan minumannya kepada Boy, dan pria itu mengambil minuman kekasihnya. Boy semakin jengkel tak karuan.
“Kan Gue bilang juga apa, di sini Gue Cuma jadi obat nyamuk!”
“Nah Lo lucu, kencan sih, tapi ceweknya di tinggal di bawah mana ada Boy! sana susulin ajak Maya kemari!” perintah sahabatnya
Boy dengan langkah kakinya yang lebar, menarik lengan Maya untuk segera meninggalkan gadis dengan vibes penyihir itu.
“Ayo May! Film nya udah mau di mulai!”
“Jadi Lo begitu May, Lo nggak ingat waktu nggak punya teman Lo samperin Gue, sekarang Gue lagi ada masalah Lo malah ninggalin Gue begitu aja! Lo Lihatin ya May, Lo juga sama teman brengsek Lo itu, Kalau Gue, Vania akan kembali.”
“Bodo amat!” balas Boy tanpa menoleh.
Veli menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Adik satu satunya ini benar-benar seperti bahan bakar yang mudah meledak, tak boleh tersulut api sedikitpun. Saat Veli sedang memikirkan sesuatu, ternyata Vania sudah meninggalkan tempatnya.
“Van! Lo kemana hey Vania!!” teriak Veli suaranya bahkan terdengar di tempat mereka berempat berada.
“Dasar Expeliarmus!” umpat Boy.
“Siapa? Tanya Maya penasaran, sambil memperhatikan wajah imut Boy.
“Teman Lo itu, anaknya nenek sihir!”
Boy pun menggenggam tangan gadis itu saat memasuki ruangan gelap. Dan Maya nyaris pingsan karena kehabisan oksigen saat tangannya di sentuh makhluk tampan yang dia idamkan selama ini.
“Cih!! ternyata kalian semua ada disini ... Lihat saja Kalian, Gue akan membalas perbuatan kalian satu persatu setelah Gue kembali, dari Lo dulu ... Maya!”
...