Unloved Wife

Unloved Wife
Bab 32 Jujur



Meyra yang pergi meninggalkan Naumi di dalam apartemen, tiba-tiba saja ia menitikkan air matanya. Di saat Meyra sudah berada di luar pintu apartemen.


"Kenapa aku bisa merasakan sakit hati? Ketika aku mendengar ucapan Naumi yang mengatakan, kalau Devano akan menikah dengannya," lirih Meyra yang tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Meski ia belum mencintai Devano, dan ia juga sudah mengetahui tentang status Naumi yang merupakan kekasihnya Devano.


"Aku bingung dan tidak mengerti dengan perasaanku ini. Tapi aku tidak boleh seperti ini,'' sambung Meyra sambil menghapus air matanya, yang bersedih mendengar ucapan Naumi yang akan menikah dengan Devano.


Meyra pun segera melangkahkan kakinya menuju lift. Karena ia akan pergi meninggalkan apartemen, untuk bertemu dengan Amelia yang ingin bertemu dengannya.


Saat Meyra sedang menunggu pintu lift terbuka, Meyra dan Devano sama-sama kaget. Karena mereka berdua bertemu di saat pintu lift terbuka.


"Devano ..."


"Meyra ..."


"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Devano.


"Bukan urusanmu, urus saja kekasihmu itu." Meyra menjawab pertanyaan Devano dengan ketus.


''Kamu cemburu?" tanya Devano sambil keluar dari dalam lift, dan menghampiri Meyra yang berada di hadapannya.


"Aku tidak sama sekali cemburu, mendengar kabar pernikahanmu dengan kekasihmu itu. Sebaiknya kamu cepat pergi, dan temui kekasihmu di dalam apartemen," sahut Meyra yang segera masuk ke dalam lift.


Devano yang melihat Meyra sudah masuk ke dalam lift, ia pun kembali masuk ke dalam lift menyusul Meyra.


"Mau apa kamu mengikutiku?" tanya Meyra yang tidak jadi menekan tombol lift. Karena ia melihat Devano, yang ikut masuk ke dalam lift.


"Apakah tidak boleh, seorang suami mengikuti istrinya?" jawab Devano.


"Ckckck, apa aku tidak salah dengar?Kamu bilang aku ini istrimu?" Meyra menyunggingkan senyuman, mendengar ucapan Devano barusan.


"Kamu itu memang istriku, dan kamu juga sedang mengandung anakku. Jadi aku berhak mengetahui tujuan kepergianmu," jelas Devano.


"Ya, ya aku tahu itu. Tapi ... semua itu cuman status saja kan?" timpal Meyra.


"Aku tanya sekali lagi! Kamu mau pergi ke mana?" Devano terus mempertanyakan tujuan Meyra, yang akan pergi dari apartemen sambil menatap ke arah Meyra yang berada di sampingnya.


"Aku mau pergi menemui temanku, sekarang kamu sudah tahukan! Tujuan kepergian ku, jadi sebaiknya kamu cepat keluar dari sini. Dan jangan mengikutiku," jawab Meyra berterus terang, dan menyuruh Devano keluar dari dalam lift.


"Jangan pulang sampai larut malam, ada hal yang harus kita berdua bicarakan," sahut Devano sambil keluar dari dalam lift.


"Iya," balas Meyra yang segera menekan tombol lift, dan pergi meninggalkan Devano.


"Apakah Devano mau menceraikan aku? Di saat dia sudah mengetahui tentang kehamilanku, demi bisa menikah dengan kekasihnya?" lirih Meyra di dalam lift seorang diri, yang mempertanyakan tentang Devano yang ingin berbicara dengannya.


"Maafkan Bunda, Nak. Jika suatu saat nanti, Bunda dan Papamu akan bercerai," sambung Meyra sambil mengelus perutnya.


Ting.


Suara pintu lift yang terbuka. Meyra pun segera keluar dari dalam lift dan pergi mencari supir taksi online, yang sudah ia pesan terlebih dahulu.


Meyra yang sudah bertemu dengan supir taksi online, ia pun segera masuk ke dalam mobil dan memberitahukan alamat tujuannya pada supir taksi.


Tidak lama kemudian.


Meyra sudah sampai di tempat tujuannya, yang akan bertemu dengan Amelia.


"Ke mana Amelia, kok dia belum datang sih?" ucap Meyra yang tidak melihat keberadaan Amelia, yang ia kira sudah datang lebih dulu. Karena saat ia akan pergi menemui Amelia, Naumi mengajaknya berbicara.


Meyra segera mengambil handphone di dalam tasnya, dan di saat Meyra mengecek handphonenya. Meyra mendapatkan pesan dari Amelia yang memberitahukan tentang kedatangannya, yang akan terlambat datang. Meyra pun memutuskan menunggu kedatangan Amelia, sambil mengeluarkan foto hasil USG yang ia dapatkan dari Dokter Widya.


"Itu foto USG punya siapa, Mey?" tanyanya penasaran.


