
"Kenapa kamu diam dan tidak menjawab pertanyaan Mama, Van? Meyra kamu sakit apa, Nak?" Belinda yang tidak mendapat jawaban dari Devano, ia memutuskan bertanya langsung pada Meyra.
"Perutku tadi kram, Mah. Saat aku akan bangun dari tempat tidur, tapi sekarang ini. Alhamdulillah sudah membaik, Mah." Meyra menjawab pertanyaan Belinda, yang mengkhawatirkan keadaannya.
"Syukurlah. Kalau kamu sudah membaik, oh iya. Kemarin kamu sempat di rawat di rumah sakit, kamu sakit apa?" tanya Belinda lagi, yang ingin mengetahui kebenarannya.
Degh.
"Dari Mama mengetahui keadaanku/Meyra yang di rawat di rumah sakit," batin Meyra dan Devano yang kaget mendengar pertanyaan Belinda mamanya, yang mengetahui tentang Meyra yang di rawat di rumah sakit.
"Mah, kita tanyakan masalah itu nanti di rumah saja. Meyra baru saja sembuh, Devano ajak Meyra pulang ke rumah jangan ke apartemen. Ayo kita pulang ke rumah sekarang," ucap Rajendra yang mengalihkan pertanyaan Belinda, dan menyuruh mereka bertiga pulang ke rumah.
"Iya Pah," sahut Devano yang menuruti perintah Rajendra papanya, yang menyuruhnya mengajak Meyra pulang ke rumah.
Mereka semua pun segera pergi dari rumah sakit, dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah.
Belinda menyuruh Meyra beristirahat di dalam kamar Devano. Sedangkan ia dan Rajendra mengintrogasi Devano, yang tidak memberitahukan tentang Meyra yang di rawat di rumah sakit.
"Sekarang jawab pertanyaan Mama, Van?"
Devano menghela nafas panjang. Sebelum menjawab pertanyaan Mamanya.
"Sebenarnya Devano juga tidak tahu, Mah. Kalau kemarin itu Meyra di rawat di rumah sakit, Devano baru tahu tadi pagi. Saat Devano tidak sengaja menemukan surat rawat inap dari rumah sakit, yang terjatuh di bawah lantai. Kalau Devano boleh tahu, dari mana Mama dan Papa mengetahui Meyra di rawat di rumah sakit. Apakah Meyra menghubungi Paman dan bibinya, dan memberitahukan itu semua pada Mama dan Papa?" jawab Devano berterus terang, sambil bertanya balik pada kedua orang tuanya yang mengetahui tentang Meyra yang di rawat di rumah sakit.
"Paman dan bibinya Meyra tidak menghubungi Papa dan Mama, Papa juga baru tahu tadi. Saat Papa dan Mama masuk ke dalam apartemenmu, Papa juga tidak sengaja menemukan surat itu di bawah lantai," jelas Rajendra.
"Tadi kata dokter Meyra sakit apa?" sambung Rajendra yang ingin mengetahui penyebab Meyra sakit, hingga sampai di rawat.
"Bukannya tadi Papa dan Mama sudah tahu. Kalau Meyra itu kram dan sakit perut," sahut Devano yang belum siap memberitahukan tentang Meyra yang tengah mengandung anaknya, pada kedua orang tuanya.
"Apakah Meyra sedang hamil, Van?"
"Dari mana Mama bisa langsung menyimpulkan, bahwa Meyra itu sedang hamil? Apakah ini saatnya, aku harus menceritakan semuanya pada Mama dan Papa," batin Devano yang tidak menyangka, dengan pertanyaan Belinda yang menanyakan tentang kehamilan Meyra.
"Ke___kenapa Mama bicara seperti itu?" tanya Devano gugup, dan tidak menjawab pertanyaan Belinda.
"Karena itu seperti tanda-tanda orang yang sedang mengalami hamil. Jadi jawab dengan jujur pertanyaan Mama, apakah Meyra itu sedang hamil?"
"Iya Mah, Meyra memang sedang hamil anakku," jawab Devano yang akhirnya memutuskan menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya, yang belum mengetahui tentang kejadian dua bulan yang lalu dan kehamilan Meyra.
Belinda dan Rajendra yang baru mengetahui tentang kejadian itu. Mereka berdua kaget dan tidak menyangka dengan perbuatan yang dilakukan Devano, yang merenggut kesucian Meyra hingga membuat Meyra hamil.
Plak.
Plak.
Bruk.
"Papa kecewa dengan perbuatan yang kamu lakukan terhadap Meyra," geram Rajendra pada Devano. Sehingga membuat ia menampar dan memukul Devano.
"Maafkan perbuatan Devano Mah, Pah." Devano hanya mampu mengatakan permintaan maaf pada kedua orang tuanya.
Rajendra dan Belinda yang kecewa dengan perbuatan Devano, mereka berdua berusaha menerima garis takdir yang sudah terjadi.
"Mungkin kamu dan Meyra memang di takdirkan berjodoh. Apapun yang terjadi di awal pertemuan kamu dan Meyra. Mama dan Papa berharap, kamu bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Jaga Meyra dan cucu Mama dan Papa, yang ada di dalam kandungan Meyra," ujar Belinda.
