
Beberapa bulan kemudian.
Meyra yang sekarang ini sedang hamil tua, ia memutuskan untuk melakukan jalan pagi. Ketika ia sudah bangun tidur. Karena Dokter menyarankan dirinya, untuk sering jalan kaki. Agar ia bisa melahirkan dengan normal, sebab cara itu bisa membantu membuka jalan lahir.
"Kamu mau pergi ke mana, Mey?" tanya Devano yang melihat Meyra membuka pintu rumahnya.
"Aku mau mengelilingi kompleks sambil jalan kaki. Karena kemarin Dokter menyarankan aku, untuk jalan kaki di pagi hari. Agar aku bisa melahirkan secara normal, memangnya kamu lupa dengan saran dan penjelasan Dokter Widya kemarin?" jawab Meyra sambil bertanya balik pada Devano, dan ia mengingatkan Devano dengan saran dan penjelasan dari Dokter Widya.
"Oh iya, aku lupa. Kamu jangan pergi sendirian, aku akan menemani kamu," sahut Devano yang akan ikut menemani Meyra berjalan kaki mengelilingi kompleks rumah.
"Yuk kita pergi sekarang," sambung Devano sambil memegang tangan Meyra.
"Kalian berdua pagi-pagi begini mau pergi kemana?" tanya Belinda yang baru keluar dari kamarnya, dan ia melihat Devano dan Meyra yang akan pergi dari rumahnya.
"Devano mau menemani Meyra jalan kaki mengelilingi kompleks, Mah."
"Ya sudah, hati-hati di jalannya."
"Iya Mah," sahut Devano dan Meyra secara bersamaan. Sebelum mereka berdua pergi meninggalkan rumah.
Belinda senang melihat kedekatan Devano dan Meyra, yang sekarang ini sudah saling mencintai.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Meyra. Saat ia dan Devano sudah berjalan kaki, untuk mengelilingi kompleks rumah.
"Randy nya juga belum datang membawa berkas. Jadi lebih baik, aku menemani istriku dan anakku yang sebentar lagi akan lahir," jawab Devano sambil mengelus perut Meyra yang sudah membuncit. Karena ia sudah tidak sabar menunggu kelahiran anaknya.
Meyra menanggapi jawaban Devano sambil tersenyum senang.
"Setelah melewati semua cobaan hidup yang aku jalani. Kini aku bisa merasakan kebahagiaan memiliki seorang suami yang mencintaiku, dan memiliki mertua yang baik dan menyayangiku seperti anaknya sendiri. Semoga kebahagiaan ini akan selalu ada," batin Meyra penuh harap. Karena sekarang ini Devano sudah mencintainya, dan melupakan Naumi.
Deringan ponsel milik Devano menghentikan langkah kaki mereka berdua, yang sedang berjalan kaki mengelilingi kompleks rumah.
"Mey, aku angkat telepon dari Randy dulu. Kamu istirahat dulu di sini," ucap Devano yang menyuruh Meyra untuk beristirahat sambil menunggunya, yang akan menerima panggilan telepon dari Randy.
"Iya," balasnya sambil tersenyum manis.
Devano yang sedang berbicara dengan Randy di telepon, ia tidak menyadari kedatangan seseorang yang dari tadi mengikuti mereka berdua.
Orang-orang itu segera menutup mulut Meyra dengan obat bius. Sehingga membuat mereka leluasa membawa Meyra pergi menjauh dari Devano, yang sedang menerima panggilan telepon dari Randy.
Saat Devano berbalik ke belakang, ia tidak melihat keberadaan Meyra.
"Kemana Meyra pergi? Padahal tadi aku menyuruhnya menungguku di sini," lirih Devano yang tidak melihat keberadaan Meyra di sekitar kompleks rumah.
"Mey, Meyra ... kamu di mana?" Devano berteriak memanggil Meyra, berharap Meyra bisa mendengar suara teriakannya yang memanggil namanya.
Devano terus berusaha mencari Meyra, dan menanyakan pada setiap orang yang melewatinya. Karena ia berharap, orang itu melihat keberadaan Meyra.
