
"Aduh, aku tidak tahu password nya lagi," ucap Devano yang tidak bisa membuka password rekaman cctv di handphone milik Belinda mamanya.
"Sebaiknya, aku temui Randy. Siapa tahu, dia mengetahui password nya," sambung Devano yang segera pergi meninggalkan kamar kedua orang tuanya. Untuk bertemu dengan Randy, yang menunggunya di ruang tamu.
"Randy, aku sudah menemukan handphone Mama yang tertinggal di dalam kamar. Apa kamu tahu password, untuk membuka rekaman cctv di handphone Mamaku?" tanya Devano. Ketika ia sudah berada di dekat Randy, yang tengah duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi dan juga camilan yang di bawa oleh Bi Inah.
"Ya jelas aku tahulah bos, sini handphonenya," jawab Randy yang meminta handphone milik Belinda, yang berada di tangan Devano.
"Nih." Devano pun segera memberikan handphone mamanya pada Randy.
Randy segera membuka password rekaman cctv, yang berada di handphone Belinda. Untuk melihat kejadian kemarin, saat Meyra pergi meninggalkan apartemen.
Randy dan Devano terus melihat ke arah handphone milik Belinda, yang tengah memutar rekaman cctv di depan pintu apartemen Devano.
"Ternyata, Meyra beneran pulang ke apartemen. Tapi dia hanya masuk sebentar, dan langsung pergi meninggalkan apartemen," batin Devano yang melihat rekaman cctv. Setelah Belinda pergi dari apartemen, dan tidak lama kemudian Meyra datang ke apartemennya.
"Kenapa, dia langsung pergi? Tanpa berpamitan kepadaku," gumam Devano yang mempertanyakan kepergian Meyra, yang pergi tanpa berpamitan kepadanya.
"Kalian berdua, ngapain ngambil handphone Mama?" tanya Belinda yang baru masuk ke dalam rumahnya, dan ia melihat Randy yang sedang memegang handphonenya. Sedangkan Devano melihat ke arah handphone miliknya, yang di pegang oleh Randy.
Degh.
"Ma__Mama."
"Bu___Bu Belinda."
Devano dan Randy kaget. Karena mereka berdua tidak menyadari kedatangan Belinda, yang masuk ke dalam rumah dan melihat mereka berdua sedang melihat ke arah handphone milik Belinda. Sehingga membuat mereka berdua, tidak menjawab pertanyaan dari Belinda
"Sini handphonenya," ucap Belinda yang meminta handphonenya, yang di pegang oleh Randy.
"I___ini Bu, maaf." Randy memberikan handphone milik Belinda, sambil meminta maaf pada Belinda.
"Kalian berdua itu, punya handphone masing-masing. Ngapain ngambil handphone Mama," geram Belinda pada Devano dan Randy, yang mengambil handphonenya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Devano dan Randy menundukkan kepalanya, dan tidak menanggapi ucapan Belinda, yang kesal dengan sikap mereka berdua yang berani mengambil handphonenya.
"Kalian berdua itu lihat apaan sih, di handphone Mama?" sambung Belinda yang bertanya pada Devano dan Randy. Karena ia penasaran, dengan apa yang di lihat oleh mereka berdua di handphonenya.
Karena saat ia mengecek handphonenya, ia tidak menemukan apapun yang di buka oleh Randy. Sebab Randy segera menghapusnya, sebelum memberikan handphone itu pada Belinda.
"Maaf Mah. Aku menemukan handphone Mama di sini, aku dan Randy cuman mengecek keadaan handphone Mama, dan lihat sebentar doang kok," kilah Devano yang mencari alasan, dan meminta maaf pada Belinda mamanya.
"Perasaan ... aku menaruh handphone itu di dalam kamar, bukan di sini," lirih Belinda pelan sambil mengingat kejadian. Sebelum ia dan Rajendra suaminya pergi meninggalkan rumahnya.
"Aku lihat handphone Mama di sini. Iyakan, Randy?" ucap Devano sambil melirik ke arah Randy.
"I____iya, benar di___di sini." Randy menimpali ucapan Devano dengan gugup. Karena ia terpaksa harus berbohong pada Belinda.
"Oh, iya kali," tanggap Belinda.
"Mama itukan, suka lupa menaruh handphone," sahut Devano yang berusaha meyakinkan Belinda. Agar percaya dengan kebohongan, yang ia katakan.
"Terus kamu datang ke sini, apakah bersama Meyra?" tanya Belinda pada Devano.