"Iya Mah. Devano akan menjaga Meyra dan anakku dengan sepenuh hati. Karena Devano menyayangi mereka berdua," balasnya.
"Apakah kamu masih berhubungan dengan Naumi?" tanya Belinda lagi. Karena ia ingin mengetahui hubungan antara Devano dan Naumi.
"Aku dan Naumi sudah putus, Mah. Dan yang Mama katakan itu semuanya benar, maafkan Devano yang terlambat menyadari itu semuanya." Devano memberitahukan tentang hubungannya dengan Naumi yang sudah berakhir, dan ia juga meminta maaf kepada Belinda. Karena Devano tidak percaya dengan bukti foto yang di berikan Belinda, yang sudah mengetahui sikap Naumi.
"Alhamdulillah. Mama bersyukur sekali, mendengar kamu sudah putus dengan Naumi," ucap Belinda sambil tersenyum senang mendengar kabar yang di katakan Devano. Karena dari dulu, ia memang tidak menyukai Devano berhubungan dengan Naumi yang memanfaatkan anaknya.
"Mama mau pergi menemui Meyra," sambung Belinda yang berpamitan pergi. Untuk bertemu dengan Meyra, yang berada di dalam kamar Devano.
Devano dan Rajendra menganggukkan kepalanya secara bersamaan, pertanda mereka berdua mempersilahkan Belinda yang mau menemui Meyra.
Tok-tok.
Belinda yang sudah sampai di depan pintu kamar Devano, ia mengetuk pintu kamar Devano terlebih dahulu. Sebelum ia masuk ke dalam kamar Devano, yang tidak di kunci oleh Meyra.
"Kok, kamu belum tidur Mey?" tanya Belinda pada Meyra. Ketika ia sudah masuk ke dalam kamar Devano, dan melihat Meyra yang belum tidur siang.
"Meyra tidak ngantuk, Mah. Ada apa Mama ke sini? Apakah ada yang mau Mama bicarakan denganku?" jawab Meyra sambil bertanya balik pada Belinda, yang datang menghampirinya.
Belinda menarik nafas dalam-dalam, dan membuang secara perlahan. Sebelum ia mengatakan, apa yang mau ia bicarakan dengan Meyra.
"Mama sudah tahu semuanya, Mey. Tadi Devano menceritakan semuanya pada Mama dan Papa, tentang awal pertemuan kamu dan Devano. Mama sebagai orang tuanya Devano, mau meminta maaf sama kamu. Karena Devano telah merenggut kesucianmu, sampai kamu hamil,'' ucap Belinda yang meminta maaf kepada Meyra, sambil berlinang air mata yang membasahi pipinya.
"Yang lalu biarlah berlalu, Mah. Meyra sudah memaafkan itu, dan sudah menerima takdir yang harus Meyra lalui." Meyra mengusap air mata Belinda. Lalu Meyra memberikan pelukan pada Belinda, yang duduk di dekatnya.
"Terima kasih, Mey. Kamu mau memaafkan perbuatan anak Mama, tapi apakah Bibi dan Paman kamu sudah mengetahui tentang kehamilanmu?" Belinda mengucapkan rasa terima kasih kepada Meyra, yang mau memaafkan perbuatan anaknya. Ia pun kembali bertanya sekali lagi pada Meyra, untuk mengetahui kebenarannya.
"Bi Leni dan Paman Ijat tidak mengetahui kehamilanku, Mah. Meyra juga minta maaf sama Mama, sebab Meyra menerima perjodohan ini dalam kondisi Meyra yang sudah berbadan dua. Karena Meyra ingin bayi yang ada di dalam kandungan Meyra memiliki seorang ayah, tapi siapa sangka. Perjodohan ini mempertemukan Meyra dengan Devano lagi," jawab Meyra berterus terang sambil meminta maaf pada Belinda. Karena ia baru memberitahukan semuanya pada Belinda, yang belum mengetahui itu semuanya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Mey. Dengan perantara perjodohan kamu dengan Devano, mungkin itu sudah menjadi pertanda. Kalau kamu dan Devano itu sudah di takdirkan berjodoh," timpal Belinda sambil tersenyum senang, dan ia tidak mempermasalahkan tentang jawaban yang baru saja Meyra ceritakan. Karena yang membuat Meyra hamil, adalah Devano anaknya.
_________
Keesokan paginya.
Saat mereka semua sedang sarapan pagi, tiba-tiba saja handphone Devano berdering. Devano pun segera menerima panggilan telepon dari Randy.
"Ada apa Randy?"
"Bos, aku mendapatkan kabar dari karyawan kantor. Kalau Naumi sekarang ini berada di dalam ruangan bos," jawab Randy yang memberitahukan kepada Devano, tentang kabar yang ia dapatkan dari salah satu karyawan yang bekerja di kantor.
"Mau apalagi sih, Naumi datang menemuiku?" batin Devano yang kesal mendengar jawaban dari Randy.