"Saya tidak melihat istri kamu, tapi kamu bisa melihat rekaman cctv di rumah itu," saran dari pak Aji tetangganya Devano, yang menunjuk ke arah rumah Bu Tari.
"Terima kasih atas sarannya, pak. Saya permisi mau pergi ke rumah Bu Tari, semoga dengan melihat rekaman cctv di rumahnya. Saya bisa mengetahui keberadaan istri saya yang tiba-tiba saja menghilang," ucap Devano. Sebelum ia pergi meninggalkan pak Aji.
Devano pun segera pergi ke rumah Bu Tari, untuk melihat rekaman cctv di sekitar rumah Bu Tari.
___________
Sementara itu.
Meyra yang baru sadar dari pingsannya, ia melihat dirinya berada di dalam mobil bersama empat orang lelaki yang tidak ia kenal.
"Ka___kalian semua ini siapa? Kenapa kalian membawaku pergi?" tanya Meyra pada mereka semua.
"Kamu tidak perlu tahu siapa kami, dan kamu juga tidak perlu tahu tujuan kita semua yang membawamu pergi," jawab salah satu dari mereka berempat.
"Tolong lepaskan aku. Nanti aku akan memberikan imbalan pada kalian semua, jika kalian semua mau melepaskan aku," pinta Meyra pada mereka semua.
"Jangan mengharapkan kita semua akan melepaskan kamu, dengan iming-iming akan memberi imbalan. Kami semua tidak akan percaya dengan ucapanmu, lebih baik kamu diam!" bentaknya pada Meyra.
"Hahaha..." keempat orang itu tertawa melihat Meyra yang ketakutan.
"Ya Allah. Selamatkanlah aku dan juga bayiku, dari orang-orang yang berniat jahat kepadaku," batin Meyra yang berdoa pada Allah SWT.
Bruk.
Tiba-tiba saja mobil yang di kendarai oleh salah satu dari keempat lelaki itu kempes, sehingga membuat mereka memutuskan untuk mengganti ban mobil di pinggir jalan.
"Huuuh, apes bener dah. Ya sudah, aku hubungi bos dulu," jawabnya yang segera menghubungi bosnya.
Salah satu dari keempat lelaki itu, yang sudah selesai berbicara dengan bosnya. Mereka semua di suruh menunggu kedatangan bosnya, yang akan datang menghampiri mereka semua sambil membawa ban cadangan.
Sedangkan Meyra di tutup mulutnya oleh mereka. Agar Meyra tidak bisa berteriak meminta tolong, dan kedua kaki serta kedua tangan Meyra pun di ikat.
Tidak lama kemudian.
Terdengar suara mobil yang datang menghampiri mereka semua.
"Cepat ganti ban mobil kalian yang kempes, kita harus segera pergi dari sini," ucapnya yang memberikan ban mobil, untuk mereka ganti.
"Siap bos," balasnya.
Degh.
"Suara itu, seperti suara Naumi. Apakah itu Naumi?" batin Meyra yang mendengar suara orang yang di panggil bos oleh keempat lelaki itu, yang menurutnya seperti suara Naumi.
Mereka semua pun segera mengganti ban mobil yang kempes. Sedangkan orang yang di panggil bos oleh mereka, datang menghampiri Meyra yang di sembunyikan oleh mereka berempat di balik pohon besar yang ada di pinggir jalan.
"Na___Naumi, ternyata benar pelakunya adalah dia. Padahal setahuku dia sudah kembali ke negara Prancis, tapi kenapa sekarang dia ada di sini dan melakukan penculikan padaku?" gumam Meyra di dalam hatinya. Karena ia tidak bisa menanyakan secara langsung pada Naumi, sebab mulutnya di tutup oleh keempat lelaki itu.
"Apa kabar Meyra? Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, senang rasanya bisa bertemu denganmu. Karena sudah beberapa bulan lalu, aku berusaha memisahkan kamu dengan Devano tapi usahaku sia-sia. Sebab aku sulit bertemu denganmu dan juga Devano, tapi sekarang ini usahaku berhasil. Hahaha ..." Naumi tertawa bahagia. Karena rencananya kini berhasil, ia yang sedang senang membuat dirinya menghentikan sejenak ucapannya.