"Meyra tidak ikut ke sini, dia ada di apartemen," jawab Devano yang tidak mau, sampai Belinda mengetahui tentang Meyra yang pergi dari apartemennya.
Degh.
"Aduh, aku harus menjawab apa? Kenapa Bu Belinda bisa mengetahui tentang aku, yang ijin tidak masuk bekerja? Apa jangan-jangan! Bu Belinda tadi pagi, ikut pergi ke kantor bersama pak Rajendra," batin Randy yang bingung menjawab pertanyaan dari Belinda.
"Kenapa kamu diam saja, Randy?" tanya Belinda lagi.
"Randy tadi pagi, dia sakit perut Mah. Makanya dia ijin tidak masuk kerja, dan Devano membawa dia berobat terus baru datang ke sini. Karena Devano mau mengambil barang Devano, yang ketinggalan di dalam kamar." Devano yang menjawab pertanyaan Belinda, dan berharap Belinda bisa percaya dengan kebohongan yang ia katakan.
"Yang di katakan bos Devano benar Bu," timpal Randy yang membenarkan kebohongan, yang di katakan oleh Devano pada Belinda.
"Barang apa yang kamu bawa? Mama tidak melihat apapun yang kamu bawa dari dalam kamarmu?" Belinda pun mempertanyakan, tentang barang yang di katakan Devano barusan. Karena ia tidak melihat Devano mengambil barang apapun di dalam kamarnya.
"I___ini Devano baru mau mengambil, Devano pergi ke kamar dulu," jawab Devano yang langsung berpamitan pergi pada Belinda mamanya.
Devano segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan ia segera mengambil dokumen di dalam kamarnya. Setelah mengambil itu, ia langsung mengajak Randy pergi dari rumahnya dan berpamitan dengan Belinda.
"Kok, aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Devano dan Randy," batin Belinda. Ketika ia melihat Devano dan Randy pergi buru-buru dari rumahnya, sehingga membuat ia curiga kepada mereka berdua.
________
Sementara itu.
Devano dan Randy bisa menghembuskan nafas lega. Setelah mereka berdua keluar dari dalam rumah, dan mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.
"Kita mau pergi ke mana lagi bos?" tanya Randy. Sebelum ia menyalakan mesin mobil.
"Kita pergi mencari Meyra, dan kita harus segera menemukan keberadaan Meyra. Sebelum Mama mengetahui Meyra pergi dari apartemen," jawabnya.
"Baiklah bos," balasnya sambil menyalakan mesin mobil, dan pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya Devano.
Devano dan Randy berusaha keras, mencari keberadaan Meyra di sekitar kota Jakarta. Mereka berdua berharap, bisa segera menemukan keberadaan Meyra. Akan tetapi, mereka berdua tidak menemukan keberadaan Meyra.
"Harus ke mana aku mencarimu?" batin Devano yang bingung tidak bisa menemukan keberadaan Meyra.
Tuuut.
Suara kentut Randy, yang tiba-tiba saja ia merasa mulas ingin buang air besar. Saat mereka berdua sedang mencari Meyra, sambil menanyakan kepada orang-orang yang mereka berdua temui.
"Kamu kentut?" tanya Devano yang mendengar dan menghirup aroma kentut, yang Randy keluarkan.
"Maaf bos, sepertinya ucapan bos yang berbohong pada Bu Belinda. Kini saya benar-benar merasakan sakit perut, dan ingin buang air besar. Saya pamit pergi ke toilet dulu," jawab Randy yang sudah tidak bisa menahan, ingin pergi ke toilet umum.
"Ya sudah, cepat pergi sana!" sahut Devano.
Devano pun menghentikan pencariannya sebentar. Karena dari tadi, ia melihat Randy yang terus bulak balik masuk ke dalam toilet umum.
"Kita pergi ke rumah sakit," ajak Devano pada Randy.
"Iya bos," balasnya yang setuju dengan ajakan Devano, yang mengajaknya pergi ke rumah sakit.
Devano pun membawa Randy pergi ke rumah sakit. Akan tetapi, saat ia dan Randy sampai di rumah sakit. Devano melihat seorang wanita yang mirip dengan Meyra, yang sedang duduk di kursi roda di dorong oleh suster.
"Randy, kamu bisa kan berobat sendiri tanpa aku temani. Karena aku mau pergi ke sana," pamit Devano pada Randy. Sebelum ia mengejar suster yang mendorong seorang wanita, yang mirip dengan Meyra. Karena ia berharap, wanita itu adalah Meyra yang ia cari.