"Amelia ..." Meyra yang kaget melihat kedatangan Amelia, ia segera memasukkan foto USG tanpa menjawab pertanyaan dari Amelia.


"Kenapa kamu buru-buru memasukkan foto itu. Kalau aku boleh tahu! Itu foto USG punya siapa?" tanya Amelia lagi.


"Itu ..."


"Jangan bilang, kalau itu punya kamu?" Amelia segera memotong ucapan Meyra, yang bingung menjawab pertanyaan darinya.


Saat Amelia mengatakan itu, Meyra mengeluarkan bola matanya. Karena yang di katakan Amelia memang benar, tapi ia belum siap memberitahukan tentang kehamilannya pada Amelia.


"Ini pasti hadiah untukku." Meyra mengalihkan pertanyaan Amelia, sambil mengambil bungkusan yang berada di tangan Amelia.


Karena Amelia mengajak Meyra bertemu, untuk memberikan hadiah pernikahan kepada Meyra. Sebab Amelia tidak bisa datang ke acara pernikahan Meyra dan Devano.


"Iya ini memang hadiah pernikahan untukmu, tapi jawab dulu pertanyaanku. Jangan mengalihkan pertanyaanku, dengan hadiah ini," ucap Amelia yang memegang erat hadiah pernikahan, yang akan di ambil oleh Meyra.


"Itu foto USG anakku, Mel." Meyra akhirnya menjawab pertanyaan dari Amelia sambil melepaskan tangannya, yang memegang bungkusan yang ada di tangan Amelia.


"Apa! Bagaimana kamu bisa cepat hamil, Mey? Kamu dan Devano belum lama menikah?" Amelia kaget. Karena ia baru mengetahui tentang kondisi Meyra yang hamil.


Meyra menghela nafas panjang. Sebelum ia memutuskan, untuk menceritakan semuanya pada Amelia. Meyra juga memberitahukan tentang kedatangan Naumi, yang merubah segalanya. Karena baru saja, ia dan Devano akan memulai hubungan dengan baik. Tapi semua itu berantakan, saat Naumi datang.


Amelia yang mendengar itu, ia memeluk Meyra.


"Maafkan aku, Mey. Itu semua terjadi, karena aku yang menyuruh kamu mengantarkan Devano pulang ke apartemennya. Sehingga kamu harus mengalami nasib seperti ini," tutur Amelia yang menyesal, telah menyuruh Meyra mengantarkan Devano pulang ke apartemennya.


"Semua itu sudah terjadi, Mel. Aku tidak menyalahkan kamu, mungkin ini semua sudah menjadi takdir yang harus aku jalani," sahut Meyra yang menerima takdirnya.


"Meyra. Maafkan aku, yang membuat kamu seperti ini," batin Amelia yang merasa bersalah, dengan takdir yang harus di jalani Meyra.


"Sepertinya, aku harus membuat Meyra mempertahankan pernikahannya dengan Devano. Agar bayi di dalam kandungan Meyra, memiliki seorang ayah," sambung Amelia di dalam hatinya.


"Mey, aku harap! Kamu harus bisa membuat Devano mencintaimu, dan kamu harus mempertahankan pernikahanmu. Jangan sampai Devano menceraikan kamu, dan memilih kekasihnya. Karena aku tidak terima, jika Devano menceraikan kamu yang tengah hamil anaknya," ujar Amelia yang menginginkan Meyra mempertahankan pernikahannya dengan Devano, demi anak yang berada di dalam kandungan Meyra.


"Apakah aku bisa membuat Devano mencintaiku? Apalagi kekasihnya Devano itu sangat cantik, di bandingkan aku yang seperti ini," timpal Meyra yang merasa tidak percaya diri.


"Kamu jangan merasa tidak percaya diri seperti itu, Mey. Kamu juga tidak kalah cantiknya, dan kamu harus mencobanya dulu. Jangan pesimis, lakukan ini semua demi bayi yang berada di dalam kandunganmu," sahut Amelia.


"Yang Amelia katakan benar. Aku harus mencoba membuat Devano memilihku dan bayi yang ada di dalam kandunganku," batin Meyra yang akan berusaha membuat Devano mencintai dirinya, dan meninggalkan Naumi.


________


Sementara itu.


Devano segera pergi menemui Naumi, yang masih berada di dalam apartemen.


"Apa saja, yang kamu bicarakan dengan Meyra?" tanya Devano pada Naumi. Ketika ia sudah masuk ke dalam apartemen.


"Aku menceritakan tentang hubungan kita, dan juga rencana pernikahan kita pada dia. Hanya itu saja kok," jawabnya.


"Oh," timpal Devano sambil duduk di dekat Naumi, yang duduk di ruang televisi.


"Devano, aku merindukanmu." Naumi memeluk Devano yang duduk di dekatnya. Saat Naumi akan mencium Devano, teriakan orang yang masuk ke dalam apartemen menghentikan aksinya.


"Devano ..."