Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 27 Menentukan Pilihan



"Aaakh, mana yang harus aku pilih?" ucap Devano sambil menjambak rambutnya, dan kemudian Devano mengusap wajah dengan tangannya.


"Pantas saja. Saat pertama kali bertemu dengan Meyra, wajahnya begitu tidak asing di mataku. Seperti aku pernah melihatnya, tapi waktu itu. Aku tidak mau mengingatnya, dan di saat aku melihat tanda lahir di bagian leher Meyra. Seketika itu, aku jadi teringat dengan wanita yang tidur bersamaku dua bulan yang lalu. Dan ternyata wanita itu adalah Meyra. Ini semuanya benar-benar membuatku bingung, dalam menentukan pilihan," sambung Devano yang dilema. Karena ia bingung dalam menentukan pilihan hidupnya, yang akan terus melanjutkan pernikahannya dengan Meyra. Atau melanjutkan rencana pernikahannya, dengan Naumi yang sebentar lagi akan pulang ke Indonesia.


"Aku masih mencintai Naumi, tapi aku dan Meyra sudah ..."


Deringan ponsel milik Devano menghentikan ucapannya. Karena Devano langsung menerima panggilan telepon dari Naufal temannya.


"Ada apa kamu menghubungiku, malam-malam begini?" tanya Devano.


"Aku dan teman-teman yang lainnya, mau mengajak kamu hangout. Sekalian ingin berkenalan dengan istrimu, sudah lama kita tidak kumpul-kumpul ..."


"Bagaimana aku mau kumpul bareng sama kalian lagi. Setelah apa yang kalian semua taruh di dalam minumanku dua bulan yang lalu," geram Devano pada Naufal. Sehingga membuat dirinya, segera memotong jawaban Naufal yang belum selesai berbicara.


"Kamu jangan seperti itulah, Van. Aku dan teman-teman yang lainnya, cuman mau menghibur kamu yang sedang galau di tinggal Naumi," jelas Naufal.


"Tapi cara yang kalian lakukan itu salah, dan aku tidak mau bertemu dengan kalian lagi." Devano yang sudah mengatakan itu, ia langsung mematikan panggilan telepon dari Naufal.


"Ini semua terjadi gara-gara Naufal, dan teman-teman yang lainnya. Sehingga membuatku terjebak, dalam janjiku pada Meyra dua bulan yang lalu," sambung Devano sambil melempar barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Karena ia mau melampiaskan kekesalannya pada Naufal dan teman-temannya, yang membuatnya melakukan satu malam yang panjang bersama Meyra.


Brak.


Bruk.


Suara barang-barang yang di lempar oleh Devano, terdengar oleh telinga Meyra yang akan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


"Itu Devano kenapa?" lirih Meyra yang penasaran, dengan apa yang di lakukan oleh Devano di dalam kamarnya.


"Aaakh, biarkan sajalah. Dia mau melakukan apapun di dalam kamarnya sendiri," sambung Meyra sambil menggelengkan kepalanya, dan tidak mau memperdulikan suara berisik di dalam kamar Devano. Meskipun dirinya sangat penasaran, tapi ia tidak berani menanyakan itu pada Devano.


Meyra pun segera pergi ke dapur, untuk mengambil air minum. Saat Meyra keluar dari dapur, ia melihat Devano yang keluar dari dalam kamar.


"De____Devano, ini minuman untukmu," ucap Meyra gugup, dan ia memutuskan memberikan air minumnya kepada Devano.


Devano langsung mengambil air minum yang ada di tangan Meyra, dan menghabiskan air minum itu.


"A___aku, mau masuk ke dalam kamarku dulu," pamit Meyra yang memutuskan masuk ke dalam kamarnya.


"Ada yang mau aku bicarakan denganmu, duduk dulu." Devano mencegah Meyra yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku? Kalau kamu itu, adalah wanita yang tidur bersamaku dua bulan yang lalu?" tanya Devano. Ketika ia dan Meyra sudah duduk di ruang televisi.


"Haaah," jawab Meyra yang mengkerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari Devano yang menurutnya tidak masuk akal.


"Di tanya, bukannya di jawab yang benar malah haaah doang," gerutu Devano yang kesal mendengar jawaban dari Meyra.


"Pertanyaan mu itu, tidak masuk akal sekali. Masa kamu lupa dengan wajahku?" sahut Meyra sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.