"Aku tidak suka melihat kebahagiaan kamu dan Devano, dia atas kesedihanku. Jika aku tidak bisa kembali bersama dengan Devano, kamu dan anakmu juga tidak bisa bersamanya," sambung Naumi sambil memegang perut Meyra, dan kemudian ia melepaskan ikatan di mulut Meyra.
"Jangan kau sakiti aku dan anakku," teriak Meyra.
"Aku tidak akan menyakiti kalian berdua, justru aku akan membantumu melahirkan anakmu. Sudah lama aku tidak bermain sebagai dokter, dan tidak sabar ingin melihat anakmu." Naumi menyunggingkan senyuman. Ketika ia akan mengarahkan pisau yang berada di tangannya ke arah perut Meyra.
Dor.
Suara tembakan menghentikan Naumi, yang akan menyakiti Meyra dan kandungannya.
"Bos ada polisi," ucap anak buahnya, yang memberitahukan tentang kedatangan polisi yang datang bersama Devano. Karena polisi berhasil melacak keberadaan plat mobil yang menculik Meyra, dengan melihat rekaman cctv di rumah Bu Tari.
Naumi yang tidak mau sia-sia dengan usahanya, ia segera menyakiti Meyra dengan menggunakan pisau yang ada di tangannya. Sebelum ia dan anak buahnya melarikan diri dari kejaran polisi.
"Aaawww," jerit Meyra yang merasa sakit. Karena darah segar mengalir di tubuhnya. Sebab Naumi berhasil menggores luka sayatan di bagian bawah perut Meyra.
Devano dan para polisi segera pergi menuju suara teriakan Meyra, yang ada di belakang pohon besar yang ada di pinggir jalan.
"Meyra ..." Devano kaget melihat kondisi Meyra yang terluka, ia langsung memeluk Meyra sambil menangis.
"Pak Devano, ayo kita bawa istrinya pergi ke rumah sakit," ucap polisi yang mengkhawatirkan keadaan Meyra dan kandungannya.
Devano pun menuruti ucapan polisi, ia segera membawa Meyra pergi ke rumah sakit. Karena ia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Sedangkan para polisi berusaha mengejar Naumi dan anak buahnya.
___________
"Owe____owe," terdengar suara tangisan bayi laki-laki Devano dan Meyra.
Karena saat Meyra sampai di rumah sakit, keadaan Meyra sudah tidak sadarkan diri. Dokter pun memutuskan untuk melakukan tindakan operasi Caesar, sebab Meyra mengalami luka di bagian bawah perutnya.
"Terima kasih sayang, kamu telah melahirkan anak laki-laki yang sangat tampan," ucap Devano yang memperlihatkan bayinya, kepada Meyra yang sudah sadar.
"Anakku," lirih Meyra sambil menitikkan air mata. Karena ia terharu, sebab ia bisa berhasil melahirkan anaknya. Meski ia sempat terluka dan tidak sadarkan diri.
"Selamat Nak, kini kalian berdua telah menjadi orang tua." Belinda mengucapkan selamat kepada Devano dan Meyra, atas kelahiran putra pertamanya.
"Mama dan Papa juga sekarang sudah menjadi Omah dan Opa," timpal Meyra sambil tersenyum senang.
"Oh iya, Naumi dan anak buahnya bagaimana?" sambung Meyra yang penasaran dengan Naumi dan anak buahnya, yang telah mencelakainya.
"Mereka semua berhasil di tangkap polisi," jawab Devano yang memberitahukan kepada Meyra, tentang Naumi dan anak buahnya yang berhasil di tangkap oleh polisi. Dan sekarang mereka semua mendekam di jeruji besi, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
\*. \*. \*.
Kini Meyra dan Devano tengah berbahagia, menikmati kehidupan barunya bersama putranya yang bernama Andera Martadinata. Andera singkatan dari anak Devano dan Meyra, sedangkan Martadinata adalah nama keluarga besar Devano.
TAMAT
Terima kasih sudah berkenan membaca karya recehku 🤗 Baca juga karyaku yang lainnya yah😊