"Aku memang tidak ingat dengan raut wajahmu, yang aku ingat hanya tanda lahir di bagian leher mu. Karena saat kejadian itu, aku sedang dalam pengaruh obat perangsang. Sehingga aku tidak bisa mengingat dengan jelas wajahmu. Bahkan saat aku dan kamu melakukan itu, yang ada di dalam pikiran dan bayanganku bukan raut wajahmu," jelas Devano berterus terang.


"Pantas saja, Devano begitu cuek. Saat bertemu denganku lagi di dalam rumahnya, ternyata dia tidak mengingat wajahku. Tapi aku rasa, itu semua hanya alasannya saja," batin Meyra yang tidak percaya dengan penjelasan Devano.


"Jika aku mengingat dengan jelas raut wajahmu, aku tidak akan mempertanyakan hal itu kepadamu? Aku benar-benar tidak mengingat dengan jelas raut wajahmu, dan di dalam pikiranku saat itu ...''


"Aku tidak perduli dengan pemikiranmu itu. Tapi akibat dari perbuatanmu dua bulan yang lalu, membuatku terpaksa menerima perjodohan ini. Karena sekarang ini aku hamil anakmu," ucap Meyra yang menyela ucapan Devano, dan ia akhirnya memutuskan. Untuk memberitahukan pada Devano, tentang kondisinya yang sedang hamil.


Degh!


"Apa! Meyra hamil," batin Devano yang kaget mendengar ucapan Meyra. Karena ia baru mengetahui kondisi Meyra, yang sedang hamil anaknya.


"Aku mau menerima perjodohan ini. Agar semua keluargaku, dan orang lain tidak mengetahui kondisiku yang hamil di luar nikah. Aku juga ingin bayi yang ada di dalam kandunganku memiliki seorang ayah. Tapi siapa sangka, takdir mempertemukan aku dengan kamu lagi, dan menurutku itu semuanya terjadi. Agar kamu bisa menepati janjimu, yang akan bertanggung jawab atas perbuatan yang kamu lakukan padaku dua bulan yang lalu. Dan asal kamu tahu! Saat kamu merebut kesucianku, di saat itu pula ibuku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya," sambung Meyra sambil menitikkan air matanya. Karena ia teringat dengan almarhum ibunya.


"Maafkan aku Mey." Devano hanya mampu mengatakan kata maaf pada Meyra, sambil menundukkan kepalanya. Karena ia tidak menyangka dengan yang Meyra alami, setelah dirinya merebut kesucian Meyra dengan secara paksa.


"Apakah dengan kata maaf, kamu bisa membalikkan kesucianku dan ibuku lagi? Dan apakah kamu ..."


"Aku akan menepati janjiku, yang akan bertanggung jawab atas perbuatanku kepadamu. Tapi kamu jangan mengatakan seperti itu, karena aku tidak bisa melakukannya." Devano segera memotong ucapan Meyra.


"Meyra, tolong maafkan semua kesalahanku. Meski itu semuanya, tidak bisa membalikkan keadaan seperti dulu lagi," sambung Devano sambil menggenggam tangan Meyra, dan berharap Meyra akan memaafkan semua kesalahannya.


"Itu semuanya sudah berlalu dan terjadi. Luka itu pun masih ada, dan akan teringat selalu dalam pikiranku. Tapi aku akan berusaha memaafkanmu, demi bayi yang ada di dalam kandunganku," tutur Meyra.


"Terima kasih Mey, atas kebesaran hatimu yang mau berusaha memaafkan semua kesalahanku. Aku pun akan berusaha mencintai kamu, dan anak yang berada di dalam kandunganmu. Karena aku mau, kamu dan aku memulai kehidupan baru di apartemen ini sebagai sepasang suami istri. Meski aku tahu! Aku dan kamu belum saling mencintai, tapi kita mulai hubungan ini dengan baik," ujar Devano yang tersenyum senang. Karena Meyra mau memaafkan kesalahannya, dan sekarang ini. Devano sudah menentukan pilihannya, yang akan menepati janjinya pada Meyra.


"Maafkan aku Naumi, yang tidak bisa menepati janjiku padamu. Semoga saja, saat kamu pulang ke Indonesia. Kamu bisa mengerti dengan kondisiku, yang tidak bisa menepati janjiku padamu. Karena sekarang ini, aku sudah milik istri yang tengah hamil anakku," batin Devano yang berharap Naumi bisa memaafkannya. Karena ia tidak bisa menepati janjinya pada Naumi, dan memutuskan menepati janjinya pada Meyra yang sudah resmi menjadi istrinya.